
Ayuningtias menatap wajah suaminya, sesaat kemudian mereka sudah berdiri di depan pintu kamar Bagas. Ayu menyingkirkan pelan tangan Brata, saat tangan kokoh itu akan menggedor kasar daun pintu yang menjulang tinggi di hadapan mereka kini.
"Biar aku saja mas." Cicit Ayu, Brata diam membiarkan istrinya mengetok sopan pintu kamar Bagas.
Tok...tok...tok...di ketukan ketiga daun pintu menyeruak terbuka lebar menampilkan tubuh atletis Bagas yang sudah terbalut pakaian santai ala rumahan, Bagas menyingkir memberikan akses bagi kedua orang tuanya itu untuk masuk.
Bagas tidak heran lagi kenapa kedua orang tuanya itu sampai menyusulnya ke kamar,sudah tentu menuntut atas janji nya untuk menjelaskan kebersamaannya dengan Andita tadi. Bagas tersenyum simpul melihat ketidak sabaran kedua orang tua itu, Sedangkan Brata melayangkan tatapan yang menghunus tepat di jantung sang putra. Marah ! benarkah ?
“Hm...Nak, bisa kita bicara ?” tanya Ayu pelan.
“Ya, ma.” Sahut Bagas. “Silakan kalian bicara dan bertanya sepuasnya.” Sambungnya sembari melirik Brata dengan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Senyum bahagia yang siapa saja bisa menebaknya dengan mudah, bahwa Pria tampan itu tengah berbunga-bunga.
“Kenapa kamu tidak melibatkan kami atas tindakan mu itu ! apa kamu sudah mentiadakan kami, hah ?!”. tukas Brata lantang.
“Apa kamu tidak membutuhkan kami lagi ?!”. sambung Brata
Ayu menyentuh lengan suaminya, berusaha meredam amarahnya. Sedangkan Bagas menatap tak percaya pada Brata, ia meneliti dengan seksama wajah penuh karismatik sang papa, Mencari kesungguhan atas kemarahannya. Namun, sayang sekali sorot mata teduh itu tidak memancarkan kemarahan yang sebenarnya.
Bagas tersenyum dengan tenang, setelah yakin bahwa Brata tidak benar-benar memarahinya.
“Maaf soal itu. Tak ada maksud untuk tidak melibatkan kalian, karena waktu itu Bagas belum yakin kalau Andita akan menerima lamaran itu pa,ma.” Terang Bagas,Ayu mengangguk memahami situasi kedua anaknya itu.
“Lakukan lamaran secara resmi, undang semua rekan media! Sebagai orang tuanya, Papa tidak terima Andita di lamar dengan cara seperti itu! Bisa-bisa nya kalian tidak berbagi kebahagiaan dengan kami.” Brata tersenyum.
Bagas tercekat mendengar ucapan Brata, setelah terdiam sepersekian detik kemudian Bagas membuka suara lagi. Untuk menyakinkan bahwa ia tak salah dengar.
“Apa itu artinya kalian merestui kami ?” tanya Bagas kemudian setelah mampu menguasai keterkejutannya.
“Tentu saja Son.” Brata merentang kedua tangannya agar putra kesayangannya itu memeluknya.
Kedua lelaki dewasa berbeda usia itu berpelukan erat, erat sekali. Brata menepuk-nepuk pelan pundak Bagas sebagai bentuk dukungan atas pencapaian sang putra yang sukses meraih kembali cintanya yang pernah hilang. Begitupun dengan Ayu, turut memeluk anak tirinya itu, yang sebentar lagi akan menjadi menantu yang sekaligus akan semakin memperkuat ikatan kekeluargaan mereka.
__ADS_1
“Maafin mama Nak. Apapun penyebutnya, kalian tetap anak-anak papa dan mama. Dan kami bahagia, sangat bahagia nak.” Ayu mengelus lembut pundak Bagas.
“Berhenti meminta maaf, ma. Lupakan semua yang lalu, petik hikmahnya. Bahwa meraih kebahagiaan cinta yang hakiki itu, bukan perihal mudah. banyak luka dan air mata untuk sampai pada titik ini. Bagas banyak belajar dari semua yang telah di lewati selama ini, sebagai pedoman kedepan untuk tidak menyia-nyiakan Andita lagi,tidak menyakitinya lagi. Bagas sangat mencintai Andita, Ma.” Ujar Bagas dan Ayu mengangguk.
"Restui kami ma." Ujar Bagas yang di angguki oleh Ayu.
Andita menghapus air matanya yang bergulir tanpa permisi, kala mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut Bagas. Andita baru menyadari bahwa cinta Bagas begitu besar untuk dirinya, hingga detik ini cinta nya tidak berubah. selama ini dia telah salah dalam mengambil sikap dengan meninggalkan pria itu, dan menikah dengan Yoga.
Ya,Andita tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat dirinya akan turun dan melewati kamar Bagas.
“Aku telah melukainya selama ini, apa aku masih pantas untuknya.?” Desis Andita.
Bagas berjalan ke arah pintu saat melihat siluet tubuh seorang wanita berdiri di balik pintu yang terbuka sebagian.
Pria tampan itu menautkan kedua alisnya saat melihat Andita sedang bersandar dengan kepala tertunduk, tubuh Andita bergetar.
Bagas mengulurkan tangannya menyentuh bahu Andita.
Andita mengangkat wajahnya menatap Bagas, lalu memburu masuk ke dalam pelukan hangat nya. Andita semakin terisak di dada Bagas, cairan matanya mengalir semakin deras tanpa tertahan.
"Hei...ada apa ? Kamu kenapa ? Kenapa menangis ?". Bagas mengusap lembut rambut Andita.
"Maafin Dita mas." Lirih Andita di sela-sela isakannya.
Bagas mengurai pelukannya, menarik wajah Andita agar bertatap dengan nya.
"Jawab. Jawab pertanyaan mas Dita, bukan maaf yang mas tanyakan. Kamu kenapa ?". Bagas menyentuh pipi Andita menghapus bulir-bulir bening yang terus mengalir.
"Mas mohon, jangan menangis lagi. Kecuali alasan nya adalah kebahagiaanmu." Bisik Bagas kembali memeluk Andita.
"Dita minta maaf karena sudah menyakiti perasaan mas selama ini. Dita mendengar semuanya tadi, apa Dita masih pantas untuk mu mas ? Sedangkan selama ini terlalu banyak luka yang Dita torehkan di hati mas." Isak Andita
__ADS_1
"Lupakan semuanya, semua itu terjadi tak lepas dari kesalahan mas juga. Hanya kamu yang pantas memiliki hati dan seluruh hidup mas, jangan pernah bertanya pantas atau tidak lagi. Mas menyayangi mu dan sangat mencintai mu." Lirih Bagas di telinga Andita.
"Dita juga sayang mas." Andita mengeratkan pelukannya.
Brata dan Ayuningtyas saling menatap melihat kelakuan kedua anak-anak nya itu.
"Berhenti memeluk putriku." Brata memisahkan antara Bagas dan Andita
"Dia calon istriku kalau papa lupa." Dengus Bagas kesal. Bagaimana tak kesal, saat tengah berpelukan hangat harus terpisah karena kejahilan papanya.
"Istirahat lah nak, jangan hiraukan dia." Brata menuntun Andita kembali ke kamarnya
"Istirahatlah , turun lah waktu makan malam nanti." Ayu nenepuk pelan pundak Bagas, lalu meninggalkan Bagas yang masih menatap kepergian Andita.
Alih-alih kesal tapi Bagas tak mampu menyembunyikan senyumnya, ia berbalik memasuki kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah.
Tak butuh waktu lama Bagas terlelap, beban yang berat menghimpit selama ini telah terlepas, sakit, perih, derita seakan menguap begitu saja.
Di kamar yang berbeda Andita memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya, ia memutar-mutar cincinnya. Tersenyum lalu mengecup lembut jarinya.
"Terima kasih mas, Dita juga mencintaimu." Lirihnya.
Hal yang sama Andita pun akhirnya terlelap.
Cinta sejati, cinta yang tulus tidak selalu mengedepankan ego. Membiarkan cinta mencari kebahagiaan nya sendiri adalah cara yang tepat dalam mencintai, jika tuhan berkehendak cintamu akan kembali meski sempat pergi.
Luka, derita, dan air mata adalah cara tuhan menguat kan hatimu. Membentuk dirimu untuk dapat memahami arti CINTA, kejujuran adalah segalanya dalam membangun dalam sebuah hubungan.
...----------------...
to be continue
__ADS_1
jgn lupa like dan vote