
Ayuningtias baru datang dari arah dapur dan mendapati Yoga duduk sendirian tanpa ada Andita di sisinya.
"Loh ! Andita mana ?" Tanya Ayu seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Yoga yang menyadari kehadiran ibu mertuanya itu menatap lurus keluar. " Tu udah pergi ma." Jawabnya
"Dita !" Seru Ayu, namun wanita itu sudah memasuki Taxi dan membawanya pergi.
Ayuningtias berbalik arah menatap tajam kearah Yoga "Apa kalian punya masalah ?" Tanya Ayu menyelidik.
Deg...
Wajah Yoga seketika panik saat mendengar pertanyaan Ayu, Yoga mencerna setiap kalimat yang di lontarkan Andita tadi.
"Jawab Yoga. kenapa sikap Andita jadi berubah seperti itu ?" Tanya Ayu lagi
"Yoga gak tau ma, Yoga juga bingung." Jawab Yoga sekenanya, namun di dalam hatinya justru khawatir Andita pergi meninggalkan nya.
Yoga segera tersadar apa yang harus dia lakukan sekarang, Pria itu berlarian di undakan tangga tanpa perduli Ayu yang masih menatap nya. Lalu menyeret tangan perawat Andita yang masih berdiri ditempatnya sejak tadi.
"Kenapa sayang, apa kamu sudah tidak sabar mendengarkan desahan ku lagi." Ucap perawat itu menggoda Yoga.
"Omong kosong macam apa itu. Ini uang cepat tinggalkan rumah ini sebelum istriku kembali." Yoga menarik telapak tangan perempuan itu dan menaruh uang di tangannya.
"Uang itu lebih dari cukup sekedar membayar tubuhmu selama disini.Dan jangan pernah kamu coba-coba membuka mulutmu tentang apa yang sudah terjadi, jika hal itu terjadi maka aku tidak akan segan-segan menutup mulutmu selamanya, ingat baik-baik selamanya !!." Ancam Yoga kepada perempuan itu, auranya berubah bak iblis dalam sekejap. Tatapan matanya sangat tajam, nyaris tidak terlihat sosok Yoga yang lembut dan baik hati.
"Apa maksudmu?! Apa kamu sedang mengancam ku, setelah apa yang kamu perbuat padaku ?!". Teriak perempuan itu tertahan
"Kau dengar, tidak ada waktumu untuk bertanya apapun alasanku. Waktumu 10 menit dari sekarang, jika tidak ? maka aku akan menendang mu secara paksa keluar dari sini." Tukasnya kejam.
"Tuan Yoga yang terhormat tidak perlu kaki anda bersusah payah menendang saya, saya masih mampu berjalan dengan baik !" Tukasnya
"Kalau begitu lakukan segera !!" Geram Yoga.
Ayuningtyas berlari menuju kamarnya, saat tak mendengar percakapan lagi di balik pintu di hadapannya saat ini. Ia tak ingin kepergok salah satu orang di dalam sana, kalau dirinya mendengar pembicaraan di antara mereka.
Ayu shock dengan apa yang di dengarnya barusan. Sejujurnya ia tak bermaksud untuk menguping, tapi karena mendengar kata-kata Yoga yang penuh intimidasi menariknya untuk mendengarkan percakapan di balik pintu kamar itu.
Ayu mengunci pintu, lalu bersandar pada tembok kamarnya guna menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Apa karena itu Andita memintaku menjaganya akhir-akhir ini, apa karena itu Andita berubah sikapnya. Oh tuhan, rumahku di jadikan tempat berzina oleh Yoga. Astaga, ada apa dengan semua ini ?" Air mata Ayu lolos begitu saja, membayangkan penderitaan putrinya itu.
"Maafin mama sayang..." Isak Ayu, hanya itu kata yang mampu terucap dari mulut Ayu.
...----------------...
Dengan langkah terburu-buru perawat itu meninggalkan kediaman Brata, tangannya terkepal kuat. Ia tidak terima di usir Yoga dengan cara seperti tadi dan di ancam oleh Dokter bermuka dua itu.
"Mampus kamu Dokter cabul, tunggulah kehancuran rumah tangga mu !!" Seringai terbit di wajahnya perawat itu penuh dendam dan amarah yang membara.
" Dan aku akan kembali lagi, pada saat yang lebih tepat." Desisnya sambil berlalu meninggalkan rumah megah tersebut.
Flashback on#
Malam itu...sebut saja namanya Angelina, ia sedang mengatur aliran Infus Andita, Tiba-tiba saja Yoga masuk dan duduk di samping istrinya. Sesekali Yoga melirik ke arah perawat itu, hingga mengikuti langkah gadis itu sampai sofa, perawat itu bersandar sambil memejamkan matanya. Mungkin dia lelah dan mengantuk.
Entah sengaja atau tidak dua kancing bajunya terbuka dan memperlihatkan dua gundukan putih mulus di antara kancing yang terbuka. seketika fantasi liar Yoga memenuhi hasratnya yang sudah terbendung selama hampir satu bulan sejak Andita terbaring sakit.
Setelah yakin Andita sudah terlelap Yoga menghampiri Angelina, dan duduk di sisi perempuan itu.
"Angel. Betul itu nama kamu ?" Tanya Yoga lembut.
"Iya pak." Angelina berjangkit kaget.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Yoga mulai menggoda
Angelina tersipu malu mendapat pujian dari sosok tampan di sampingnya itu, siapa yang tak tergoda coba tutur sapa nya lembut dan sepertinya dia tipe suami penyayang, Terlihat dari sikapnya yang penuh perhatian terhadap istrinya. hati perempuan mana yang tak akan meleleh, tanpa terkecuali Angel.
"Bapak bisa aja." Jawab Angel dengan wajah yang berbinar riang Karena mendapat pujian.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di rumah sakit itu ?" Tanya Yoga lagi
"Dua tahun pak." Sahut Angel
"Hm...kalau begitu saya permisi pak. Kembali ke kamar tamu." Sambung Angel yang merasa canggung duduk berdekatan dengan Yoga.
"Mau kemana...disini saja dulu Saya kesepian, semua orang sudah tidur. temani saya ngobrol ya, Sepertinya ngobrol denganmu asik juga" Yoga menyambar lengan Angelina saat gadis itu sudah berdiri.
Angel menoleh menatap wajah Yoga sejenak, yang akhirnya menurut dan kembali duduk di sisi Yoga, sedangkan Yoga sama sekali tidak melepaskan tangan Angelina dari cengkraman nya.
"Apa bapak mau kopi ?" Tanya Angel kaku dan gugup.
"Tidak. Saya menginginkan tubuhmu." Tukas Yoga blak-blakan
"Bapak bicara apa sih !" Marah Angel.
"Jangan pura-pura polos dan bodoh Angel. Berikan tubuhmu dengan suka rela, maka saya akan menggandakan gaji mu selama merawat istri saya." Tukas Yoga memberikan penawaran, ia terlihat tidak perduli tawaran nya di terima atau tidak.
"Atau..." Yoga menggantung kalimat nya.
"Atau apa pak ?" Tanya Angel was-was.
"Atau tidak mendapatkan gaji mu sama sekali." Tukas Yoga santai.
Angel terdiam saat mau menjawab lelaki itu, karena tatapan tajam Yoga menciutkan nyali nya. "Bagaimana ? Kamu setuju ?" Tanya Yoga memburu Angel, melihat perempuan itu terdiam mematung.
__ADS_1
"Saya tau kamu menginginkan sentuhan saya, kamu sengaja kan membuka kedua kancing baju mu itu ." Bisik Yoga di telinga Angel, di sela-sela deru nafasnya yang memburu.
Angel menunduk melihat bajunya. Benar saja dan Angel baru menyadari yang di katakan Yoga barusan lalu buru-buru ia mengancing bajunya yang terbuka.
"Baju sialan." Desisnya
"Akui saja kalau kamu menyukai saya." Sahut Yoga, sambil mencegah Angel mengancing bajunya.
"Tidak ! Pak Yoga salah paham.!" Tegas Angel
Sreet...sreet... Yoga merobek seragam Angel. Dengan buasnya lelaki itu menggagahi perawat itu di hadapan istrinya yang sedang terbaring sakit.
Angelina tidak kuasa menahan tangisnya saat dirinya di lecehkan seperti itu, haruskah ia menyalahkan seragam sialan itu yang dengan nakalnya main terbuka begitu.hingga memancing nafsu bejat seorang Dokter cabul itu.
" Apa yang kamu tangisi, tidak perawan juga kok." Ucap Yoga santai, sambil memakai kembali pakaiannya.
"Kembalilah ke kamar tamu, dan bersikap lah seperti tidak terjadi apapun. Dan siapkan selalu dirimu selama masih di sini, jika menginginkan gaji mu." Ucap Yoga santai namun penuh penekanan di setiap kata-kata nya.
Gadis itu memungut pakaiannya, dan memakainya lagi.lalu beringsut meninggalkan kamar terkutuk itu.
Berawal dari paksaan yang berakhir menjadi kebutuhan bagi Angel dan Yoga, hingga mereka hampir setiap ada waktu selalu menikmati surga dunia mereka. Dan tanpa di minta oleh Yoga pun Angel selalu memberikan Andita obat tidur dengan dosis lebih dari anjuran Dokter, agar mereka bebas melakukan perbuatan maksiat tersebut.
Flash back of
Yoga segera menelepon nomor Andita, tersambung namun sama sekali tidak di angkat. Yoga kembali melakukan panggilan di nomor yang sama, lamat-lamat terdengar suara dering ponsel di kamar Andita.
"Oh shit, Andita meninggalkan ponselnya. Bagaimana aku bisa melacak keberadaan nya." Desis Yoga frustasi
Yoga menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar, sepertinya hari ini Yoga akan banyak menguras tenaganya untuk berkeliling kota Jakarta mencari istrinya.
...----------------...
Sementara itu, Andita sudah duduk manis di kursi penumpang sebuah pesawat tujuan kota Batam, saat ini Andita memikirkan bagaimana caranya agar Yoga tidak mengetahui kedatangan nya kesana sampai tujuannya berjalan dengan sempurna.
Bayang-bayang pengkhianatan Yoga terhadap pernikahan nya menari di pelupuk matanya, di hadapannya saja Yoga bisa melakukan hal demikian lalu bagaimana kalau lelaki itu berada jauh dari jangkauan nya. Mungkin hal lebih gila lagi yang terjadi, mata Andita berkaca-kaca.
"Tidak. Aku tidak boleh menangisi pengkhianat itu !!". Batinnya
Tangannya meraih majalah bisnis yang ada di hadapannya tanpa memperhatikan covernya, lalu dengan malas-malasan Andita mulai membuka-buka halamannya.
Tiba-tiba raut kelam di wajahnya berganti dengan bibirnya yang tertarik membentuk sebuah senyuman, pandangannya terpaku pada sosok gagah dan tampan terpampang di sana.
Bagas Adiwijaya Subroto. gagah, karismatik,tampan dan penuh pesona. Dia seorang pengusaha termuda yang sukses di abad ini.akan tetapi siapa sangka, pria tajir tersebut masih berstatus lajang hingga detik ini. dari kabar yang kami dapatkan alasan pria tampan itu masih betah dengan kesendirian nya menanti cinta pertamanya kembali kepelukan nya. "Waw !!" siapakah gadis beruntung itu ? Kira-kira seperti itulah cuplikan isi majalah yang memuat tentang sosok Bagas di mata publik.
"Mas..." Andita tak dapat melanjutkan kata-katanya, tenggorokan nya seakan tersumbat. Sakit yang di torehkan oleh Bagas, belum sebanding dengan pengkhianatan yang terjadi di depan matanya.
"Apa mas sudah melupakan Dita ? Selama Dita di Jakarta sekalipun mas belum pernah datang. Apa mas benci Dita ?" Lirihnya. Andita terus beranggapan bahwa Bagas sudah melupakan dirinya bahkan menganggap Bagas membencinya.
Pada kenyataannya Bagas lah yang membawa malaikat penyelamat untuknya.
Hadapi masalahmu sesulit apapun,lari dari masalah bukan pilihan yang tepat. kemukakan keluh kesah mu, sampaikan uneg-uneg mu, lalu dengarkan alasan pasanganmu.carilah jalan keluar bersama demi kelangsungan hubungan mu, akan di bawah kemana dan mau di kemas seperti apa. Yakinkan hatimu, mantap kan pikiranmu, Jika hubungan itu masih mampu kamu perbaiki, maka maafkanlah salahnya. Lupakan dosanya, mulailah semuanya dengan lembaran baru.
"Papa." Desis Andita
"Mbak, mbak...bangun." seseorang menepuk pundak Andita yang tertidur pulas di kursinya.
Andita membuka matanya dan menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruang pesawat, semua penumpang sudah turun Tersisa dirinya sendiri.
"Ternyata hanya mimpi. Maaf saya ketiduran." Jawab Andita pada pramugari cantik itu, yang sedang menatapnya dengan pandangan geli.
Andita bergegas berdiri dan segera turun, tapi benaknya masih di liputi sosok yang berbicara dengan nya tadi.
"Apa tadi papa menemui Dita ?maafkan Andita pa, putrimu akan segera menemui mu.tunggulah sebentar lagi." Ucap Andita sambil melangkah dengan cepat.
Andita menyetop taxi dan segera meluncur ke tempat tujuannya. sekarang Andita sedang memikirkan bagaimana caranya bisa masuk kerumah Yoga tanpa terekam kamera CCTV.
"Pak, nanti tolong berhenti di toko kue sebentar ya." Pinta Andita pada supir taksi ketika ia sudah menemukan cara masuk ke rumah Yoga.
"Baik Non." Sahut supir
Setelah membeli kue, Andita meluncur ke arah rumah penuh kenangannya bersama Yoga.
"Pak nanti berhenti jauh dari rumah ya, dan saya minta tolong bapak berikan kue ini kepada pak Amin. Nanti dia akan menemui saya setelah membaca pesan saya di atas kotak kue ini." Jelas Andita pada sang supir.
"Baik Non." Terimakasih pak." Sahut Andita
Mobil taksi tersebut sudah berhenti sesuai instruksi Andita, dan sang supir telah menjalankan tugas nya.
Benar saja, tak lama kemudian Mang Amin datang.
"Bagaimana pak, sudah aman ?" Tanya Andita
"Aman Non." Sahut mang Amin, namun di dalam hatinya justru keamanan mereka terancam.
"Ayo non. Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi non." Cicit Mang Amin yang berjalan terburu-buru di belakang Andita.
"Dita gak sempat untuk cerita Mang, maafin Dita ya. Ohya apa sudah kumpul semua di dalam ?" Tanya Andita
"Mungkin sudah non, tadi bibi mu sudah mengumpulkan pekerja lainnya." Sahut mang Amin
Andita melangkah mantap memasuki rumah besar itu, melihat Bi Ima Andita segera memeluk wanita tambun itu, sangat erat. Namun tidak lama Andita segera mengurai pelukannya, dan menarik tangan Bi Ima untuk naik ke lantai atas.
"Kalian tetap tunggu disini, sebelum saya turun." Perintah Andita
"Baik Non." Sahut Mang Amin dan yang lainnya.
__ADS_1
Tujuan Andita tidak banyak datang kerumah besar bak istana itu, hanya mengambil ijazahnya dan sepasang buku nikah dirinya dan Yoga. Sementara barang-barang yang lainnya, Andita tidak memperdulikan nya.
"Bi ambilkan ijazah Dita dan buku nikah di laci nakas. Dita tunggu di balkon ya." Ucapnya sedih, entah kenapa tiba-tiba rasa sedih merasuk menusuk relung hatinya.
Andita menatap balkon, dimana biasanya mereka memadu kasih dan sarapan bersama. Andita melangkah menuju balkon dan membukanya, Andita berdiri di sana menatap lautan yang membentang luas. Air matanya tak tertahankan lagi meluncur bebas membasahi pipinya, Andita menatap sofa dan menyentuh nya isak tangisnya kian menyayat pilu.
Andita menyusuri lekukan sofa dengan ujung jarinya, di sofa ini biasanya mereka bercanda dan bermanja. Mengucap harap dan janji cinta di antara mereka.
"Kenapa mas, hanya karena nafsu kamu rela mengkhianati ku, menghancurkan perasaan ku. Kamu tega mas..." Andita terisak pilu di sofa.
"Non..." Bi Ima menyentuh surai Andita,dan memeluknya erat.
"Ayo kita turun Bi, Dita gak sanggup lama-lama disini." Ajak Andita
Bi Ima memberikan apa yang di mintanya, lalu mereka turun menemui pekerja yang lainnya.
Andita terdiam sejenak menatap semuanya, lalu menatap wajah bi Ima.
"Sebelumnya saya minta maaf kepada kalian semua, mungkin selama di sini pernah menyakiti hati kalian dengan sikap dan kata saya. Terkhusus nya untuk Mang Amin dan Bi Ima, Dita banyak sekali merepotkan kalian. Maafkan Dita ya Bi, Mang." Air mata Andita kembali menganak sungai.
"Non Dita mau kemana ? Ada apa ?" Tanya Bi Ima, sambil menangis.
"Dita mendapatkan pekerjaan bi, dan itu jauh sekali." Sahut Andita asal
Semuanya menatap tidak mengerti maksud ucapan majikannya itu, kentara sekali wajah mereka menyiratkan berbagai pertanyaan.
" Kalian jangan khawatir soal tuan, kalau dia bertanya jawablah yang sejujurnya bahwa memang benar saya datang kesini. Soal CCTV di gerbang utama bilang saja sedang di perbaiki makanya tidak berfungsi. CCTV mengarah taman sesuai permintaan Dita tetap menyala kan Mang ?, karena semua CCTV di rumah ini selalu terhubung di ponsel tuan ?" Andita menolehkan kepalanya ke arah taman Lieros penuh kenangan itu.
"Iya non." Sahut Mang Amin
"Baiklah, semuanya boleh kembali bekerja. Kecuali Bi ima." Ucap Andita tersenyum menatap kedua bola mata tua di hadapannya itu. Bi ima sudah seperti ibu kedua bagi Andita, ia menyayangi perempuan tambun itu.
"Bi ayo temani Dita ke taman sebentar, mau ya." Andita menarik tangan Bi Ima dan Bi Ima tak bisa berkata-kata selain mengikuti kemauan Andita yang sudah seperti anaknya sendiri.
Andita dan Bi Ima sudah ada di taman, wanita itu melihat bunga-bunga tubuh subur bermekaran. Wangi khas bunga memenuhi indera penciuman nya.
Andita memetik bunga mawar putih, bunga lili dan anggrek putih, Andita menggenggam erat ketiga tangkai bunga itu.
Lalu Andita duduk di ayunan, sedang bi Ima menatap sedih wajah sang majikannya.
Andita menatap bunga-bunga di tangannya, lalu tersenyum kecut.
"Kamu pembohong mas, apa arti dari taman ini. Apa arti ketiga bunga ini, kalau kamu ternyata mengkhianati cinta mu untukku." Lirih Andita
"Bi tolong petik ketiga bunga ini ya, lalu minta Mang Amin membuatnya menjadi sebuah buket bunga yang indah." Tutur Andita lembut
"Hm...ya non." Sahut Bi Ima
...----------------...
Yoga lelah seharian menyambangi seluruh pusat perbelanjaan di Jakarta, namun tidak menemukan orang yang di carinya.
Lelaki itu memutuskan untuk istirahat di rumah orang tuanya, sikap Andita dan kata-katanya pagi tadi sangat menguras pikiran nya.
"Lah kok sendiri, Andita mana ?" Tanya Indira, saat melihat Yoga datang sendiri.
"Lagi belanja ma Yoga habis antar dia, dia mau sendiri. Nanti kalo sudah selesai Andita akan telpon." Elak Yoga, lalu pergi menaiki tangga untuk istirahat.
"Oh begitu, apa kamu sudah makan ?" Tanya Indira
"Sudah ma, tadi makan siang sama Andita." Bohong Yoga dari tangga
Bolak-balik Yoga di atas tempat tidur, namun tidak bisa memejamkan matanya meskipun hanya sebentar. Ia menatap jam tangan nya " Pukul 3." Desisnya
Yoga melihat ponselnya, membuka-buka album foto mereka. "Kamu kemana sayang ?" Lirih Yoga ketika menatap wajah Andita yang tersenyum manis tengah berdiri di balkon rumah mereka.
Setelah cukup lama berbaring namun tak bisa tidur Yoga memutuskan kembali ke rumah mertuanya, menunggu kedatangan Andita.
"Ma, Yoga jemput Andita dulu." Yoga buru-buru meninggalkan rumah orangtuanya tanpa menunggu jawaban dari Indira.
...----------------...
Menjelang Magrib Andita tiba di Jakarta, dan langsung menuju rumah orang tuanya dengan taxi.
Sebuah taxi memasuki halaman rumah keluarga Brata, Yoga dan Ayu tak lupa Brata langsung berlari keluar menyambut siapa yang datang.
Saat melihat Andita yang turun dari taxi itu, Yoga segera menghampiri istrinya.
"Sayang kamu kemana aja." Yoga memegang kedua bahu Andita dengan wajah cemas dan senang, ketika melihat istrinya itu baik-baik saja.
"Turunkan tangan kotor mu itu, jangan pernah sentuh saya !!" Tukas Andita sarkas. Yoga tentu saja kaget, ya kan, ya kan, ya dong.
"Ohya, seharian saya mencari bunga ini. Bunga ini saya ambil di tempat yang jauh, jauh sekali. Sebagai lambang kemurnian cinta yang tulus tanpa pengkhianatan !!" Ucap Andita dingin, lalu menyerahkan buket bunga itu ke tangan Yoga.
Andita berlalu begitu saja dari hadapan Yoga, begitupun dengan Brata dan Ayuningtyas wanita itu tidak tersenyum ataupun menyapa.
...----------------...
To Be Continued
kelenger ngetik segini banyakπ demi kalian yang meminta Up banyak.
yang baca ribuan dalam sehari, tapi yang like 100 dan 200 orang dan vote satu dua orang aja.(di situ terkadang mood Author sedikit melemah)π
maaf ya kalo ada kata Typo, Author manusia biasa yang punya banyak kesalahan ππ apalagi kalo ngerasa pinggangnya udah pegel, auto ngetik gak konsentrasi lagi.
__ADS_1