
Rasa bersalah dan penyesalan akan selalu hadir setelah peristiwa dan beriringan dengan rasa kehilangan serta putus asa.hal itulah yang di rasakan Hanna saat ini,ia sedang menyesali setiap perbuatannya.setelah Resmi menyandang status Janda,Hanna terusir dari rumah sendiri dan tak di akui oleh kedua orang tuanya.
Ia menyesal telah menjebak Bagas,dan juga menyesali selama menjadi istri Bagas tidak pernah berusaha untuk menjadi istri yang sebenarnya,ia justru memanfaatkan kesempatan itu dengan selingkuh dan foya-foya dengan Dalih Bagas tak memperdulikan nya.kini hanya tersisa Dendam dan air mata dalam jiwa Hanna, kata-kata lantang Bagas terus terngiang di telinganya, kata-kata penolakan orang tuanya,bahkan orang-orang yang selama ini bekerjasama dengannya ikut mencampa kan nya dan menghinanya.
Setelah sidang perceraian putus,Hanna ingin meminta maaf sama Bagas. "Mas maafkan atas kesalahanku." ucap Hanna sambil mengulurkan tangan ke hadapan Bagas.namun tangan Hanna di tepis kasar oleh Bagas, "Kamu dengar baik-baik Pela**r.! jangan pernah injakan kaki kotor mu itu kedalam rumahku lagi,mulai hari ini.! pergi menjauh dariku jalang murahan.!!" seru Bagas,saat Hanna masih berusaha untuk meminta maaf.Bagas segera meninggalkan Hanna yang sedang terisak menangis tanpa perduli sedikitpun.
Fatima yang menemani sidang perceraian Hanna,membawa putrinya pulang kerumahnya.hati seorang Ibu tetaplah lembut meskipun Hanna sangat durhaka terhadapnya selama ini,tak pernah mau mendengarkan setiap nasehatnya.jika ibunya memberikan nasehat, akan di balas dengan cercaan pedas oleh Hanna.
ketika sampai dirumah orang tuanya, Hanna mendapatkan sesuatu hal yang tak di harapkan nya di kala ia sedang jatuh dan terpuruk.
Hanna menatap Allisa sudah berada di rumah orang tuanya,saat ia tiba.ya,orang tua Hanna hanya melindungi cucu mereka dari kekacauan yang terjadi pada nya saat ini. Rahman keluar dari kamarnya mendapati Hanna duduk di ruang tamu rumahnya, amarah seorang Ayah yang kecewa dan malu terhadap perbuatan putrinya tak bisa di bendung lagi....,
"Pergi kamu anak durhaka.!"
"Perbuatan mu sudah mencoreng nama baikku. !! hanya karena Obsesi konyol mu itu, rela kamu melakukan apapun tanpa kamu memikirkan akibatnya.! perusahaan ku terancam bangkrut karena tindakan anak tak tau di untung seperti kamu.!!!" Kemarahan Rahman meluap,saat mengetahui perbuatan putrinya itu.
"Ayah,Ibu, maafkan Hanna." Hanna bersujud di kaki Ayah dan Ibunya,namun hati Rahman sudah terlanjur mengeras sehingga sulit memaafkan dan menerima semua perbuatannya.
"Pergi kamu dari hadapanku.! Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi dirumah ini.!!" Teriak Rahman penuh kemarahan
"Ayah...,?! Teriak Fatima saat melihat anaknya diseret keluar oleh suaminya. Ibunya Hanna hanya mampu menangis,ia tak bisa berbuat banyak untuk membela putrinya dari amukan Suaminya.
"Ayah, Ibu.Hanna mohon..., meskipun Ayah menolak Hanna tapi tolong biarkan Allisa bersama kalian." Mohon Hanna, saat ia sudah di seret dan di dorong keluar rumah oleh Ayahnya.
"Hanna akan pergi Bu, titip Allisa." Ucap Hanna,sambil mengelus kepala putrinya yang berada di pangkuan pembantunya.
Dari bayi hingga berumur 3 tahun,Allisa besar dalam dekapan baby Suster tanpa campur tangannya.ia mengelus pipi gadis mungil itu dan menciumnya, air mata Hanna tumpah semakin deras.
Fatima mengangguk dan menangis, "Pergilah Nak.Allisa biar Ibu yang merawatnya,jaga dirimu baik-baik. ingatlah, perbuatan di masalalu jadikan pengalaman,jangan sampai di ulang kembali."
"Ibu tidak bisa berbuat banyak saat ini.Beritahu Ibu dimana pun kamu tinggal." Ucap Fatima. Hanna hanya mengangguk dengan berurai air mata,ia kembali menghampiri Allisa.
"Sayang.maafin Mama,karena belum bisa menjadi orang tua yang baik buat Allisa."
"Mama doakan Allisa tumbuh jadi anak yang baik dan pintar,Allisa sama Oma dan Opa dulu." Pamit Hanna pada putrinya
"Mama mau kemana, ? Jangan tinggalin Allisa ma. Allisa janji, tidak akan jadi anak sialan lagi." Ucap Allisa sambil menangis. "Maafkan Mama,sayang." Hati Hanna sakit mendengar perkataan putrinya.ini untuk pertama kalinya ia mencium, memeluk gadis mungil itu.
Setelah itu Hanna segera pergi meninggalkan Allisa bersama orang tuanya, dengan uraian air mata penyesalan.tanpa menoleh sedikit pun ia pergi entah kemana, pergi menjauh dan mengikuti kemana kaki melangkah membawanya.
Ayah Hanna menangis dalam diam menyaksikan kedua perempuan yang merupakan darah dagingnya itu harus terpisah, hatinya pedih dan sedih memikirkan nasib cucu nya karena menjadi korban keegoisan Hanna.
Dia menerima Allisa meskipun ia menolak Hanna, Rahman mengeraskan hatinya untuk tetap mengusir putrinya dengan tujuan agar Hanna bisa memperbaiki kesalahannya atas apa yang sudah ia tuai dari hasil perbuatannya.
Setelah kepergian Hanna,Fatima menggendong Allisa yang masih menangisi kepergian Hanna dan membawanya masuk kedalam rumahnya. Rahman yang melihat Allisa masih menangis dalam dekapan Fatima, menghampiri nya "Sini sayang,sama Opa." Rahman mengulurkan kedua tangannya pada Allisa.ia menggendong dan mendekap Allisa dalam tangis,tangis perih melihat nasib cucunya yang tak mempunyai Ayah dan Ibu disisinya.Allisa kecil sangatlah cantik, namun sudah harus menerima takdir pahit yang di ciptakan oleh Ibunya sendiri.ya,semuanya berawal karena perbuatan Hanna.
Allisa mendongak menatap Opanya yang berurai air mata, "Opa jangan menangis...,Allisa janji tidak akan menjadi anak sialan lagi." Ucap Allisa sambil menghapus air mata Opanya itu.
__ADS_1
Tubuh Rahman bergetar semakin terisak mendengar celotehan cucunya,
"Sayang.kenapa bisa berkata bahwa Icha anak sialan,?" Tanya Rahman.
"Kata Mama, Allisa anak sialan 'Opa."
Wajah Rahman terlihat mengeras kala mendengar kejujuran polos seorang Allisa,ia geram sekali terhadap sikap putrinya itu.
"Opa, ?" Panggil Allisa
"Ya sayang,ada apa.?" Sahut Rahman sambil tersenyum dan mengelus rambut cucunya.
"Apa Opa sama Oma akan sering pergi seperti Papa dan Mama, ?" Tanya Allisa dengan gaya bicara Khas anak kecil.
Rahman tersenyum,
"Opa pergi hanya Bekerja,kalau Opa pergi Allisa bisa bermain bersama Oma." Jawab Rahman
"Asik, Allisa akan bermain bersama Oma." Seru Allisa girang
Kedua orang tua Hanna kembali menangis,saat menyadari cucunya selama ini di sia-siakan oleh Hanna dan Bagas.namun, mereka tidak bisa menyalahkan Bagas karena semuanya berawal dari perbuatan putrinya.
"Apa sekarang Allisa mau bermain,? Tanya Fatima Ibunya Hanna.
Allisa mengangguk...,
"Bik.mana mainan Allisa,?" Tanyanya
Pembantu itu menyerahkan 2 buah boneka teddy beard yang berukuran sebesar tubuh Allisa.
"Apa hanya ini,?" Tanyanya
"Ya,nyonya." Jawab si pembantu
'Keterlaluan sekali kamu Hanna',geram Fatima.
Sedangkan Allisa melihat boneka kesayangan nya,ia langsung turun dari pangkuan Rahman dan menyambar bonekanya.
"Ini hadiah dari Papa, Oma." Ucap Allisa sambil memeluk dan mencium bonekanya
"Ohya,yang satunya pasti hadiah dari Mama,?" Tanya Rahman, sambil tersenyum mengelus puncak kepala cucunya itu.
Allisa menggeleng sedih, sambil terus menciumi bonekanya.
Rahman terlihat kembali menahan amarahnya, "Ternyata, Bagas masih mempunyai hati ketimbang Hanna." Gumamnya yang hanya bisa di dengar Istrinya saja.
Fatima menatap wajah suaminya, "Ayah,ayo kita ajak Icha beli mainan dan jalan-jalan." Ajaknya,yang langsung di angguki oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Icha,sekarang mandi. setelah itu,kita pergi membeli mainan untukmu." Ucap Fatima
"Hore,ayo Oma." ajak Allisa bahagia
Fatima melirik baby suster Allisa, "siapkan baju Allisa, kami akan membawanya jalan-jalan." Perintah Fatima yang di angguki oleh pembantu sekaligus baby suster tersebut.
Fatima membawa Allisa untuk mandi,dan bersiap.ia berjanji pada dirinya sendiri,akan mencurahkan kasih sayang sepenuhnya pada Allisa.seperti apa yang Hanna dapatkan dari mereka dahulu,apa yang tidak Allisa dapatkan selama ini dari Hanna akan ia dapatkan dari Oma dan Opa nya.
Rahman tersenyum melihat senyum bahagia Allisa dalam gendongan Fatima,ia seperti melihat Hanna kecil dulu yang sangat mereka sayangi.Hanna dari kecil tidak pernah kekurangan apapun,dari materi hingga kasih sayang semuanya ia dapatkan.
"Lalu apa salah dengan cucuku Hanna." Desis Rahman sambil mengusap wajahnya, lalu ia ikut menyusul Istrinya untuk bersiap dan akan memulai memberikan apa pun yang Allisa butuhkan, tentunya yang paling utama yakni kasih sayang sepenuhnya.
...----------------...
Bagas sudah mengetahui semua perihal perbuatan Hanna yang menjebaknya serta mengetahui juga mengenai Allisa bukanlah anak biologis nya setelah melakukan tes DNA,perselingkuhan dan perbuatan Hanna mempercepat proses perceraian mereka dan Hanna tidak berhak mendapatkan secuil pun Harta Bagas.
Kini Hanna hanyalah janda miskin yang terbuang, tanpa kartu kredit, tanpa barang branded,tanpa kongkow-kongkow ala Sosialita,bahkan ia hanya mampu sewa tempat yang sempit dan kumuh.
Teman-teman Hanna semuanya menolak Hanna,termasuk Edo.mereka betul-betul mengucilkan Hanna, "Ed,aku mau numpang disini untuk sementara.aku di usir orang tuaku,juga tak mendapatkan apapun dari Bagas."
"aku mohon." Hanna memelas minta belas kasihan dari Edo,namun yang ia dapatkan justru sebaliknya.
"Cih.aku gak sudi nampung pela**r murahan.!" Hina Edo saat Hanna ingin numpang tinggal di Apartemen nya.
"Hahaha...,itu derita lo.aku tak peduli apapun keadaan kamu 'Hanna.!"
"Apartemen ini milikku,dan aku berhak tidak menerima tamu seperti kamu.silakan pergi dari sini..!!!" Teriak Edo sambil menutup pintu Apartemen nya.sementara Hanna tidak bisa lagi bebas masuk karena akses keluar masuknya sudah di blokir oleh Edo,tak ada pilihan lain selain pergi dari sana. pergi membawa air mata dan sakitnya di hina dan di campakkan.
Kini Hanna tidur di kamar sempit dan pengap berteman penyesalan dan air mata,ia sangat merasa bersalah terhadap Andita yang merupakan temannya sendiri. "Andita.dimanapun kamu sekarang,maafkan aku.aku sudah tahu semuanya,maafkan aku Dit." Ucap Hanna disela tangisnya.
Hanna sudah pergi kerumah Andita, untuk meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.namun tak bertemu oleh sahabatnya itu, menurut keterangan Ibunya,Andita sudah tak tinggal dan bekerja lagi di Provinsi K, dan Ibunya Andita tidak memberitahu dimana putrinya karena memang dia belum mengetahui dimana putrinya berada saat ini.
...----------------...
Hanna sudah meninggalkan kota kelahirannya sejak bercerai dari Bagas dan di tolak orang tuanya.untuk memenuhi kebutuhan nya sehari-hari Hanna bekerja di sebuah kedai kopi, saat pulang Kerja Hanna hanya mampu berjalan kaki untuk menghemat uangnya.
"Hahaha...." Hanna menertawakan nasib yang ia ciptakan sendiri,ia menertawakan kebodohannya selama ini.
"Kau bodoh,Hanna.!" Teriaknya pada dirinya sendiri,saat ia sudah membaringkan tubuhnya di kasur tipis kamarnya.
Sebelum mengistirahatkan tubuh lelahnya,Hanna selalu menangis dan merutuki nasibnya.terkadang timbul kobaran dendam dalam diri Hanna terhadap orang-orang yang mencampa kan nya,terkadang timbul rasa membenci dirinya sendiri.
...----------------...
TBC
jgn lupa like dan komentar
__ADS_1
maaf kalau Typo 🤪