
Pihak kepolisian sudah melakukan olah TKP dan sudah memasang police line di beberapa titik tempat kejadian perkara, dengan barang bukti sebuah kendaraan roda empat jenis sedan. Dan pihak kepolisian juga sudah mengantongi indentitas pengendara, sementara praduga meninggalnya seorang korban akibat dari sebuah tabrak lari yang di lakukan oleh seorang oknum D*kter.
Dugaan sementara oknum tersebut melarikan diri setelah mencelakai korban hingga tewas, namun karena kecepatan mobil di atas batas normal mengakibatkan sang pengemudi lepas kendali dan menabrak pembatas antara pengadilan dan badan jalan.
Menurut pihak kepolisian oknum juga merupakan anak dari keluarga D*okter spesialis ternama daerah Ibu Kota.
Klik.... Indira menekan tombol off pada remote televisi yang menayangkan berita tentang putranya. Ruang inap VVIP hening mencekam, Chang Lie mondar-mandir sesekali mengusap wajahnya kasar.
Indira berjalan ke arah ranjang Yoga, ia menatap wajah memar putranya. Indira menangis, tiada yang dapat ia lakukan selain menangis. Membayangkan putranya akan meringkuk tertidur di dalam jeruji besi dengan kondisi yang cacat secara permanen, vonis Dokter yang menangani Yoga begitu. Namun, harapan Chang Lie dan Indira masih ada keajaiban dari yang maha kuasa.
Kedua kaki Yoga patah dan nyaris remuk pihak Dokter yang merupakan kaki tangan Chang Lie tidak dapat membantu selain melakukan amputasi tapi hal itu di tolak keras oleh Indira. Ia tidak bisa membayangkan putranya akan duduk selamanya di kursi roda, pada kenyataannya di amputasi atau tidak Yoga akan tetap bergantung pada kursi roda jika masih ada kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup.
Hasil diagnosa lainnya Yoga juga di vonis akan mengalami impoten, karena dampak dari terjepit bagian stir mobil.
"Ya Allah apa ini sebuah hukuman untuk kami, betapa sakit hukuman yang engkau beri. Bagaimana putraku menjalani kehidupan nya nanti, apa anakku mampu tuhan...!." Isak Indira, Chang Lie meraih tubuh Indira dan memeluknya.
"Kamu benar. Ini adalah hukuman untuk kita, selama ini papa dan Yoga sudah melakukan tindakan di luar prikemanusiaan, tanpa perduli kesakitan mereka yang jadi korban kekejaman kami." Lirih Chang Lie
"Pa, sedapat mungkin Shinee jangan sampai tau apa pekerjaan kalian sebenarnya selama ini. Untung shinee tidak tertarik mengikuti jejak kita sebagai Dokter. apakah kita semua akan di penjara ? Mama rela pa terkurung di penjara, setidaknya kita bisa bersama Yoga. Shinee dia sudah dewasa dan sudah mampu berdiri sendiri." Ujar Indira
"Apapun yang terjadi Shinee tidak perlu tau. Biarkan dia fokus pada bisnis barunya, jangan sekali-kali memancing Shinee supaya dia pulang di waktu sekarang." Sahut Chang lie
"Tidak ! Tidak Indira. Kita tidak akan di penjara, begitupun dengan Yoga. kalau tidak ada yang membongkar rahasia kita." Lanjut Chang Lie. Kedua tangan nya mencengkram kedua bahu Indira, dengan tatapan mata penuh kecemasan.
Cemas ! Ya, itulah sebagian besar yang Chang Lie pikirkan saat ini. Terbongkar semuanya, maka hancurlah kehidupan Chang Lie dan keluarga nya. Hancur semua apa yang sudah ia bangun selama ini bersama Yoga. Sedangkan Shinee anak kecil manja itu tidak terlibat sedikitpun, bahkan ia tidak mengetahui sama sekali sepak terjang kedua orang tua beserta kakaknya.
"Pihak kepolisian pasti akan kemari pa, meminta keterangan dari Yoga juga dari kita." Khawatir Indira semakin memuncak
"Jawab seadanya, selebihnya tidak perlu di jawab. mereka kesini itu sudah pasti. dan pertanyaan mereka hanya seputar kecelakaan yang terjadi, Dan mereka tidak akan mendapatkan informasi apapun selama Yoga masih belum sadarkan diri." Jawab Chang Lie
"Perempuan itu sudah meninggal dunia pa, bagaimana nasib Yoga." Keluh Indira terus berurai air mata.
"Aku akan berusa semaksimal mungkin membebaskan Yoga dari tuntutan atas tindakan yang dilakukan nya, bagaimana pun caranya. Selama Yoga Belum sadar adalah kesempatan ku untuk bergerak." Sahut Chang lie mantap dan tegas.
"Apa yang akan papa lakukan ?." Tanya Indira
"Apapun Indira, yang penting Yoga bebas dari jeratan hukum." tegas Chang Lie
"Sebaiknya kamu istirahat." Suruh Chang Lie pada istrinya itu. Dan Indira menuruti perintah Chang Lie.
****
Di kediaman keluarga Brata
Sepulang dari rumah Angelina Andita masih menangis, bagaimana tidak ! ternyata perawat yang sudah menghancurkan rumah tangganya itu adalah tulang punggung bagi ibunya dan adiknya yang berkebutuhan khusus. Sedangkan ayah Angelina sudah lama tiada. ibu Angelina hanyalah seorang buruh cuci untuk membantu meringankan beban Angelina putrinya yang sudah tiada untuk selamanya.
"Bagaimana nasib mereka ? Siapa yang akan meringankan beban mereka setelah Angel tiada ?." Desis Andita prihatin
Andita keluar dari kamar menuju ruang tamu setelah membersihkan dirinya. Semua mata menatap Andita yang bermata sembab, Andita duduk di sisi Brata. Pilihannya hampir selalu begitu saat hatinya kalut,duduk di sisi Brata seakan memberinya kekuatan.
"Pa..." Panggil Andita sambil masuk kepelukan Brata. Sosok Brata begitu menenangkan jiwanya, meskipun hingga detik ini Andita belum menyadari siapa Brata sebenarnya.
"Ada apa sayang ? Hm..." Brata mengacak rambut Andita,ketika Andita bergelung manja di pelukannya.
"Dita kepikiran ibu dan adik Angelina. Gimana kehidupan mereka selanjutnya ?." Cicit Andita
"Kita justru lagi bahas soal itu nak. Mas mu dan kak Robert sudah sepakat akan memberikan santunan secara rutin setiap bulan kepada mereka, dan papa sama mama sepakat akan memberikan sebuah rumah yang layak untuk ibu dan adik Angelina. Jadi gak usah di pikirkan lagi." Ujar brata sambil tersenyum
"Ohya, papa dan mama akan kembali ke kota K dan menetap di sana. Dan rumah ini akan di jual, sebagian akan di gunakan untuk membeli rumah buat mereka." Sambung Brata sambil menatap seluruh penjuru ruangan yang membentang luas.
"Hm...terus Dita boleh ikut bersama kalian ?." Tanya Andita sedih.
"Dita janji, kalau Dita sudah kembali bekerja akan cari tempat tinggal sendiri. Dita gak akan merepotkan kalian lagi, karena Dita bukan anak lajang lagi sekarang." Lirih Andita, dan semuanya mematung menatap Andita.
"Tentu saja sayang. Kemana pun papa dan mama, Dita boleh ikut. Terkecuali kalau Andita sudah bertemu kembali dengan jodoh selanjutnya, papa dan mama akan melepaskan Dita untuk yang lebih berhak yaitu Suamimu." Sahut Brata
"Terima kasih pa,ma." Dan kedua suami istri itu mengangguk sambil tersenyum.
Andita terdiam dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Pikirannya melayang, menembus hari-hari yang akan di lalui nya sebagai seorang Janda. Bayang-bayang kelam selama beberapa bulan belakangan masih sangat membekas di hati dan ingatannya, sakit dan perih.
"Apa mungkin aku mampu kembali membuka hati dan mempercayai lagi kaum laki-laki ?" Pikirnya. "Rasanya sulit." Andita menarik nafas dalam dan menghembuskan nya kasar.
Bagas sesekali menatap Andita, untuk memulai percakapan semuanya terasa canggung. Takut Andita tersinggung, saat ini kondisi hati wanita itu tengah patah dan rapuh sudah di pastikan akan sangat sensitif.
Andita menatap kearah Bagas dan tatapan mereka saling berbenturan, Andita segera membuang wajahnya ke arah Robert dan Laura. Andita teringat kata-kata bujuk rayu Indira waktu itu, yang merayu Lauren agar mau menjadi menantunya.
Andita menegakkan tubuhnya saat sesuatu yang pernah ia tanyakan belum terjawab.
"Pa,ma. Kalian belum menjawab pertanyaan Andita waktu itu." Tiba-tiba Andita buka suara, setelah semuanya diam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Deg...deg... debaran jantung Ayu berpacu seperti sedang maraton, ketika Andita tiba-tiba bertanya soal pertanyaan nya waktu itu.
Brata menatap wajah Ayu yang sudah memucat, lalu mengalihkan pandangannya pada Bagas. Sedangkan Bagas terlihat biasa saja, hanya Ayu yang terlihat seperti ketakutan. Bagas melihat hal itu...
"Besok kita kembali ke kota K, sebaiknya kita berkemas." Tukas Bagas, setelah terdiam sedari tadi.
"Kalian jawab dulu pertanyaan Dita. Apa maksud mama Indira waktu itu, soal kakak Palsu ?!". Andita berdiri saat Bagas bangkit ingin meninggalkan ruang tamu.
"Soal itu, hanya mama yang bisa menjelaskan nya." Sahut Bagas, lalu pergi meninggalkan ruang tamu dan segera menaiki anak tangga.
Begitupun dengan Lauren dan Robert, mereka segera menyusul Bagas. Sebagai orang luar mereka sangat peka, bahwa pertanyaan Andita barusan cukup pribadi.
Andita duduk di hadapan Ayuningtyas dengan tatapan mata penuh rasa penasaran.
"Mama bisa memberi penjelasan tentang kakak palsu sekarang ? Siapa kakak palsu yang di maksud mama Indira ? Apa ada hal yang mama sembunyikan ? Apa yang tidak Dita ketahui ? Apa kalian sudah membohongi Dita ?." Tanya Dita beruntun, setelah lama menunggu tapi Ayuningtyas hanya tertunduk dan diam membisu tanpa penjelasan apapun.
Bagas menatap ketiga orang itu dari lantai dua, ia ingin tahu bagaimana cara Ayu menjelaskan mengenai kebohongan nya selama ini.
"Jawab Dita ma ? Jawab Dita pa ? Jelaskan maksud kata-kata kakak palsu itu ?!."
"Kenapa kalian tiba-tiba menjadi orang bisu. Bicara pa,ma jelasin sama Dita. Dita janji tidak akan marah meskipun kecewa." Lirih Andita putus asa karena kedua orang tuanya itu hanya diam.
"Tidak ada yang mama sembunyikan nak, percayalah." Sahut Ayu dengan bibir bergetar
"Mama bohong!". Seru Andita
Bagas menatap iba wanita yang di cintai nya itu dari ketinggian. Baru saja menyandang predikat sebagai Janda, apa kah ia harus menerima kenyataan bahwa selama ini telah di bohongi. Terlebih pembohong di sini adalah perempuan yang di sebutnya "Mama". Andita pasti akan kecewa.
"Pa, jawab Dita dong jangan diam aja." Andita menggugah tubuh Brata
"Kebenaran apa yang kalian sembunyikan ?!". Tukas Andita
Diam,dan hanya keheningan. Bagas mulai menuruni tangga lagi, ia tidak tega melihat Andita seperti itu. Wanita itu sudah sadar tengah di permainkan...
"Baiklah. Itu artinya Andita disini tidak ada artinya bagi kalian, terbukti bahwa kalian tidak bisa menjelaskan apapun tentang siapa kakak palsu itu ! Itu artinya Dita tidak bisa bersama kalian. Dita tidak mau tinggal satu atap dengan manusia-manusia PEMBOHONG. Baru tadi siang Dita terlepas dari lelaki pembohong yang menjelma menjadi malaikat, tapi ternyata keluarga Dita sendiri juga Pembohong ! Dita akan pergi, dan itu artinya kalian tidak perlu menjelaskan apapun lagi kalau Andita sudah tiada di sisi kalian." Andita berlari keluar rumah
"Dita !" Seru Ayuningtyas.
"Maafin mama nak." Ayuningtyas mengejar Andita lalu terduduk bersimpuh di ambang pintu
Brata membawa Ayuningtyas melangkah keluar, sedangkan Bagas sudah melompat lebih cepat mengejar langkah Andita.
Dengan langkah besar Bagas mengejar Andita dan mencekal erat pergelangan tangan Andita.
"Kebohongan terkadang harus kita lakukan demi kebaikan bersama, meskipun kebohongan tidak pernah bisa kita terima dengan hati yang luas. Andai benar mama berbohong, mungkin mama sedang melindungi kamu dari kejahatan seseorang. Andai benar mama berbohong dan kami semua tanpa terkecuali, semua itu demi kebaikan kamu. Demi kebahagiaanmu, sayang." Ucap Bagas, tanpa melepaskan dekapannya dari tubuh Andita.
"Mas juga seorang pembohong, apa alasan mas membohongimu dulu ? Karena mas tidak mau menyakiti perasaan kamu, mas mencintai kamu, mas menyayangi mu. Dan mas tidak mau orang yang mas sayang terluka akan hal yang tidak mas lakukan itu. Mas ingin menyelesaikan semuanya, hingga terlepas dari semua itu, tapi kamu sudah pergi ninggalin mas. Sekarang apa yang kamu dapat sayang...? Kesakitan lebih dari apa yang sebelumnya. Lalu sekarang apa kamu akan lari dari masalah lagi ? Dan berakhir dengan penderitaan selanjutnya setelah kamu pergi ?." Bagas mengungkit sekilas masalalu mereka, untuk membuka pikiran Andita.
"Percayalah, tidak semua kebohongan di lakukan dengan sengaja untuk menyakiti dan mengecewakan. Meskipun sebuah kebohongan tidak pernah berada dalam sebuah pembenaran.
Mas mohon jangan pergi lagi.mas akan selalu ada untukmu dalam keadaan apapun, mas tidak perduli siapa kamu dan status kamu." Ucap Bagas panjang lebar
"Apa maksudmu mas. Kenapa kamu menyinggung soal status ku ? Aku tau dan aku sadar, aku tidaklah lebih dari seorang Janda. Bahkan kamu melihat sendiri bagaimana proses persidangan ku untuk mendapatkan gelarku sebagai Janda !". Tangis Andita pecah berderai pilu di kegelapan malam.
"Ya ampun Andita... panjang lebar mas ngomong, yang kamu simak hanya soal status ? Dengarkan apa yang mas sampaikan, jangan hanya status yang kamu pahami. Yang lainnya pahami juga Andita." Tekan Bagas sambil menatap kedua mata Andita, sedangkan tangannya masih mencengkeram erat tangan wanitanya itu.
Begitulah sosok Bagas, ia bukan tipe lelaki yang lemah lembut dan pintar merayu wanita. Dia hanyalah lelaki yang apa adanya, menyampaikan apa yang ada di dalam hati juga otaknya. Ya, begitulah karakter nya seorang Bagas...
"Oke. Sekarang mas jawab pertanyaan Dita ? Siapa kakak palsu itu ?! Tidak usah berbelit-belit.!" Tukas Andita
Bagas diam ...
"Apa kamu juga mendadak bisu karena pertanyaan ku, mas?!" Tukas Andita geram.
Tanpa menjawab tapi Bagas menyeret Andita kembali kerumah, Andita meronta tidak terima karena ia belum mendapatkan jawaban yang dia mau.
"Jawab pertanyaan ku, Bagas Adiwiyata Subroto !". Teriak Andita, yang saat ini sudah berada dalam gendongan Bagas
Bagas menghentikan langkahnya dan menatap tajam Andita, tapi wanita itu justru tidak sedikitpun menundukkan kepalanya, seakan menantang.
"Hentikan teriakan mulut cerewetmu itu, kalau tidak mau aku bungkam dengan caraku.!" Dengus Bagas seakan benar-benar menunjukkan sebuah kemarahan.
"Silakan, aku tidak takut !." Seru Andita
Bagas tersenyum menatap wajah cantik dalam gendongannya saat ini.
"Baik. Dengan senang hati aku akan melakukannya." Ucap Bagas dengan tersenyum miring, lalu menurunkan tubuh Andita.
Bagas menarik tubuh Andita merapat erat mengikis jarak di antara mereka, dengan gerakan secepat kilat Bagas membungkam mulut Andita dengan ciuman khas milik Bagas. Sontak Andita membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut yang memberikan akses bagi Bagas untuk menjelajahi rongga mulut Andita. terkejut ! Sekali lagi terkejut ya... Bukan menikmati.
__ADS_1
Andita berusaha melepaskan kedua tangannya yang masih di dalam cengkraman kedua tangan Bagas, karena gerakannya sia-sia Andita menggigit bibir Bagas.
"Awww..." Ringis Bagas
"Rasain, dasar kakak mesum.!" Hardik Andita
Bagas mengusap bibir basah Andita dengan sebelah ibu jarinya, sedangkan sebelah tangannya lagi masih berfungsi mencekal lengan Andita.
"Tidak ada kakak dan adik di antara kita Andita. Itulah jawaban nya. Setelah cukup masa Ida mu, mas akan menghapus status mu ITU. Tidak ada Andita Rosmanilla Sakapraja mantan siapapun, hanya NYONYA BAGAS ADIWIJAYA SUBROTO ! Sampai kapanpun!." Tegas Bagas seraya menatap manik mata Andita yang berkaca-kaca.
Andita diam dalam tangis tak bisa berkata apa-apa, diam dan hanya diam. Otaknya terasa tidak berfungsi sama sekali, lidahnya bahkan seketika mati rasa, keluh. Diam ! Dengan pikiran yang campur aduk.
Bagas menggenggam jemari halus Andita membawanya masuk kerumah dan duduk di hadapan Brata dan Ayuningtyas.
"Dita, maafin mama sayang." Ayu bersimpuh di kaki Andita. Bagas meraih tubuh Ayu dan membawanya duduk kembali di sisi Brata.
"Mama jangan melakukan hal itu lagi terhadap Andita. Apapun alasannya, bukan mama yang bersujud di kaki Andita, melainkan Andita anak mama." Tegas Bagas
"Bagas Mohon dengan sangat, lupakan dendam masalalu mama. Lupakan dan ikhlaskan.mama sudah menerima karma atas perbuatannya, dan bukan mendahului kehendak takdir yang kuasa, seperti nya mama Bagas tidak akan bisa lagi bertahan lebih lama lagi. dendam akan memicu kesakitan di masa akan datang. Kita sudah melihat kenyataan nya ma, apa yang mama lakukan berakhir menyakiti perasaan kita sendiri. Andai mama jujur dari awal, Andita tidak akan menjadi seperti sekarang. Karena aku anak Anjani, perempuan yang sudah menyakiti mama, pilihan mama ternyata menjerumuskan anak mama sendiri.
Bagas tau kenapa dan apa alasan mama, Bagas tidak bermaksud membuka kisah lalu tapi jadikan kisah lalu itu pelajaran bagi kita semua."
"Satu hal lagi, Bagas tidak perduli apapun keadaan dan status Andita. Bagas akan menghapus semua jejak penderitaan nya selama ini, dengan mengubah status nya. Dan maaf Andita, mas tidak akan melepaskan kamu untuk kedua kalinya." Tukas Bagas, terdengar seperti sebuah keharusan yang tidak bisa di tolak dan di bantah.
"Mama tidak perlu menjelaskan apapun lagi sama Andita, karena kita semua tau, pendengaran Andita masih sangat jelas. Dan mama tidak perlu merasa bersalah terhadap siapapun di sini, kita ambil hikmahnya dari apa yang terjadi dari kesalahan kita sebelumnya. Satu lagi, kemasi barang kalian besok kita harus kembali ke kota K." Segala kata-kata Bagas bagai titah seorang raja penguasa, tegas tak terbantahkan sama sekali. Jiwa seorang pemimpin yang tegas, terkesan dingin dan arogan. Akan tetapi di dalam jiwa seorang Bagas, terselip kehangatan dan kasih tulus untuk orang-orang yang di cintai dan sayangi nya.
Titik air mata Brata mengalir di sudut mata tua nya, ia tak mampu berkata apapun. Semua yang di katakan Bagas itulah adanya, Brata tersenyum bahagia lalu mengangguk.
"Iya nak. Kami akan berkemas." Bibir Brata bergetar menahan tangis bahagianya. benar sekali apa yang di katakan Bagas, terlepas dari siapa ayah biologis Andita, Brata tidak akan kehilangan putrinya. Andita tetap putrinya, putrinya satu-satunya.
Sementara Ayu tak mampu mengangkat wajahnya, malu dan rasa bersalah menyelimuti ya saat ini. Semua kata-kata Bagas sangat menampar dirinya.
Sedangkan Andita masih terdiam sepi, bingung terpancar jelas dari matanya. Bingung harus berkata apa,dan bersikap seperti apa. Begitu banyak hal yang tak terduga terjadi dalam hidupnya.
Ayu dan Brata duduk di sisi Andita, lalu Andita memeluk Brata.
"Apa Dita masih tetap menjadi anak papa Brata ?." Lirih Andita dalam pelukan hangat Brata.
"Tentu sayang.Dita anak papa, dan akan selamanya begitu." Jawab Brata
"Maafin mama nak." Desis Ayu di sisi Andita, dan Andita mengangguk lalu tersenyum. Ayu ikut merengkuh tubuh mungil Andita, hanya senyum kebahagiaan yang terpancar dari bibir Ayu dan Brata.
"Tapi Dita belum siap...." Cicit Andita lirih, lirih sekali. Bagas yang sedang menatap kemesraan mereka bertiga melirik tajam pada Andita.
"Belum siap apa sayang ?." Tanya Ayu sambil menyibak anak rambut Andita lalu menyelipkan ke belakang telinganya.
Bagas menatap lekat wajah Andita, menunggu jawaban dari wanitanya itu. Andita sesekali melirik Bagas lalu menunduk.
"Dita, belum siap....nikah dalam waktu dekat." Andita melirik Bagas lalu menatap wajah Brata dan Ayu secara bergantian.
"Oh...silakan nikmati status jandamu itu!. Sampai badai fitna dan gosip meruntuhkan ego mu Andita. Menjadi janda bukan enak Andita, akan banyak gosip miring yang menerjang mu." Tukas Bagas, lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
Andita berdiri dan mengikuti langkah Bagas.
"Hei lelaki egois !! Aku butuh berpikir, karena kamu juga seorang pengkhianat kalau kamu lupa !!". Seru Andita tidak mau kalah.
"Kau dengar wanita keras kepala !! Karena aku tidak akan pernah mengulang kata-kata ku ini. Aku tidak pernah mengkhianati kamu !! Situasi itu terjadi karena aku terjebak, lebih tepatnya DI JEBAK !! Selebihnya terserah kamu mau bilang apa. Aku capek mau tidur !!." Teriak Bagas dari pertengahan tangga, lalu berangsur menaiki tangga meninggalkan Andita.
"Aku gak peduli !! Aku gak mau nikah sama kamu !!." Seru Andita lalu turun memasuki kamarnya.
Brata dan Ayuningtyas hanya geleng-geleng melihat kucing dan tikus tengah marahan.
"Kalau kamu gak mau aku cari yang lain !!". teriak Bagas
Andita nongol di pintu. " Cari sana ! kenapa sekarang baru mau nyari, selama ini ngapain aja, hah !!". balas Andita
"Karena nunggu kamu." Lirih Bagas, dan tentu saja tidak dapat di dengar oleh Andita.
"Apa kata dunia kalau aku nikah sama dia. emang gak ada laki-laki lain selain Bagas ? banyak woy!." gerutu Andita kesal. kesal karena merasa kalau Bagas sedang memaksanya.
"Aku akan menjalani kehidupan ku sebagai Janda, tanpa bayang-bayang Bagas lagi. aku tidak perduli apapun anggapan orang-orang, toh perceraian ini bukan karena kesalahanku. karena si pengkhianat itu !". seru Andita dalam hati.
setelah cukup menggerutu dalam hati Andita merebahkan tubuhnya yang lelah, tak lama kemudian dengkur halus membawanya ke alam mimpi. sementara di kamar atas Bagas tidak bisa memejamkan matanya. ketakutannya akan kehilangan Andita lagi begitu besar dalam dirinya.
"Tidak sayang. tidak akan terjadi kedua kalinya, Andita Rosmanilla Sakapraja. mas tidak akan membiarkan kamu kembali terjatuh ke dalam pelukan lelaki yang hanya mempunyai cinta berdasarkan Obsesi. lihat Bagas Andita, Bagas hanya Bagas yang menyayangi mu sepenuh hati dan segenap jiwa." gumam Bagas
...----------------...
masih bersambung...
__ADS_1
jangan lupa tap ❤️, like dan vote.
Typo mohon di maklumi.