Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB`82


__ADS_3

Satu bulan setelah pernikahan Andita dan Yoga


Pagi ini Andita Dan Yoga sedang menikmati sarapan mereka di balkon seperti yang pernah mereka lewati sebelum menikah, dan Yoga pun sudah kembali ke Aktivitas nya sebagai Dokter.


Tapi berbeda dengan Andita, suaminya meminta sang istri vakum dari seluruh kegiatannya di dunia Medis. Meskipun awalnya Andita menentang keras keputusan Yoga, tapi pada akhirnya sebagai seorang istri Andita menerima keputusan suaminya.


Yoga menatap intens wajah sang istri, tak ada senyum ataupun pembicaraan yang keluar dari mulut Andita.


Andita yang merasa di perhatikan menoleh kearah samping, dan ia menghentikan kegiatan nya sejenak.


"Kenapa mas, kok liatnya gitu banget ?" Tanya Andita.


Yoga membelai lembut rambut Andita dan membawa tubuh istrinya nya ke dalam dekapannya.


"Apa mas ada salah ?" Tanya Yoga.


Andita mengangguk dan mendongak menatap wajah sang suami.


"Coba cerita, mas salah apa ?" Ujar Yoga.


"Aku bosan mas, setiap hari hanya selonjoran tanpa ada kegiatan. Ke dapur di larang sama Bi Ima, mau ikut kerja gak boleh sama mas." Ungkap Andita berkeluh-kesah.


Yoga mencium lembut tangan Andita sambil terkekeh kecil, ia gemes banget melihat ekspresi wajah istrinya itu.


"Apa harus kamu ke dapur ? Dan ikut bekerja ? Sementara suamimu ini bisa mencukupi seluruh kebutuhan hidup mu dan membayar pekerja di rumah ini ?" Tanya Yoga.


"Ya setidaknya izinkan aku belajar masak, biar bisa nyiapin makanan untuk mas." Cicit Andita


"Terima kasih sayang,kalau begitu mas izinkan kamu belajar masak. Tapi dengan syarat tidak capek dan tidak terluka, karena kamu suka ceroboh." Sahut Yoga


Andita tersenyum bahagia menatap Yoga, dengan gerakan manja perempuan itu duduk di pangkuan suaminya.


"Terima kasih, makan malam nanti mas harus mencoba masakan perdanaku." Ucap Andita girang seraya memeluk dan mencium ceruk leher Yoga.


Tubuh Yoga menegang kala menerima sentuhan bibir lembut sang istri di lehernya, jiwa lelakinya seketika bangkit dan menantang.


"Sayang... sepertinya mas tidak akan pergi bekerja hari ini." Geram Yoga di telinga Andita


"Kenapa mas ?" Tanya Andita polos.


"Kamu membangunkannya lagi." Desis Yoga

__ADS_1


Andita tercekat beberapa detik memikirkan kata-kata Yoga barusan, bagaimana bisa suaminya itu akan kembali menyerangnya. Setelah tadi malam sudah membuat dirinya tidur hingga dini hari, lalu sekarang kembali menginginkannya lagi.


Tanpa menunggu persetujuan dari Istrinya Yoga menggendong tubuh Andita kembali ke kamar mereka, bibirnya sudah menempel erat di bibir Andita. Tanpa melepaskan tautan bibirnya Yoga merebahkan tubuh mungil istrinya di ranjang, dengan buasnya lelaki itu menyerang setiap inci bagian tubuh Andita.


Suhu kamar yang dingin berubah menjadi panas, keringat membanjiri tubuh kedua pasangan pengantin baru itu.


Desahan dan lenguhan memenuhi penjuru ruangan kamar, saat memasuki Istrinya satu dan dua kali tidak cukup bagi Yoga.


Andita tertidur dalam pelukan hangat suaminya, Yoga mengecup bibir Andita dan mendarat kan ciuman sayang di keningnya. Ia tersenyum melihat istrinya kembali tertidur, Yoga mengelus-elus punggung Andita yang polos.


"Terima kasih sarapannya sayang, sepertinya mas akan gagal mencicipi masakan perdana mu hari ini." Bisik Yoga.


Setelah itu Yoga menyambar ponselnya, memberitahu pihak rumah sakit kalau dirinya izin hari ini.


Selesai memberikan informasi kerumah sakit, Yoga menyusul Andita ke alam mimpi.


Sejak kembali ke Batam Yoga kembali bekerja sebagai Dokter meskipun belum aktif, selama satu bulan ini dirinya lebih banyak menemani hari-hari sang istri dirumah. Ya, walaupun menemani dalam kategori lain.


...----------------...


Setelah cukup lama terlelap Andita membuka matanya perlahan, seketika matanya melotot menyaksikan Yoga ternyata memang benar tidak berangkat bekerja.


Tangannya terangkat membelai wajah tampan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu, kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Jari-jari halusnya menari lembut menyusuri bentuk tegas ukiran wajah Yoga, menyentuh rahangnya lalu bergerak menyusuri lehernya.


"Satu tahun pun mas gak kerja, kamu gak akan kelaparan sayang." Tiba-tiba Yoga menangkap jari-jari tangan Andita.


Andita terlonjak kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Yoga, gerakan Andita terang saja membuat Yoga tertawa.


"Sini,mas gak akan menerkam lagi. Kalaupun iya, nanti setelah makan siang." Ujar Yoga menarik tubuh Andita kedalam pelukannya lagi.


"Mas gak tidur ?" Tanya Andita.


"Jarinya jangan nakal biar mas tidur." Ucap Yoga sambil memeluk erat-erat tubuh Andita.


"Alasan." Sungut Andita


"Kita harus kerja keras, lebih giat lagi. Supaya cepat kasih cucu untuk orang tua kita." Yoga terkekeh geli.


Andita terdiam sambil memejamkan matanya, ia teringat kejadian sebelum mereka menikah. dimana dirinya menyuntikkan obat penunda hamil selepas Yoga memperkosanya, bekerja siang malam pun akan sia-sia saja pikir Andita.


"Maafin aku mas." Batin Andita

__ADS_1


...----------------...


Alhasil Jam makan siang mereka terlewatkan, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore hari kedua pasangan pengantin baru itu baru mengisi perut mereka.


Asisten rumah tangga mereka hanya senyum-senyum penuh arti, saat melayani majikannya yang sedang menyantap makan siangnya di pukul 3 sore.


Yoga menatap kasihan pada Andita, sepertinya istrinya itu sangat kelaparan karena ulahnya.


"Sayang, makannya pelan-pelan." Tegur Yoga sambil tersenyum dan mengelus lembut rambut Andita.


"Aku lapar banget mas." Sahut Andita tanpa menghentikan kegiatan makannya


"Maafin mas." Yoga meneliti wajah lelah istrinya itu, lalu bangkit meninggalkan meja makan dan masuk keruang kerja pribadinya.


Yoga kembali ke meja makan dan memberikan vitamin untuk Andita.


"Setelah makan vitaminnya di minum, muka kamu terlihat sedikit pucat." Bisik Yoga


Andita mendelik ke arah suaminya itu.


"Iyalah pucat,kurang istirahat. Siang malam kamu garap terus." Tukas Andita


Yoga hanya tertawa menanggapi ucapan Andita wajar aja sih kalau sekarang Andita di koyak habis-habisan olehnya, karena malam pengantin mereka terlawati hingga satu minggu di karenakan istrinya mendapatkan tamu bulanan.


Selain itu Yoga juga punya harapan untuk segera mendapatkan momongan, selain ingin memenuhi keinginan orang tuanya pun dirinya sangat menginginkan kehadiran buah cinta di antara mereka. Secepatnya, ya sesegera mungkin itulah harapan Yoga.


itulah sebabnya Yoga melarang Andita bekerja sekalipun hanya dirumah, tidak ingin membuat Andita stress dan lelah. tujuannya agar istrinya itu segera mengandung benih yang sudah di tabur nya, alih-alih tidak ingin Andita kecapaian justru dirinya selalu membuat Andita kelelahan.


Setelah selesai makan dan minum vitamin Andita dan Yoga menuju taman bunga Lieros, tamannya sudah tumbuh subur dan sempurna. sang suami juga sudah menyiapkan ayunan dan bangku disana, agar sang istri bisa menikmati keindahan taman bunganya dengan santai.


Andita menarik selang air guna menyirami bunga-bunga indah di tamannya, Yoga memeluk Andita dari belakang dan satu tangannya ikut memegang selang air dan ikut menyirami tanaman di hadapannya.


"Mas, biar aku aja." ucap Andita


"Mas hanya ingin membantu." goda Yoga sambil mengendus aroma khas tubuh Andita


"Mas, hentikan. aku lelah, kalau masih nyosor juga aku pastikan mas puasa selama 2 bulan." ancam Andita


"Jangan sayang, iya deh mas duduk aja." Yoga akhirnya duduk dan berhenti menggoda Istrinya itu. ketimbang si Otong libur dua bulan, mending duduk manis aja itu akan lebih baik pikir Yoga.


...----------------...

__ADS_1


TBC


maaf ya kalau update-nya kelamaan.


__ADS_2