
Mata Andita terpejam, air matanya mengalir membasahi pipinya. Harapan demi harapan ia panjatkan, berharap tiada luka lagi dalam kehidupan selanjutnya selain kebahagiaan yang sempurna.
Bagas menyentuh pipih Andita, menghapus bulir-bulir bening yang terus bergulir.
Andita menatap Bagas, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, tapi Bagas segera mengalihkan perhatian Andita. Jika ada yang ingin Andita katakan cukup dia yang mendengar. apapun itu, yang terkait dalam hubungan pribadi mereka, cukup dirinya yang mendengar tidak untuk di konsumsi orang lain.
"Tiup lilinnya." Bagas memutar tubuh Andita menghadap kue tart istimewa itu. Dalam sekali tiupan lilin berbentuk angka 27 itu, hanya menyisakan kepulan asap.tepuk tangan kembali riuh, Lagu indah dan romantis segera mengiringi langkah Andita, melangkah meninggalkan masa lalu berjalan di atas usianya sekarang, melangkah menyambut impian yang pernah kandas.
Perasaan haru dan bahagia memenuhi kalbunya, Andita menghambur memeluk erat tubuh Bagas. Bagas menyambut pelukan Andita lebih hangat dan lebih erat seakan tak mau terpisahkan lagi oleh keadaan apapun.
"Lupakan semuanya. Mas akan selalu berdiri untukmu, mari kita kembali menatap masa depan yang pernah kita impikan dulu. Menuai janji yang pernah kita ucap, sehidup semati bersama. Suka dan duka bersama. Mas tidak mampu berkata merayu atau bersikap romantis, tapi apa yang pernah mas ucapkan itulah kenyataannya. Mas ingin kita kembali menjalani hubungan kita, menikah, menua bersama, memiliki anak kembar seperti katamu, dan mengasuh mereka bersama. Apa kamu bersedia menerima mas ? Menerima mas sepenuhnya. Sebagai kekasih, calon suami, hingga menjadi suamimu seutuhnya." Bisik Bagas masih tetap memeluk erat tubuh Andita.
Tubuh Andita bergetar hebat, rasa bersalah menyelimuti perasaannya saat ini. bersalah telah memvonis Bagas seorang pengkhianat.nyatanya, sang pengkhianat itu tetap mengharapkan cintanya, tetap menginginkan dirinya, sebagai pendamping hidup nya kelak. Lelaki yang tengah memeluk nya itu, bahkan masih mengingat kata-kata yang pernah mereka ucapkan dulu. Janji bahkan impian bersama mereka.
Andita mengurai pelukannya dan menatap mata Bagas. "Tapi mas, Andita tidak seperti dulu lagi. Bahkan mas sangat tahu kalau Andita Jand..." Ucapan Andita terpenggal, tanpa malu oleh sekitar Bagas memangut lembut bibir Andita. Setelah cukup, Bagas melepaskan diri nya.
"Jangan pernah bicara soal status, kita tidak ada yang sempurna sayang. Tapi kita bisa saling menyempurnakan, bukan kah status kita sama ?". Ujar Bagas tepat di hadapan bibir Andita.
Wajah Andita memerah, matanya melirik sekitar betapa malunya dirinya berciuman di hadapan semua orang.
"Lupakan semua itu. Biarkan mereka melihat semuanya, biarkan mereka tahu bahwa mas sangat mencintai mu. Mas tidak perduli apapun anggapan orang-orang, mas hanya menginginkan mu, membangun kembali hubungan kita yang pernah hancur. Apa kamu bersedia menerima mas kembali?" Tanya Bagas lagi
"Apa mas sedang melamar Dita ?". Andita balik bertanya
"Tepat sekali sayang." Jawab Bagas tanpa ragu-ragu
"Lalu kenapa ada acara ulang tahun ?". Tanya Andita melepaskan pertanyaan yang bersarang di benaknya sejak tadi.
"Acara ulang tahun adalah opsi kedua, jika kamu menolak lamaran mas. maka acara ulang tahun lah yang akan berlangsung." Jawab Bagas datar, ada rasa takut menyelinap merasuki perasaannya. Takut Andita tetap menolaknya.
"Bagaimana kalau Dita menolak lamaran mas ?". Andita menatap tajam manik mata Bagas. Ada kecewa terpancar di sana, kala mendengar kata-kata Andita.
" Sebagai lelaki sejati, mas akan menerima setiap keputusan mu. Meskipun itu luka bagi mas, mas tidak akan memaksa walau mas mampu melakukan nya." Jawab Bagas tegas.
Andita menatap sekitarnya, Amira tersenyum sembari mengacungkan jempol nya. Andita balas tersenyum dan mengangguk. Pandangan mata Andita kembali fokus pada Bagas.
__ADS_1
"Andita bersedia menerima lamaran mas." Lirih Andita menunduk lebih dalam menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Mulut Bagas terbuka, matanya terbuka sempurna. Terkejut serta bahagia bersamaan ketika mendengar jawaban dari Andita.
"Katakan sekali lagi sayang." Bagas menyentuh dagu Andita agar menatap nya.
"Andita bersedia menerima lamaran mas." Jawab Andita mantap.
"Yes !! Akhirnya harapan ku tak sia-sia.!! " Seru Bagas girang melupakan segala bentuk yang tertanam dalam jiwanya. Bagas yang Egois seakan sirna, Bagas yang dingin seakan tak pernah ada. Bagas seketika berubah menjadi pria tampan yang lucu detik ini.
Tepuk tangan kembali memenuhi restoran, gelak tawa menyerbu pendengaran Andita dan Bagas. drama telah berakhir, dengan Bagas menyematkan cincin di jari manis Andita.
kecupan lembut Bagas mendarat di jemari Andita, lalu Bagas menghimpun kedua tangan Andita menciumnya secara bergantian.
"Terima kasih sayang. terima kasih sudah menerima mas kembali, terima kasih telah menerima lamaran mas." ujar Bagas bersimpuh di hadapan Andita.
Andita menunduk menyentuh pundak Bagas.
"Berdirilah. bukankah mas akan selalu berdiri untukku, lalu kenapa lama sekali bersimpuh di bawah sana." goda Andita
Bagas berdiri. Keduanya berpelukan hangat, melupakan acara potong kue dan suap-suapan layaknya ulang tahun pada umumnya. Jangan sampai lupa, acara ulang tahun itu hanya opsi kedua bagi Bagas, acara yang sesungguhnya adalah melamar Andita.
"Selamat bro. Kita ikut bahagia." Tutur Robert dan Erwin memeluk erat Bagas secara bersamaan.
"Semuanya berkat kalian. kalau tidak, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Sahut Bagas dalam kerubungan Erwin dan Robert.
Amira tersenyum menatap Andita lalu memeluk wanita itu.
"Apa kamu baik-baik saja bidadari ?". Tanya Amira. Andita mengurai pelukannya dan tersenyum menatap Amira.
"Benar katamu, semuanya baik-baik aja. Terima kasih untuk semuanya.ohya, gaun dan heels mu akan aku ganti setelah ini." Ucap Andita ramah bak bertemu sahabat lama.
"Hahaha.... Kalau kamu berniat mengganti nya, berikan saja pada nya." Sahut Amira mengarahkan dagunya pada sosok Bagas yang sedang berbicara dengan Robert dan Erwin.
"Benarkah. Berarti kalian semua sudah kerjasama dengan nya, termasuk Tono dan yang lainnya ?." Desis Andita tak lepas dari keterkejutan nya.
__ADS_1
"Hm...kau benar sekali." Sahut Amira sembari tersenyum, kala rencana mereka berjalan lancar.
Andita menatap Bagas, ia tidak menyangka pria itu bahkan masih sangat hafal ukuran gaun dan kakinya.
'Sebesar itu kah cintamu untukku mas. bahkan dalam keadaan aku yang sudah berbeda pun kamu tetap mengharapkan dan mencintai ku seperti dulu.' batin Andita, Bagas merasa di perhatikan menatap wajah sendu yang sedang memandangi nya.
Bagas berpamitan dengan kedua sahabat nya, dan mengarahkan Robert untuk mengajak yang lainnya segera menikmati makan malam yang tertunda.
Bagas mendekati Andita meneliti sejenak wajah sendu nan cantik itu.
"Kenapa sayang ?." Bagas menyentuh wajah Andita
Andita menggeleng dan memeluk Bagas.
"Mas. Dita mencintaimu, sangat mencintai mu." Lirihnya di dada Bagas.
Bahagia tiada terkira menyergap hati Bagas, saat Andita mengalunkan kata-kata cinta untuknya. Gayung bersambut, cinta yang pernah pergi kini telah kembali. Harap yang pernah pupus kembali bersemi, doa yang belum pernah terjawab malam ini telah terjawab semuanya.
Bagas mengurai pelukannya, Menangkup kedua pipi Andita. lalu kembali menyatukan bibirnya dan bibir Andita, kecupan dan ******* hangat di sambut lebih hangat pula oleh Andita. sejenak mereka melupakan beberapa pasang mata yang masih menatap mereka, Andita dan Bagas menghiraukan semuanya. menikmati keindahan yang pernah mereka lalui, Bagas melepaskan tautan bibirnya dan tersenyum menatap bibir merah Andita. lalu kembali memeluk Andita, mengelus lembut bahu mulus sang pujaan.
"Mas juga sangat menyayangi mu, dan sangat mencintai mu lebih dari apapun. Berjanjilah untuk tidak pergi lagi, kita hadapi semuanya bersama-sama." Andita mengangguk dalam pelukan Bagas. udara malam semakin dingin,tangan Bagas bergerak melepas jasnya, lalu menutupi bahu Andita yang terbuka.
"Ayo kita bergabung bersama mereka." Ajak Bagas membawa Andita membaur bersama sahabat dan tim Andita yang sudah bergabung dalam satu meja makan yang panjang. Tak ketinggalan manager Villa dan Amira sebagai anak pemilik Villa tersebut.
Andita berdiri dan menghentikan sejenak acara makan mereka, senyum kebahagiaan terukir indah di bibirnya. Ucapan terima kasih ia haturkan kepada semua pihak yang terkait dalam acara lamaran untuknya.
Tepuk tangan serta doa terus mengalir untuk kedua pasangan itu. pasangan yang sangat serasi, cantik dan tampan. sama-sama pernah tenggelam dalam lingkaran masalalu yang pahit.
"Amiin. Terima kasih atas doa kalian semua. Silakan di lanjut makannya." Andita mengakhiri pembicaraan nya, dan ikut menikmati makan malam.
Rejeki,jodoh dan maut adalah takdir dari yang kuasa. meskipun banyak rintangan yang harus memisahkan,Cinta sesungguhnya akan kembali pada tempatnya. Tak seorangpun manusia yang mengetahui takdir mereka, kita sebagai manusia hanya berencana dan menjalani kehidupan sebagai mana mestinya.selebihnya, hanya sang kuasa yang memiliki kuasa atas takdir kita semua.
...----------------...
bersambung
__ADS_1
jangan lupa dukung terus karya Mentari Impian
tap ❤️ like dan vote