Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB 32 *selamat membaca*


__ADS_3

Setelah memetik bunga matahari dan mawar putih Yoga merangkainya ke dalam vas bening kristal dan menaruhnya di atas meja Balkon, sebagai penyambut pagi untuk kekasih hatinya setelah ia bangun nanti.lalu ia menuju kamar tempat tidur Andita menatap gadis cantik yang masih terlelap di bawah selimut bersama mimpi-mimpi nya,setelah hampir dini hari ia tak bisa tertidur karena kakinya sakit dan membengkak.


Sedangkan Yoga sudah menyiapkan sarapan khusus buat cintanya pagi ini,yang ia buat sendiri dengan racikan bumbu kasih sayang yang menggelora.


Yoga menatap lembut wajah halus bidadari hatinya itu, ia tersenyum manis kala mengingat ia tertidur di samping gadis itu tadi malam.Ya, Yoga menemani Andita hingga menjelang pagi, karena tak kuasa rasa hatinya meninggalkan gadis itu tidur sendirian dalam keadaan kaki yang belum bisa di gerakkan.


Setelah puas menatap wajah Andita,


Yoga merebahkan tubuhnya di samping gadis itu,membelai lembut surai yang menjuntai di wajahnya.


Andita menggeliat dan tangannya meraih benda yang biasa menemani tidurnya setiap malam,Namun bukan guling yang ia peluk melain tubuh kokoh Mas Dokter pribadinya.


Andita membuka matanya dengan mulut ternganga,saat menyadari dimana letak tangannya saat ini.tangan Andita memeluk erat tubuh Malaikat penolongnya, wajahnya bersemu merah. sedangkan Yoga tak melewatkan sedikitpun momen itu, dengan tersenyum dan wajah berbinar ia menyapa bidadari penghuni hatinya itu.


"Good morning my flowers" sapa nya lembut.


"Morning too my sun" sahut Andita malu-malu.


Andita pelan-pelan menarik tangannya yang melingkar di tubuh prayoga, Yoga yang menyadari hal itu menahannya. "Biarkan seperti ini...,sebentar saja" ujarnya pelan.


Tubuh mereka sangat dekat,bahkan hembusan nafas mereka saling menyapu wajah masing-masing.


Yoga kembali mengulas senyum,lalu mengecup kening gadisnya itu sangat dalam dan lembut.getaran di rongga dada Andita tak bisa di hindari nya, ia akan sangat malu jika Yoga merasakan denyut jantung nya yang berpacu cepat. Andita reflek menggerakkan kakinya,ingin bergeser menjauhi tubuh Yoga namun rupanya gadis itu melupakan sesuatu.


"Awww..." Teriaknya.


Yoga tersentak, "Ada apa sayang ? Apa kamu mau bangun ?" Tanyanya beruntun.Andita mengangguk, " Mau ke kamar mandi" lirihnya sambil menahan nyeri di kakinya.


"Pelan-pelan,apa kamu lupa kalau kaki kamu cidera ? Kalau mau bangun kenapa gak bilang ?" Omel Yoga,sambil melihat kaki Andita yang sudah di perbannya tadi malam.


"Kalau dalam dua hari belum ada perubahan,kita kerumah sakit" ujar Yoga, sambil mendudukkan Andita di kursi yang tersedia di samping kaca kamar mandi.


Ya,kamar mandi tersebut sangat mewah bahkan luasnya saja setengah dari ruang tidur Andita.di lengkapi dengan meja dan kaca rias,beserta perlengkapan mandi bagi gadis itu semuanya tertata rapi disana.


"Iya emak !" Sahut Andita bersungut-sungut.


"Apa ! emak ?" Tanya Yoga.


Andita menatap wajah bingung Prayoga,lalu ia tersenyum geli. "Hanya emak-emak yang suka ngomel" jawab Andita kemudian.


"Hahaha..., apa mas terlihat seperti emak-emak yang cerewet ?" Tanya Yoga, sambil menyodorkan sikat dan pasta gigi ke tangan Andita.


"Sepertinya begitu" sahut Andita.


Setelah Andita selesai menyikat giginya, Yoga memberikan segelas air padanya untuknya berkumur.lalu ia membasahi handuk khusus untuk wajah, mengelap dan membersihkan wajah gadis itu.tangannya terulur menyambar sisir dan menyisir lembut surai kekasihnya.lalu mengikat rambut Andita, dengan telatennya ia melakukan semua itu.


Andita tersenyum manis menatap semua perlakuan Prayoga padanya, "Aku merasa memiliki emak di sini" Andita menjahili Yoga.


Yoga menatap wajah segar Andita di kaca, lalu ia tersenyum dan mengecup puncak kepalanya.


"Saat aku masih TK Mama dan Papa suka melakukan hal seperti ini" ujarnya dengan raut sedih.


Yoga menaruh dagunya di puncak kepala Andita, "Jangan sedih,mulai hari ini Mas yang akan melakukannya.seperti papa dan mama, untukmu" ujarnya tulus.


Andita menatap wajah Yoga melalui pantulan kaca di hadapannya, "Terima kasih, mas" tukasnya.

__ADS_1


"Untukmu apapun akan mas lakukan" sahut Yoga.


"Sekarang kita sarapan dulu ya,mas sudah menyiapkan sarapan spesial untuk orang yang spesial pula" ucap Yoga sambil terkekeh,lalu menggendong tubuh mungil Andita.


Andita mengalungkan tangannya di leher Yoga,ia meletakkan wajahnya di ceruk leher mas Dokternya itu.kejahilan Andita kumat lagi,ia menggigit lembut leher Yoga.


"Sayang...hentikan.jika kamu masih mau sarapan pagi ini,atau kamu yang akan menjadi sarapan mas pagi ini" Yoga menggeram kala Andita menggodanya.


"Hahaha...,Andita tertawa melihat wajah Yoga,juga tertawa karena melihat jejak gigitannya di leher putih Prayoga.


"Waw...! Ada matahariku disini !" Seru Andita, saat melihat rangkaian bunga indah di dalam vas kristal di meja balkon.


"Kamu menyukai nya ?" Tanya Yoga.


"Hm... sangat menyukai nya,terlebih sama sosok matahari yang nyata ini" ujar Andita tersenyum menatap Prayoga.


"Terlebih apa sayang ? Boleh kamu ulangi kalimatnya ?" Tanyanya lembut, menatap wajah Andita yang bersemu malu kala menyadari ia kelepasan kata-kata.


"Hm...aku lapar mas" ucap Andita mengalihkan perhatiannya pada nasi goreng yang menggoda nya itu.


"Nasi gorengnya wangi sekali,aku tak sabar ingin mencicipinya" kata Andita.


Terdengar Yoga menghela nafas panjang, "baiklah,buka mulutmu" ucap Yoga dengan menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut Andita.


Lalu ia juga ikut memasukkan nasi goreng itu ke mulutnya, "Bagaimana,enak ?" Tanya Yoga.


"Hm...mas emang paket lengkap deh" ujar Andita.


"Paket lengkap ?" Tanya Yoga sambil terus menyuapi Andita dan dirinya.


"Tapi paketnya gak ada Diskon ya ?" Ujar Yoga di sambut tawa ngakak Andita.


Tak terasa nasi goreng satu piring besar sudah mereka habiskan tanpa tersisa, "Ternyata kita sama-sama kayak kuli kalo makan,ya mas" ujar Andita.


"Hahaha..." Tawa Yoga menggema memenuhi ruangan lantai tiga.selama empat tahun terakhir Yoga hampir lupa caranya tertawa, tapi sekarang senyum dan tawa bahkan terus menghiasi hari-hari nya.


"Minum mas" pinta Andita.


Yoga mendorong kan minum ke mulut Andita, " Terima kasih" ucap Andita.


"Kembali kasih,sayang" ujar Yoga sambil mengelap pinggir mulut Andita.


"Kalau sudah sembuh,mau ikut mas ?" Tanya Yoga serius.


"Kemana ?" Tanya Andita sambil menatap Yoga.


"Ke Jakarta.mas mau kenalin kamu sama Papa dan Mama, kamu sudah siap ?" Tanya Yoga menatap Andita penuh harap.


Terlihat jelas keraguan tercetak di wajah Andita, "Apa mereka akan menerima ku ?" Lirih Andita.


Yoga tersenyum saat mengingat kata-kata kedua orang tuannya, saat Yoga menceritakan gambaran sosok Andita pada mereka.


Bahkan chang lie Prayoga sangat Antusias ingin melihat foto sosok gadis yang di cintai putra sulungnya itu.


"Yo,kirim fotonya dong.kita, mau lihat calon menantu papa !" Seru chang lie saat mereka berkomunikasi beberapa waktu lalu, setelah lama Yoga menghilang dari peredaran.

__ADS_1


"Nanti yoga akan bawa dia ke Jakarta,biar Papa dan Mama bisa melihatnya secara langsung" ujar Yoga.


"Waw..., Sepertinya kita akan menerima Surprise Pa !" seru Indira girang.


Yo atau Yoga sapaan akrab keluarga Lie pada Febry Prayoga.


"Tentu saja mam" sahut Yoga.


"Kami tunggu ! secepatnya, ya Son" sahut chang Lie lagi.


"Siap,papa dan mama tunggu saja kabar selanjutnya" Yoga menimpali ucapan kedua orangtuanya waktu itu.


Itulah sedikit Febry Prayoga dengan orang tuanya beberapa waktu lalu,kedua orangtuanya sangat bahagia mendengar berita tentang anaknya kembali membuka hatinya dan kembali membuka komunikasi di antara mereka.


...----------------...


"Tenang saja,kedua orangtuanya mas baik-baik kok.bahkan mas sudah menceritakan tentang kamu pada mereka" ujar Yoga meyakinkan Andita.


"Benarkah mas ?" Tanya Andita.


Yoga mengangguk,lalu memeluk gadis itu.


"Percayalah,mas berjanji tidak akan melakukan hal yang akan menyakitimu.mari kita sama-sama melangkah maju, meraih kebahagiaan kita yang sempat hancur" ujar Yoga berbisik di telinga Andita.


"Kita ! kita hancur ?!" Tanya Andita, sembari mengurai pelukannya dan menatap wajah Yoga yang meredup.


Pria itu menarik nafas panjang.


mungkin ini saatnya menceritakan tentang masa lalu ku,batin Yoga.


"Sayang,Apa kamu mau mendengarkan cerita masa lalu mas ?" Tanya Yoga dengan sorot mata sedih dan penuh luka mendalam.


Andita menatap prihatin pada wajah Prayoga,lalu ia mengangguk.


"Ceritakan lah mas,aku akan menjadi pendengar mu.berbagilah denganku,jika kamu mempunyai luka dan biarkan aku menjadi pengobat lukamu" lirih Andita sambil Menangkupkan kedua tangan Yoga pada wajahnya,lalu mengecupnya lembut.


"Sayang,mas mencintaimu" desis Yoga. membawa Andita dalam pelukannya.


"Aku juga mencintaimu,Mas" ujar Andita.


...----------------...


"To Be Continued"


hayo adakah yang baper ??


baper nya di bagian mana ? silakan selipkan komentar kalian di kolom komentar.


jangan lupa dukung terus karya Mentari Impian dengan cara vote dan like sebanyak-banyaknya.


kritik dan saran yang bersifat membangun sangat author harapkan (saran yang positif).


salam hangat dan salam bahagia selalu untuk pembaca setia "Pacarku Suami Temanku"


nongkrong terus di sini ya...mumpung author lagi libur jadi akan update terusπŸ˜πŸ˜˜πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2