Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~39


__ADS_3

Setelah mengunci pintu kamarnya Brata merebahkan tubuhnya,ia benar-benar lelah menghadapi sikap Anjani yang selalu ingin memonopoli hidupnya.


Andai Ibunya tak termakan bualan Anjani mungkin hidup keluarganya akan baik-baik saja, Atau bahkan Ayah dan Ibunya masih hidup hingga kini. tapi Anjani benar-benar biadab, ia rela melakukan apapun, memanfaatkan keadaan dan kesempatan agar dapat menguasai seluruh harta kekayaan keluarganya.


ayahnya pada waktu itu sedang struk para ia paksa memindahkan seluruh hartanya atas nama Anjani, Hingga ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya karena shock akibat perbuatannya.


Setelah kematian ayahnya Brata sangat terpukul, kebencian nya terhadap perempuan itu semakin memuncak kala mengetahui seluruh harta dan perusahaanya sudah atas nama Anjani.


Sedangkan Ibunya mendadak terkena serangan jantung,karena kaget setelah mengetahui sikap Anjani yang selama ini ia agung-agungkan.


Anjani memanfaatkan kondisi hamil tuanya untuk melancarkan seluruh akal busuknya.


...----------------...


Flashback on#


Hari musibah dalam hidup Brata....


Setelah pulang mengunjungi Ayuningtyas, Brata mampir kerumah orang tuanya di Jakarta. Selain ingin melepaskan kerinduan nya pada orang tuanya, ia juga bertujuan memeriksa beberapa perusahaan milik keluarga Subroto disana.


Setibanya di rumah orang tuanya, Brata di sambut manis oleh Ibunya juga Anjani berada disana.


"Assalamualaikum, Bu" ucap Brata sambil menyalami tangan Ibunya.


"Walaikumsalam" sahut Candrawati mengelus-elus pundak Brata.


"Ayah dimana Bu ?" Tanya Brata pada Ibunya.


"Ada di kamarnya,baru aja selesai makan di suapin istrimu yang baik dan cantik ini" ujar Candrawati memuji Anjani dengan senyum sumringah.


Anjani hanya tersenyum saja menanggapi pujian mertuanya itu,tak ada komentar apapun.bahkan menyapa kedatangan Brata saja tidak ia lakukan, meskipun hanya sekedar basa-basi.Anjani tak melakukan itu karena ia sudah paham betul bahwa semua itu akan sia-sia, takkan mendapatkan respon positif dari suaminya itu.


Anjani tak perduli akan hal itu,yang terpenting dalam hidupnya adalah menguasai harta kekayaan orang tua Brata.setelah semuanya ia kuasai,maka akan muda baginya mengendalikan Brata di ujung telunjuknya.


Brata menemui Subroto yang terbaring tanpa daya,karena serangan struk yang melumpuhkan seluruh sarafnya.


Brata menghampiri tubuh Subroto di pembaringan nya,hanya sorot matanya saja yang bisa menjelaskan semua yang ada di benaknya.

__ADS_1


Brata menggenggam tangan Subroto yang layu,lalu mengecup nya sayang.


"Ayah apa kabar ? Semoga cepat sembuh" ujar Brata pada ayahnya


Air mata Subroto mengalir menganak sungai di pipi tirusnya yang keriput,dadanya naik turun seakan menahan beban berat sekali.


"Ayah, kenapa ?" Tanya Brata sambil menghapus air matanya.


"Bu panggil Dokter !" Seru Brata panik.


Tapi Ayahnya memberikan kode agar tak menghubungi pihak dokter, Brata hanya mengangguk pasrah.ia menatap Ibunya lalu kembali menatap Ayahnya secara bergantian, Subroto berusaha meloloskan satu kata walaupun dengan susah payah.matanya nanar penuh kemarahan menatap Anjani, Brata dan Ibunya menoleh pada perempuan itu lalu kembali menatap Ayahnya.


"Pak ada apa ? Kenapa melihat menantu mu dengan tatapan begitu ?" Tanya Candrawati.


Anjani melangkah mendekat ke arah bapak mertua nya, dengan senyuman yang mengerikan bagai malaikat pencabut nyawa bagi Subroto.


Mata Subroto melotot menatap Anjani, ia masih berusaha keras untuk meloloskan kata-katanya.


Brata berdiri dan menatap tajam pada Anjani. "Apa yang sudah kau lakukan pada Ayahku Anjani !" Geramnya.


"Jika terjadi sesuatu sama Ayahku,kau akan menerima akibatnya bahkan lebih dari sekedar rasa sakit !" Ujar Brata seraya mengetatkan rahangnya.


Brata menoleh pada Ayahnya,air mata kesedihan menggenang di pelupuk mata pria gagah namun rapuh itu.


"Iya Ayah, Brata disini" ucap Brata lembut.


Lalu ayahnya kembali melotot menatap Anjani, dan menatap lembut penuh sedih pada Candrawati dan berakhir pada Brata. Subroto meminta Brata membawa nya bersandar,lalu Subroto membisikkan kata-kata agar membawa buku dan pena pada nya.


Brata merasa ada hal aneh dadanya berdebar tak menentu, lalu Brata membawakan apa yang di minta oleh Ayahnya. "Ini Ayah" Brata memberikan buku beserta pena pada Ayahnya.


Tangan Subroto yang semula kaku,kini berayun lembut gemulai di atas buku yang di serahkan Brata.


Bu, Anjani bukanlah seperti menantu yang ibu banggakan. Anjani merupakan musuh yang bermuka Malaika di hadapanmu, perusahaan kita hari ini sudah menjadi miliknya semuanya.


Anjani telah mengancam Ayah akan membunuh cucu kita yang sedang ia kandung, jika tidak bersedia menandatangani Dokumen pemindahan hak milik Subrata group padanya.


hari ini perusahaan Subrata group telah menjadi miliknya,tanpa terkecuali rumah ini.

__ADS_1


Mata Brata nanar menatap surat yang di tuliskan oleh Ayahnya,sebelum ia menyerahkan tulisan khusus yang di sampaikan Ayahnya untuk Candrawati.


Mata Candrawati tak kalah nanar nya daripada Brata ketika ia membaca surat yang di tulis oleh suaminya,ia bangkit lalu menatap tajam pada Anjani.


Pl*k...Pl*k... Candrawati memberikan hadiah berupa tamparan keras di wajah Anjani.


"Wanita ular !! selama ini kau mengatakan kalau Ayuningtyas yang sedang berusaha merebut harta kekayaan kami, tapi ternyata kau lah yang sedang berusaha melakukan nya !!"


"Hahaha...mertuaku sayang,bukan sedang melakukan lebih tepatnya sudah aku lakukan !" ujar Anjani lalu kembali tertawa.


Nafas Candrawati memburu, seakan ingin menerkam perempuan ular itu.


"Kau juga telah membakar rumah kedua orang tuanya Ayuningtyas,agar kau bisa memancing Brata kembali supaya kau bisa menikahi nya.betapa bodohnya aku telah mempercayai mulut busuk mu itu !!"


Candrawati mengangkat tangannya lagi ingin menampar kembali wajah perempuan iblis tersebut, tapi tangannya di sambar cepat oleh Anjani lalu ia mendorong tubuh mertuanya hingga tersungkur di lantai.


"Ya, memang semuanya aku yang melakukan nya !! Sekarang kalian sudah miskin,hidup kalian ada di bawah kakiku !!" Ujar Anjani lalu ia tertawa terbahak-bahak bak Iblis.


"Anjani !! Keterlaluan kamu !!" Bentak Brata seraya melayangkan tangannya.


"Silakan kau sakiti aku,tapi jangan kedua orang tuaku !!" Ucap Brata kalap ingin kembali menampar perempuan itu.


Namun..., "Hei Brata, kau ingat aku sedang mengandung anakmu.turunkan tanganmu jika kau ingin anakmu selamat !!" Tukas Anjani berteriak.


Brata berdiri di tengah-tengah bingung, lalu ia menoleh menatap Ayahnya. Brata menghampiri Subroto, "Ayah maafkan anakmu ini yang tak bisa menjaga hak-hak kalian" ujar Brata.


Ia menangis dan menggenggam tangan Subroto, Betapa terkejutnya dirinya saat menyadari tangan Ayahnya sudah dingin. Brata bingung tidak tau harus berbuat apapun, dengan semampunya ia menekan nadi Subroto ternyata sudah tak berdenyut lagi.untuk memastikan hal itu, Brata berlari menghubungi Dokter pribadi mereka.


Sedangkan Candrawati sudah terkulai lemas tak berdaya tersungkur di lantai.


Lalu bagai mana sikap Anjani terhadap kepanikan Brata ???


...----------------...


"Bersambung"


terus dukung karya Mentari Impian dengan vote dan like sebanyak-banyaknya 😘🙏

__ADS_1


salam hangat dan salam bahagia selalu untuk pembaca 😘🙏


__ADS_2