Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB 17


__ADS_3

"Apa kamu yakin,dengan keputusan kamu 'Dit, ?" Tanya Yoga,setelah mendengar cerita Andita.


"Ya,aku sangat yakin." Jawab Andita, sembari menarik nafas dalam.


"Nanti aku akan hubungi beberapa rekanku,biar kamu gabung sama mereka aja dulu.sementara dapat tempat yang cocok." Kata Yoga


"Baiklah." Ucap Andita,di sela tarikan nafas panjangnya.


Yoga memandangi wajah cantik Andita,tampak jelas sekali matanya berkantung menandakan ia kurang tidur.bagi Andita,saat ini hanya Dokter Yoga yang bisa mengerti situasinya.karena itulah, ia mengundang Dokter Yoga kerumahnya malam ini.


"Apa kamu akan ikut bersamaku,?" Tanya Andita, sambil menatap Yoga yang sedang menatap nya.


Deg... pertanyaan Andita barusan membuat gemuruh ombak di hati Pak Dokter tersebut.


"Tidak." Jawab Yoga


"Ah,maksudku tidak sekarang.aku akan mencari tempat yang cocok terlebih dahulu, maksudku tempat untuk kita Bekerja." Ucap nya kikuk.


"Oh begitu.dimana tempat rekanmu itu, ?" Tanya Andita


"Di Bat*m." Jawab Yoga singkat


"Nanti aku hubungi dia.kalau semuanya sudah selesai disini,aku akan antar kamu kesana." Sambung Yoga lagi


"Iya." Jawab Andita lesu, setidaknya aku tidak disini lagi pikirnya.


"Aku pulang dulu.soal surat pengunduran dirimu itu,biar aku bantu buatkan.kamu istirahatlah,jangan banyak pikiran lagi." Ujar Yoga


"Ya,terima kasih." Sahut Andita.


Yoga bangkit dan segera meninggalkan Andita yang terpaku di ruang tamunya.


Itulah obrolan singkat antara Andita dan Yoga, prihal pengunduran dirinya seminggu yang lalu.


Andita sudah Resmi mengundurkan diri,dan bukan bagian dari Bidan Puskesmas Desa Kabupaten 'K lagi.hari ini Andita sudah berada di ruang tunggu Bandara kota K,ia akan pergi jauh dari sana dari Desa yang mengisahkan sekelumit kepedihan Hatinya.ia memandangi tiket di tangannya..., "Selamat tinggal 'mas Bagas." Desahnya,di iringi air mata yang sudah tergelincir membasahi pipinya.

__ADS_1


Yoga melihat tiket Andita yang basah,ia menoleh menatap perempuan disampingnya itu.dengan segenap jiwa ia memberanikan diri memeluk gadis itu, untuk memberikan kenyamanan dan kekuatan baginya.


Yoga menghapus air mata Andita, "jika kamu mau kembali, masih ada waktu." Ucap Yoga.


Andita menggeleng...ia balik memeluk Yoga dirinya sungguh lemah saat ini,ia butuh tempat bersandar yang kuat untuk menopang beban hatinya saat ini.


"Baiklah,ayo kita berangkat." Ajak Yoga sembari berdiri,ia mengulurkan tangannya pada Andita, satu tangan lagi menarik Koper Andita.Ia menatap wajah Andita yang sembab dan masih tersisa air mata disana, Yoga menyeka air mata itu lalu menyuguhkan senyum manis untuk Andita.


"Senyum lah.kalau kamu sulit memberikan senyummu untukku, setidaknya tersenyumlah untuk dirimu sendiri." Ucap Yoga


Andita tertawa kecil, mendengar ucapan Dokter tampan dingin dan kaku itu.


"Tertawa jauh lebih baik." Ucap Yoga lagi.


Ia menggandeng tangan Andita,memasuki pesawat yang akan menerbangkan mereka ke kota tujuannya.


...----------------...


Sementara Ayuningtyas menangis saat Andita mengabari, bahwa ia akan pindah Bekerja.


Andita tidak menceritakan kota tujuannya,juga tidak menceritakan apa masalahnya yang sebenarnya sama Bagas.harapan Ayu dimana pun putrinya berada,semoga dia selalu baik-baik saja.


Ayu penasaran apa masalah antara putrinya dan Bagas.ingin sekali ia mencari tau tapi apa pantas ia ikut campur, sedangkan mereka masih berpacaran.biarkan saja dulu Andita pergi pikirnya,anak gadisku masih muda dan masih berhak menentukan langkah, Ayu membesarkan hatinya untuk menghindari pikiran Negatif dalam dirinya.


...----------------...


Andita sudah tiba di kota tujuannya,ia melangkah kakinya keluar dari airport di kota dimana ia berada sekarang.Yoga masih menggandeng tangan Andita menuju sebuah mobil yang sudah menunggu nya disana,seorang Pria dengan seragam safari hitam menunduk menyambut kedatangan Dokter tampan itu.


"Selamat datang 'tuan." Sapa Pria tersebut menyapa Yoga dengan menunduk dan membukakan pintu mobil untuknya.


"Ya." Jawab Yoga dingin seperti biasanya.


Lalu ia memberikan kopernya dan koper Andita sama Pria itu,yang kelihatannya seorang Sopir pribadi kalau dilihat dari seragamnya.


Yoga membawa Andita memasuki Mobil mewah itu, mobil yang biasa di pakai kalangan orang-orang kaya tentunya.

__ADS_1


Andita tidak perduli hal itu,ia hanya ingin menikmati kesendirian nya setelah jauh dari kota K,jauh dari Bagas,jauh dari hal yang berkaitan dengan kekecewaan nya.


Sepanjang perjalanan Andita tidak bertanya akan kemana,di pikirannya sudah pasti akan menuju sebuah penginapan sebelum ia menemukan tempat tinggal disana.


Yoga sesekali melirik Andita yang sedang memalingkan mukanya ke jendela,ada rasa bahagia bisa berdekatan dengan gadis itu.namun, juga ada rasa kasihan melihatnya bersedih.


Andita yang lelah dengan pikirannya memejamkan matanya,ia sama sekali tidak perduli dengan sekitarnya.


Mobil yang membawa Yoga dan Andita sudah memasuki gerbang kawasan perumahan Elit di kota tersebut.mobil yang mereka tumpangi, sudah berhenti di halaman rumah yang berdiri kokoh dengan tiga lantai tersebut.bangunan bernuansa Cina modern itu sangat lah mewah dan memukau, halamannya luas dengan menyuguhkan taman bunga berbagai warna tapi lebih dominan dengan bunga mawar putih dan merah.


Sang Sopir membukakan pintu untuk Yoga dan Andita,


"Silakan tuan." Ucap Sopir tersebut dengan menunduk.


Yoga yang menyadari Andita terlelap,segera membopong nya memasuki rumah besar dan mewah itu.


Ia membawa Andita ke kamar yang sudah di siapkan sebelumnya.


Ia merebahkan tubuh Andita di atas pembaringan Super Luxury itu,bagaimana tidak Luxury semuanya berbahan sutra. Ia menyelimuti Andita, setelah itu Yoga keluar memberi waktu istirahat bagi Andita gadis yang di puja nya selama ini dalam diam.


...----------------...


Siapakah Dokter Yoga sebenarnya ???


Bagaiman dengan Bagas setelah tau andita pergi ???


Nantikan cerita selanjutnya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya


Dengan like dan komentar.


Terimakasih yang sudah mampir😘😘


Salam hangat dari author🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2