
"Iya pa, sebentar lagi Bagas kesana." Jawab Bagas saat Brata menelponnya
Bagas memegangi kepalanya yang berdenyut sakit pengaruh Alkohol yang di konsumsi nya tadi malam, tangannya meraba-raba obat di dalam laci nakas nya.
Selesai minum obat Bagas membaringkan tubuhnya sebentar menunggu sakit kepalanya sedikit berkurang,ia memejamkan matanya namun ponselnya kembali berdering.
"Andita" desis Bagas saat melihat ID pemanggil di layar ponselnya.
Bagas berusaha mengabaikan panggilan gadis itu namun panggilan nya kembali masuk, Bagas menggeser tombol hijau di ponselnya namun lidah nya tiba-tiba keluh.ia menjadi canggung dan bingung bagaimana cara menyapa gadis itu, dengan keadaan mereka yang seperti sekarang.
"Halo, mas." Sapa Andita di seberang sana. suara nya masih merdu seperti beberapa tahun yang lalu, Dada Bagas bergejolak dan berdebar hebat.
"Iya sayang...ah maksud mas,Adik mas sayang." Jawab Bagas, perasaan ngilu menyelinap masuk di cela hatinya yang terluka.
"Mas, apa bisa kita bertemu dan ngobrol ?" Tanya Andita.
Bagas terpaku mendengar permintaan Andita, 'bagaimana bisa aku melepaskan Andita untuk Dokter itu kalau selalu berdekatan dengan nya, batin Bagas.
"Maaf. mas gak bisa janji,soalnya hari ini mas ada urusan." Bagas berusaha menolak ajakan Andita
"Baiklah kalau begitu, maaf kalau Dita mengganggu." Jawab Andita lirih, lalu memutuskan panggilan nya.
"Maafin mas,sayang.mas sangat ingin duduk dan ngobrol dengan mu, tapi mas takut perasaan ini tidak bisa dikontrol.mas sangat mencintaimu sebagai kekasih juga sebagai adik." Desah Bagas lirih, buliran kristal tergelincir begitu saja menyusuri wajahnya.
"Tunggu hati mas kuat menerima kenyataan ini, kita akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama setidaknya untuk yang terakhir kalinya." Lirihnya lagi.
Pria itu duduk di tepi ranjang king size nya dan menghapus jejak air matanya, lalu beranjak ke kamar mandi.
......................
Di rumah sakit...
"Sayang kok cemberut, ada apa hm...?" Tanya Yoga seraya merentangkan kedua tangannya.
"Mas Bagas gak bisa ketemu." Jawab Andita bersungut-sungut manja dalam dekapan Prayoga.
Yoga mengelus sayang punggung Andita.
" Sayang,tidak mudah bagi Bagas untuk dekat denganmu seperti dulu. Saat ini keadaan kalian sudah berbeda, dan Bagas mungkin saja belum siap menerima semuanya secara bersamaan.kamu mengerti...hm?" Ucap dan tanya Yoga.
Andita terdiam memikirkan kata-kata Yoga barusan, lalu menatap Yoga dan tersenyum manis.
"Pahamilah, di antara kalian perna ada cinta. cinta seorang pria dan gadis dewasa,bukan cinta antara kakak dan adik.menurut mas hal itu akan sulit baginya, kita sebagai keluarga harus memberikan dukungan dan semangat untuk nya, supaya Bagas tidak terpuruk dengan semua masalah yang menimpanya." Ujar Yoga panjang lebar
Andita meraih tangan Yoga dan memberinya kecupan hangat dan lembut disana.
"Terima kasih sayang." Ucap Andita
"Boleh nanya ?" Tanya Andita kemudian
__ADS_1
"Hm" jawab Yoga sambil mengangguk.
"Apa mas tidak cemburu kalau Bagas duduk bersama ku ?" Tanya Andita
Yoga terdiam menatap wajah Andita, lalu ia mengecup kilas bibir gadis itu.
"Kalau duduk sebagai adik kakak,mas tidak cemburu.tapi kalau kalian bersama sebagai pasangan, mas menjauh." Ucap Yoga
"Mas mau jauhi dan tinggalin Dita ?" Tanya Andita, sembari duduk menegakkan tubuhnya menatap Serius wajah Yoga.
"Iya...," Jawab Yoga mengambang
"Maksud mas ?!" Tanya Andita lagi
"Iya...menjauhkan kamu dari Bagas,mas bawa ke Batam lagi." Jawab Yoga sambil senyum-senyum.
"Ih...mas" Andita memukuli dada bidang Yoga dengan gemasnya.
"Hahaha...,la iya dong,masa mas biarin calon istri mas pacaran, terlebih lagi sama kakaknya sendiri." Ujar Yoga sambil tertawa.
Setelah ngobrol dan bercanda ria sebentar, Yoga memeriksa keadaan Ayuningtyas yang berada di samping ranjang Andita. Sedangkan Andita sudah kembali membaik seperti sediakala, dan hal itu merupakan kebahagiaan tak terhingga bagi Yoga begitupun bagi kedua orang tuanya.
Usaha mereka mendatang kan Dokter dari negara tetangga tidaklah sia-sia, semuanya sesuai dengan yang mereka harapkan. Andita sudah kembali ceria rona wajah nya sudah merah normal, fisiknya pun sedikit tak ada yang cacat meskipun racun ganas itu sempat merusak beberapa jaringan tubuh nya.
Sedangkan Ayuningtyas masih terbaring lemah, matanya belum sama sekali terbuka meskipun terkadang air matanya mengalir membasahi pipinya.tapi semua yang selalu hadir di sana sangat bersyukur, karena detak jantung Ayuningtyas sudah sangat normal.
...----------------...
Sementara ada beberapa bukti yang memberatkan hukuman terhadap Anjani, yakni pembakaran serta pembunuhan terhadap kedua orang tua Ayuningtyas di masa lalu.
Ternyata sebelum rumah kedua orang tua Ayuningtyas terbakar, korban sudah di habisi terlebih dahulu.untuk menghilangkan jejak-jejak pembunuhan, wanita Iblis itu bersama rekannya membakar rumah tersebut.
Adapun bukti-bukti yang terkait lainnya yakni pemindahan atau perampasan hak atas harta kekayaan keluarga Subroto, semua itu Anjani lakukan dengan cara menekan dan mengintimidasi korban melalui kehamilan nya.
Menurut keterangan pihak-pihak yang berwenang sidang Anjani akan di gelar minggu depan, sesuai dengan agenda yang sudah tertulis dan di tetapkan.
"Apa pak Brata dan saudara Bagas ingin bertemu pelaku ?" Tanya salah satu polisi yang bertugas mengawal mereka.
Brata menatap Bagas tapi Bagas menggeleng ia belum siap bertemu Ibunya saat ini, atau mungkin selamanya tak ingin bertemu lagi. Terlalu banyak goresan luka yang Anjani torehkan di hatinya, terlebih Anjani tidak pernah menginginkan kehadirannya.
Brata menepuk pundak putranya lalu menuntunnya keluar meninggalkan kantor polisi tersebut, Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Antar papa kerumah sakit nak." Ujar Brata
Bagas hanya diam sembari memutar stir mobilnya ke arah tujuan yang di inginkan brata.
...----------------...
Saat tiba dirumah sakit Brata segera turun, lalu menoleh ke arah Bagas.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin menjenguk Adikmu ?" tanya Brata
Bagas menggeleng seraya menatap rumah sakit itu.
"Bagas ada urusan pa, nanti aja kalau urusan Bagas udah selesai." jawab Bagas.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa kabarin papa." ucap Brata seraya melangkah meninggalkan Bagas yang mematung menatap kepergian nya.
setelah cukup lama terdiam dan memandangi rumah sakit itu pelan-pelan Bagas meninggalkan area parkiran, tapi saat dirinya keluar tanpa sengaja matanya menangkap sosok gadis yang di ganggu nya kemarin.
Gadis cantik itu sedang berjalan-jalan sendirian di sekitar rumah sakit, mungkin dia jenuh berada di ruangan yang identik dengan bau obat-obatan itu.
Bagas menghentikan mobilnya dan berpikir sejenak tentang perbuatannya kemarin terhadap gadis itu, Bagas memarkirkan mobilnya dan mengejar langkah Shinee.
"Shinee ?!" panggil Bagas.
Shinee menoleh dan menatap awas pada kehadiran Bagas yang tiba-tiba, Shinee melihat kesana kemari siapa tau pria mesum itu membawa kru-nya untuk berbuat hal tak Senonoh padanya lagi.
"Shinee kamu mencari siapa ?" tanya Bagas, tapi gadis itu hanya menggeleng.
"Shinee maafin aku soal kejadian kemarin, aku khilaf.sungguh aku minta maaf." ucap Bagas seraya menangkup kedua tangannya.
"Ya, lupakan." jawab Shinee singkat dan pergi meninggalkan Bagas.
"Shinee, tunggu !! kamu masih marah ? aku mohon maafkan aku Shinee !!" ujar Bagas memohon.
Shinee menatap tajam mata Bagas, ia mencari trik dan tipu muslihat pria mesum itu melalui tatapan matanya, namun Shinee tak menemukan kebohongan disana.
"Baiklah." jawab Shinee singkat
Bagas tersenyum menatap Shinee " Apa kamu memaafkan ku ?" tanya Bagas memastikan ucapan Shinee.
"hm..." jawab Shinee mengangguk.
"Terima kasih Shinee, apa kita bisa berteman ?" tanya Bagas, Shinee kembali mengangguk.
"Sebagai permintaan maaf ku, dan perayaan pertemanan kita gimana kalau aku traktir makan di Cafe seberang sana." tunjuk Bagas pada sebuah Cafe yang terletak di seberang sana rumah sakit.
Shinee kembali mengangguk dan menengok ke arah tunjuk pria itu.
"Ayo" ajak Bagas tanpa sadar menyentuh dan menyeret tangan Shinee ke arah mobilnya. Shinee mengikuti langkah Bagas, sambil berusaha melepaskan genggaman pria tampan itu yang mencengkram erat tangannya.
"Maaf" ucap Bagas ketika sadar Shinee tidak nyaman atas perlakuan nya yang tanpa disadari nya itu.
Bagas membukakan pintu mobil untuk Shinee, setelah gadis itu masuk dan duduk tenang ia pun memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi nya.
Mobil Bagas meluncur pelan dan memutar ke arah Cafe tujuan mereka.
...----------------...
__ADS_1
TBC
jangan lupa vote dan like nya guys🙏