
Jakarta
Dirumah sakit Medical Prayogo, disinilah saat ini Andita terbaring lemah dengan kondisi tanpa sadarkan diri.meskipun sudah di lakukan penanganan terbaik dan telah mendapat sekantong darah yang dibutuhkan tubuhnya tapi keadaan nya belum menunjukkan tanda-tanda untuk siuman.
Sejak di bawah ke Jakarta Andita masih belum melewati fase kritisnya, meskipun sudah di tangani oleh beberapa Dokter ahli dan peralatan canggih sekalipun tidak cukup membantu keadaannya.
Pasca kuret kondisinya semakin tidak stabil, karena transfusi darah belum memenuhi kebutuhan nya. Kesulitan mencari darah AB+ membuat kondisi Andita semakin mengkhawatirkan, belum lagi persiapan untuk melakukan tindakan operasi di kepalanya.
Menurut hasil CT scan Andita mengalami pendarahan di jaringan kepalanya,karena kerasnya benturan di kepala bagian belakang. Chang Lie dan Yoga sudah koordinasi dengan rekan-rekan nya untuk membantu kesembuhan istrinya, namun mereka belum bisa bertindak jika darah yang di butuhkan belum di dapatkan. Karena tidak mau ambil resiko yang lebih besar, makanya mereka masih menunggu darah yang di butuhkan untuk pasien.
"Sayang..." Bisik Yoga saat dirinya sedang menjaga Andita.
"Ohya, mas ada kabar baik untukmu.sebelum kecelakaan di kamar mandi, ternyata kamu sedang hamil sayang.tapi...kita kehilangan dia.maafin mas sayang,andai mas tidak membiarkan kamu terlalu lama waktu itu mungkin keadaan ini tidak akan terjadi." Lirih Yoga menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa istrinya.
Ayuningtias tak sengaja mendengar ucapan Yoga,bahwa awal kejadian yang menimpa putrinya berawal dari menantunya itu.
"Apa kamu bilang ? Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku ?!" Tanya Ayuningtyas.
"Katakan Yoga, apa yang kamu lakukan pada putriku?!" desak Ayuningtyas.
"Mama..." Yoga menoleh kearah sumber suara.
Ayuningtias menatap garang kepada Yoga, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Yoga.
"Maaf ma, kemarin kami sedikit berdebat. Aku tidak menyangka jika kejadiannya akan berakhir seperti ini." jujur Yoga
"Jika terjadi sesuatu pada Andita, Mama tidak akan pernah memaafkan kamu.!" Dengus Ayuningtyas
Ayuningtias sebenarnya merasa khawatir dengan keadaan rumah tangga anaknya, karena setiap Ayuningtyas mau berkunjung mereka selalu bilang akan datang ke Jakarta di akhir pekan. Tapi pada kenyataannya setahun pernikahan mereka, sekalipun belum bertemu selain melalu telpon dan FaceTime.
Sekalinya bertemu justru keadaan putrinya jauh lebih mengkhawatirkan, sudah 2 hari terbaring belum juga kunjung siuman. Ayuningtias terduduk lemah di sofa ruang rawat Andita, pikiran nya berkecamuk.
"Bagaimana kalau Bagas dan Andita tau,kalau mereka tidak sedarah.apa alasanku, dan apa reaksi Bagas saat mengetahui semuanya." Batinnya
karena Ayuningtyas sangat yakin Bagas akan mengetahui kondisi Andita, Ayuningtyas sebenarnya sangat terbebani dengan kebohongan yang di buatnya.
Brata masuk dan duduk di samping istrinya setelah cukup lama pergi keluar dan komunikasi sama Bagas tanpa sepengetahuan Ayuningtyas, tangannya mengelus lembut pundak Istrinya itu.
"Kamu dari mana mas, kenapa lama sekali." Tanya Ayu
"Mas nyari darah untuk Andita." Sahutnya
"Ini diminum dulu, kamu terlihat sangat tegang sekali. Insyaallah secepatnya, putri kita bisa melakukan operasi." Tukas Brata memberikan sedikit ketenangan pada istrinya.
"Alhamdulillah, kapan orang itu akan mendonorkan darah nya mas ?" Tanya Ayuningtyas seraya menerima air kemasan yang di berikan Brata.
"Kita tunggu kabar selanjutnya,karena orang itu harus cek kesehatan nya dulu.semoga keadaannya memungkinkan untuk melakukan transfusi darah nya untuk Andita, maunya mas secepatnya." Jawab Brata
Ayuningtias mengangguk,dan meminum air mineralnya.
__ADS_1
"Malam ini kita istirahat di rumah saja dulu, nanti Chang Lie dan Indira yang akan menjaganya." Tambah Brata
"Aku mau disini aja mas." Sahut Ayu
"Pikirkan juga kesehatan kamu, kalau kurang istirahat nanti kamu juga sakit.percayalah,putri kita akan baik-baik aja." Brata memberikan pengertian kepada istrinya itu.
Akhirnya Ayuningtyas mengangguk meskipun berat, ucapan Suaminya ada benarnya juga pikirnya.
"Tapi, tunggu mereka datang baru kita pulang.ya mas." Ucap Ayu dan di angguki oleh Brata.
Melihat Brata datang, Yoga berpamitan keluar guna menghirup udara bebas sebentar.Brata bangkit dan duduk di samping ranjang Andita, ia membelai lembut rambut putrinya.
"Meskipun kamu bukan darah daging ku, tapi aku menyayangimu seperti putri kandung ku Nak. Bersabarlah, papa dan mas mu akan membawamu kembali sehat seperti semula." Batin Brata, hatinya sebenarnya sakit bagai teriris saat mengetahui kenyataan bahwa wanita di hadapannya ini bukan anak kandungnya, sakitnya hati karena sudah menyakiti putranya sendiri dan sakit karena merasa sengaja di bohongi oleh wanita yang sangat di cintainya itu.
Mata Brata berkaca-kaca, membayangkan betapa hancurnya perasaan Bagas dipisahkan dari perempuan yang sangat di cintai nya ini. Namun Brata kagum pada ketegaran hati dan kekuatan cinta Bagas pada Andita, meskipun sudah ditinggal menikah dengan lelaki lain, tapi putranya itu masih rela memperjuangkan nyawa Andita untuk tetap berhembus meskipun hidup Andita bukan untuk dirinya.
Brata kembali mengingat percakapan nya dengan Bagas tadi, mengenai hubungan kakak adik palsu di antara mereka juga tentang kondisi Andita saat ini.
Flashback#
Bagas sedang berkutat dengan tumpukan map di atas meja kerjanya,saat Ponselnya berdering.
"Halo, assalamualaikum pa.apa kabar papa hari ini?" Sahut Bagas
"Alhamdulillah kabar papa sehat dan baik-baik saja, Nak." Jawab Brata
"Pa...apa ada masalah ?" Tanya Bagas mencoba menebak.
"Sebelumnya papa benar-benar mohon maaf, sekali lagi maafin papa Nak."ujar Brata
Bagas semakin bingung dengan perkataan Brata di seberang sana,tidak seperti biasanya berkata seperti itu pikirnya.
"Kenapa papa bicara seperti itu, apa papa membuat kesalahan terhadap Bagas ?" Tanyanya langsung
Brata kembali mendesah berat sebelum menyampaikan semuanya.
"Sebenarnya kamu dan Andita..."
"Bukan adik kakak yang sedarah." Potong Bagas menyela ucapan Brata
"Papa jangan merasa bersalah soal itu, Bagas sudah mengetahui sejak awal bahkan sebelum Andita menikah. Bagas sudah membuktikan nya melalui tes DNA, pa.yang terpenting bagi Bagas,Andita bahagia dengan pilihannya begitupun dengan papa." Lanjut Bagas
Brata menangis mendengar penjelasan Bagas di seberang sana, dirinya bahkan sangat yakin waktu itu kalau Andita adalah putrinya hingga tidak terpikirkan oleh nya untuk melakukan tes DNA.
"Sudahlah pa tidak perlu disesali ataupun di tangisi, Bagas sudah rela walaupun belum bisa ikhlas hingga detik ini." Lirih Bagas
"Nak, ada hal yang lebih penting dari ini menyangkut keselamatan Andita." Ujar Brata dengan nada khawatir.
"Andita kenapa pa,katakan Andita kenapa pa ?!" Sahut Bagas cemas
__ADS_1
Brata akhirnya menceritakan semuanya pada Bagas.
"Si Dokter pecundang itu apa gunanya." Geram Bagas dalam hati
"Papa tenang aja, Bagas akan mencari darah yang Andita butuhkan.sekalipun ke ujung dunia akan Bagas cari pa, asal Andita tetap bisa tersenyum.
"meskipun bukan untukku." Lirih Bagas, tapi masih jelas terdengar di telinga Brata
"Terimakasih Nak, percayalah akan kekuatan cinta sejati." Sahut Brata sambil terkekeh kecil mencairkan suasana obrolan mereka.
"Papa tunggu aja nanti Bagas kabarin lagi, Bagas mau hubungi teman-teman dulu. Assalamualaikum." Tukas Bagas mengakhiri percakapan mereka
"Walaikumsalam" sahut Brata.
Flashback off#
"Andai waktu itu Mama mu jujur, papa tidak akan memisahkan kalian. Kita akan berkumpul bersama dalam satu keluarga, sebagai anak juga sebagai menantu." Brata tersenyum membayangkan hal itu, dimana mereka berkumpul tak terpisah dari orang-orang terkasih saling mencintai dan menyayangi.
"Assalamualaikum". Chang Lie dan Indira sudah datang di antara mereka dan mengintrupsi khayalan Brata sekaligus menghapus senyuman di bibirnya.
setelah berbincang-bincang seputar kelanjutan penanganan Andita, Ayu dan Brata berpamitan pulang.
Ayuningtias dan Brata akhirnya meninggalkan rumah sakit, setelah Chang Lie dan Indira sudah datang.
...----------------...
Jauh nun disana....
"Bertahanlah sayang, untuk orang-orang yang menyayangi mu." Lirih Bagas sambil mengelus lembut foto Andita.
Saat ini Bagas tengah bersiap untuk bertamu kerumah sahabat nya, menurut Robert Adiknya mempunyai golongan darah yang sama dengan Andita. Tapi mereka harus menunggu, karena adiknya masih dalam perjalanan menuju indonesia.
"Kebetulan sekali adik gue berkunjung, setelah sekian lama meninggalkan Indonesia." Ucap Robert saat di hubungi Bagas tadi sore
Bagas mengecup lembut foto Andita.
"Mas pergi dulu, gak lama kok." Bagas tersenyum menatap Andita, lalu meletakkan kembali foto tersebut di atas nakas.
Bagas mengendarai mobilnya menuju rumah sahabatnya, ia ingin memastikan bahwa adiknya benar-benar mempunyai golongan darah yang sama dengan Andita. Karena Bagas sedikit aneh, golongan darah Robert dan adiknya berbeda.
Adik Robert adalah harapannya saat ini, di samping itu Bagas terus mencari golongan darah yang di butuhkan melalui rekan-rekan kerjanya,hingga para karyawan nya tak luput terlihat dalam pencarian golongan darah tersebut.
...----------------...
TBC
ayo support terus karya Mentari Impian dengan like dan vote, komentar yang positif aja ya.kalo gak suka ceritanya,cukup dengan tidak membacanya😁🤭gak usah komentar yang bikin gak semangat nulis 😜menulis cerita fantasi itu gak gampang loh,dan waktunya pun gak cukup 1atau 3 jam.di pikir dulu, kadang kalo lagi masak bisa sampe gosong saking terus berpikir nyari ide😀
kalo Typo mohon maaf 🙏🙏
__ADS_1