Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~91


__ADS_3

"Al...sini sarapan dulu !" Seru mbak pengasuh anaknya Lauren yang tengah asik bermain kejaran dengan Bagas juga Robert.


Mbak pengasuh akhirnya memilih duduk di bangku taman, ia lelah harus ikut mengejar anak kecil itu. Sementara Al menulikan pendengaran nya, sama sekali tidak menghiraukan panggilan mbaknya, dirinya asik dengan keseruannya saat ini.


Di pintu menuju taman belakang seorang perempuan tengah tersenyum getir menatap tawa riang anaknya, dari kandungan hingga detik ini anak itu belum pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang sosok seorang ayah.


Mata indah berbulu lentik itu berembun, sekali saja ia mengerjap tetesan embun di pagi hari ini akan mengalir membasahi pipi mulusnya.


"Maafin mommy Al, mommy tidak sanggup mempertemukan kalian. Mama terlalu takut sayang, mommy belum siap sayang." Air mata Lauren luruh membasahi pipinya, dengan segera jemarinya menghapus linangan air matanya saat tangan seseorang menyentuh bahunya.


"Alen...ada apa sayang. Kok nangis ?" Tanya Ayu tiba-tiba datang saat melihat tubuh semampai itu bergetar.


Alen menoleh ke samping dan tersenyum, berusaha menutupi kesedihannya. Ayu Sadar dengan sangat, senyum itu hanyalah di paksakan. Lauren kembali menatap putranya, lalu mengalihkan pandangannya pada Ayu. Ayu mengangguk, ia paham maksud tatapan itu.


"Jangan terlalu lama tenggelam dalam masalalu, buka hatimu untuk hal-hal yang positif demi masa depannya. Ia membutuhkan sosok ayah sayang, jika kamu tidak berani melangkah dan tetap terpaku pada masalalu akan menyakitimu juga berimbas pada psikologis Al." Ayu menatap Lauren, ia tak tega melihat gadis punya anak di hadapannya itu harus menanggung beban luka yang berat sendirian.


Ayu menarik tangan Lauren dan mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku kosong di taman belakang rumah nya.


"Apa tujuan kamu yang paling utama kembali ke Indonesia selain membantu Andita, Nak ?" Tanya Ayu menyelidik.


Alen mendesah berat menyingkirkan beban yang menghimpit dadanya, sekilas Alen menatap Ayu sendu lalu kembali menatap putranya yang saat ini sedang di gendong Robert dan Bagas secara bergantian.


"Al sebentar lagi akan sekolah, abang sudah mendaftarkan dia di salah satu sekolah di kota K. Dan Alen sadar bahwa Al sudah beranjak besar, dia bukan anak balita lagi yang bisa Alen bohongi terus-menerus tentang keberadaan ayahnya. Alen tidak ingin Al mendapatkan ejekan teman-temannya nanti di sekolah karena tidak memiliki ayah, sebelumnya Alen datang ke Jakarta ingin mempertemukan mereka selain untuk membantu Andita. Tapi Alen takut, Alen merasa semua itu akan berbalik menjadi ancaman bagi Alen dan Al." Ayu Menangkup kedua pipi Alen, lalu memeluknya erat menyalurkan kenyamanan dan kehangatan untuk memberikan kekuatan pada perempuan rapuh di sampingnya itu.


"Dengarkan mama sayang. adakalanya kita menganggap sikap seseorang sebuah ancaman, yang bahkan belum kita hadapi sama sekali bagaimana karakteristik yang tersimpan di balik sikapnya yang kita anggap ancaman. Berbanding terbalik dengan sesuatu yang kita anggap sebagai sumber kebahagiaan, namun justru perlahan menyakiti perasaan kita dan orang yang kita sayangi. Buang rasa takut dan khawatir mu, hadapilah semua masalah dengan keberanian demi Al. Kita belum tau hasilnya seperti apa, kalau belum di coba." Ujar Ayu yang sedikit menyentil sikap nya terhadap Bagas dan Yoga.


"Tapi...ma" "Lihatlah Al, siapa yang lebih penting saat ini ? Rasa khawatir dan takutmu atau perasaan Al ?" Sela Ayu memberikan dorongan untuk Alen.


Alen mengangguk. "Terimakasih ma, akan Alen coba. sekarang bukanlah waktu yang tepat, kita harus kembali ke kota K harini." Ayu tersenyum dan mengelus lembut rambut Alen yang sudah dia anggap sebagai putrinya, mengingat darah Alen sudah mengalir di tubuh Andita.


Jelas sudah Ayu sudah merubah sudut pandang nya terhadap Bagas, Bagas yang dia anggap mewarisi sifat Anjani ternyata salah. Sejauh ini anak itu tidak melakukan tindakan yang merugikan dirinya atau putrinya Andita. Apalagi saat Bagas dengan nyata mengetahui fakta bahwa antara Andita dan dirinya bukanlah Adik dan kakak. Khawatir, takut berlebihan,benci dan dendamnya terhadap Anjani selama ini, sudah tentu berimbas menyakitkan hati bagi Brata, Bagas, dan Andita.


Brata tentu saja tersakiti akan hal itu, ia sangat merasakan keperihan dan pedih yang di rasakan putranya. Terlepas dari semua itu Brata sudah menyerahkan semuanya kepada takdir, setidaknya Brata harus banyak-banyak memanjat puji syukur pada yang kuasa dengan lika-liku kehidupan putranya menjadikan sosok Bagas semakin tangguh dan dewasa.


"Permisi... nyonya ada tamu. Tuan Chang Lie dan nyonya Indira." Pembantu salah satu dirumah Ayu datang memberitahu kedatangan kedua besannya.


"Ah, ya. Terima kasih bi, tolong panggil tuan Robert ya bi. Ayo Alen, mereka mau bertemu kamu juga Robert." Ajak Ayu pada Alen untuk masuk ke dalam rumahnya menemui Chang Lie dan Indira.

__ADS_1


Ayu menyambut kedatangan kedua besannya dengan ramah tamah, di susul oleh Alen yang berdiri di sampingnya.


"Alen... perkenalkan ini kedua mertua Andita, tuan Chang lie dan nyonya Indira." Ucap Ayu


Ayu sekilas menatap wajah Chang Lie dan Indira, ada desir aneh yang menyusuri relung hatinya. Dan Alen dengan segera menepis bayang-bayang sosok itu, lalu tersenyum menatap kedua sosok di depannya seraya menjulurkan tangannya.


"Lauren om,tante. Biasa di panggil Alen." Lauren menyambut kedatangan mereka dengan menyalaminya.


"Hm...sini sayang peluk tante dulu." Pinta Indira pada Alen "Tante terimakasih banyak atas semua kebaikanmu, Nak." Ucap Indira lembut lalu melepas pelukannya.


Ke empat orang itu sudah duduk bersama di ruang tamu, tanpa kehadiran Brata dan yang lainnya.


"Bagaimana dengan keadaan Andita hari ini apa sudah ada perkembangan ?" Tanya Ayu pada Indira dan Chang lie membuka obrolan.


"Belum sepenuhnya sadar, tapi tubuhnya sudah merespon dengan baik." Sahut Chang Lie "ohya Brata mana Bu Ayu ?" Tanya Chang Lie kemudian setelah celingak-celinguk mencari sosok lelaki yang di tanyakan barusan.


"Ada diruang kerjanya, sudah di panggil sama bibi." Sahut Ayu


Indira menatap Lauren yang hanya menunduk, memainkan jari-jarinya.


"Tadi di taman belakang, mungkin sebentar lagi bergabung di sini." Sahut Lauren pelan. Dan Indira masih menatap Lauren, yang menurutnya sangat menggemaskan seakan-akan dia takut melihat kehadiran dirinya dan suaminya.


Selesai mandi Robert bergabung dengan Brata dan yang lainnya di ruang tamu, minus Bagas dan Al putranya Lauren. Mereka terlihat berbincang dengan serius, sesekali di antara mereka mengangguk dan tertawa kecil.


"Oke, kalau mau hebat seperti uncle itu artinya harus makan yang banyak dan sehat ." Ujar Bagas tiba-tiba muncul dari arah pintu belakang, dengan seorang anak kecil yang tengah bergelayut di punggungnya.


"Baik. Kalau begitu mari kita makan, makan yang banyak. Hahahaa..." Tawa sang anak kecil itu menggema, mengusik beberapa orang dewasa yang ada di ruang tamu.


Lauren menolehkan kepalanya menatap binar riang dan gembira di wajah putranya itu, hatinya menghangat. Namun beberapa sedetik kemudian ia berubah bermuram durja.


"Mommy...Al mau makan sama uncle, biar bisa hebat seperti uncle." Teriak Al menyapa ibunya, tanpa mengerti perasaan sang mommy.


"Al, turun sayang. Itu tidak sopan. Al sudah besar, kasian uncle nya tu kesakitan menahan beban tubuh Al." Ujar Lauren seraya berdiri.


"Tak masalah Alen, dia cukup ringan bagi kakak." Sahut Bagas sambil mendekatkan dirinya kepada sang tamu.


"Apa kabar nyonya Indira dan tuan Chang lie.maaf tidak bisa bergabung, saya belum mandi dan berkeringat." Ungkap Bagas beralasan, ya menurutnya kedatangan Chang Lie dan Indira untuk bertemu Lauren dan Robert bukan dirinya, jadi tidak ada manfaatnya dia ikut bergabung disana

__ADS_1


"Hehehe...tak masalah Nak Bagas, kamu tetap gagah dan tampan meskipun belum mandi." Sahut Indira menggoda dan memuji Bagas.


"Hahaha... terimakasih untuk kata gagah dan tampan nya nyonya." Jawab Bagas dengan terkekeh.


"Uncle memang gagah dan tampan, otot lengannya aja sebesar kedua paha Al." Bisik Al di telinga Bagas, dan membuat Bagas kembali tertawa geli mendengar godaan bocah dalam gendongan di belakangnya itu.


"Al, ayo mandi sama mbak setelah itu makan tadi sama sekali Al belum makan." Ajak pengasuhnya Al seraya mengulurkan kedua tangannya.


"Tidak. Al mandi sama uncle." Teriaknya sembari mencengkeram erat leher Bagas.


"Sayang...uncle nya tercekik tu. Turun ya." Ujar Robert lembut. Dan Lauren geleng-geleng kepala melihat tingkah baby besarnya itu. Lauren menangkap tubuh kecil Al dan menurunkan nya.


"Sekarang mandi sama mbak, tidak ada bantahan." Tukas Lauren, dan sang anak hanya menunduk takut saat mommy nya sudah berkata tidak ada bantahan. Bagas menatap tak tega pada Al, saat wajah menggemaskan itu tiba-tiba di tekuk.


"Baiklah, sekarang saatnya sang pangeran mandi bersama uncle yang gagah dan tampan ini " Bagas membujuk dan mengembalikan keceriaan Al.


Al mendongak menatap wajah Bagas lalu tersenyum, sedangkan Indira dan Chang lie sedari tadi meneliti secara detail garis wajah anak laki-laki itu. Indira menutup mulutnya berkali-kali, melihat dan mengingat bayang-bayang sosok kecil yang saat ini sudah tumbuh dewasa,gagah dan karismatik.


"Ayo pangeran." Ajak Bagas membawa satu tangan Al dalam genggaman nya, lalu berjalan menaiki undakan tangga menuju kamarnya.


"Ada apa dengan kalian ?" Tanya Brata yang sejak tadi memperhatikan ekspresi kedua pasangan suami istri itu.


"Ah tidak. Dia mirip sekali dengan menantu mu semasa kecil, persis sekali." Sahut Chang lie


Deg....


Wajah Brata berubah, begitupun dengan Ayuningtyas. Sedangkan Robert dan Lauren tidak ambil pusing dengan ucapan Chang Lie barusan, karena mereka belum bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan menantu pemilik Rumah yang saat ini menampung mereka


...----------------...


To Be Continued


tabir kepalsuan sedikit demi sedikit mulai terbuka, pantengin terus ya. dan jangan lupa selalu berikan support kalian dengan like dan vote. tap ❤️ juga ya....


dan maaf jika novel ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian, toh tidak melulu gambaran hidup itu sesuai dengan kehendak kita.


salam hangat dari Mentari Impian ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2