Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~33


__ADS_3

Disana kau bercumbu di sini aku merindu, mungkin kata-kata ini tepat sekali di sematkan untuk seorang Bagas Prawijaya Subroto.


Bagas termenung di meja kerjanya isi kepalanya hanya di penuhi tentang Andita sedangkan Hatinya sangat merindukan perempuan itu. langkahnya untuk mencari keberadaan Andita belum menemukan sedikitpun arah dan tujuan, apa ke Utara atau Selatan,ke timur atau Barat...,semuanya betul-betul tertutup rapat dan melumpuhkan langkah Bagas.


Bagas menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya kasar, “Kau dimana sayang ?” desah Bagas. Tiada sedetik pun waktu ia lewatkan untuk tidak memikirkan gadis itu,semuanya tentang Andita, Andita, Andita dan Andita.rasa bersalah terhadap Andita terus menghantui Bagas,ponselnya pun di hubungi tidak perna aktif lagi sejak 6 bulan ia meninggalkan Desa tempatnya bekerja.


Bagas juga selalu berpikir tentang kemungkinan,dan kemungkinan terkait seorang Dokter yang pernah menjadi rekan kerja Andita.


“Aku akan kembali ke Desa itu.Jika Dokter itu pun ikut mengundurkan diri,bukan tidak mungkin bahwa Andita bersama laki-laki itu!” geram Bagas kala mengingat Andita membela lelaki itu di hadapannya.


“Ya aku harus kesana. Sekalipun tak bertemu Dokter sialan itu,setidaknya aku harus mendapatkan Data laki-laki itu,Bagas terus membatin.


Ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul 1 siang. “Besok aku harus kesana lebih pagi” desisnya.


Ting...ting...,suara pesan chat di ponsel Bagas. Ia meraba sakunya dan mengeluarkan ponsel pintarnya “Mama” lirihnya.


Bagas beranjak mengambil kontak mobilnya,lalu segera meninggalkan ruang kantornya.ya, begitulah Bagas saat Mamanya mengatakan rindu padanya,dia tidak akan pernah menunda nya untuk segera pulang menemui wanita yang sudah melahirkannya itu.


Bagas memacu mobilnya membela keramaian,tak lupa ia mampir membeli kue kesukaan wanita tersayangnya itu.


Pada dasarnya Bagas merupakan laki-laki penyayang hanya saja, sikapnya terlalu arogan dan bersikap semaunya saat ia merasa terganggu.tanpa berpikir panjang ia akan mengamuk tanpa memperdulikan situasi.


Brata selalu mendidik Bagas tumbuh dengan baik dan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, jadi tak salah juga saat di jebak Hanna ia bersedia menikahi Hanna.karena sebagai seorang pria yang gentleman, ia tak mau di cap laki-laki tak bertanggung jawab.


Selain itu sifat egois Bagas sangat mewarisi Anjani, apapun yang dia inginkan harus ia dapatkan itulah sosok Bagas persis seperti sifat Ibunya.


...----------------...


Bagas menghentikan mobilnya di sebuah toko kue langganan Mamanya,ia masuk dan memesan beberapa kue yang akan di belinya.


Saat menunggu pesanannya Bagas menduduki salah satu kursi kosong di toko tersebut,mata Bagas bergerilya menatap seluruh penjuru ruangan toko.matanya melihat seseorang yang sangat di kenalnya, lalu kakinya melangkah menghampiri sosok yang di kenal itu.


"Tante ?" Panggil Bagas.


Perempuan yang di panggil nya tante itu menatap sinis padanya, Lalu ia mengulurkan tangannya menyambut tangan perempuan itu. setelah menyalaminya Bagas hanya tersenyum kecut melihat tatapan yang di tujukan padanya, bagai belati yang siap menghunus jantung nya.


"Apa kabar tante ?" Tanya Bagas basa-basi memecah kecanggungan.


"Baik. maaf saya harus pergi !" Ujar perempuan itu ketus.lalu dengan langkah lebar,ia pergi meninggalkan toko itu.


Etika Ibu itu sangat baik,sekalipun ia membenci pria yang telah menyakiti putrinya tak serta-merta ia melabrak Bagas di muka umum.bahkan masih menerima uluran tangan Bagas, jiwanya sebagai


PIA Ardhya Garini masih melekat kental dalam dirinya. meskipun laki-laki yang telah membawa namanya dalam ikatan PIA Ardhya Garini telah tiada.


"Tante tunggu !" Seru Bagas.


Perempuan itu menoleh saat ia sudah mencapai pintu keluar, lalu kembali melanjutkan langkahnya.sedangkan Bagas tetap mengejar, "Maaf tante,apa boleh minta waktunya sebentar ?" Tanya Bagas berdiri di hadapan Ayu.


"Silakan. 5 menit !" Jawab perempuan itu.


"Apa tante sudah tau keberadaan Andita ?" Tanya Bagas.


Ayuningtyas membuang tatapannya ke arah jalan, " Untuk apa kamu masih mencari tau keberadaan putriku, setelah kau mengkhianati nya ?!" Ketus Ayu.


"Masih belum puas kamu mempermainkan perasaan putriku,huh ! Kamu datang dalam hidupnya bagai malaikat tak bersayap,setelah itu kamu menjelma menjadi cambuk dan pil pahit yang terpaksa di telannya.kau membuatnya menderita !" Seru Ayu berkaca-kaca.


Sikap Bagas lebih dan kurang, mengingatkan kisah pahit masalalu nya, tak urung membuat ayu menangis.


"Sebaiknya kau lupakan putriku, jagalah Anak istrimu" lirih Ayu,lalu pergi terburu-buru menjauhi Bagas yang mematung.


Terakhir bertemu saat mencari keberadaan Andita,sikap Ayu masih baik-baik saja bahkan ia tidak tau sama sekali masalah antara Bagas dan putrinya. Namun saat ini berbeda,Ayu mengetahui semuanya itu artinya Andita sudah menghubungi Ayu pikir Bagas.


Bagas kembali ingin mengejar Ayu,tapi pelayan toko kue tersebut memanggil nya.


"Mas,jangan lupakan pesanan nya" panggil pelayan itu,mungkin ia mengira Bagas akan pergi begitu saja. Bagas berbalik masuk ke dalam toko dan segera membayar pesannya tadi.


Lalu Bagas segera meninggalkan toko kue itu dan masuk ke mobilnya dengan terburu-buru, harapannya bisa mengejar Ayuningtyas untuk mendapatkan informasi keberadaan Andita.


Namun sepanjang jalan dari toko di telusuri ia tak menemukan Ayuningtias, akhirnya dengan persaan kesal ia putar arah pulang kerumah orang tuanya.


"Oh,shit !!" Teriak Bagas memukul stir mobilnya.


"Andita berarti kamu sengaja menghindari ku, awas saja jika Ternyata kamu bersama Dokter itu ! Kamu sengaja mengganti Nomor ponselmu untuk menghindari ku !" Aghhh !!" teriak Bagas memukul stir mobil berkali-kali, ia tampak sangat frustasi.


Matanya berkilat penuh amarah,kala membayangkan Andita pergi meninggalkan nya bersama Dokter itu, "Sedikit saja kau menyentuh Andita ku,maka tak ku biarkan kau bernafas lagi Dokter sialan !" Geram Bagas seakan bayangannya sudah nyata ia lihat.


...----------------...


"Mama" panggil Bagas,menyalami Anjani dan mencium pipi perempuan yang sudah melahirkan nya itu.


Anjani sengaja menanti kedatangan putranya di ruang tamu,karena dia sudah hafal betul kebiasaan Bagas saat ia bilang merindukan putra kesayangannya pasti ia akan segera pulang.

__ADS_1


Anjani memeluk Bagas, "Kamu kemana aja,sampai melupakan mama disini" tanya Anjani.


"Bagas sibuk ma,maafin Bagas" ujarnya pada Anjani.


"Kamu sudah makan siang ?" Tanya Anjani.


Bagas hanya menggeleng, "Kalau begitu,ayo makan dulu" ajak Anjani sambil menatap wajah murung putranya itu.


Bagas mengikuti langkah Anjani ke meja makan, meskipun hatinya tengah dongkol setengah mati.


Anjani hanya menatap putranya dalam diam, "Apa kamu sedang ada masalah" tanya Anjani.


"Ohya,tadi Bagas beli kue kesukaan mama.tunggu sebentar Bagas ambil ke mobil dulu" ucapnya mengalihkan pertnyaan Anjani.


"Biar mama yang ambil,kamu makan aja dulu" perintah Anjani.


Bagas mengangguk dan mulai menyantap makan siangnya yang terlewatkan.


...----------------...


Luxury House American style mungkin itu tepat untuk menggambar kan rumah mewah seorang Dokter tampan Febry Prayoga, dua insan sedang di mabuk cinta sedang bercengkrama di balkon lantai dua tepatnya area pribadi Prayoga.


Yoga sedang melatih Andita untuk berjalan, setelah dua hari gadis itu hanya menghabiskan waktunya dengan duduk dan rebahan saja.


"Ayo coba lagi" ucap Yoga.


"Kalau tak di gerakin nanti kakinya kaku,emang mau punya kaki bengkok !" Kata Yoga menakut-nakuti Andita.


"Ih doanya serem" sahut Andita.


"Makanya ayo jalan" ujar Yoga tertawa kecil.


"Tapi nanti beliin Pizza ya mas" ujar Andita.


"Apapun, setelah bisa jalan" ujar Yoga.


"Okelah" sahut Andita pasrah.


Ponsel yoga berdering tanda panggilan masuk.


"Sayang sebentar,mas angkat telpon dulu" pamit Yoga sambil berjalan ke arah sudut balkon.


Andita tertegun menatap sebuah pintu kamar yang tampak sangat kokoh terbuat dari kayu jati yang berkelas, pintu kamar itu berbeda sendiri dari pintu kamar lainnya, membuat Andita penasaran.Andita meraih tongkatnya agar bisa melangkah lebih cepat,tangannya menyentuh pintu kayu di hadapannya itu.


Ia berusaha membukanya,tapi sayangnya ia tak bisa melakukanya karena terkunci rapat.


"Ruangan apa ini" desisnya,sambil terus berusaha mendorong.


Yoga yang sudah selesai menerima telpon,mencari Andita. Entah kenapa ada perasaan marah ketika ia melihat Andita berdiri di depan kamar terkutuk itu,ya baginya kamar itu sangat terkutuk.


"Andita...!!" Bentak Yoga tiba-tiba,dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Jauhi pintu itu !! Jangan sekali-kali kamu berusaha untuk membukanya !" Ujar Yoga ketus.


"Siapapun di rumah ini tidak ada yang berhak masuk kesana !! bahkan hanya sekedar menyentuh pintunya !!" ujarnya marah dan ketus.


Andita menoleh kearah Yoga,ia sama sekali tak menyangka kalau Yoga akan membentaknya seperti itu.


Air mata gadis itu sudah tertumpah begitu saja, "Ya,ini memang rumahmu.maaf kalau aku sudah lancang" ujar Andita.


Lalu segera pergi menuju ke arah lift dengan berurai air mata.


"Apa yang salah dengan ku ? sehingga Yoga begitu marah.hanya dengan melihatku berdiri di depan kamar itu, dan menyentuh pintunya saja" batinnya.


Yoga memijit pelipisnya,saat menyadari ia membentak Andita.


"Ya tuhan.ada apa denganku,kenapa aku membentaknya" desis Yoga.


"Maafkan mas sayang" ujarnya sambil melangkah menyusul Andita.


Setelah ia sampai di lantai tiga,Andita menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


Ia menangis tersedu-sedu, "maaf jika itu kesalahan,aku akan pergi dari sini" lirihnya.


Dengan tertatih Andita mengambil kopernya,mengemas seluruh pakaiannya.


"Nasib menumpang" ujarnya sambil tersenyum getir.


"Sayang ? Buka pintunya ?" panggil Yoga dari depan pintu kamar Andita.


"Sayang,maafin mas" ujar Yoga.

__ADS_1


Jika kemarin ia masih ragu menceritakan semuanya, hari ini ia akan membuka semuanya pada Andita termasuk tentang kamar itu,sekalipun menceritakan hal itu akan membuka luka lamanya.


.


"Sayang,buka pintunya" ujar Yoga lembut.


Sedangkan Andita dengan kaki pincang dan masih tertatih sudah siap untuk meninggalkan rumah itu, hatinya yang lembut saat di bentak rasanya perih sekali. tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan untuk pergi dari sana.


"Sayang,maafin mas" ucap Yoga lagi.


Andita hanya diam. sama sekali tidak bergerak membuka pintu untuk Yoga,ia sibuk berkemas.


Yoga akhirnya memilih untuk membuka paksa pintu kamar Andita dengan memakai kunci cadangan, hatinya sedih melihat air mata Andita, Yoga merasa menyesal sekali. karena kemarahannya terhadap sosok yang pernah menghuni kamar itu, akhirnya menyakiti perasaan hati gadis yang sangat di cintai nya itu.


Yoga buru-buru turun,meminta kunci cadangan kamar yang di tempati Andita pada Bi Ima.


"Bi...bi Ima" Panggil Yoga.


"Ya tuan"Sahut Bi Ima dari dapur,ia sedang memasak untuk makan malam bersama pembantu lainnya.


"Bi mana kunci cadangan kamar Non Andita ?" Tanya Yoga.


"Ada apa tuan,Non kenapa?" Tanya Bi Ima panik, sambil menyerahkan kunci pada Yoga setelah melepas nya dari rangkaian kunci yang menggantung di balik bajunya.


"Aku gak sengaja membentak nya tadi bi,saat dia mendekati pintu kamar yang pernah di tempati Clara" cerita Yoga saat mereka di dalam lift.


Bi Ima menutup mulutnya, tak menyangka Tuannya melakukan hal itu pada gadis berhati lembut seperti Andita. "Ya allah tuan,bibi yakin dia sedih sekali" ujar bi Ima.


"Tuan,jika mencintai Non Andita kenapa tidak menceritakan semuanya? Menutupi masa lalu tuan seperti itu,akan merusak hubungan kalian saja. Bisa jadi menimbulkan salah paham di antara kalian nanti" ucap Bi Ima panjang lebar.


"Iya bi, setelah ini aku akan menceritakan semuanya.


Langkah lebar Yoga di ikuti bi Ima mengarah ke kamar Andita, namun betapa terkejutnya Yoga dan Bi Ima ketika mendapati kamar Andita sudah kosong.


Yoga membuka lemari Andita, "Bi baju Andita tak ada lagi" lirih Yoga Terpaku di tempat nya.


Bi Ima terlihat kesal sama Tuannya itu, bukannya segera mengejar Nonanya malah termenung.


"Hei tuan,apa tuan akan membiarkan dia pergi !" Seru bi Ima memarahi tuannya.kenapa bi Ima berani begitu, karena dari kecil Yoga sudah di anggap seperti anaknya sendiri.


"Ayo bi,dia pasti belum jauh dari sini karena kakinya masih sakit" ujar Yoga menarik tangan Bi Ima.


Dengan menahan sakit di kakinya,Andita terseok-seok menarik kopernya melewati halaman rumah Yoga.


"Non,mau kemana ?" Tanya Mang Amin.


"Mau pulang Mang,Dita kangen Mama" jawab Andita sambil menangis.


Mang Amin menangkap sesuatu yang tak beres dari raut wajah Andita, "Kenapa gak sama tuan,Non ?" Tanya Mang Amin.


Andita menggeleng,lalu menyambar tangan mang Amin. "Dita pamit Mang,maaf kalau selama disini Dita ada buat salah" ujar Andita.lalu meninggalkan Mang Amin yang mematung menatap nya, Andita memasuki Taxi yang sudah dia pesan sebelumnya.


Setelah memasukkan koper Andita, si Sopir segera melajukan mobilnya.


"Non Dita ?" Panggil Bi Ima.


Andita yang melihat Bi Ima dan Yoga mengejarnya,meminta sopir menambah kecepatan laju kendaraan tersebut.


"Selamat tinggal mas" lirihnya sambil menangis.


Andita memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya,hatinya sakit kala di bentak dengan tanpa alasan begitu.


"Apa yang ada di kamar itu ? Apa yang mas Yoga tutupi dariku ? Kenapa dia terlihat begitu marah saat aku mendekati kamar itu?" Pertanyaan demi pertanyaan bercokol di kepala Andita.


Sedangkan Yoga langsung mengambil kunci mobilnya dari Mang Amin,ia mengejar Taxi yang di tumpangi Andita.


"Bandara tuan!" Seru Mang Amin memberitahu tujuan Andita,karena Yoga tak bertanya padanya.


Mang Amin dan Bi Ima mengikuti


Tuannya dari belakang.


...----------------...


"To Be Continued"


dukung terus karya Mentari Impian


dengan vote dan like sebanyak-banyak nya.


salam hangat dari Mentari Impian 😘 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2