Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~89


__ADS_3

(Author POV)


Terlihat baik belum tentu itu tulus,terlihat bijak belum tentu sosok yang mampu bijak dalam arti yang sebenarnya. Tutur sapa yang lemah lembut bukan berarti seseorang itu tidak menyimpan keburukan dalam dirinya.


Dalam kehidupan tidak kita pungkiri banyak sekali di antara kita tertipu akan sosok yang terlihat baik,bijak,penyayang,penuh cinta,dan hal-hal yang membuat duniamu seakan yang paling bahagia, seiring waktu berjalan sangat banyak sekali kaum hawa yang terluka karena tertipu keindahan yang semu,kebahagiaan yang semu, dan cinta yang semu.


Terkadang lelaki akan melakukan segala hal untuk menjerat wanita incarannya,termasuk melakukan hal di atas. Kita semua tahu bukan, mengenai pepatah SERIGALA BERBULU DOMBA . Author rasa dari pepatah tersebut kita harusnya banyak belajar kehidupan kita sehari-hari, baik sahabat,teman, bahkan saudara. Tidak menutup kemungkinan saudara terkadang justru menusuk kita dari belakang, sedangkan kita terlena akan sikap baiknya yang mampu menutupi semua kebusukan nya.


Novel yang Author tulis ini memang sedikit membingungkan bagi yang tak memahami dan memetik makna yang tersembunyi.


Dendam bukanlah hal yang baik untuk kita tanam dalam diri kita, suatu saat dendam itu akan merugikan dirimu sendiri bahkan orang-orang yang kita sayangi.


Jangan mudah terpengaruh akan kebaikan seseorang yang terlihat tulus, karena hati seseorang tidak bisa kita jangkau. Dalam artian bahwa kita tidak bisa menyelami hati seseorang, apakah dia seseorang yang benar tulus atau justru hanya modus.(point of view# of.kita lanjut ke ceritanya).


..............................................................................


...----------------...


“Assalamualaikum”salam Brata dan Ayuningtyas saat melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya yang saat ini pintunya terbuka lebar.


“Walaikumsalam” sahut kedua lelaki yang sedang duduk di ruang tamu yang tak lain adalah Bagas dan Robert.


Ayu seketika membeku di tempatnya berdiri, saat tatapannya bertemu dengan mata Bagas. Bagas bangkit dari duduknya ketika melihat mama sambungnya bertingkah aneh,dan langsung menyapa guna mencairkan kebekuan yang di alami Ayu,dan kini Bagas sudah berdiri di samping Ayuningtyas.


“Ma,maaf soal kejadian di rumah sakit tadi. Tolong jangan Mama pikirkan lagi dan juga jangan berpikiran yang aneh-aneh soal tadi.kedatangan Bagas di sana tadi sama sekali tidak bermaksud mengacaukan keadaan.” Jelas Bagas merasa bersalah, tanpa mengindahkan kesalahan ibu sambungnya itu yang sudah membohongi Andita soal kebenaran hubungan darah di antara mereka.


Ayuningtyas menatap tak percaya pada anak tirinya itu,semula Ayu mengira Bagas akan marah besar terhadapnya tapi ternyata si anak justru meminta maaf duluan. Ayu semakin merasa bersalah terhadap Bagas.

__ADS_1


“Nak...maafkan mama. Mama tidak berma...” Sudah mama mandi dulu,setelah itu kita makan bersama.nanti kita ngobrol lagi ya,mama dan papa pasti belum makan malam.dan Bagas sudah minta bibi masak.”


Sela Bagas memotong ucapan Ayuningtyas.


Ayuningtyas mengangguk “Baiklah kalau begitu,mama naik dulu” pamit Ayu dan segera berlalu dari sana.


Matanya terasa memanas,menahan gejolak rasa bersalahnya yang memenuhi rongga dadanya saat ini.


Bagas menatap kepergian Ayu,jika di tanya marahkah dia sama Ayu ? tentu saja sangat marah. Namun lelaki itu sudah banyak mempelajari arti kehidupan,bahwa kemarahan,emosi, bukanlah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah.terlebih lagi, perempuan itu adalah istri papa nya Sekarang. Dan Bagas tidak ingin menyakiti perasaan lelaki itu, meskipun perempuan yang sangat di cintai Brata itu telah membohongi nya.


Meskipun sifat arogan masih bersarang di dalam dirinya, setahun terakhir ini pria itu belajar banyak bagaimana mengendalikan diri dari hal-hal yang akan menghancurkan hidupnya yang bisa saja berakhir dengan sebuah penyesalan. Adakalanya sikap yang berusaha mengendalikan diri itu sering sekali bertolak belakang dengan keadaan, akan selalu timbul permasalahan yang memicu dan memancing emosi seorang Bagas. Ya, seiring bertambahnya usia, terkadang manusia bisa mengubah pola pikirnya atau justru semakin bobrok.


Bagas mendesah berat...menghalau himpitan berat di dadanya,lalu berjalan dan kembali duduk di hadapan sang sahabat yaitu Robert.


“Bagaimana rencana kamu setelah ini bro ?” tanya Robert setelah Bagas duduk di hadapannya.


“Aku benar-benar gak habis pikir,tentang suami Andita. Setelah aku pikir sejak awal dia membawa Andita pergi aja udah membuatku berpikir bahwa dia bukan pria yang bisa di anggap baik,satu tahun kita ngubek soal informasi kemana dan di mana Andita,namun secuil pun kita tidak bisa melacaknya. Sementara dia tau bro, Andita pacar lu. Bahkan tante Ayu pun tidak tau keberadaan Andita saat itu. ya, kemungkinan besar hal itu Andita juga ambil peran untuk tidak memberitahukan keberadaannya. Wajar hal itu terjadi, mengingat dia kecewa sama lu. Tapi, bukan berarti suaminya itu ambil kesempatan dan manfaatkan keadaan. Ohya, tadi om Brata bilang dia mau ngobrol sama kita berdua.” Robert berbicara panjang lebar kembali pada kejadian 2 tahun lalu. Sedangkan Bagas terlihat berpikir, mencerna setiap kata-kata Robert barusan.


“Lu juga salah,udah sadar dan tau banget kalo Andita sudah menikah dan suaminya ada di sono,lu malah pegang-pegang tangannya. Tu kan akibatnya,bonyok wajah tampan lu.” Robert menunjuk wajah Bagas yang lebam membiru. “ Suami Andita lagi, tau keadaan begitu malah gak bisa nahan diri asal nonjok aja.gak pilih-pilih tempat, sama salah si menurut gue.” Ungkap Robert mengulas masalah Bagas yang terjadi di rumah sakit tadi siang.


Bagas mendelik ke arah Robert. “ Udalah bro, udah kejadian juga. Mulut lu lama-lama kayak emak-emak komplek. Cerewet !!” sungut Bagas.


Robert tertawa menanggapi ucapan Bagas untuknya. “ Iya gue ngaku salah, tapi gimana gue gak bisa nahan perasaan gue liat keadaan dia begitu. Dan hal itu refleks aja terjadi.” Sanggah bagas membela diri.


“ Ohya, Lauren belum turun ya.” Tanya Bagas ,sambil liat kearah tangga.


“Biar gue panggilin, dia belum makan juga sejak insiden tadi. Dia shock banget, semoga aja gak sampe kenapa-napa.” Ujar Robert seraya berdiri, dan mulai menaiki tangga menuju kamar tempat Lauren dan anaknya.

__ADS_1


Bagas terdiam otaknya kembali berpikir keras, siapa yang di hindari Lauren di rumah sakit tadi. Bagas mengubah ekspresi kalutnya kala melihat Brata dan Ayu sudah menghampirinya.


“Hi son, ayo kita makan.” Ajak Brata “ Mana Robert dan adiknya kok gak ada.” Sambung Ayu.


“Masih di panggil sama Robert, nanti dia nyusul”. Sahut Bagas sambil mengikuti langkah kedua orang tuanya ke ruang makan.


Tak lama kemudian Robert dan Alen ikut bergabung di meja makan. Ayu menatap Lauren, ia terlihat sangat cantik dari sebelumnya yang dia lihat dirumah sakit.


Lauren terlihat menunduk malu di tatap intens oleh Ayu dan yang lainnya, terutama Bagas. Ia tak menyangkah aja, sosok cantik bak putri di hadapannya ini sempat mengalami gangguan mental akibat ulah seorang lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya, hingga memiliki anak tanpa seorang suami.


Ayu menyadari keadaan tersebut, seketika menyapa Lauren. “Alen bagaimana keadaan mu nak ? makan yang banyak ya,gak usah malu-malu anggap aja rumah sendiri. Dan kalau kamu mau boleh panggil tante dengan sebutan mama.” Lauren menatap Ayu yang sudah mengisi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk pauk, entah sejak kapan Ayu sudah berada di sampingnya.


“Tante...apa boleh Alen anggap tante sebagai mama bagi Alen.?” Tanyanya lirih


Seketika hati Ayu terenyuh, dan menatap iba wanita di sampingnya saat ini.


“Tentu saja boleh sayang”. Ayu mengelus surai Alen lembut


“Apa Alen boleh peluk ma...mama?” suara alen tercekat kaku serak menahan tangis. Wajah keibuan Ayu, membuat Alen merindukan belaian seorang ibu.


Ayu merentangkan tangannya,mendekap dan memeluk hangat wanita cantik di hadapannya itu.


“Ehemm... kapan mulai makannya kalau dramanya belum berakhir.perut aku udah keroncongan dari tadi.” Tukas Robert menyadarkan semuanya akan drama di hadapan mereka saat ini, dan Robert sangat sadar hal itu akan mengundang kesedihan mendalam dalam diri sang adik yang sangat merindukan sosok ibu mereka.


Hahaha... ucapan Robert barusan mengundang gelak tawa penghuni meja makan saat ini. Dan mereka melanjutkan aktivitas makan malam yang sempat tertunda karena ada sedikit drama yang mengharu.


...----------------...

__ADS_1


TBC


__ADS_2