Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB 26


__ADS_3

Wajah Yoga memancarkan kebahagiaan yang tiada tara, dengan langkah tegap dan pasti ia keluar dari pintu kedatangan airport Hang Nadim Batam.


Sebuah Taxi menyambut kedatangan nya dan membawanya meninggalkan Area Bandara menuju Istana hatinya.


Yoga melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya,pukul 6 sore waktu setempat.


"Pak mampir ke toko bunga sebentar" perintah Yoga pada sang Sopir.


"Baik Pak" Jawab si Sopir.


Saat Taxi berhenti di depan toko bunga Yoga segera turun dengan terburu-buru,karena toko tersebut sudah hampir tutup.


"Permisi mbak,apa saya masih bisa membeli bunganya ?" Tanya Yoga karena pemiliknya sudah berkemas.


"Masih tuan" jawab pemilik toko dengan ramah.


"Tuan mau bunga apa saja ?" Tanya si pemilik toko bunga.


"Satu tangkai bunga matahari,anggrek putih,lily putih dan mawar putih" jawab Yoga menyebutkan beberapa bunga yang akan ia beli.


"Tuan sepertinya sangat mengagumi sosok yang akan di beri bunga" ucap pemilik toko sambil mengambil kan beberapa pesanan Yoga.


"Lebih dari sekedar mengangumi mbak" jawab Yoga ramah.


"Ini tuan" mbak itu menyerahkan bunga yang sudah dirangkai dalam bentuk buket yang cantik.


Yoga tersenyum lembut menatap bunga dalam genggaman nya, "Berapa mbak ?" Tanya Yoga


"Satu juta tuan,semoga cinta kalian abadi seperti makna dari bunga yang tuan pilih" ujar mbak penjual bunga memberikan doa untuk hubungan Yoga.


"Amiin" sahut Yoga sembari membayar Buket bunga yang telah dibelinya.


Tentu saja ada berbagai makna yang terkandung dari bunga yang Yoga beli, beberapa bunga yang dibelinya mempunyai lambang yang menyiratkan tentang perasaannya terhadap seseorang.


...***********...


Taxi Yang membawa Yoga, sudah meninggalkan toko bunga tersebut. sepanjang jalan yang dilalui Dokter tampan itu, terus mengukir senyum dari bibirnya.rasa tak sabar untuk bertemu gadis yang di rindunya, semakin bergejolak di dadanya berdebar dan meronta.


Hingga Taxi memasuki Area rumahnya, senyum Yoga tak pernah pupus.


"Tuan Kenapa gak Telpon saya ?" Tanya si sopirnya saat melihat Tuannya turun dari Taxi.


"Tak apa,saya pulang mendadak" jawab Yoga


"Saya masuk dulu" pamit Yoga sopan pada Sopir pribadinya itu.


"Baik tuan" jawab sopirnya menunduk sopan.


Yoga segera naik menuju lantai tiga, ruangan khusus untuk Andita. ya, area lantai tiga adalah ruang pribadi bagi gadis itu.pembantu pun tidak boleh sembarang masuk ke sana, terkecuali yang sudah di tentukan oleh Dokter tampan itu sendiri.


Andita di perlakukan bak ratu dirumah itu, bagaimana tidak pembantu yang melayani saja di tentukan secara khusus.


Yoga mengetuk kamar pribadi sang gadis,hatinya kian berdebar menanti seraut wajah menyambut kedatangan nya.

__ADS_1


Namun,hingga ketukan ketiga sedikit pun tak ada tanda-tanda Andita akan membuka pintu dan menyambut kedatangannya seperti yang di harapnya.


Yoga mendorong pelan handle pintu hingga pintu itu terbuka lebar dan,betapa terkejutnya ia ketika tak mendapati sosok Andita disana.


Yoga melangkah masuk menuju ke kamar mandi tapi, juga tak bertemu gadis yang di carinya.


Dengan langkah lebar Yoga keluar meninggalkan kamar Andita, tersisa satu harapannya yakni Balkon.ketika melihat pintu Balkon terbuka, Yoga segera berlari kesana.


Senyum yang sempat surut debaran kecemasan sempat memenuhi rongga dadanya, kini menguap begitu saja kala melihat gadisnya tertidur pulas di Sofa balkon.


Yoga melangkah pelan lalu berjongkok, tangannya terulur mengelus wajah mulus Andita dengan jari telunjuknya.


"Sayang,mas pulang" bisik Yoga.


Di tatapnya lamat-lamat wajah damai gadis itu, "mas sangat merindukan mu" ujar Yoga.


Ia menggendong tubuh Andita,di bawahnya ke kamar tempat yang seharusnya untuk ia terlelap bersama mimpinya.


lalu Yoga merebahkan tubuh Andita, dan menyelimutinya Ia membungkuk mengecup dahi gadisnya.sebelum meninggalkan kamar Andita, ia meletakkan Buket bunga di samping gadis itu.


"Selamat malam sayang,sampai jumpa besok pagi" lirih Yoga.


Setelah itu iapun berangsur meninggalkan kamar Andita, kembali ke kamarnya untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa gerah.


...**********...


Pukul 8 malam waktu setempat, Andita menggeliat dan perlahan membuka matanya.lalu,ia menatap jam digital di atas nakas nya


"Aku kira sudah pagi ternyata baru jam 8" Lirih nya.


"Bunga !" Matanya terbuka lebar.


"Kok ada bunga ?" Antara takut dan terkejut Andita bangkit seraya membawa bunga itu keluar.


Ia bergegas turun membawa Bunga tersebut, sebagai bukti bahan pertnyaan nya kepada seluruh penghuni rumah.


"Bibik, Bi Ima!" Teriak Andita.


"Mang Amin !" Panggil Andita kepada kedua sosok yang cukup dekat dengan nya dirumah itu.


"Ada apa Non ?" Tanya Bi Ima dari arah dapur.


Bi Ima meneliti wajah pucat gadis itu, "Non Kenapa ?" tanya Bi Ima.


Sedangkan pak Amin sudah Ngos-ngosan datang dari depan sambil berlari guna memenuhi panggilan Nona nya.


"Kenapa Nduk ?" Tanya Mang Amin yang merupakan suami Bi Ima.


Mata Andita berkaca-kaca, dia terlihat ketakutan bahkan sangat takut. "Bi,ada Bunga di kamar Andita" ujarnya dengan suara bergetar, sambil memperlihatkan rangkaian bunga indah dalam bentuk Buket di tangannya.lalu, ia memburu Bi Ima dengan pelukan.


"Andita takut Bi" isak tangisnya di pelukan Bi Ima.


Ketakutan tercetak jelas di wajah Andita, sementara Mang Amin melihat hal itu hanya tersenyum geli.

__ADS_1


"Anu Non di lantai tiga emang ada penghuninya" ucap Mang Amin menjahili Andita.


"bapak! Iki marga bocah wadon wedi yen dheweke luwih wedi !!" Bi Ima memarahi suaminya.


Mang Amin tersenyum penuh arti,karena Mang Amin tau siapa yang membawa bunga tersebut.


Pelukan Andita kian erat di tubuh gemuk Bi Ima, "Andita takut Bi" ujar Andita terisak.


Bi Ima mengelus lembut rambut gadis itu layaknya putrinya sendiri, "gak usah takut ada Bibi disini" sahut Bi Ima lemah lembut.


"Non belum makan sejak pulang kerja tadi siang, sekarang Non makan dulu,ya" bujuk Bi Ima pada Andita, sekaligus mengalihkan ketakutan gadis itu.


Andita menggeleng, "Andita tidur sama Bibi,ya" ucap gadis itu memohon dengan air mata terus mengalir.


"Bi, jelasin Kenapa ada Bunga itu ? Apa benar yang di katakan Mang Amin ?" Tanya Andita bergetar, masih di liputi rasa ketakutan.


Bi Ima hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis yang sedang memeluknya itu, tanpa ada penjelasan apapun.


Otak Andita di penuhi pikiran horor, tentang hal-hal ghaib yang penuh misteri.


Seketika memori otaknya teringat tentang cerita tumbal kekayaan, ia jadi merinding ngeri membayangkan hal itu.


"Jangan-jangan aku akan jadi tumbal" lirih Andita yang masih memeluk Bi Ima.


"Ya,tumbal cintaku!" Sahut Yoga yang sudah berdiri di belakang Andita.


Andita tercekat, kala mendengar suara Dokter tampan yang tak lain merupakan pemilik Rumah megah tersebut.


"Bi" desis Andita.


"Iya, Tuan sudah datang sejak tadi" jawab Bi Ima sambil tersenyum dan mengangguk.


Andita mengurai pelukannya dari tubuh tambun Bi Ima, lalu menoleh ragu-ragu menatap ke belakangnya.


Yoga merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum, Andita berlari mengejar menghempas kan dirinya dalam pelukan seorang Febry Prayoga.


Yoga mendekap erat tubuh Andita, bibirnya berulang kali mengecup puncak kepala gadis cantik yang sedang menangis itu.


Andita semakin terisak, seiring kian mengetatkan pelukannya pada tubuh kokoh dan Atletis milik Prayoga.


Tapi, siapa yang tahu arti isak tangisan Andita.mungkin, memang tangis karena ketakutan, atau justru tangisan bahagia dan tangis kerinduan !!


...**********...


To Be Continued


penasaran ?? ikuti terus ceritanya the next episode.


jangan lupa dukung karya Mentari Impian


dengan like dan komentar sebanyak-banyaknya.


salam hangat dari Mentari Impian

__ADS_1


salam bahagia selalu untuk pembaca 😘


__ADS_2