
Gallery Wedding Organizer
Yoga dan Andita tersenyum bahagia saat memasuki sebuah ruangan luas dengan menyuguhkan berbagai macam jenis model gaun pengantin.
"Selamat pagi... dengan Dokter Yoga dan Andita ?" Tanya seorang ibu-ibu seumuran dengan Ayuningtyas.
"Selamat pagi bu,betul sekali saya Yoga dan ini Andita calon istri saya." Sahut Yoga
Perempuan itu menatap kagum pada pasangan calon pengantin di hadapannya saat ini, ia tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.
"Mari !" Ajak Ibu Rita
"Silakan di lihat-lihat, Ayu sudah memberi tahu saya bahwa kalian akan kemari.saya Rita teman Ayu,diwaktu kita masih sama-sama tinggal di Rumdis TNI AU dahulu." Cerita Ibu yang bernama Rita, sambil berjalan membawa Andita dan Yoga berkeliling melihat beberapa koleksinya.
Andita terpukau menatap jejeran manekin dengan gaun-gaun indah yang terpajang, matanya menatap sebuah gaun berwarna putih salju dan bertahtahkan batu permata Swarovski, dengan model kerah sabrina dan ujung menjuntai panjang bagai ekor burung cendrawasih, sangat indah. Kesan elegan dan Mewah sangat menonjol dari detail gaun tersebut.
"Waw..." Decak kagum Andita,ketika matanya memandang gaun indah bertahtakan Batu permata Swarovski itu.
"Kamu menyukainya ?" Tanya Yoga.
"Hm..." Sahut Andita mengangguk.
Yoga tersenyum dan meminta pada Bu Rita untuk mengambilkan gaun pengantin yang di sukai calon istrinya.
"Bu tolong gaun itu" tunjuk Yoga pada gaun pengantin yang di sukai oleh Andita.
"Baik." Jawab Bu Rita
"Sayang, pergilah ikut dengan ibu Rita." Perintah Yoga pada Andita.
Andita mengangguk dan mengikuti langkah ibu Rita,mereka memasuki sebuah ruangan untuk mencocokkan gaun tersebut dengan tubuh Andita.
Bu Rita menyanggul rambut Andita sejenak lalu membantu gadis cantik itu mencoba gaun pengantinnya, gaun pengantin tersebut merupakan produk terbaru Bu Rita.
Dan...
"Waw ! kau sangat cantik, gaunnya sangat pas dengan ukuran tubuhmu." Ujar Bu Rita
Gaun pengantin itu begitu pas dan indah membalut tubuh ramping Andita, sanggul modern terkesan acak dengan beberapa helai menjuntai di sisi sanggulnya menambah kadar kecantikan gadis itu dua kali lipat.
"Ayo kita keluar" ajak ibu Rita sambil meraih tangan Andita dan membawanya pada Yoga.
__ADS_1
Yoga sedang berbincang-bincang dengan pegawai Ibu Rita seketika menoleh saat pegawai tersebut menginterupsi agar dirinya melihat ke belakang.
"Pak calon pengantin Anda sudah siap." Ujar pegawai itu.
Yoga terpaku dengan sesaat menatap kecantikan Andita, gaun pengantin yang di kenakannya sungguh Indah membalut tubuhnya.
Pria itu berjalan menghampiri Andita,meraih tangannya dan mengecupnya lembut.
"Gaun ini sungguh Indah dan kamu sangat cantik, sepertinya mas tidak rela jika harus berbagi kecantikanmu pada lelaki lain yang akan menatapmu saat resepsi nanti." Bisik Yoga pada Andita
"Baiklah, bagaimana kalau resepsinya kita tiadakan saja." Sahut Andita tersenyum
"Hehehe...kalau kamu setuju tanpa resepsimas tak masalah,selain melelahkan,kita juga akan melakukan aktivitas yang lebih melelahkan setelah menikah nanti." Goda Yoga
Andita tersenyum sambil menunduk, lalu Ibu rita mendekati kedua calon mempelai.
"Ohya, bagaimana dengan pilihan Dokter tadi ? Apa jas dan tuxedonya pas ?" Tanya ibu Rita.
"Iya bu, semuanya pas." Sahut Yoga
"Apa mas sudah mencobanya ?" Tanya Andita dan Yoga mengangguk.
Setelah itu Andita bersama beberapa pegawai masuk untuk mengganti gaunnya dengan bajunya semula, sementara Yoga ngobrol-ngorol singkat bersama ibu Rita mengenai tema yang diangkat dalam resepsi pernikahan mereka.
Yoga mengangguk-angguk tanda mengerti,tak lama kemudian Andita menghampirinya.
"Sudah selesai ?" Tanya Yoga "Hm..." Sahut Andita.
Yoga dan Andita berpamitan pada ibu Rita, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah Mall untuk membeli Cincin pernikahan.
...----------------...
Sementara itu Shinee sejak tadi malam hanya meringkuk di bawah selimut, saat ini gadis itu takut bertemu siapapun karena ada banyak bercak merah di lehernya.
Saat Yoga dan Andita membangunnya pagi tadi, gadis itu hanya mampu berpura-pura belum bangun untuk menghindari pikiran Negatif kakaknya.
"Huft..." Shinee menghebuskan nafasnya kasar
"Semua ini gegara Bagas ! Tapi tunggu ! semalam dia mabuk atau tidak ya ? Kalau tidak mabuk mana mungkin dia mengajakku menikah tanpa saling mengenal satu sama lainnya. Hm...aku yakin dia mabuk." Ujar Shinee bermonolog, sambil menyalakan ponselnya yang di offnya dari tadi malam.
Ting... tiba-tiba ponsel Shinee berdenting, tanda pesan WhatsApp.
__ADS_1
Shinee membuka aplikasi pesan WhatsApp nya, dan membekap mulutnya saat membaca beberapa pesan dari Bagas.
"Selamat pagi Shi." Pesan pertama Bagas
"Shinee...belum bangun ya ?" Tanya Bagas
"Maaf soal kejadian tadi malam, aku mohon maafkan aku Shinee.dan apa yang aku sampaikan pada mu, itu bukanlah sebuah kebohongan atau karena efek dari Alkohol sialan itu.aku Sungguh-sungguh Shinee." WhatsApp Bagas
Mata Shinee membola saat mengetahui kalau semalam apa yang di lakukan dan di katakan Bagas bukan ungkapan alam bawa sadarnya,tapi justru semua itu di lakukan dengan sadar olehnya.
"Astaga Shinee !! Kau menjijikkan sekali ! Bagaimana bisa kamu melakukan semua itu dengannya ! Kau memalukan Shinee." Shinee kembali bermonolog, sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan tangan.
Gadis itu menghapus semua pesan Bagas tanpa membalasnya lalu menonaktifkan ponselnya lagi.
...----------------...
Dahi bagas berkerut menatap beberapa pesannya hanya di baca oleh Shinee dan ketika di hubungi ponsel gadis itu kembali di luar jangkauan.
"Ada apa dengannya ?" Lirih Bagas
"Dia marah denganku ? Tapi kenapa tadi malam gadis itu tak marah ?" Gumam Bagas.
Bagas kembali fokus dengan tumpukan map di atas mejanya, membaca dan mempelajari serta membubuhkan tanda tangan nya. Kesibukannya di kantor membuatnya larut dan melupakan tentang Shinee, meskipun hanya sementara.
Saat jam makan siang Bagas berniat menemui Shinee, ia meluncurkan mobilnya menuju kediaman Andita. tapi ketika setengah perjalanan, Bagas memutar stir mobilnya mengarah kembali ke kantornya.
Bagas menarik nafas dalam-dalam...lalu memukul dadanya.
" Huft...kau bisa tertawa dan tersenyum bahagia di atas kesakitan ku Dokter sialan !" seru Bagas.
"Aku tidak sanggup melihat semua itu." lirihnya
Bagas telah berdiri di depan pintu kantornya lagi, dan ia meminta Andre membuat kopi untuknya. Pria itu kembali melarikan semua masalah hatinya pada pekerjaan, bekerja dan bekerja hingga larut malam.
Andre menghampiri meja kerja Bagas dan menatap nya heran, selama ini Bos-nya itu jarang menghabiskan bercangkir-cangkir kopi dan lembur hingga larut malam.
"Eheem...mau lembur sampai jam berapa Bos ?" tanya Andre tiba-tiba.
...----------------...
TBC
__ADS_1
segitu dulu ya, Author masih capek banget. maaf telat update krn Thor ada acara kemarin di luar kota,nyampe rumah belum istirihat langsung ketik-ketik buat bahan Up.🙏😁