Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~92


__ADS_3

3 minggu pasca operasi Andita meminta di rawat dirumah saja, kondisinya sudah cukup stabil meskipun masih sering mengeluh pusing di kepalanya. Demi kebaikan menantunya Chang Lie dan Indira menyetujui permintaannya , dengan satu syarat dokter dan perawat serta alat-alat medis ikut bersamanya pulang untuk jaga-jaga terjadi hal yang tidak di inginkan.walaupun saat ini peralatan yang lainnya sudah di lepas dan hanya Infus yang masih melekat pada pergelangan tangannya, sebenarnya Dokter tidak harus ikut serta tapi keputusan Chang Lie dan Indira tak terbantahkan. Okelah tiada pilihan lain bagi Andita selain mengikuti maunya orang tua itu ketimbang tetap di rumah sakit sampai betul-betul pulih.


Dan permintaan Andita pun cukup membuat sang suami ingin berteriak marah, ketika istrinya itu meminta di rawat di rumah kedua orang tuanya yakni Brata dan Ayuningtyas. Bayangan sosok Bagas yang bebas kapan pun datang membuat lelaki itu geram sendiri, di hadapannya aja Bagas berani pegang tangan Andita apalagi kalau di rumah orang tuanya, bisa-bisa lebih daripada itu. Yoga mengepalkan tangannya dan menatap tajam Istrinya, tentunya tatapan itu tanpa sepengetahuan Andita.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Brata dan Ayu juga kedua orang tuanya Yoga datang demi menjemput anak dan menantu mereka. "Apa sudah siap ?" Tanya Brata.


Andita mengangguk pelan "Hm " sambungnya.


"Kalau begitu, ayo kita pulang." Ajak Brata


"Ya pa." Yoga menjawab singkat. Yoga menggendong tubuh Andita dan membawanya duduk di kursi roda yang sudah di siapkan sebelumnya.


Andita belum banyak bicara selain yang penting-penting saja, mendengar suara pintu di buka aja Andita terganggu apalagi banyak bicara. Brata berjalan di samping Andita dan di kanannya ada Ayu yang menggenggam tangan putrinya itu, sedangkan Chang lie dan Indira memilih melangkah di depan mereka.


Sesekali terlihat Yoga melirik tajam Brata. " Semangat sekali lelaki tua ini membawa istriku pulang kerumahnya.jangan-jangan dia ada maksud dan tujuan terselubung." Batin Yoga, ia mengeratkan genggaman tangannya pada gagang kursi roda, yang membuat langkahnya terhenti.


"Ada apa Nak ?" Tanya Ayu saat menyadari Yoga berhenti. "A..itu ma, maksud Yoga serasa ada yang tertinggal di ruangan Andita tadi. Ah ya ponsel." Ucapnya gelagapan.


Ayuningtias menatap wajah Yoga meneliti nya, sembari menautkan kedua alisnya.


"Kok bisa, cek dulu deh." Ujar Ayu


Yoga pura-pura bingung dan meraba-raba saku celana jeans nya, dan terakhir saku bagian belakang. " Ternyata hanya perasaan Yoga aja ma, ni ada ponselnya." Yoga tersenyum manis.


"Siapa yang di operasi kepala siapa yang linglung." Brata menimpali dengan acuh.


"Hehehe maaf pa." Sahut Yoga terkekeh kecil. Yoga menyambar kursi Andita dan kembali mendorong nya hingga parkiran dan mendudukkan Andita ke dalam mobil yang sudah terbuka dan akan segera membawa mereka meninggalkan bangunan yang dominan berwarna putih itu.


...----------------...

__ADS_1


Setibanya di rumah Andita bengong melihat kediaman mamanya, wajar saja selama satu tahun ini Andita belum pernah menyambangi orang tuanya karena berbagai alasan yang di ciptakan Yoga agar mereka tidak menginjak Jakarta. Andita tersenyum tipis, melihat kemegahan istana Ayuningtyas tak jauh berbeda dengan tempat tinggalnya di Batam.


"Setidaknya Mama hidup berkecukupan dan hidup nyaman di dalam rumah ini, meskipun tanpa ada aku selama satu tahun ini." Bisik hati Andita.


Ayu membuka kamar di lantai dasar, kalau di ke atas terlalu riskan mungkin dengan kondisinya seperti saat ini sepertinya begitu tujuan mereka.


Ayu menyusun beberapa bantal guna putrinya itu untuk bersandar sejenak sebelum istirahat, Dokter dan perawat segera melakukan pengecekan terhadap Andita, setelah di rasa aman terkendali Andita di minta untuk istirahat.


Ayu duduk di tepi ranjangnya Andita,sambil mengelus lembut tangan putrinya itu.


"Ma, buka kerudungnya. Sakit." Lirih Andita. Ia merasa tidak nyaman, padahal bukan jenis kerudung yang secara langsung mengikat di kepalanya, hanya pasmina tapi tetap saja Andita belum nyaman dengan benda itu, bila harus menutup kepalanya sekarang ini.


"Sakit di mana Nak." Khawatir Ayu, seraya melepas pelan kerudung Andita.


Indira ikut bergabung disana, tersenyum menatap seluruh kulit Andita yang sudah merah normal tidak seperti kemarin-kemarin bagaikan mayat hidup.


"Sudah nyaman sayang ?" Tanya Indira "Hm" sahut Andita.


" Kok gak menyinggung soal Bagas, apa mas Bagas tidak mau menjengukku lagi. Dasar kakak lupa daratan, masa iya melupakan adiknya." Batin Andita.


"Apa mas sudah melupakan Dita ? Atau mas Bagas sudah ada pengganti Dita ?atau mas benci Dita ? Aghhh..." Dita mengerang menahan sakit di kepalanya.


Dita melirik kehadiran perawatnya, lalu ia memejamkan matanya agar tidak ketahuan ekspresi dirinya yang sedang menahan sakit.


Wanita itu sepertinya sama sekali tidak menyadari insiden di rumah sakit waktu itu atau mungkin semua itu refleks sebagai gerakan dari ikatan batin antara dirinya dan Bagas.


Andita belum terlelap sepenuhnya saat Yoga memasuki kamarnya dan bertanya pada sang perawat.


"Apa dia sudah tidur ? Ohya catatan yang terkait apa saja kondisi yang di alami istriku selama di rawat di rumah sakit tolong berikan padaku." Ucap Yoga pada perawat yang menjaga istrinya itu.

__ADS_1


"Baik Pak, saya siapkan terlebih dulu." Sahut sang perawat dan beranjak menemui sang Dokter.


Yoga duduk di sisi Andita, menatap sejenak dan mencium kilas tangan istrinya. " Istirahatlah." Bisiknya mengecup lembut dahi Andita, lalu keluar dan menutup pintu kamar pelan nyaris tanpa suara.


Dirasa tidak ada orang lain lagi di sekitarnya Andita membuka matanya, ada rasa penasaran berkumpul di benaknya setelah mendengar catatan kondisi yang di alaminya selain terbentur di bagian kepala.


" Apa ada yang terjadi lainnya... Selain mengalami pendarahan di kepalaku." Desis Andita bertanya-tanya. "Aku harus mengetahui nya." Cicit Andita penasaran.


...----------------...


Di kota K Bagas tengah tersenyum saat mendengar kabar Andita sudah pulang kerumah, setidaknya rasa khawatir nya sudah lenyap.


Bagas menatap wajah Andita yang terbingkai cantik di atas meja kerjanya, ibu jarinya mengelus lembut wajah itu.


"Mas bersyukur sekali mendapat kabar kamu sudah pulang kerumah, maafin mas ya. Maafin mas tidak bisa selalu menjenguk mu, tidak bisa dekat-dekat dengan mu lagi. tapi yakinlah hati ini masih terisi penuh dengan cinta untukmu.jangan larang mas untuk selalu mencintaimu, meskipun dalam diam dan hanya dari kejauhan." Bisiknya Lirih, tiba-tiba muncul perasaan nyeri di hatinya.


Robert menatap geli bercampur iba pada Bagas. sahabatnya itu tengah berbicara sama benda yang selalu tak tersingkir dari mejanya. saking fokusnya sama foto Andita, Bagas tidak menyadari kedatangan nya.


"Ehem...ngobrol sama siapa lu ? Lama-lama sahabat gue kayak orang gila ya, ngomong sendiri, senyum sendiri. mata berkaca-kaca pula." suara bariton Robert menggema membuyarkan fokus Bagas,yang tidak sengaja mendengar omongan Bagas barusan.


"Lu yang gila ! Masuk tanpa permisi main nyelonong begitu tanpa ketuk pintu. Emang tangan lu udah gak fungsi lagi untuk sekedar ketuk pintu !" Sengit Bagas menutupi rasanya malunya, karena ketahuan aksi konyolnya di dengar dan lihat Sahabat nya.


"Yaelah bro...segitu doang marah. Ganggu ni gue ? Balik ni gue, dan lu gak akan pernah mendapatkan informasi mengenai Yoga suami adik palsu lu itu." Sungut Robert pura-pura tersinggung dan marah.


Bagas melayangkan tatapan tajamnya bak anak panah yang siap menghunus jantung Robert, matanya melirik map dan amplop besar berwarna coklat yang ada di tangan Robert.


"Duduk !" Perintahnya sambil mengulurkan tangan kehadapan Robert, ia tidak sabar ingin mengetahui lebih lanjut tentang siapa Yoga di balik topengnya yang sangat manis dan lemah lembut itu.


...----------------...

__ADS_1


TBC


vote dan like jangan di lupakan ya 🙂😁


__ADS_2