Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~105


__ADS_3

Awan membentang luas, bagai bentangan perjalanan hidup yang telah di lalui nya.selama raganya masih bernafas selama itu pula hamparan perjalanan hidup akan di lalui nya, begitupun dengan bentangan angkasa selama bumi masih berputar selama itu pula setiap raga yang bernyawa akan menyaksikan dan melintasi nya.


Yoga, seorang Dokter tampan yang terlihat jauh lebih berisi dari sebelumnya. mata elang nan gelap itu nyaris tak berkedip menyaksikan gumpalan awan putih bak kapas, burung besi itu membawanya menembus awan menerbangkan tubuhnya di angkasa.


Bibirnya terkatup rapat, kedua jemarinya saling bertautan hampa. Jika dulu selalu ada jemari seorang wanita tertaut erat disana, jika dulu ada sebuah tangan Andita yang selalu ia genggam, tapi sekarang semuanya tiada. Hanya menyisakan genggaman hampa, tautan yang terputus hilang dan hanya menyisakan penyesalan dan ratap kesedihan.


Cintanya nyata meskipun berdasarkan Obsesi, kasih sayang nya hebat meskipun berakhir dengan pengkhianatan.nafsu yang tak terkendali, menghancurkan segala-gala nya. Menghancurkan cintanya, menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan hati wanita yang di cintainya.


Bulir bening mengalir dan tertumpah dari mata gelap itu "Andita...maafin mas yang brengsek ini. mas sudah mengkhianati mu, tapi tolong jangan benci mas. Semoga kamu bahagia dengan keputusan mu, dan mas doakan kamu menemukan pria yang lebih pantas untuk bersanding dengan mu suatu hari nanti. Semoga suatu hari kita bisa bertemu walau dalam keadaan yang sudah berbeda." Lirihnya dalam hati.


Yoga tak menghiraukan lelehan air matanya,sebuah keberuntungan kembali berpihak padanya. Ia bebas menangisi takdir yang telah di buatnya sendiri tanpa harus malu di lihat orang lain, karena Yoga berada di kursi penumpang first class. Ruangan yang menyajikan kenyamanan bak berada di kamar sendiri, semua fasilitas lengkap. Bahkan penumpang first class di layani bagai raja oleh pramugari mengingat berapa banyak mereka mengeruk biaya untuk dapat merasakan kenyaman layaknya rumah sendiri saat dalam penerbangan dengan jarak tempuh yang sangat jauh.


Senja telah hadir mewarnai angkasa, pesawat masih membutuhkan waktu belasan jam untuk tiba ke negara tujuannya. Jakarta - Jerman. Chang Lie dan Indira memutuskan untuk melanjutkan pengobatan kaki Yoga ke sebuah rumah sakit terbaik di negara industri otomotif terbesar dunia itu. Sejauh itu terbang hanya untuk melihat Yoga kembali seperti sedia kala, tapi harapan terbesar dalam hati kedua orang tua itu adalah melihat Febry Lie Prayoga hidup bahagia bersama pasangannya kelak.


Yoga merebahkan tubuhnya secara perlahan,ia memandang miris pada kakinya yang mati rasa itu.setengah Kakinya patah bahkan nyaris tak berbentuk layaknya kaki manusia pada umumnya.


Ketangguhan seorang Yoga sirna dalam sekejap, kebahagiaan yang sempat ia reguk pun kandas tak bersisa.


Dalam hidup kebahagiaan selalu bersisian dengan kesedihan,ada tawa ada pula tangis. Ada keberuntungan ada pula penyesalan.ada miskin ada kaya, ada hidup dan ada mati. Pergunakanlah waktu sehat sebaik mungkin, manfaat kanlah gagahmu saat masih mampu berdiri tegap. Tiada guna penyesalan saat semuanya sudah terjadi, selain meminta pengampunan pada sang kuasa atas dosa-dosa yang telah di perbuat.


Setelah lelah menangis meratapi nasib yang menimpanya, akhirnya Yoga terlelap bersama buaian sesal.


Indira menangis dalam diam saat menatap Yoga yang sudah tertidur pulas, wajahnya menyiratkan kepedihan yang begitu dalam. Indira menyentu jejak tangis sang putra, tangisnya kian menyayat dan pilu. kelakuan Yoga tak lepas dari karma yang telah mereka lakukan selama ini, mereka hanya sibuk mencari pencitraan di hadapan publik. Mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui bisnis gelapnya. Bahkan mereka membawa Yoga turut serta dalam membangun jaringan bisnis elegal tersebut, mereka melupakan bagaimana cara mendidik anak agar menjadi manusia yang bisa memanusiakan sesama, obsesi mereka akhirnya menghantarkan Yoga pada langkah yang salah pula.


"Maafkan kami nak, seandainya kami tidak menyeret mu ikut masuk dalam genangan dosa yang kami lakukan, mungkin kamu bebas dari jeratan hukuman ini." Isak Indira tersedu-sedan, sang suami yang menyadari istrinya tak berada di tempatnya menyusul dan membawa Indira meninggalkan Yoga yang sudah tertidur.


Chang Lie memeluk Istrinya, menghapus air mata penyesalan yang mengalir tiada henti di wajah Indira.


"Sudahlah. Semuanya sudah terjadi, itu artinya mulai saat ini kita harus memperbaiki diri. Membimbing anak-anak kita ke arah tujuan yang lebih baik, memberikan contoh dan perilaku yang baik pula pada mereka."bisik Chang Lie menenangkan Indira.


"Istirahatlah." Indira mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya, begitupun dengan Chang lie


...----------------...


Pagi hari yang cerah, sang surya hadir menerobos dengan gagah dan menantang Pria tampan yang masih bergelung di bawah selimut bersama mimpi dan harapan nya. Pelan-pelan pria itu mengerjap kan matanya saat merasakan cahaya mentari menyentuh hangat wajah nya melalui celah-celah gorden kamarnya.kedua tangannya terangkat mengusap-usap wajah tampan nya itu, sambil menguap ia berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Kedua mata tajamnya melirik nakas di sisi ranjang, tangannya terulur membuka laci dan mengeluarkan ponselnya lalu menyambung kan pada daya listrik. Setelah tiga minggu membebaskan diri dari ponsel, Bagas sepertinya akan kembali menggunakan benda itu.


Dengan wajah khas bangun tidur Bagas melangkah masuk ke kamar mandi, tujuannya hari ini yang paling utama rumah orang tuanya Brata dan Ayuningtyas. Eit...kalian tau kan di dalam hatinya tentu saja Andita yang paling utama. Bukan Brata atau ibu sambungnya dan bukan juga kantor yang sudah membesarkan namanya. Andita ! Tepat sekali, hanya Andita.


Bagas baru menyalahkan ponselnya setelah ia selesai mandi dan berpakaian rapi, tubuh proporsional nya sungguh gagah dalam balutan busana Casual. Ia memasukkan ponselnya ke saku celana sambil menuruni tiat demi tiat anak tangga, getaran beruntun mengusik dirinya untuk melihat beberapa notifikasi yang masuk. Bagas duduk di Sofa ruang televisinya sembari menyilangkan kaki dan mulai membuka ponselnya.


Beberapa notifikasi dari Andre sang asisten pribadinya dan orang-orang kantor bahkan relasi kerjanya ia lewati begitu saja, ia lebih tertarik untuk membaca pesan dari seseorang yang sangat ia harapkan, Andita.


Dahi Bagas mengernyit saat mulai membaca pesan tersebut, Bagas mengigit kuku jarinya yang sedang bersentuhan dengan mulutnya.


"Assalamualaikum mas, semoga mas selalu dalam keadaan baik-baik aja. Terlepas dari kesedihan mas karena kepergian ibu Anjani, Dita turut berdukacita yang sedalam-dalamnya (emoticon sedih).


Andai Dita di beri kesempatan untuk mendampingi mas di saat badai duka tengah menerpa, akan dengan senang hati aku melakukan nya untuk mu mas. Tapi sayangnya, mas menutup diri dariku, papa dan mama. Bahkan untuk melangkahi gerbang rumah mas saja aku tidak bisa, maafkan Dita mas, bukan Dita tidak perduli dengan kesedihan yang sedang mas alami.


maafkan Dita mas, tidak sempat berpamitan secara langsung. Dita harus pergi dalam jangka waktu yang tidak bisa Dita tentukan.


Saat ini Dita ingin melakukan tugas Dita sebagai seorang yang mempunyai ahli dalam dunia medis, yang bahkan belum sempat memberikan pelayanan terbaik kepada mereka dan siapapun yang membutuhkan jasa Dita.


Dan sekali lagi maaf, untuk kembali merajut kisah kita yang sudah terlepas... jawabannya, Dita belum siap mas.Jika suatu hari mas menemukan seseorang yang mas cintai, Dita akan turut bahagia karena itu. Dengan atau tanpa Dita, semoga mas selalu bahagia. Dita senang melihat mas yang sekarang, jauh dari Bagas yang Dita kenal dulu (emoticon tersenyum).


Tetaplah menjadi Bagas seperti sekarang, tetap semangat apapun keadaannya.


Sampai ketemu lagi di suatu hari nanti."


"Andita Rosmanilla."


Bagas menggenggam erat ponselnya. Ia menyesal telah mengurung diri terlalu lama, hingga wanita yang selalu ia impikan kini kembali pergi jauh darinya. Bagas termangu menatap tembok yang seakan sedang menertawakan dirinya, Bagas merasa Bodoh akan sikapnya itu,membangun benteng pertahanan terlalui tinggi selama beberapa Minggu ini hingga tak terjamah oleh siapapun termasuk Andita juga orang tuanya. Bagas menghembuskan nafas berat yang tiba-tiba terasa menyesakkan dadanya.


"Dalam waktu yang tidak bisa di tentukan? itu artinya tidak tau sampai kapan. Baiklah sayang, kalau begitu mas yang akan menentukan waktu kepergian mu." Desis Bagas sambil tersenyum kecewa dan penuh sesal.


"Andita... Apapun alasannya, kamu harus tetap di sini. Di sini bersamaku, cukup sekali kamu meninggalkan ku ! tidak untuk kedua kalinya. Aku akan menjemputmu dimana pun kamu berada sayang, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Dan aku akan kembali merebut hatimu untukku, hanya untukku." Bagas bangkit dari duduknya melangkah lebar menuju mobilnya.


Mobilnya melaju perlahan dan mulai membelah jalanan kota K, jari telunjuk mengelus-elus lembut alisnya. Sebelah tangannya ia tumpukan di sisi jendela kanannya. Tangan kirinya tetap standby pada stir, sedangkan bibirnya mencetak senyum khas orang tengah kehilangan separuh hatinya.


"Tidak sedikitpun harapan ku sirna, tidak sedikitpun rasaku berkurang meskipun keadaan dan jarak pernah membentang di antara kita. Selama ini aku selalu menunggu. Menunggu keajaiban, mengharap kau kembali untukku. Setelah apa yang ku harap sudah berada di ambang genggaman, Bagaimana bisa aku membiarkan mu kembali pergi Andita. Itu tidak akan terjadi sayang." Bagas tersenyum miring dan menatap fokus jalanan yang berdebu.

__ADS_1


"Nikmati hari-hari mu sayang di mana pun kau berada saat ini, mas akan datang menjemput mu." Bagas menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi, membuat mobil sports miliknya meraung keras dan menerbangkan debu-debu jalanan. Seakan menerbangkan kekalutan hatinya saat ini, sejujurnya Bagas takut kejadian yang sama akan terulang kembali. Pertama adalah pengalaman, kalo kejadian lagi artinya Bagas kelalaian. Ya gak, ya gak, ya iya dong.


...----------------...


Di sebuah perkampungan terpencil jauh dari kota, jauh dari sentuhan dan perhatian pihak yang terkait. Andita tengah sibuk di posko kesehatan yang ia dirikan, program yang di jalaninya saat ini sangat berdampak positif bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan seorang dermawan. Andita menimbang bayi dan balita, memberikan vitamin dan juga memberikan beberapa bingkisan buat anak-anak disana.


Andita mematung menatap bayi merah yang mungkin baru berumur satu minggu dalam gendongan seorang ibu muda yang berdiri di depan nya, spontan tangannya meraba perutnya yang datar. Air mukanya berubah menjadi kesedihan, semula keceriaan yang ia pancar kan tapi kini berganti mendung kelabu. Mata Andita berkaca-kaca.


"Kalau saja kamu masih di sini Nak, maka sebentar lagi kamu akan berada dalam gendongan mama seperti bayi beruntung itu.maafin mama nak, meskipun kita belum sempat bertemu mama sangat menyayangi mu." Batin Andita yang tidak menyadari orang-orang menatap nya heran.


"Permisi bu. Ibu terlihat menangis, maaf kalau saya salah ." ucap perempuan itu sambil menatap tangan Andita yang masih meraba perutnya. Tatapan perempuan itu menyiratkan sebuah tebakan, bahwa Bidan cantik itu pasti sudah kehilangan bayinya.


"Oh maaf. Saya hanya mengingat bayi yang sempat bersemayam di rahim ini, tapi sayang takdir tidak mempertemukan kami." Jujur Andita sambil mengerjap-ngerjap kan matanya.


"Saya turut berduka atas meninggalnya bayi Ibu." Sahut ibu muda itu


"Mari bu, sini saya bantu timbang bayinya." Sambut Andita ramah dan lemah lembut, mengalihkan topik pembicaraan.


Perempuan itu menyerahkan bayi nya sama Andita, dengan sigap Andita mendekap si bayi mungil itu.


Jika Andita sedang menikmati kegiatannya saat ini, lain halnya dengan Bagas. Lelaki itu sedang khawatir dan kesal setengah mampus karena ponsel Andita tidak dapat ia hubungi, sejak kemarin ponselnya tidak aktif sama sekali.


Bagas menatap tumpukan berkas di atas mejanya, setelah 3 minggu berlalu dokumen-dokumen itu menggunung menanti goresan tanda tangannya.


Bagas mulai membuka dan membaca satu persatu tumpukan map di hadapannya, ia berusaha fokus menyelesaikan pekerjaannya. Jika perlu ia harus lembur, karena menyusul Andita adalah keinginan terkuatnya saat ini.


Sejenak Bagas berhenti membaca dokumen di tangannya, ia menimbang apa yang di katakan Brata kemarin.


Flashback on


"Assalamualaikum, pa, ma." Panggil Bagas setengah berteriak di ruang tamu rumah Brata.


Brata dan Ayuningtyas menghambur berlarian menyusul arah suara yang memanggil mereka.


"Kenapa son ?." Tanya Brata cemas


"Kenapa kalian membiarkan Andita pergi ? Gimana kalau terjadi apa-apa sama Andita, kondisi batin Andita belum stabil pa,ma.!" Marah Bagas


"Sarapan dulu, setelah itu kita bicara baik-baik nak. Sepagi ini datang, mama yakin kamu belum sarapan." Ujar Ayu menarik kursi dan mendudukkan Bagas, lalu memberikan piring berisikan nasi dan lauk Pauk.


"Bagas gak mau makan, jawab dulu alasan kalian membiarkan Andita pergi." Tukas Bagas


Brata tersenyum memandang putranya itu, sudah dewasa bahkan sebentar lagi kepala tiga masih aja ngambek layaknya anak kecil.


"Kalau kamu gak mau makan, maka kamu tidak akan mendapatkan jawaban apapun." Sahut Brata santai sambil menyuap makanan nya.


Bagas mendengus kesal, mau tak mau Bagas mulai menyendok makanan yang di berikan Ayuningtyas untuk nya. Dengan gerakan terkesan buru-buru Bagas mulai mengunyah makanan dalam mulutnya, Brata sesekali melirik kelakuan putra kesayangannya itu.


"Makan yang pelan, dinikmati supaya berkah makanan yang masuk ke perutmu itu." Brata menegur ulah Bagas, namanya Bagas manusia Egois tetap saja pada kelakuannya. Bukan tanpa alasan ia buru-buru menghabiskan makannya, ya demi mempercepat keinginannya atas jawaban kedua orang tuanya perihal kepergian Andita.


Bagas menunggu kedua orang tuanya di ruang keluarga, rasa hatinya sangat tidak sabar lagi hanya karena menunggu jawaban.


"Pa, cepatan dong." Teriak Bagas tak sabar


Ayuningtias menatap Brata sementara suaminya itu hanya tersenyum, Brata sengaja membantu Ayu membereskan sisa-sisa sarapan mereka untuk mengulur waktu. Brata ingin tahu, seberapa besar khawatir Bagas terhadap putrinya Andita.


Khawatir dan cinta sepertinya lebih tepat ! Apa kalian sependapat.


Bagas kembali masuk dan duduk di kursi meja makan, tidak sabar tercetak jelas di wajahnya.


"Papa ngapain sih ? Sengaja bikin Bagas mati penasaran." Dengus Bagas protes sama Brata. Brata dan Ayu menatap Bagas secara bersamaan, tak ada kata terucap hanya senyum simpul penuh arti.


Wajah tampan itu memerah menahan malu kala mendapat tatapan penuh arti kedua orang tuanya, ia memalingkan muka menyembunyikan aura panas yang tiba-tiba mengaliri wajahnya. Panas menahan malu hahaha...


Brata dan Ayu melenggang keluar meninggalkan Bagas yang terpaku menatap kepergian mereka, karena rasa penasaran memenuhi benaknya Bagas akhir mengekor di belakang Brata.


"Jadi apa alasan papa dan mama membiarkan Andita pergi ?." Pertanyaan yang sama Bagas lontarkan kembali.


"Sabar nak. Nasi yang papa makan barusan masih nyangkut di sini." Ucap Brata sambil menunjuk tenggorokan nya.

__ADS_1


Bagas menatap tidak suka pada Brata, Bagas yakin papanya itu sengaja mempermainkan perasaan nya.


"Gak usah berbelit-belit deh pa, apa perlu Bagas jemput Andita hari ini juga untuk mendapatkan jawaban dari kalian." Ancam Bagas.


"Tidak perlu Nak." Sahut Ayu cepat


"Dengarkan papa. Andita sedang terluka, kita semua tau hal itu. Kenapa kami mendukung kepergian Andita, karena kami ingin dia terlepas dari belenggu kesedihan nya. Andita sebenarnya sangat terpukul atas apa yang terjadi dalam pernikahan nya, hanya saja dia menutupi semua itu dengan berpura-pura kuat. Papa pikir tidak ada salahnya dia melakukan kegiatan sosial itu, yang mungkin akan berdampak baik baginya. Setidaknya dengan dia sibuk, Andita bisa melupakan semua kepedihan nya. Papa minta sama kamu, jangan ganggu dia dulu. Papa mohon dengan sangat Nak, papa paham apa yang kamu rasakan." Penjelasan serta permohonan Brata pada Bagas.


Bagas menyandarkan kepalanya di Sofa sambil memijit pelipisnya, otaknya sedang berpikir keras bagaimana cara nya bisa bertemu wanitanya itu, hanya ingin memastikan keadaan nya saja.


"Kemana Andita pergi pa." Tanya Bagas sambil memejamkan matanya.


Brata bungkam, ia tidak akan memberikan di mana keberadaan Andita saat ini. Bukan tidak mungkin Bagas akan berupaya menyusul Andita, demi ketenangan putrinya Brata bertekad untuk tidak memberitahu Bagas.


"Andita berada di tempat yang aman. Di antara tim-nya ada orang-orang papa yang menjaganya, kamu jangan khawatir." Jawab Brata


Brata lupa siapa Bagas saat ini, Brata melupakan kekuasaan sang anak.


Bagas tersenyum menatap kedua orang tuanya. Senyuman manis penuh arti sebuah kemenangan. Brata tidak menyadari ucapannya, yang mengatakan orang-orangnya ikut serta mendapingi Andita.


"Ya sudahlah, kalau Andita di tempat yang aman. Apa lagi di jaga orang-orang papa, Bagas pulang dulu ya pa,ma." Binar tenang dan bahagia bercampur menjadi satu dalam senyuman manis Bagas. Ia berjalan menuju pintu keluar setelah menyalami Brata dan Ayu.


Deg.... Brata baru sadar dengan apa yang di katakan nya barusan. Brata menyusul Bagas yang sudah hampir mencapai mobilnya.


"Son, tunggu ! Papa tau apa yang kamu pikirkan, papa mohon beri Andita waktu." Tukas Brata kembali memohon.


"Siap, papaku sayang." Sahut Bagas seraya memberi hormat pada Brata, Bagas masuk kedalam mobil dengan segera menyalakan mesin mobilnya. Ia tau Brata masih mau ngomong, tapi Bagas tak mau mendengarkan nya lagi.


Brata menggeleng dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Semoga kamu mendengarkan papa Nak." Desah Brata dan kembali masuk kedalam rumah nya.


Flashback off


Bagas menopang dagunya dengan kedua tangannya, memikirkan kata-kata mutiara Brata kemarin.lalu tangannya menekan interkom yang terhubung ke ruangan asisten nya, meminta tangan kanannya itu datang keruangannya.


"Bagas janji tidak akan mengganggu kegiatannya pa, Bagas hanya ingin melihatnya meskipun dari kejauhan." desahnya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


Dengan semangat bersama senyuman yang terus terukir di bibirnya, Bagas kembali menorehkan tanda tangan nya di tiap-tiap berkas yang ia periksa. hingga sang asisten mengetuk-ngetuk mejanya pun ia acuhkan.


"Bos ! masih waras kan ?." tanya Andre ketus karena di acuhkan oleh Bagas.


Bagas menatap Andre dengan tatapan membunuh andalannya. "Kalau kamu tidak berminat lagi menjadi asisten ku, silakan berikan surat pengunduran diri sekarang juga.!" sengit Bagas


"Maaf bos. jangan gitu dong ntar gue kawin gak ada modal kalo mengundurkan diri. habis Bos kenapa sih senyum-senyum sama tu berkas.?" Andre tersenyum geli menatap sahabat sekaligus bos-nya itu


"Bukan urusanmu ! keluar dari ruangan gue.!" sarkas Bagas.


"Loh kok di usir, tadi kan bos yang manggil gue." bingung Andre


"Oh iya ya, lupa gue." sahut Bagas garuk-garuk kepala tak jelas.


Bagas menyodorkan tumpukan dokumen di mejanya pada Andre, mata Andre membulat sempurna.


"Biasa aja gak usah kaget gitu. lu baca dan pelajari berkas-berkas ini, terus lu pisah-pisah mana yang pantas gue tanda tangan. gue mau ketemu Robert dan Erwin, kalo lu mau nyusul boleh, tapi setelah selesai kerjaan ini." Bagas memutar kursinya sembari berdiri, dan memakai jasnya yang tergantung di lemari di belakangnya.


"Gue pergi ya, bekerja yang baik kalau mau mendapatkan bonus 5 kali lipat dari biasanya." Bagas menepuk-nepuk pundak Andre yang meringis menatap gunung kertas yang ada di pangkuannya.


"Mati muda gue lama-lama." Andre mengumpulkan semua berkas di meja Bagas dan membawa ke ruangannya.


Sementara sang Bos sudah melenggang pergi dengan bersiul-siul senang.


...----------------...


bersambung


jangan lupa tap ❤️ like dan vote sebanyak-banyaknya.


kata-kata yang Author tulis sengaja di buat sesederhana mungkin, tidak semua pembaca memahami kata istilah, bahasa medis, bahasa akademik, bahasa hukum, ya kaaaan. oleh karena itu bahasa yang Author terapkan sewajarnya saja, supaya gampang di terima seluruh kalangan khususnya pembaca setia karya Mentari Impian ini.

__ADS_1


Ohya yang mau berteman dan berkenalan dengan Author, Author sudah membuat akun Facebook khusus ya buat kalian. silakan Add fb MentariImpian.


terimakasih, jangan lupa dukung terus karya Mentari Impian ya 😘😘😘


__ADS_2