Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~97


__ADS_3

Ayu bergegas ke dapur dirumahnya membantu para pelayan masak untuk sarapan sekaligus masak untuk makan siang nanti. Sedangkan Brata ia merasa harus memberikan hadiah kepada cucu angkat mereka itu, lalu ia berangkat ke toko mainan setelah sarapan dan berpamitan pada Ayu.


Yoga merasa tersisihkan, karena tak ada perhatian seperti biasanya dari Andita. Untunglah kedua mertuanya masih bisa menghargai kehadiran Yoga di sana, meskipun mereka tau keadaan rumah tangga Mereka tidak dalam kondisi baik-baik saja.


Andita duduk di teras rumahnya menikmati matahari pagi bersama sebuah majalah dan secangkir teh hangat, Yoga datang dan duduk di sisinya tanpa berani menyentuh wanita itu lagi.


“Sayang mas keluar dulu ya, nanti menjelang makan siang mas pulang. Mas juga mau ketemu sama orang yang pernah donor untukmu itu, karena selama di rumah sakit mas belum sempat ketemu dia dan kakak nya.” Ucap Yoga


Andita sama sekali tidak menanggapi Yoga, seolah tiada manusia lain di sekitarnya. Ia tetap fokus membaca majalah yang ada di tangannya, Yoga penasaran majalah apa yang tengah di baca istrinya itu, ia sedikit melirik ke arah majalah. Kalian tau apa yang terjadi ?


Wajah Yoga detik itu juga berubah merah padam, ia mencengkram erat kedua sisi pegangan kursi yang ia duduki saat ini hingga buku-buku jarinya memutih. Darahnya mendidih seketika, kala tau majalah apa yang sedang di baca Andita. Ya, majalah yang memuat tentang Bagas.


Tidak tahan dengan yang di lihatnya Yoga merampas majalah di tangan Andita dan membawanya ke tong sampah dekat pos dan meminjam korek api dengan penjaga rumah di pos itu lalu membakar majalah tersebut.


“Kamu apa-apaan si ! kenapa kamu bakar majalah itu hah ! seru Andita tidak terima dengan tingkah Yoga.


“Oh...jadi karena dia kamu berubah dengan suami mu ini ? jadi ini alasan kamu menuduhku yang tidak-tidak ?” geram Yoga.


“ Sadar Yoga ! perubahan sikapku atas pengkhianatan kamu ! apa harus aku panggil perawat itu untuk bersaksi bahwa kalian sudah melakukan perbuatan terkutuk itu ?!” balas Andita sengit dengan kobaran api amarah.


Yoga diam terpaku mendengar apa yang di katakan Andita, ia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk melawan tuduhan istrinya itu dengan debaran jantung yang berpacu. Ya, bagaimana tidak debar-debar coba, Andita dengan jelas mengatakan soal skandal **** yang ia perbuat dengan perawat istrinya itu.


“Kenapa diam ? perkataan ku benarkan.” Ujar Andita datar, namun siapa sangka di balik sikapnya yang berubah datar itu hatinya sangat sakit,hatinya hancur bagai di remas-remas. Andita tengah melawan kelemahan nya, ia tidak sudi menitikkan air mata di hadapan lelaki itu, tepatnya SUAMI !!


“Kamu membela Bagas di hadapan ku ? bukankah dia yang sudah jelas-jelas mengkhianati kamu. Sedangkan aku suami mu, tidak akan mungkin melakukan perbuatan seperti yang kamu tuduhkan itu.” Yoga berusaha membela dirinya dengan menyalah kan Bagas. Mencari kambing hitam !! agar dirinya selamat dan tetap terlihat suci dan bersih di mata Andita.


“Benar sekali. kalian sama-sama pengkhianat !!. Namun, tentu saja ada perbedaan di antara perbuatan kalian, Bagas mengkhianati ku dan menikah karena dia merasa bertanggung jawab atas perbuatannya, meskipun pada kenyataannya dia hanya di jebak. Sedangkan kamu, mengkhianati ku di depan mata dan kepala ku, jangan kamu pikir aku akan sebodoh itu Febry Lie Prayoga.!! Balas Andita berapi-api.


Yoga terperanjat mendengar semua itu, bibir Andita benar- benar mengatakannya. jadi ! dia melihatnya ? Yoga diam kembali.


“Ayo silakan bela dirimu sepuas yang kamu mau, tapi akan percuma bagiku tak akan ada kesempatan kedua dan maaf untuk pengkhianat seperti mu. Kelakuan kamu sudah di luar batas, hanya karena nafsu kamu rela menghancurkan semuanya.” Lirih Andita, lalu pergi dari hadapan Yoga yang tengah mematung.


Siluet tubuh wanita itu menghilang di balik pintu, dan Yoga mengejar Andita yang sudah masuk kedalam rumah.


“Sayang...tunggu ! sayang...tunggu !”. namun Andita terus melangkah kan kakinya menuju kamar, langkah lebar Yoga hampir saja menggapai tubuh itu, tiba-tiba... Brak, pintu di tutup keras di hadapan wajah Yoga.


Tungkai panjang Yoga melemas, ia tidak mampu lagi berdiri saat ini. Perbuatannya ternyata di ketahui oleh istri tercinta nya. Yoga terduduk lemas di depan pintu kamar Andita. “Sayang buka pintunya, maafin mas.” Mohon Yoga, namun Andita seolah tuli tanpa mau mendengar permohonan lelaki yang sudah tega dan kejam mengkhianatinya.


“Sayang...maafin mas. Mas mencintai mu, sangat mencintaimu.” Tutur Yoga di balik pintu.


“Bisa-bisanya dia berkata cinta setelah melakukan perbuatan terkutuk itu.” Andita tidak perduli, tidak mau mendengarkan maaf dari Yoga apapun alasannya, ia menyalakan musik di ponselnya dan memasang earphone.


“ Mendengar lagu lebih baik, dari pada mendengar rengekan si cabul itu !” dengus Andita.


Ayu menatap Yoga dari arah dapur tanpa berminat menghampiri atau pun bertanya, karena sejujurnya ia sudah tau akar masalah terbesar yang di ciptakan lelaki itu sendiri.


“jangan salahkan Andita, kalau aku menerima Bagas sebagai menantu ku kelak.” batinnya. Ayu menatap sinis Yoga dari kejauhan, seakan yakin sekali putrinya itu akan kembali menerima Bagas dalam kehidupannya nanti. “Aku kira dukun aja ada yang cabul, ternyata Dokter juga ada yang cabul.” Cicit Ayu


Lelah tidak ada respon apapun dari Andita, Yoga memutuskan pergi sejenak dari rumah itu yang saat ini udaranya menyesakkan dada nya. Menyesal ? ya, Yoga tengah meratapi kebodohannya, bodoh di kendalikan oleh nafsu !!. Yoga pun pergi dari sana.


...----------------...


Di kota K


Robert dan Lauren dan tak ketinggalan si tampan Alga sudah duduk manis di dalam pesawat, meraka akan bertamu ke rumah keluarga Brata hari ini sekaligus temu muka dengan Andita dan suaminya. Dan jauh di luar pertemuan mereka dengan keluarga Brata, Lauren punya rencana sendiri. Yakni mencari keberadaan ayah biologis sang anak nya itu. Di terima atau pun tidak, lelaki itu harus tau tentang dan keberadaan anaknya. Itulah keputusan Lauren, tanpa melibatkan sang kakak tersayangnya dalam rencana pribadinya itu.


“Mommy. Al sudah tidak sabar mau ketemu Opa dan Oma. Tapi sayang nya uncle Bagas gak bisa ikut kita ya.” Anak kecil itu menekuk wajahnya saat menyebut nama uncle Bagas.


Robert tersenyum dan mengelus lembut rambut keponakan nya itu. “ Jangan sedih, uncle Bagas akan kesana juga kok. Tapi, setelah selesai pekerjaannya, selama uncle Bagas belum datang kan ada uncle Obet.” Rayu Robert pada si tampan tersayangnya itu.


“Iya nak, uncle Bagas sibuk sayang. Nanti kalau Al sudah besar juga akan sibuk seperti uncle Bagas, bukannya katanya Al mau seperti uncle Bagas kalau sudah besar nanti, hm ?”. Al mengangguk.


“ Tapi benarkan uncle akan nyusul kita, uncle Obet gak bohong kan. gak seru kalau ga ada uncle Bagas.” Jawab Al dengan mode merajuk-rajuk manja.

__ADS_1


“Uncle Obet sedih deh, berarti uncle Obet gak bisa bikin happy baby boy nya uncle ini ya.” Robert pura-pura sedih, demi menghibur anak kecil yang duduk di samping nya itu.


Alga menatap iba pada wajah Robert yang di buat mode sedih. “ Uncle...uncle jangan sedih. Al sayang uncle, Al bahagia kok main sama uncle. Maafin al ya uncle .” Al menangkup kedua pipi pria hitam manis itu.


“Hm...cium dulu biar uncle tidak sedih lagi.” Pinta Robert


Al beberapa kali mau berdiri namun kembali terduduk, karena sabuk pengaman kursi yang mengikat. Gerak gerik Al itu tak lepas dari pandangan Lauren dan Robert. Mereka merasa lucu, Al pasti mau berdiri dan mendekap mencium uncle nya itu seperti biasanya, tapi bocah itu tidak menyadari kalau tubuhnya itu dalam cengkraman sabuk pengaman.


Robert inisiatif membungkuk memberi akses untuk Al agar bisa mencium dan mendekapnya. Al langsung mencium kedua pipi Robert dan memeluknya. “ Maafin Al, uncle jangan sedih lagi. Nanti kita beli Ice cream ya...” bujuknya. Al menirukan kebiasaan Robert yang sedang membujuknya kalau sedang merajuk.


Hahaha... Lauren tertawa, mendengar celotehan putranya itu.


“Emang Al punya uang ?” tanya Lauren.


“ Uncle Obet yang bayarin.” Ia tersenyum manis sambil memainkan alisnya naik turun.


“Kirain mau di traktir, tau nya minta di beliin.” Ucap Robert sambil mencebik kan bibirnya.


“ Al kan belum kerja uncle, belum punya uang. Nanti kalau Al sudah besar apapun mau nya Mommy dan uncle, akan Al turutin deh.” Celotehnya.


“ Aamin sayang. Semoga kamu bisa meraih apapun yang kamu inginkan nanti.” Lauren memeluk Al. Lauren membelai lembut rambut putranya, hingga bocah cerewet itu tertidur.


“Semoga saja terapi ku selama ini berhasil melawan trauma ku”. Harapan dalam hati Lauren.


Ya, harapannya ia bisa menghadapi masalahnya itu tanpa harus ketakutan lagi. Menjauhnya trauma itu, akan membuka peluang bagi Lauren kembali mengenal dan membuka hati lagi untuk kaum pria. Tidak mungkin ia akan terus melajang seumur hidup kan ?.


Sebagai manusia normal, manusiawi jika menginginkan pasangan dan membina rumah tangga layaknya yang di impikan setiap orang. Hidup bahagia bersama orang yang di cintai, itu adalah harapannya. Bukan kemewahan yang ia cari, tapi seseorang yang mampu menerima semua kekurangannya dalam bentuk apapun, mau berjalan bersama menggapai tujuan bersama.


Materi adalah pelengkap dalam hidup kita, namun bukanlah materi semata tujuan kita hidup dalam dunia ini. Siapapun membutuhkannya, tanpa terkecuali manusianya di atas bumi ini. Bekerja keras siang dan malam menguras tenaga dan pikiran itu bukanlah tujuan Lauren, yang ia inginkan sekarang bisa menikmati hidup sebagai mana mestinya.


Bekerja adalah kewajiban, tanpa melupakan bagaimana cara menikmati hidup. Harta melimpah ruah, tapi tubuh di gerogoti penyakit. Apa bisa menikmati harta mu itu ? rasa nya tidak ! makan enak pun akan di larang jika sudah sakit. Maka dari itu nikmati lah hidup sebelum sakit, manfaatkan hidup sebaik mungkin, bahkan akan lebih baik jika hidupmu bermanfaat bagi orang lain. Kira-kira begitulah prinsip yang tertanam dalam diri Lauren.


Pesawat yang membawa mereka dari kota K telah mendarat di Bandara Soekarno Hatta, dan mobil jemputan dari keluarga Brata pun telah menanti kedatangan mereka. Robert, Lauren, dan Alga segera di bawah meluncur ke kediaman Brata.


Berhubung akhir pekan jalanan padat merayap, menyebabkan kemacetan yang tak terelakkan. Lauren menatap putranya itu yang sudah tampak bosan duduk di dalam mobil, ia tersenyum dan menghibur Al.


Setelah hampir satu jam terjebak macet, mobil yang membawa mereka akhirnya bisa meluncur bebas di jalanan.


Waktu pun telah lewat dari jam makan siang yang seharusnya, tak mengapa setidaknya saat ini mobil mereka telah memasuki halaman rumah besar itu. Ya, istana Ayuningtyas dan Brata


Al terlihat seperti seseorang yang baru lepas dari tawanan, tanpa menunggu Robert dan Lauren bocah itu segera berlari menuju pintu yang terbuka.


“ Opa... Oma...” teriaknya sambil berlari.


Brata dan Ayu segera bangkit menyusul arah suara, yang mereka yakini suara cucu angkat mereka. Andita tak ketinggalan ikut bangkit menyambut tamu yang mereka tunggu, matanya nanar menatap Brata dan Ayu memeluk dan mencium anak lelaki di hadapannya itu, seketika hatinya terasa nyeri dan tangannya meraba perutnya yang datar.


“ Andai aku tidak keguguran, ah sudahlah.” Andita segera menepis semua kejadian itu. Baginya semua itu, semakin menambah kesakitan dalam dirinya saja.


“Selamat datang cucu Opa sayang, gimana tadi perjalananya ?” tanya Brata pada Al.


“Pesawat terbang lancar tidak macet, tapi di mobil lama.” Al mengerucutkan bibirnya. Brata terkekeh mendengar mendengar jawaban Al.


“Tidak apa-apa, yang penting sekarang Al sudah di sini sama Opa, Oma, juga Aunty.” Bujuk Ayu pada bocah itu.


“Dita ini Lauren yang donor waktu itu,dan ini kakaknya Robert, lalu si kecil ini Alga anak Lauren.” Jelas ayu pada Andita.


Andita menjabat tangan Lauren hangat, begitupun dengan Robert. “ Aku Andita, panggil Dita aja. Kalau kamu lebih tua dari ku, biarkan aku memanggilmu dengan sebutan kakak.” Andita tersenyum ramah pada Lauren, sambutan yang hangat sekali.


“ Sepertinya kakak akan lebih hangat.” Sahut Lauren, jawaban yang cukup manis di awal pertemuan.


“ Ohya... kak Robert apa kabar, apa hanya kalian ?” tanya Andita kemudian sambil melongokkan kepalanya ke arah mobil yang menurunkan koper Lauren.


“Kakak baik Dit, memangnya kamu mengharap kami datang bersama siapa ?” Robert senyum-senyum penuh arti.

__ADS_1


“ Ah tidak. hai halo Al, apa yakin tidak mau kenalan sama aunty yang cantik ini ?.” Andita mengalihkan tatapan penuh canda Robert, yang mengetahui hubungan dirinya dengan Bagas di masa lalu. Tentu saja Robert tau, siapa yang di maksud Andita. Mengingat bagaimana kedekatan di antara Robert dan Bagas.


Alga berbalik arah dan menatap Andita dari gendongan Brata, Andita ternganga dan menutup mulutnya.


“Astaga ! kenapa anak ini begitu mirip dengan paras Yoga sewaktu kecil.” Cicit Andita. Sebagai istri Yoga, Andita pasti sering melihat foto-foto kecil Yoga semasa kecilnya. Matanya, bibirnya, hidungnya, jari-jarinya, persis. Andita menggelengkan kepalanya menepis bayang-bayang Yoga kecil hadir di hadapannya saat ini.


“ Halo aunty, kenapa begong begitu lihat Al. Al tampan kan ? kalau Al sudah besar mau pacaran sama aunty, aunty cantik.” Cerocos Alga menggoda Andita.


“ Hah...anak kecil ini pintar sekali.” Andita mencubit pipi Al gemes, membuang pikirannya yang macam-macam tadi.


Hahaha.... “ Ayo kita masuk.” Ajak Ayu yang menyadari bahwa mereka masih berdiri di luar.


Tapi semuannya juga bicara begitu, kalau Al mirip sekali dengan Yoga kan. Termasuk Indira mengakui bahwa Al sangat mirip dengan Yoga kecil.


Setelah ngobrol dan ramah tamah sebentar, Ayu meminta tamunya itu untuk membersihkan diri terlebih dahulu, lalu melanjutkan acara makan siang mereka yang tertunda. Namun berbeda dengan Al, ia justru pergi bersama Brata ke ruangan dekat garasi. Brata mau menunjukkan hadiahnya, dan anak itu sangat senang dan antusias sekali ingin melihat hadiah apa yang akan di beriakan oleh Opa nya itu. Hingga menolak ajakan lauren untuk mandi.


“Tutup mata ya...” pinta Brata, dan Al menuruti semuanya asalkan bisa melihat segera hadiahnya.


“ Taraa.... ini hadiahnya.” Ujar Brata berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah itu.


Sebuah mobil mewah Porce Yukita YSA 021, tapi dalam bentuk mobil Aki.


“Waw...”. kagum Al berbinar bahagia.


Tangan mungilnya memeluk leher Brata, lalu mengecup pipi Brata sayang. “ Terima kasih Opa, Al suka sekali sama hadiahnya.” Sambut Al bahagia.


“ Ah... syukurlah kalau Al suka. Mau di coba tanya Brata ?” Al langsung melompat duduk ke dalam mobilnya dan segera melajukan nya ke arah halaman luas Brata.


“Hati-hati Al.” Teriak Brata mengingatkan Al


“ Oke opa.” Al mengacungkan jempol mungilnya.


Alga berputar-putar mengendarai mobilnya, tanpa perduli cuaca panas yang membakar kulitnya. Keringatnya sudah meluncur bebas membasahi wajahnya, namun semua itu ia acuh kan. Bahkan saat Lauren memanggilnya untuk makan pun Al menulikan telinga nya.


Brata meminta penjaga rumah menemani Al bermain, sedangkan Brata bergabung dengan yang lainnya untuk melakukan santap siang.


“Yoga mana ?” tanya Brata sama Andita saat telah duduk di sisi Ayu.


“ Tadi pamitnya keluar, dan akan kembali jelang makan siang. Tapi sampai sekarang belum kembali.” Sahut Andita, tanpa menimbulkan opini macam-macam terhadap orang asing di hadapannya saat ini tentang masalah yang tengah mendera rumah tangga nya.


“Oh begitu”. Sahut Brata cuek.


Mereka makan dengan lahap, karena telah melewatkan jam makan siang mereka. Hingga melupakan ada anak kecil di luar sana di bawah terik matahari masih asyik bermain, tiba-tiba saja saking asyiknya berputar-putar Al tidak menyadari sebuah mobil masuk dan Braak... mobil yang di kendarai Al hancur sementara orangnya telah terpental jauh. darah segar mengalir dari sikut dan kening anak itu. Namun Al segera berdiri dan menatap sedih pada mobilnya tanpa perduli dengan lukanya, ia berjalan melihat kondisi mobi baru nya itu.


Sedangkan Yoga masih mematung karena shock, perkiraan Yoga anak itu akan pingsan. Nyata tidak ! Ia bangkit dan tidak memperdulikan lukanya tapi justru mengkhawatirkan mobil mainannya.


“Hei turun ! kamu menghancurkan mobil ku !” teriaknya dengan wajah berdarah. Yoga segera turun menghampiri bocah laki-laki itu.


“ Kamu baik-baik saja” tanya Yoga melihat anak itu berdarah.


“ Baik-baik katamu ! Gak lihat wajah nya berdarah begitu. !!” Robert menonjok wajah Yoga secara tiba-tiba.


“ Kalau sampai keponakan ku kenapa-napa, aku hancurkan kamu !” tunjuk Robert emosi plus cemas tentunya. sedangkan Lauren sudah pingsan melihat mobil Al remuk, di pikiran Lauren tubuh putranya sudah ikut remuk bersama mobilan itu.


“ Hei tunggu, aku tidak sengaja. Biar aku obati anak itu !!” seru Yoga sambil mengelus pipinya yang rasanya menebal akibat tonjokan Robert yang tiba-tiba tadi. Robert segera membawa Al masuk, tanpa perduli teriakan Yoga di belakangnya.


...----------------...


To Be Continued


jangan lupa tetap support Author dengan memberikan vote dan like nya, supaya semangat ngetik meskipun pegal-pegal semua. 😁😁


ada kata-kata yang Typo mohon di maklumi ya🙏

__ADS_1


__ADS_2