
Bagas tak henti menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Andita, kehidupan nya bagai tak berwarna lagi sejak kehilangan orang yang dicintainya. semangatnya pupus,asa pun ikut tergerus bersama gelap' dunianya saat ini.
Hari-harinya hanya berteman Alkoh*l serta duduk menghabiskan waktu di Club',
Erwin sebagai sahabatnya sudah melacak keberadaan Andita, namun Erwin belum menemukan setitik pun keterangan mengenai keberadaan gadis itu.
"Gimana Bro,?" Tanya Bagas saat Erwin menepuk pundaknya
"Masalah lo gak akan selesai,kalau lo menghancurkan diri sendiri dengan terpuruk seperti ini." Ujar Erwin
"Pakai otak lo buat mikir, gue sama Robert selalu ada untuk lo."
"Gue harap jalani kehidupan lo seperti biasanya,soal Andita kita cari bersama." ujar Erwin menasehati Bagas.
Bagas hanya bungkam tanpa memperdulikan ocehan Erwin, ia terus menenggak minuman di gelasnya. "Setiap hari lo hanya mabuk.! Gimana mau nyari Andita lo.!" Marah Erwin sama sahabatnya itu.
Bagas berdiri ingin meninggalkan Erwin tapi karena pengaruh alkoh*l sudah menguasainya tubuhnya limbung dan terjatuh, Erwin bangkit dan membawa pria itu ke kamar di Club nya. ia menelpon Robert untuk menjemput Bagas, untung
Kedua sahabatnya sangat perduli dengan keadaannya.mereka terus memberikan dorongan untuknya,agar bangkit dari keterpurukan meskipun tak perna di hiraukan oleh Pria bernama Bagas itu.
Ya, siapapun takkan pernah sanggup untuk kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya,termasuk Bagas.ia tidak bisa menerima kepergian Andita, sekalipun kesalahan ada di pihaknya.
"Antar dia balik." Ujar Erwin saat Robert sudah datang
"Dimana dia,?" Tanya Robert.
"Di kamar,udah tumbang." Jawab Erwin Sambil memberikan kunci kamar tempat ia mengurung Bagas.
Robert langsung menuju kamar yang di tempati Bagas,saat melihat keadaan sahabatnya itu Robert tak banyak komentar selain geleng-geleng kepala. Ia segera membawa pergi sahabatnya itu, meninggalkan bangunan remang dan hiruk pikuk dengan berbagai macam bentuk perbuatan manusia di dalam sana.
Setelah tiba di Apartemennya, Robert merebahkan tubuh sahabatnya itu.saat Robert mau keluar, ia menoleh kala mendengar isak tangis Bagas.
"Bro.?" Panggil Robert menyentuh punggung Bagas.
"Tolong cari Andita." Lirih Bagas
"Kalo lo begini terus,kita gak bisa nyari dia.waktu kita habis ngurus lo doang,! Siang malam kerjaan lo cuman mabuk,kita gak bisa tinggalin lo 'Gas."
"Gue sama Erwin janji akan bantu lo,kalo lo udah normal.!" Ujar Robert
Bagas menoleh dan menatap tajam ke arah Robert, "Gue masih waras.!"
"Ya,tapi hampir gila. !" Ujar Robert
Bagas bungkam..,"Kantor gue." Lirihnya
"Kantor butuh lo.masalah ini juga butuh lo,gue sama Erwin gak bisa banyak mikir kalo lo begini terus." Ujar Robert.
Bagas mengangguk dan memejamkan matanya,
Robert keluar meninggalkan Bagas yang sudah tertidur.
...----------------...
Andita sudah bekerja di sebuah Rumah sakit swasta di kota yang baru ia tinggali sekarang,semua yang ia lewati tak ada hambatan yang berarti. bahkan jika ia tak masuk Bekerja pun semuanya tetap baik-baik saja,tanpa ada yang memarahinya bahkan berkomentar buruk tentangnya.
Ia tinggal dirumah mewah dengan semua fasilitas lengkap, kemanapun pergi di kawal Sopir apapun kebutuhan nya saat dirumah selalu disiapkan oleh para dayang-dayang rumah bak istana itu.
Hubungan antara Andita dan Dokter Yoga terlihat semakin membaik dan manis-manis saja, seperti pagi ini saat Andita turun dan menuju dapur ia mendapati Yoga sedang memasak.gaya Yoga memasak cukup Ekstrim di mata Andita,hanya memakai celana pendek rumahan tanpa baju sehingga menampilkan bagian-bagian tubuh seksinya.sebagai Wanita normal tentu saja Andita tergoda, ia menatap dalam diam kegiatan Pria itu tangannya cukup ahli memainkan alat-alat dapur.
Andita melangkah dalam diam ingin memberikan kejutan dengan datang tiba-tiba,tapi... "Duduklah, sarapannya sebentar lagi siap." Ucap Yoga tanpa menoleh ke arah Andita
"Hah...! Kok tau ada aku,?" Tanya Andita.
Yoga memiringkan wajahnya menatap Andita,ia tersenyum lembut. "Bagaimana tidurmu,?" Tanyanya
"Setiap pertanyaan ku selalu kamu jawab dengan pertanyaan.!" Sewot Andita
'Hahaha.... Yoga tertawa, "Apa harus aku jawab,?" Tanyanya
Andita mengangguk....,dan tersenyum.
"Hatiku yang memberitahu kehadiranmu." Ucap Yoga dengan tenang.
__ADS_1
Andita hanya mencebik kan bibir nya, " Boleh aku bantu,?" Tanya Andita
Yoga tak memberi jawaban apapun,tapi dia justru membawa Andita dalam kungkungan lengan dan tubuh kokohnya dan memberikan spatula ke tangan Andita.lalu menggerakkan tangan Andita mengaduk-aduk masakannya,
Andita menoleh menatap Yoga lalu tersenyum. "Apa seperti ini cara membantu, ?" Tanya Andita
"Ya, seperti ini lebih baik." Jawab Yoga.
Tangannya dan Andita tetap terpaut di spatula sampai masakan matang,Andita merasakan jantungnya berdetak lebih cepat begitupun dengan Yoga bahkan berpacu bagai sedang Maraton.
"Sudah matang." Ujar Yoga.
Andita menoleh dan tersenyum,ia berbalik dan memeluk tubuh kekar yang sedari tadi mengungkung nya.
Andita merebahkan kepalanya di dada kokoh Yoga,ada nyaman mengaliri hati gadis itu.
Sedangkan Yoga justru tak percaya jika gadis itu akan memeluk nya, mengingat sikapnya yang kaku dan dingin.
Yoga membalas pelukan Andita, dan memberanikan diri untuk membuka suara.
"Ada apa, ?" Tanya Yoga sembari mengelus rambut gadis itu,ia mengecup lembut puncak kepala Andita penuh kasih.
"Terima kasih,sudah membawa ku pergi." Lirih Andita
Yoga menatap wajah Andita, "Jika itu untuk kebaikanmu,akan aku lakukan." Sahut Yoga pelan.
Lalu tanpa aba-aba Yoga membopong tubuh Andita, mendudukkan nya di kursi.
"Tunggu sebentar,aku akan menghidangkan sarapan untuk kita." Ujar Yoga
"Bibi pada kemana,? Kok kamu yang masak,?" Tanya Andita
"Ada,aku hanya ingin masak khusus untukmu." Jawab Yoga,yang membuat Andita tersipu.
Yoga tau hal itu,ia hanya berusaha untuk tidak melihat reaksi Andita atas ucapannya barusan.setelah menghidangkan sarapan untuk mereka, Yoga duduk di hadapan Andita.
"Makanlah." Perintah Yoga
"Bagaimana,?" Tanya Yoga
Andita hanya mengacungkan jempol, karena mulutnya penuh terisi oleh nasi goreng yang di masak khusus oleh Yoga untuknya.
Yoga tersenyum sambil memberikan minum sama gadis itu, "Hari ini gak usah Kerja,kita jalan-jalan.Apa kamu mau, ?" Tanya Yoga seraya menatap Andita,menanti jawaban gadis cantik itu.
Andita mengangguk...,lalu tersenyum manis.senyuman yang menggetarkan jiwa jomblo Dokter tampan tersebut,menabuh jantungnya sehingga berdetak bertalu-talu.
"Besok aku akan kembali ke Desa.kamu Kerja aja yang fokus,dan tak usah pikir kan soal tempat tinggal." Ujar Yoga
Andita menatap Dokter itu lamat-lamat, " Ini rumah siapa, ?" Tanya Andita, karena setiap di tanya Yoga tak pernah memberikan jawaban.
"Kamu akan aman tinggal disini.hal itu tak perlu kamu tanyakan." Jawab Yoga
Andita menatap Yoga,matanya menyorot menuntut jawaban.namun yang di tatap justru cuek dan tak menandakan akan menjawab pertanyaan nya, "Aku akan cari kontrakan.!" Ucap Andita dengan nada tinggi karena Yoga sudah meninggalkan meja makan.
Yoga menoleh dan tersenyum kaku, "Habiskan sarapan mu." Ujarnya dan meneruskan langkahnya.
Andita merasa tidak puas,ia berdiri ingin menyusul langkah Yoga.tapi,saat ia akan melangkah kakinya tersangkut di kaki kursi
"Awww...!" Teriak Andita saat dahinya membentur sudut meja.
Yoga mendengar teriakan Andita berlari ke arah dapur, "Andita,? Apa yang kamu lakukan.?" Tanyanya melihat Andita yang berjongkok di bawah meja.
Yoga membawa Andita berdiri, "Astaga..! Dahi kamu berdarah.!" Ucap Yoga cemas,ia menggendong Andita mendudukkan nya di Sofa ruang tamu.ia berlari mengambil peralatan untuk memberikan pengobatan pada gadis yang di cintai nya dalam diam itu.
Dengan sangat hati-hati ia memberikan pertolongan pada Andita, "Kamu kenapa bisa sampai terluka, ?" Tanyanya sama Andita.
Gadis yang di tanyai nya hanya diam dan tak berniat untuk menjawab.
Setelah memberikan pengobatan Yoga menggendong Andita kembali ke lantai tiga,
Ia merebahkan tubuh Andita di pembaringan serba Luxury tersebut dan menyelimuti nya. "Pusing, ?" Tanyanya
Andita hanya menggeleng, "istirahatlah." Perintah Yoga sambil berdiri ingin keluar dari kamar Andita tapi, langkahnya terhenti saat gadis itu mencekal tangannya.
__ADS_1
"Duduklah," Pinta Andita dengan suara rendah.
Yoga akhirnya duduk sesuai permintaan gadis itu,ia mengelus lembut rambut Andita." Ada apa, ?" Tanyanya lembut.
"Jawab pertanyaan ku." Ujar Andita pelan
Yoga menatap gadis yang sedang terluka tersebut, "Rumahku." Jawab Yoga singkat
Andita meringis saat dahinya mengernyit, Yoga menoleh "Istirahatlah,kalau sudah enakan nanti kita jalan." Ia kembali ingin berdiri,tapi Andita kembali menahan tangannya.
"Bukankah kamu berasal dari Jakarta,? Kenapa rumah kamu disini, ?" Tanya Andita
Yoga menghela nafas dalam-dalam...,
"Andita,please jangan tanyakan hal itu." Ujar Yoga sambil berdiri meninggalkan Andita.
Andita bingung,kenapa Dokter Yoga menutupi tentangnya bahkan soal rumah ini saja dia sangat sulit untuk memberitahu nya.
"Dasar Pria aneh,! sebentar hangat, sebentar dingin.!" Seru Andita sendiri di kamarnya.
Sementara Yoga masih berdiri di depan pintu kamar gadis itu dan lantang mendengar seruannya,ia mengusap dahinya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
...----------------...
Yoga berdiri di balkon kamarnya lebih tepatnya kamar kenangan, kamar yang tak pernah ia huni sejak kejadian waktu itu.hari ini ia memasuki kembali kamar yang masih menyisakan kenangan pahit dalam hidupnya,ia menatap dedaunan yang menghijaukan pekarangan rumah kenangannya itu. wajahnya seketika mengeras mengingat sosok wanita yang sudah mengkhianatinya di masa lalu, "Clara." Desisnya geram, tangannya mencengkram kuat tepian balkon tempat ia berdiri.
Rumah yang di tempati Andita sekarang,ia bangun sebelum menikahi Clara.
baru saja 3 bulan menikah Yoga sebagai Dokter mendapatkan tugas membantu korban bencana Alam di luar kota akan tetapi
Siapa yang menyangka, keberangkatan Yoga di jadikan kesempatan bagi Clara untuk bermain gila' dengan sahabat Suaminya sendiri.
Hari itu..., Yoga dengan sengaja tanpa memberitahu Clara tentang kepulangannya setelah 2 minggu berada di luar kota.
Setibanya dirumah Yoga dengan membawa bunga sebagai kejutan untuk Istri tercintanya,justru mendapatkan Surprise lebih tak terkira di depan matanya.
Dengan senyum sumringah Yoga memasuki rumahnya dengan seikat bunga mawar putih di tangan pelan-pelan ia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba bunganya jatuh luruh terhempas begitu saja saat mendengar desahan dan lenguhan manja Istrinya.
"Clara...!!!"
Terlebih Surprise lagi baginya, sahabat nya sendiri sudah mengkhianatinya.seorang sahabat sudah bersama sejak mereka kecil,apapun mereka lakukan bersama,tapi haruskah istrinya di perlakukan bersama juga ?
"Rendi...!! Kau...!!" Seru Yoga berapi-api.
Ia tak sanggup menyaksikan kenyataan pahit di depan mata Yoga keluar dengan membanting pintu,ia tak mau bertahan di kamar tersebut sebelum emosionalnya membutakan segalanya.
Clara mengejarnya, "Mas,ara bisa jelaskan." Ucap Clara dengan menyentuh tangan Yoga, "jangan sentuh aku,dengan tangan kotor mu itu 'Clara.!" Yoga menepis tangan Clara kasar.
"Tak perlu kau jelaskan,aku sudah melihatnya.! Saat ini juga silakan angkat kaki dari rumahku, satu minggu dari sekarang tunggu surat cerai dariku .!" Seru Yoga,tapi Clara masih berusaha merayunya...,dengan sangat terpaksa ia bermain kasar meskipun hal itu sangat ia hindari.
Yoga menyeret Istrinya hingga keluar dari gerbang utama rumahnya, "Mulai saat ini,jangan perna tampakkan wajah mu itu di hadapanku.!" Hardik Yoga mengacungkan jari telunjuknya ke wajah wanita itu, kobaran api kekecewaan penuh amarah tersirat jelas dari sorot tajam Matanya. sedangkan Rendi sahabatnya berdiri di belakang Yoga tanpa kata,ia hanya tertunduk Malu.
"Dan kamu Rendi.mulai detik ini aku tidak mengenalmu lagi,dan kau bukan Sahabatku lagi.!"
"Silakan kamu bawah pergi perempuan itu.!"
Tak sempat bagi Rendi untuk sekedar meminta maaf meskipun ia tahu sudah pasti takkan pernah Yoga memaafkan kesalahannya,
Yoga segera meminta penjaga rumahnya menutup semua akses masuk hingga hari ini. rumah itu tidak pernah terbuka bagi orang Asing, terkecuali Yoga yang membawanya.
Hari itu awal kehancuran dan keterpurukan Dokter Yoga beberapa tahun berlalu, Yoga tak pernah terlibat berhubungan dengan perempuan mana pun.bukan hanya rumahnya yang ia tutup akses masuk bagi orang Asing, tetapi termasuk juga dengan hatinya ia tutup rapat bagi perempuan mana pun.
Keterpurukan itulah yang membawa Dokter Yoga Bekerja di puskesmas Kabupaten Provinsi K,tanpa seorangpun yang tau dimana keberadaannya termasuk keluarga besarnya. bahkan orang-orang yang perduli dengannya,kehilangan jejak Yoga dalam beberapa tahun terakhir.
Kini ia kembali bersama seorang Gadis, yang mempunyai masalah hampir serupa seperti yang pernah ia lalui 4 tahun lalu.
Air mata Yoga mengalir begitu saja,hatinya sakit sekali kala mengingat tentang masalalu nya.
...----------------...
TBC
mohon dukungannya dengan like dan komentar sebanyak-banyaknya.
__ADS_1