
"Hari ini aku tunggu di pengadilan !". Andita menutup panggilan nya yang mungkin untuk terakhir kalinya ia lakukan untuk Yoga.
Dengan wajah masih lebam membiru Yoga berusaha bangkit dan duduk menyandar kan kepalanya, kondisinya sudah lebih baik meskipun rasa sakit bekas pukulan Bagas Dan Robert kemarin malam masih membekas.
Mata Yoga menatap pilu pada tembok yang seakan menatap nya tajam, tajam dan tak bergeming sedikitpun laksana keputusan Andita, tetap dan mantap dalam sekali keputusan. Tidak ada kesempatan kedua ataupun lebih daripada itu, Yoga menarik nafas panjang berkali-kali. Sebentar lagi ia akan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya, di mana dirinya mendapatkan pengkhianatan. Hal yang sama ia lakukan, tiada pintu maaf dan kesempatan kedua ataupun ketiga.
Hatinya hancur kala mengingat tatapan mata Andita yang penuh kecewa dan luka. luka yang ia ciptakan, kesakitan yang ia berikan.
"Aku memang brengsek, lelaki pengecut, lelaki lemah ! Bisa-bisa nya aku mengkhianati istriku sendiri, istri yang sangat ku cintai. Pantaskah aku menyebut cinta untuknya ? Setelah apa yang aku perbuat." Yoga memukul kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri. Tampak begitu jelas ia sangat menyesal, menyesali perbuatannya.
"Apakah ini yang di namakan KARMA ? Karma atas apa yang terjadi terhadap Lauren juga perawat itu. Anakku ? Aku bahkan malu sangat malu mengakukan diriku sebagai ayahnya." Buliran bening mulai merembes membasahi wajahnya, tangis penuh sesal. Tangis kesedihan akan kehilangan, kehilangan wanita yang di cintai.
Dengan tertatih Yoga menyeret langkahnya menuju kamar mandi, dia akan datang memenuhi panggilan Andita.
"Apapun yang terjadi, aku akan hadir disana." Desisnya.
Chang Lie menatap Yoga penuh kesedihan, siapa yang tidak sedih dan sakit harus menerima keputusan secara mendadak seperti itu. Hati yang masih penuh cinta dan kasih, harus terpisah karena perceraian.
"Yo, bagaimana dengan keadaan mu.?" Tanya Chang Lie sambil meneliti penampilan Yoga.
"Seperti yang papa lihat, Yoga akan datang ke pengadilan." Sahutnya seperti memahami maksud tatapan yang di tunjukkan Chang Lie padanya.
Indira keluar dari kamar dengan pakaian rapi, mungkin dia akan bekerja seperti biasanya. Mungkin !!.
"Mau kemana nak, kondisi kamu belum bisa di katakan membaik. Sebaiknya kamu istirahat, kehadiran kamu di pengadilan nanti hanya akan menjatuhkan harga diri keluarga Prayogo. Kasusnya kali ini berbeda dengan kasus perceraian mu dulu. Dulu kamu yang membuang Clara tapi kali ini Andita yang mencampakkan kamu, jika sampai publik tau berita itu akan mempengaruhi reputasi kita di kalangan masyarakat dan rekan bisnis kita." Indira menatap Yoga, lalu membawanya ke meja makan untuk sarapan.
"Hadir atau tidak kamu disana, keputusan Andita tidak akan berubah. Dan mama yakin, semuanya ada disana, mama tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu lagi. Jadi mama mohon dengan sangat, jangan datang kesana. Biarkan saja proses pengadilan berjalan sebagaimana mestinya. Lebih baik kamu pertimbangkan bagaimana cara merebut Alga dari Lauren dan kakaknya." Tukas Indira bermakna sebuah perintah, yang tidak boleh di langgar sedikitpun.
"Mama mu benar Yo. Terlebih lagi, kakaknya Lauren sudah tahu bisnis kita yang sebenarnya. Sedikit saja ia buka suara di hadapan umum, maka selesailah kita." Chang Lie menimpali dan semakin memperjelas alasan terkuat kenapa Indira melarang Yoga hadir di sana.
Kalau saja situasinya bisa Chang Lie kendalikan mungkin ia akan melawan keadaan tersebut, tapi Chang Lie memikirkan dampak negatif yang akan muncul dan akan membuat semuanya hancur berkeping-keping.
"Biarlah semuanya berjalan seperti itu, tak apa kita kalah kali ini. Kita bukan kalah tapi situasi yang membuat langkah kita harus mundur. tapi kita harus pasang strategi untuk membalas semuanya." Chang Lie mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
"Ayo makan dulu. Untuk berpikir butuh kekuatan, kalau perut kosong bagaimana otak bisa bekerja." Indira mengangsurkan piring berisikan nasi goreng di hadapan chang lie, sementara Yoga hanya mencomot 2 lembar roti tawar tanpa selai apapun.
Yoga bungkam. Sepertinya, Yoga sedang mempertimbangkan apa yang di sampaikan Indira dan Chang lie barusan. kelihatannya sih begitu, Selebihnya entahlah.mulutnya mengunyah dengan malas, pandangan nya hanya tertuju pada satu titik, Yakni pada tangannya yang meremas-remas lembaran roti yang ada di tangannya.
Yoga tersenyum hambar, dalam kondisinya yang sedang terpuruk seperti saat ini, kedua orang tuanya justru khawatir akan reputasi mereka. Egois ! Pikirnya.
"Siapa si Robert itu ? Seberapa kuasanya dia ? Bahkan nama papa dalam dunia bisnis tersebut si brengsek itu bisa mengetahuinya, sudah lama papa bermain dunia itu, tapi tidak ada satupun yang bisa melangkahi portal keamanan kita. Kita harus berhati-hati terhadap si Robert, kalau Bagas sepertinya tidak terlalu mengkhawatirkan." Jelas Chang Lie panjang lebar, sementara Yoga hanya diam.
Indira telah menyelesaikan sarapannya,lalu bergegas dan bersiap untuk pergi. setelah berpamitan pada kedua lelaki nya itu, Indira
melenggang meninggalkan rumah.
Mobil yang membawa Indira telah memasuki halaman rumah besar milik keluarga Brata, Indira tersenyum sinis menatap rumah megah itu, entah apa arti dari senyumannya.
Semuanya sedang
berkumpul di ruang tamu bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan, tiba-tiba mereka melihat mobil yang sudah tidak asing lagi itu memasuki halaman. Semua mata menatap ke arah pintu, siapa gerangan yang akan muncul di ambang pintu beberapa detik kemudian.
Bagas dengan sigap segera berdiri saat melihat Indira muncul di ambang pintu, Bagas tersenyum menatap Indira. Lalu mempersilahkan wanita untuk masuk dan duduk bersama mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi nyonya Chang. Silakan duduk, saya yakin nyonya Chang belum sarapan. Karena ini masih terlalu pagi untuk bertamu." Bagas melirik Jam yang melingkar mewah di tangannya.
"Tutup mulutmu itu! Saya datang kesini untuk bertemu Lauren dan Alga juga Robert. Tidak ada urusannya dengan mu." Jawab Indira geram
Indira berjalan memutari sofa untuk mencapai Lauren. Alen menatap Indira bergidik ngeri, sorot mata Indira menatap nya sangat liar. Seakan seekor predator yang sedang mengincar targetnya.
"Kemarin dia menuding ku yang tidak-tidak, dan menatap ku penuh kebencian. Hari ini datang mau bertemu dengan ku dan Alga, aneh sekali perempuan ini." Batin Lauren
Indira menatap Alga yang sedang berada di pangkuan Robert, anak kecil itu menatap awas pada sekitar. Wajahnya menunduk, namun ekor matanya mampu melihat sekitarnya. Indira tersenyum di buat semanis dan setulus mungkin, ia menyodorkan kedua tangannya untuk menyambut Alga. Namun anak kecil itu tak bergeming, justru mengeratkan pelukannya pada Robert.
"Sayang sini sama Oma. Oma datang kemari untuk bertemu Al, Mommy dan uncle Robert. Apa Al mau ikut Oma sayang ?" Bujuk rayu Indira pada Al. Anak itu menggeleng beberapa kali.
"Tidak mau. Al sama mommy juga uncle Obet di sini aja." Ucap Al lantang dari balik lengan kokoh Robert
"Lauren, Robert. setelah perceraian Andita dan Yoga, kami akan menerima Lauren sebagai menantu kami. Bukan sebuah kesalahan jika Al dan Lauren tinggal bersama kami. Karena Al cucu kandung saya, itu artinya mereka bagian dari kami." Ucap Indira. Nyindir !
Deg....
Andita, Bagas, Brata dan Ayuningtyas secara bersamaan menatap ke arah Indira, Lauren juga Robert.
"Maaf. Alen tidak bersedia." Sahut Lauren singkat padat dan jelas.
"Menantu atau bukan di dalam tubuh Al tetap mengalir darah Prayogo, kandung atau bukan tapi rumah dan keluarga ini telah menerima kami layaknya keluarga kandung. Al tidak butuh pengakuan, cukup kalian ketahui saja bahwa di atas bumi ini ada anak biologis Yoga, yang pernah ia campakan dengan menghilang begitu saja tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Tegas Lauren.
"Jadi, hentikan sandiwara anda nyonya." Sahut Robert, namun tetap tidak mematahkan keinginan Indira untuk tetap mempengaruhi Lauren.
"Maafkan soal kisah masalalu kalian. Pikirkan masadepan Al, dia butuh seorang ayah dan keluarga yang utuh." Rayu Indira tanpa malu, tak mengubris ucapan Robert.
"Saya mampu memberikan yang terbaik untuk Al ! Nyonya tidak perlu khawatir soal itu, saya jamin bisa dan mampu mendidik Al dengan baik. Sejak di dalam kandungan Lauren hingga hari ini, saya sudah melakukan hal itu untuknya. Jangan khawatir berlebihan seperti itu, nyonya." Gelombang naik turun tekanan kata-kata Robert sangat menampar Indira.
"Ohya Andita. Kalau nanti kamu menikahi kakak palsumu itu, jangan lupa undang mantan mertua mu ini dan mantan suamimu." Indira tersenyum miring mengejek, lalu pergi menaiki mobilnya.
Andita menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang hanya diam membisu. tatapan penuh tanya meminta penjelasan ia layangkan, Karena dari kemarin calon mantan mertuanya itu selalu menyinggung soal hubungannya dengan Bagas.
"Bisa kalian menjelaskan sama Dita, apa maksud mama Indira ?" Tanya Andita memecah keheningan.
"Kakak palsu ? apa maksudnya. siapa disini yang menyamar sebagai kakak palsu ?!" Andita bersuara, dingin, lantang dan menikam.
Dag...dug...dag...dug...jantung Ayuningtyas bergejolak
"Sebaiknya kita berangkat sekarang,jadwal sidang kamu harini lebih awal. Sekarang sudah jam 8 pagi, ada kemungkinan kita terlambat kalau tidak berangkat sekarang." Ayu sedang berusaha mengalihkan perhatiannya Andita.
"Hm... baiklah. Janji sama Dita nanti tolong di jelaskan." Pinta wanita itu sembari menjinjing tas dan melangkah keluar.
Kembali diam. Hanya pergerakan tubuh saja yang mengisyaratkan bahwa Ayuningtyas, Brata dan Bagas bingung atas tuntutan Andita barusan. Tuntutan penjelasan !.
Bagas membuka pintu mobil untuk Andita,kali ini ia ambil alih kemudi sebagai supir pribadi Andita. Sedangkan Lauren bergabung bersama Brata dan Ayuningtyas, begitupun dengan Robert.
Bagas tersenyum tipis kala melirik wanita di sampingnya itu. Ada rasa bahagia yang membuncah memenuhi relung hatinya saat ini, harapan dan sinar cinta tak pernah pudar sedikitpun dari pancar matanya.
Andita menatap keramaian jalan, tiada cinta di sana. Tiada harapan lagi di sana, hanya kecewa dan luka yang bergelayut di raut wajahnya.
Baik Bagas maupun Andita tidak ada berusaha untuk mengobrol, Bagas juga bingung harus mulai dari mana. Tangan Bagas terulur menyalahkan musik melalui saluran radio untuk memecah kebisuan.
__ADS_1
Sebuah lirik lagu mengalun sendu menemani perjalanan mereka...hanya lagu kebetulan bukan di sengaja untuk di putar.
Song🎶
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Ku pandang tajam bolaa matamu...
Cantik dengarkanlah aku
Aku tak setampan don juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Ku sungguh memintamu...
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Lampu merah menyala menghentikan laju kendaraan Andita dan Bagas, tubuh Andita bergetar. Hujan kembali turun, membasahi bumi bersamaan turunnya titik embun di mata indah Andita.
Tiba-tiba hatinya merasa sangat terkoyak, tercabik-cabik tiada ampun.
"Mas tau kamu sedih, mas tau kamu terluka. Kalau kamu mau berbagi, mas akan selalu ada untukmu. Meskipun..." Bagas tidak melanjutkan kata-katanya.
Andita menoleh dan menatap Bagas, kedua tangannya standby di atas kemudi, pandangan nya jauh lurus kedepan.
"Mas..." Bagas menatap Andita, wajah cantiknya berlinang sungai air mata. Bagas menghapus air mata itu, lalu memeluk wanita itu penuh cinta dan kasih. Seakan memberikan perlindungan dan rasa aman melalui dekapannya, Andita menelusup kan wajahnya di dada Bagas melepaskan semua bebannya.
"Lagu tadi, membuat Dita makin sedih." Lirihnya. Oh ternyata Andita terbawa suasana !! Baper deh.
Bagas terkekeh geli kala mendengar cicitan Andita barusan. "Maafkan mas, mas gak tau lagu itu. Gak sengaja, maafin mas kalau bikin kamu sedih." Bagas menekan tombol off, lalu mengecup tipis puncak kepala Andita.
Andita menggeleng lalu mengangguk. Andita tidak melupakan cintanya terhadap Bagas, namun ia telah merubah perasaan cintanya sebagai pasangan menjadi cinta terhadap seorang kakak.
Mobil kembali melaju membela jalanan, menyapu tangis yang membasuh wajah Andita.
Akankah cintanya kembali bersemi setelah tahu bahwa Bagas bukan saudara kandungnya ? Bisakah Andita kembali membuka hatinya seperti sediakala ? Entahlah.
...----------------...
TBC
DETIK-DETIK AKHIR KISAH...
Ohya, nanti akan ada part keduanya ya. tapi sepertinya tidak akan update di sini.
__ADS_1
tetap berikan dukungan kalian, dengan tap ❤️,vote dan like.
selamat berakhir pekan. salam hangat dari Mentari Impian 🙏