Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~40 masih versi flashback on#


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Ayah saya Dokter ?" tanya Brata dengan wajah dan tatapan kacau.


"Maafkan saya, tuan Broto sudah tiada" ujar Dokter itu sedih.


tentu saja ia sedih, karena hampir separuh waktu selama ia bekerja sudah menjadi Dokter pribadi keluarga Subroto.


dimata sang Dokter, pak Broto merupakan sosok yang berjiwa sosial,suka membantu tanpa pandang bulu.


"Semoga Allah membalas semua kebaikan beliau,dan semoga semua amal ibadahnya di terima-Nya." doa sang Dokter


lalu ia menoleh pada sosok Nyonya besar rumah tersebut,Dokter memandangi wajah Candrawati.


"Sebaiknya nyonya di rawat di rumah sakit saja,Tuan" ujar Dokter itu.


Brata menoleh saat Dokter itu bersuara, hampir saja melupakan Ibunya juga hampir menjemput ajalnya akibat perbuatan perempuan Jahanam itu.


"Kalau begitu,lakukan Dok" perintah Brata.


"Hei Brata...apa kau lupa ? siapa yang mengatur keuangan dirumah ini !! Nyonya Anjani!. sekali lagi saya tegaskan 'Nyonya besar Anjani !!" ujar perempuan Iblis itu menunjuk-nunjuk dadanya.


Brata menatap tajam pada Anjani. "Apa maksudmu Anjani ?!" Tanya Brata menatap marah pada perempuan itu.


"Hm...maksudku jika aku yang memberi perintah bawah kerumah sakit,barulah kau bawah perempuan tua tak berguna itu,sayang" ucap Anjani sambil membelai wajah Brata.


"Jangan sentuh aku brengs*k !!"


"Maaf Nyonya besar Anjani yang kepar*t !! aku melupakan hal itu. aku akan berhutang denganmu untuk biaya selama perawatan Ibuku !!" Tukas Brata geram dengan mengepalkan tangannya.


"Bagus,kali ini aku akan berbaik hati padamu ! Suamiku" ujar Anjani dengan tersenyum manis.


"Lakukan sekarang Dok !!" Perintah Brata lagi.


Dokter itu mengangguk dan segera menghubungi pihak rumah sakit,agar segera mengirimkan Ambulance dan peralatan yang di butuhkan.


"Lalu bagaimana dengan bangkai itu ?" celetuk Anjani menunjuk raga Subroto yang sudah terbujur kaku.


"Cepat singkirkan dia dari sini,aku tidak sudi rumahku ini beraroma bangkai !" Tukas Anjani lagi sambil menutup hidungnya.


Dokter itu hanya menggeleng-geleng melihat ada hal yang tak beres terjadi di antara mereka.


"Tuan, kita bawah jenazah Almarhum ke masjid yang terdekat di sekitar sini saja." ujar sang Dokter memberikan saran.


Brata mengangguk dan ia hanya mampu menangis,berusaha untuk bersabar menghadapi tingkah laku perempuan laknat itu.cukup banyak pertimbangan Brata untuk tidak melawan Anjani saat ini, Ibunya membutuhkan biaya juga nyawa anaknya bisa terancam di dalan perut perempuan itu jika ia bertindak saat ini.


"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa hamba. Begitu perih hukuman yang engkau limpahkan kepada hamba-Mu yang lemah ini,hamba rela menerima semua ini asal engkau melindungi orang-orang yang hamba sayangi" doa Brata dalam hati.


setelah pihak rumah sakit membawa Candrawati ke rumah sakit, Brata di bantu Dokter dan beberapa pekerja di rumahnya mengurus jenazah Ayahnya.


Lalu ia mengangkat mayat Almarhum Subroto, dan membawanya ke masjid terdekat.hanya tempat itu saat ini yang menjadi tujuannya,agar bisa memakamkan jenazah orang tuanya secara layak.


ia ingin fokus terlebih dulu pada pemakaman,setelah itu pada perawatan ibunya. sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertindak keras terhadap perempuan itu,kedua orang tuanya jauh lebih penting baginya untuk saat ini.


Setelah selesai memandikan jenazah Ayahnya, Brata melihat ruangan masjid penuh sesak oleh orang-orang yang datang melayat,ia sungguh terharu Ternyata masyarakat sekitar dan tetangga nya masih perduli dengan Ayahnya meskipun beliau telah lama tak mengikuti kegiatan masyarakat sekitar karena terserang stroke.


Sholat jenazah di pimpin langsung oleh imam masjid tersebut,di ikuti lautan Ma'mum belakang nya.


Selesai pemakaman Ayahnya, Brata masih tergugu menatap gundukan tanah kuning dihadapan nya itu. beberapa masyarakat yg masih disana mendoakan pak Subroto, termasuk Imam Masjid tadi dan Iman itu melangkah menghampiri Brata.


"Nak, Insyaallah surga tempat Ayahmu." ujar Imam Masjid tadi menyentuh pundak Brata.

__ADS_1


"Kenapa saat di masjid banyak sekali yang ikut Sholat bahkan sampai mengantar beliau ke peristirahatan terakhir,karena Almarhum orang baik dan Masjid tadi Ayahmu yang membangun nya khusus untuk masyarakat.Beliau orang baik,suka membantu dalam segala hal" Ujar Imam Masjid tersebut seraya menepuk-nepuk pundak Brata.


"Pulanglah Nak, Ibumu membutuhkan mu" ujar Imam itu lagi.


seketika Brata terhenyak, kala teringat ibunya sendiri dirumah sakit.


perlahan ia berdiri memandang pada pak Imam yang masih berdiri disana,juga pada Dokter pribadinya.


"Mari tuan kita kerumah sakit" ajak sang Dokter


Brata mengangguk,dan menatap wajah damai pak Imam. "Pak terima kasih,sudah membantu saya selama proses pemakaman Ayah" Lirih Brata.


"Sama-sama Nak, ayo kita pulang" ajaknya.


Brata, Dokter, Imam,dan masyarakat yang hadir di pemakaman tadi berangsur pulang meninggalkan Area pemakaman


...----------------...


2 Minggu kemudian....


Setelah tak dapat melanjutkan perawatan dirumah sakit dengan terpaksa Candrawati di bawah pulang kerumah, karena Anjani sudah menyetop biaya perawatannya. Dokter pribadinya yang sempat menawarkan perawatan gratis pada Candrawati,seketika itu juga di pecat oleh perempuan gila harta itu,


Dengan dalih menghabiskan uang saja.


"Kau benar-benar tak punya hati Anjani !" Geram Brata.


"Hahaha...ya kau benar sekali sayang.aku memang tak punya hati untuk mereka yang tak penting bagiku,apa lagi perempuan tua itu" ujar Anjani seraya tersenyum penuh kemenangan.


Brata meninggalkan Anjani menuju ke kamar Candrawati,tanpa menanggapi ucapannya lagi. "Bu ?" Panggil Brata.


Candrawati menoleh dan Tersenyum getir menatap putranya,air matanya menggenang membasahi pipinya, tangannya mengelus lembut rambut Brata.


"Sudah tak usah ibu sesali, aku hanya ingin ibu sembuh.yang lainnya biar nanti Brata urus,jangan ibu pikirkan" ujar Brata.


Candrawati makin terisak, dirinya merasa sangat bersalah pada putranya juga pada Ayuningtyas.


"Setelah perempuan itu melahirkan, ceraikan dia.kembalilah pada Ayuningtyas, ibu merestui kalian" ujar Candrawati.


Brata mengangguk "Itu sudah aku pikirkan bu" jawab Brata.


Brata tak menyadari perempuan ular itu mendengar semua percakapannya dengan ibunya.


"Kurang ajar kau Candrawati ! Kita lihat saja, apa bisa Brata kembali pada Ayuningtyas atau tidak." Anjani mengepalkan tangannya.


Otak jahat Anjani terus berputar memikirkan bagaimana caranya agar bisa menghalangi Brata kembali pada Ayuningtias,setelah cukup lama terdiam berpikir bibirnya menyunggingkan senyuman. Senyum penuh kejahatan,seringai jahat bagai Iblis tersirat di senyum perempuan itu.


"Jika kedua orang tua Ayu mampu aku singkirkan,aku juga mampu menyingkirkan mertuaku itu" ujar Anjani seraya tertawa.


Satu bulan kepergian Subroto,satu bulan Candrawati terbaring lemah tanpa mendapatkan pengobatan yang baik. Brata benar-benar menjadi budak bagi Anjani tanpa bisa berbuat banyak, karena memikirkan nasib anaknya yang sebentar lagi akan lahir.


Hari itu....


"Anjani kamu mau apa ?" Tanya Candrawati takut saat ia di paksa duduk di kursi roda.


"Ikut saja denganku bu" jawab Anjani lembut tapi justru membuat bulu kuduk Candrawati meremang.


Anjani mendorong kursi roda Candrawati keluar dari kamarnya, lalu di bawahnya ke arah tangga.


"Anjani ! Kau mau apa ?!" Tanya Candrawati cemas,ketika melihat tangga membentang di hadapannya.

__ADS_1


"Hahaha...jangan takut mertuaku sayang.kita hanya akan bermain sebentar,agar otot-otot mu tidak kaku dan tegang setelah satu bulan tanpa olahraga" ujar Anjani penuh senyum licik.


"Ibu, apa kau menginginkan Brata kembali pada Ayuningtyas ?" Tanya Anjani.


Candrawati menatap marah pada perempuan itu. "Ya ! Karena aku tidak sudi memiliki menantu ular sepertimu !" Geramnya.


"Ohya,bagaimana jika keinginan mu itu tidak terwujud ?" Tanya Anjani lagi.


"Brata yang akan mewujudkan nya ! Aku menyesal percaya padamu ! Menyesal sudah memaksa Brata menikah denganmu !" Seru Candrawati.


Anjani geram, menatap Candrawati berkata seperti itu.


"Kau lihat tangga itu mertuaku sayang, bagaimana jika aku dorong kau dari sini ?" Bisik Anjani di telinga Candrawati.


"Jangan lakukan itu Anjani,kau sudah cukup menyakiti keluarga ku.kau sudah mengambil semuanya ! Kau sudah memiliki semuanya ! Aku mohon jangan Anjani." Tukas Candrawati ketakutan membayangkan dirinya terguling di tangga itu.


"Baiklah.aku tidak akan mendorong tubuhmu ke tangga itu, asal kau menarik seluruh ucapan mu" jawab Anjani.


"Maksudmu ?!" Tanya Candrawati


"Kau suruh Brata menandatangani surat cerai ini, jika tidak kau akan segera menyusul suamimu dan kedua orang tua Ayuningtyas." Ujar Anjani seraya menyerahkan dokumen perceraian Brata dan Ayuningtyas.


"Kau sungguh biadab Anjani, tidak akan selamat hidupmu dunia dan akhirat !" Seru Candrawati.


"Hahaha...apa kau lupa ibu,bahwa kau juga menginginkan perceraian Brata dan Ayuningtyas !" Tukas Anjani sembari menatap wajah ibu mertuanya itu.


"Bagaimana kau setuju ? Atau kau ingin menyusul suamimu ?" Tanyanya lagi.


"Ya.tapi jangan perna kau mengusik kehidupan Ayuningtyas lagi !" Seru Candrawati.


"Hahaha... Terima kasih mertuaku sayang.ternyata kau masih berguna untukku, meskipun kau sudah lemah." Sahut Anjani.


"Ohya untuk tidak menggangu Ayuningtyas,aku tidak bisa berjanji bu. Semua tergantung pada Ayuningtias,jika dia masih berusaha menganggu suamiku maka aku tidak akan tinggal diam." Ucap perempuan itu sambil membawa kembali Candrawati ke kamarnya.


"Ingatkan pada putra kesayangan mu itu,aku mau besok pagi surat itu sudah dia tanda tangani.jika tidak...kau sudah tau akibatnya !" Ancam Anjani sebelum meninggal kan kamar mertuanya.


...----------------...


"Dasar perempuan siluman ! Kau benar-benar licik !" Seru Brata setelah mendengar cerita Ibunya.


Brata kembali menerima kenyataan pahit dan getirnya kenyataan yang harus ia terima, dengan terpaksa ia menceraikan Anjani. Demi keselamatan ibunya, keselamatan nyawa putranya,juga keselamatan Ayuningtyas.


Air matanya tak kuasa tertumpah,ketika menanda tangani surat perceraiannya dengan Ayuningtyas. "Maafkan mas,sayang. Semua ini terpaksa mas lakukan, demi keselamatan mu" batin Brata.


Sementara Anjani bersorak bahagia kala Brata mengabulkan permintaan gilanya itu, Anjani menang berkali-kali tanpa ada perlawanan sedikitpun dari Brata.


flashback of#


...----------------...


"To Be Continued"


apa yang bisa kalian petik dari kisah Brata di atas ??


terus dukung karya Mentari Impian dengan vote dan like sebanyak-banyaknya 🙏.


Maaf author telat update,karena sedang sibuk banget.tapi sebisa mungkin Thor tetap update untuk kalian yang selalu setia menanti kelanjutan cerita "Pacarku Suami Temanku"


kasih semangat author terus ya🙏

__ADS_1


Salam hangat dari Mentari Impian 😘


__ADS_2