
Udara dingin menyambut kedatangan Andita dan timnya, yang ikut hanya beberapa orang saja. Sebagian berdalih tidak mempunyai persiapan baju hangat, selebihnya tugas mereka sebagai tenaga medis sudah menanti di tempat kerja masing-masing.
Sebagai orang kepercayaan Brata untuk menjaga Andita tono dan kedua rekannya bertanggung jawab mengurus semuanya, sebelum mereka memasuki area Bromo. Dan hal itu mereka jadikan kesempatan untuk membuat semuanya menjadi lebih mudah, sesuai instruksi Robert Villa sudah ia siapkan untuk 3 hari kedepan.
Villa dengan 3 kamar dan kolam renang pribadi, memiliki restoran yang menyajikan pemandangan yang sungguh indah luar biasa. Villa ini juga menyediakan piknik padang Sabana saat ingin melihat matahari terbit.
Tim lainnya berada di Villa yang sama dengan Andita, tetapi mereka berada di Room yang memiliki Double bed. Meskipun di room yang kelas menengah tidak mengurangi kebahagiaan mereka, saat mendapat liburan gratis.
Andita merasa sedikit Janggal saat memasuki Room dengan fasilitas yang wow, bagaimana tidak merasa janggal biaya patungan mereka tidak sebanding dengan harga menginap tiga hari tiga malam di sana. Belum lagi mendapatkan pelayanan terbaik, oh tidak!. Tapi, full service.
Andita menatap nanar pada undangan makan malam dari Villa tersebut, bagaimana bisa ia mendapatkan semua itu. Sedangkan dirinya hanya orang asing, yang datang layaknya pengunjung lainnya.
Karena merasa penasaran Andita menghubungi pihak manager Villa tersebut.dan bukan memberikan informasi melalui sambungan telepon, justru orang itu dengan suka rela menemui Andita bak tamu agung.
"Permisi nona Andita." Sapa sang manager yang di dampingi dua staf sekaligus.
Andita menatap terkejut pada orang itu, bagaimana bisa dia mengetahui namanya.
"Maaf. Apa anda mengenal saya ?". Tanya Andita dengan raut terkejut.
Sang manager tertawa kecil ketika mendapat pertanyaan dari Andita.
"Tentu saja saya tau Nona. Semua pengunjung di sini terdata dengan jelas." Jawabnya singkat namun sangat logis.
Andita menatap wajah mereka satu persatu, Andita menyunggingkan senyum kikuk. Ia merasa bodoh menanyakan tentang itu.
"Apa semua pengunjung disini mendapat undangan makan malam juga, seperti saya ?." Tanya Andita kemudian, melepas rasa penasaran yang memenuhi benaknya.
"Tentu saja Nona. semua pengunjung disini mendapat undangan makan malam istimewa setiap akhir pekan. Sebagai bentuk apresiasi kita terhadap kunjungan mereka ke Villa ini." Dalih sang manager, padahal yang sebenarnya justru Restoran dan Villa itu sudah di booking oleh Robert atas perintah sang sahabat. Bagas, ya siapa lagi kalau bukan dia.
"Oke. Terima kasih untuk itu." Sahut Andita
"Kalau begitu, saya permisi. Jangan lupa untuk datang di acara makan malamnya nona." Ucap sang manager sopan dan meninggalkan Andita. Andita hanya mengangguk menanggapi ucapan dari sang manager Villa tempat nya menginap saat ini.
Andita menatap sejenak pemandangan indah di luar kamarnya, ia menengadah memejamkan mata menikmati udara sejuk menyegarkan tubuh lelahnya. Kedua tangannya bertumpu menggengam pinggiran pembatas, antara Villa dan pinggiran kolam renang.
Tanpa Andita sadari seseorang tengah menatapnya dari tempat yang tersembunyi, menatap penuh cinta dan kerinduan yang mendalam. Seutas senyum terukir manis dari balik jendela kaca sebuah Villa yang berdekatan dengan Villa Andita, di tangannya berada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Pemandangan nya saat ini jauh lebih indah dari pada keindahan Bromo sore ini.
"Selamat datang sayang." Desisnya masih dengan Bibir yang tersenyum.
Bagas ! Ya, siapa lagi kalau bukan Bagas. Lelaki yang begitu tergila-gila pada cinta pertamanya. Andita. Wanita lain bahkan tak mampu sedikitpun menggeser posisi kedudukan nya di hati seorang Bagas, mencintai dan menyayangi Andita sudah tertanam kuat di dalam hatinya.
...----------------...
Pihak Villa yang kebagian mendekor restoran tengah sibuk dengan tugas masing-masing, sesuai instruksi Erwin mereka tengah menyiapkan acara makan spesial malam ini, yang akan lebih membuat mata takjub adalah dekorasi restoran di sulap begitu indah.
Sekilas dekorasi nya hanya mengesankan pada acara ulang tahun biasa. Tapi, jika di perhatikan secara detail dekorasinya lebih pada acara lamaran.
Balon warna warni di rangkai dengan sangat cantik, kain putih beserta rangkaian bunga-bunga segar, sentuhan gemerlap lampu LED menambah keromantisan ruang restoran saat ini. Selebihnya kalian deskripsi kan saja sendiri ya.
Kue tart sudah di pesan secara khusus oleh Robert, kue tart berwarna putih dengan ukiran yang sangat menonjolkan ciri khas seseorang. Bentuknya sangat unik, seorang bidan dengan pakaian lengkap bak bidan sungguhan. Tangannya Memegang setangkai mawar putih Dengan senyum yang menawan. Untuk mendapatkan kue yang unik itu, Robert harus membayar seseorang yang sangat mumpuni dalam pembuatan karakter tart, dan harganya pun sangat fantastis. Tentu saja, membuat kue dengan detail unik seperti itu membutuhkan tenaga ahli dan waktu yang tidak sedikit.
Lampu-lampu restoran di ubah menjadi lebih temaram,tak lupa bentangan karpet merah dengan taburan berbagai jenis bunga segar menyebarkan wangi menenangkan hati membaur menjadi satu dengan balon warna-warni. Satu kata "Romantis!".
Jangan tanya Bagas, pria itu hanya terima beres. Semuanya sudah ia serahkan sepenuhnya pada kedua sahabatnya Erwin dan Robert, Bagas mana bisa menciptakan suasana seromantis itu.
Pukul 16.49 menit...
Andita membongkar kopernya meneliti seluruh pakaian yang layak untuk dia pakai di acara makan malam dadakan itu. Hm...,dadakan bagi Andita namun tidak bagi seseorang.
Waktunya untuk bersiap menyisakan satu jam saja, Andita bingung.tak ada satupun baju apa lagi gaun yang pantas untuk dia pakai.
Andita kembali meminta bantuan kepada pihak Villa. Ya, satu-satunya yang bisa membantunya saat ini adalah orang-orang Villa, Tono mana mungkin bisa ia andalkan untuk mencari gaun dan heels yang pantas untuk dirinya malam ini.
Tok...tok... "Permisi." Suara seorang perempuan di balik pintu kamar Andita.
"Ya, tunggu sebentar." Sahut Andita, Andita melongokkan kepalanya di antara pintu yang ia buka setengah, senyum ramah menyambutnya di depan pintu.
"Perkenalkan saya Amira, anak dari pemilik Villa ini. Panggil saja saya Ami. Apa ada yang bisa saya bantu ?". Amira memperkenalkan diri sekaligus menawarkan bantuan untuk tamu spesial nya itu.
Sekilas Andita menatap uluran tangan Amira, lalu menyambut nya tak kalah hangat pula. "Andita Rosmanilla, panggil aja aku Andita atau Dita. Silakan masuk." Jawab Andita ramah dengan membuka lebar pintu kamarnya.
Mereka duduk di sofa ruang tamu Villa, berbincang-bincang sejenak hanya untuk melepas kecanggungan.
"Apa yang bisa saya bantu untukmu, Andita ?." Amira kembali bertanya
"Ohya. Saya mendapat undangan makan malam dari Villa ini, sedangkan saya tidak mempunyai persiapan apapun. Kedatangan saya kesini hanya sekedar mampir, tidak sama sekali masuk dalam daftar agenda saya. Apa kamu bisa membantu mencarikan pakaian yang layak untuk saya, Ami ? Saya sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini sebelum nya." Ujar Andita
Amira tersenyum simpul menatap Andita.
__ADS_1
"Silakan kamu bersihkan diri, 30 menit dari sekarang saya akan kembali kesini." Sahut Amira sembari beranjak.
"Terima kasih, Ami." Jawab Andita lega
Amira kembali tersenyum manis lalu keluar meninggalkan Villa yang di tempati Andita.
"Kamu wanita beruntung Andita. Bahkan semua keperluan mu selama di sini sudah di persiapkan secara lengkap olehnya. Ini merupakan kejutan terindah yang pernah saya lihat." Amira melenggang menuju koridor yang terhubung dengan pintu masuk Room Bagas.
Tok...tok..." Masuk." Sahut penghuni Villa dari dalam, Bagas.
"Mana gaun untuknya. Kalau dia tidak menghubungi pihak Villa, saya pastikan Andita akan memakai baju dinasnya malam ini. Hahaha..." Canda Amira pada Bagas.
Bagas hanya tersenyum menanggapi ucapan Amira.
Bagas memberikan kotak berisikan gaun serta heels pada Amira, sejenak Amira meneliti gaun yang masih terbungkus rapi itu. Dan sudah di pastikan harganya cukup fantastis, begitupun dengan heels nya. Paduan yang sempurna.
"Sejak kapan kamu bisa belanja barang wanita ?". Tanya Amira
"Saya bahkan tidak mengerti sama sekali barang yang di perlukan wanita. Semua ini atas bantuan Lauren, adik dari Robert." Sahut Bagas jujur. Ya, itu benar. Bagas tidak pernah memberikan hal-hal yang berbau romantis untuk Andita sebelumnya. Tidak mengerti dan tidak berusaha mengerti, itulah Bagas.
"Payah. Setelah ini kamu harus banyak belajar dari kedua sahabat mu itu." Amirah menimpali
"Hehehe... sepertinya begitu." Bagas menanggapi Amira.
Amira melirik jam tangannya.
"Kalau begitu saya permisi, saya pastikan Andita akan tampil memukau malam ini. Khusus untuk mu." Amira beranjak dan meninggalkan ruangan Bagas.
Bagas mengangguk dan tersenyum, mengiringi kepergian Amira.
"Bagaimanapun Penampilanya, selalu memukau bagiku." Gumam Bagas, setelah kepergian Amira.
Bagas kembali duduk di Sofa yang menghadap kaca, matanya memandang hamparan keindahan alam yang sejuk diluar sana. Ponselnya bergetar menampilkan notifikasi pesan dari Robert, Bagas segera membaca isi pesan itu.
"Semuanya sudah siap. Semoga berjalan sesuai keinginan dan harapan mu sobat." Isi pesan Robert.
"Amiin." Gumam Bagas, tanpa membalas pesan dari Robert. Tangannya merogoh saku celana jeans nya, mengeluarkan kotak bludru berisikan cincin berlian.
Bagas membawa cincin itu kehadapan bibirnya, ia sapukan kecupan beberapa kali disana.
"Semoga kita bisa kembali bersama, mas janji akan berubah untukmu. Mas akan menjadi sosok Bagas yang baru, bukan Bagas yang Egois seperti katamu. Mas tidak perduli apapun keadaan kita, mas hanya ingin menghabiskan seluruh hidup mas untukmu." Desisnya, lalu menyimpan kotak bludru itu kembali.
...----------------...
Tak jauh berbeda dari Bagas saat ini Andita juga tengah sibuk bersiap di bantu oleh Amira, ia mematut wajahnya di hadapan kaca besar di dalam kamarnya.
Andita bukan tipe wanita yang suka dempulan, ia hanya merias wajah nya tipis-tipis saja. Tipis namun berkelas, anggun dan elegan.
Dalam balutan gaun berwarna dark blue gaun pesta model mermaid, Andita sungguh memukau, takkan ada yang mengira bahwa Andita seorang Janda. gaun mermaid yang di pakainya memiliki style yang fit dibadan atas hingga lutut dan melebar kebawah tepatnya dibagian kaki. Model gaun ini membuat lekuk tubuh Andita yang langsing menjadi lebih menawan. Selain itu, model halter neckline dan juga sleveeless pada gaunnya mengekspose bahu indah Andita. Heels warna senada membalut kaki jenjangnya, menambah kesan cantik, anggun dan elegan.
"Sempurna. Kamu cantik sekali Andita." Puji Amira tulus.
"Terima kasih, Amira. Apa penampilan ku tidak berlebihan hanya sekedar menghadiri makan malam, bahkan aku tidak mengerti dengan undangan ini. Aku hanya pengunjung biasa di sini, bukan tamu spesial juga ?." Keraguan dan tanda tanya tercetak jelas di mata Andita.
Amira tersenyum menatap kedua mata Andita.
"Dimana pun kau itu, selalu spesial untuk seseorang yang mengangumi mu Andita." Ujar Amira
"Apa maksudmu, Amira ?." Tanya Andita penasaran
"Lupakan.nanti kau akan mengerti sendiri dengan semua ini. Malam ini adalah malam spesial untuk mu, berpikir positif saja. Semoga kamu bahagia, Andita. Aku harap kamu mau menuruti perintah ku, untuk menutup mata mu hingga sampai Restoran." Tukas Amira sungguh- sungguh.
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Andita saat ini. Andita punya keyakinan sendiri, bahwa makan malamnya ini sudah di rencanakan. Andita bukan wanita bodoh yang bisa di kelabui begitu saja, saat ini saja ia sangat yakin dengan kata hatinya. Makan malam yang di rencanakan !!. Itulah keyakinan Andita. namun, siapa dalang di balik semua itu masih samar di benaknya.
Tak ingin mati penasaran Andita menyetujui permintaan Amira, dengan senang hati Amira menutup mata Andita. Setelah di rasa Andita tidak mampu melihat apapun, Amira tersenyum dan mengetikkan sebuah pesan singkat di ponselnya.
"Tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik aja kok, aku harap kau bahagia dengan semua ini." Bisik Amira pada Andita
"Jika sebuah kebahagiaan maka akan aku sambut dengan bahagia pula, tapi jika ini sebuah jebakan yang merugikan ku maka, aku akan menuntut kalian semua.!" Desis Andita serius.
Sang pangeran sudah menanti wanita impiannya di depan pintu Room Villa Andita, dalam balutan kaos putih ketat yang mampu menonjolkan bentuk tubuhnya yang proporsional dan jas slim fit warna navy blue di padu celana jeans warna senada pula, kakinya terbungkus sneakers warna putih. Penampilan Bagas Tidak terlalu formal. tapi, rapi dan mampu menjerat kaum hawa pastinya. Apakah Andita termasuk kaum hawa yang akan terpikat ? Entahlah.
Sekilas wajah tampan Bagas terlihat gelisah, kegelisahan Bagas tak lain dan tak bukan, karena takut tidak bisa meraih Andita. Sejauh ini ia melangkah apakah Andita mampu ia rengkuh kembali ? Mampukah ia kembali menaklukkan hati wanita yang sangat di cintainya itu.
Ceklek...pintu Villa Andita terbuka lebar, menampilkan sosok wanita yang di gilai Bagas. Mata Bagas terpaku menatap wanita yang berdiri di hadapannya saat ini, degup jantung nya bertalu-talu.
Amira tersenyum menatap Bagas sambil membimbing Andita untuk lebih dekat dengan Pria itu, Amira kembali tersenyum manis melepaskan genggaman tangan Andita di tangannya dan menautkan tangan Bagas di jemari Andita.
Andita menepis tangan asing yang menyentuh nya barusan, namun hatinya berkata lain. Tangan itu, seperti pernah menyentuhnya.
__ADS_1
"Siapa Pria itu, Amira ! Aku tidak mau datang bersama orang asing !!". Tukas Andita dengan nada suara tinggi.
"Ayolah Andita. Kau bahkan belum mengetahui semuanya, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu. Bersikaplah tenang, dan elegan. Ayo bidadari melangkahlah, sambut bahagiamu malam ini." Bisik Amira pada Andita mengacuhkan perkataan Andita barusan. Andita hanya tersenyum canggung membalas kata-kata Amira. Demi menghargai sesama Andita hanya mampu menuruti perintah Amira, kalau mau mengikuti kata hatinya tangannya sudah gatal untuk membuka penutup mata nya saat ini juga.
Wangi maskulin dari tubuh Bagas menyeruak memenuhi penciuman nya, wangi yang menenangkan hati dan pikirannya. Sekilas Andita terbayang seseorang, ia tersenyum tipis dan semua itu tidak luput dari perhatian Bagas.
Bagas kembali menyentuh tangan Andita, lebih erat dari sebelumnya. Membawa Andita melangkah, menapaki jalur menuju restoran. Andita tidak menolak, ia berusaha setenang mungkin. Meskipun dadanya bergemuruh hebat.
"Apa dia Pria yang di katakan Amira, seseorang yang mengagumi ku.?" Batin Andita
"Apa aku mengenal mu ?." Tanya Andita di sela-sela langkahnya. Tak ada jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan.
"Kamu bisu ?!". Kesal Andita, karena tak mendapatkan jawaban dari pria yang saat ini sedang menggengam erat Tangannya.
'Dimana Tono, dan timnya yang ikut bersamanya. Kenapa mereka tidak ada satupun yang datang menemui ku.' Batin Andita
Alunan musik mengalun merdu menyambut kedatangan Andita, suasananya tenang bahkan terkesan sepi. Tidak seperti acara makan malam pada umumnya, yang riuh dan ramai. Langkah kaki Andita terhenti, telinganya ia pasang sebaik mungkin menelisik sekitarnya saat ini. Bagas membawa Andita memasuki ruangan restoran, tapi Andita ragu untuk melanjutkan langkahnya.
Bagas tidak ingin Andita berpikir macam-macam sebelum semuanya terlambat, Bagas berdiri lebih dekat bahkan tiada jarak di antara mereka.
"Selamat ulang tahun, bidadari hatiku." Bisik Bagas tepat di belakang telinga Andita. Bagas tidak ingin membuat Andita terlalu lama tenggelam dalam penasaran.
"Mas Bagas!. Ulang tahun?." Desis Andita gugup dan terkejut. ia bahkan lupa hari kelahirannya. degub jantung Andita berdentum tak karuan. Setelah sekian lama,debaran itu, perasaan itu kembali menyerang bagian hatinya yang terdalam.
"Iya, ini mas sayang. Tunggu sebentar mas buka tutup matamu." Jawab Bagas lembut.
"Surprise !!" Teriak semua yang hadir di sana, tanpa terkecuali Tono dan rekannya juga tim yang bersamanya, Robert dan Erwin, juga seluruh karyawan Villa yang turut memeriahkan acara ulang tahun Andita.
Tepuk tangan riuh rendah memenuhi restoran, di mana Andita berdiri mematung saat ini. Mata Andita fokus pada satu titik, hal pertama yang ia lihat dada bidang pada Pria yang saat ini berdiri tegap di hadapannya.
Instrumen lagu happy birthday mengalun lembut, memenuhi pendengaran Andita. Penerangan yang temaram tak mampu menutupi keterkejutan Andita, rona merah membias di pipi mulus nya.
Bagas tersenyum setelah selesai membuka penutup mata Andita. Tangannya terulur membawa Andita melangkah menuju kue tart khusus untuk sang kekasih. Bagi Bagas, Andita tetap lah kekasih hatinya.
Andita tak mampu berkata banyak, matanya sesekali terpejam tak percaya dengan apa yang di lakukan Bagas untuknya. Andita memandang seluruh penjuru ruangan, semuanya tertata apik dan menarik. Andita tersenyum melirik Bagas yang berdiri di sampingnya.
"Untuk apa mas melakukan semua ini ?". Tanya Andita
" kenapa mas melakukan semua ini ? untuk orang yang spesial. spesial dalam hati ku. Dan itu kamu." Sahut Bagas dengan terus melangkah membawa Andita menuju meja kue tart.
Deg...deg... Jantung Andita kembali berdebar. Kala mendengar jawaban Bagas.
"Sejak kapan mas menjadi Pria romantis ?". Tanya Andita kemudian, dari kata-katanya terselip ungkapan yang mengejek Bagas.
"Mulai malam ini." Jawab Bagas sungguh-sungguh.
Lagi-lagi Andita terpukau saat sudah berdiri menghadap kue tart, mulut Andita berdecak kagum.
"Waw !!! Mas, kue ini seperti Dita ya." Andita menatap antusias pada kue tart itu, layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Kamu menyukainya ?". Tanya Bagas
Andita mengangguk " Hm.." sahutnya
"Terima kasih mas, untuk semua ini." Andita menatap wajah Bagas, tiada kecanggungan lagi di antara mereka. Bibir Andita tiada henti-hentinya tersenyum.
"Kamu harus berterimakasih pada kedua orang itu, merekalah yang berperan sepenuhnya. Mas hanya bisa memerintah mereka." Jujur Bagas menatap kedua sahabatnya yang sedang duduk berhadapan di kursi tengah-tengah restoran.
"Sudah ku duga, kamu mana bisa romantis." Ejek Andita
"Mas, akan belajar melakukannya untukmu." Sahut Bagas. rona merah kembali membias wajah Andita.
Bagas memberikan instruksi kepada Robert dan Erwin, juga pada seluruh pihak Villa. Acaranya akan segera di mulai.
Semuanya maju lebih dekat di hadapan mereka, musik merdu nan syahdu mengalun lembut.
Bagas meraih bunga mawar putih dalam genggaman tangan Bidan berbentuk tart itu, lalu memberikannya pada Andita.
"Berdo'alah. Mulai malam ini lupakan semua yang sudah terjadi, buka lembaran baru dengan sosok Andita yang baru pula." Lirih Bagas seraya menatap manik mata Andita yang tiba-tiba berkabut dan berkaca-kaca.
Erwin menancapkan lilin berbentuk angka 27 di atas kepala Bidan berbentuk tart itu, lalu menyulutkan api disana.
...----------------...
bersambung
jangan lupa tap ❤️ like dan vote ya !!
update nya segitu dulu ya🙏
__ADS_1
maaf jika banyak kata yang kurang berkenan 🙏