Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~99


__ADS_3

Malam beranjak semakin larut namun Bagas belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih menatap langit yang bertabur bintang. Semilir angin malam membelai kulitnya tak ia hiraukan, pikirannya melayang pada Andita sekaligus tentang Yoga dan Lauren.


Bagas menengadahkan wajahnya menatap langit, ia mendesah pelan. Kala mengingat tatapan sinis dan kata-kata tajam yang Andita tujukan pada Yoga tadi sore.


"Apa mereka mempunyai masalah ? Tapi kenapa papa tidak memberitahuku. Kalaupun benar, apa hubungannya denganku ? Aghhh..." Bagas ingin menghindar ! Namun otaknya tidak bisa untuk tidak memikirkan wanita itu. Andita. Ya, hanya Andita dan Andita. Kenapa Bagas selalu memikirkan wanita itu, sedangkan dia sudah menjadi milik orang lain.


"Lauren...Yoga ? Siapa mereka, apa mereka mempunyai hubungan sebelumnya ? Aku penasaran. Aku akan bertanya langsung pada Lauren kalau begitu." Bagas beranjak dari kursi taman, dan melangkah memasuki rumah.


***


Lauren terperanjat ketika sosok Yoga memasuki kamarnya dan dia menyadari kedatangan Pria itu, sangat sadar. Meskipun terkejut, lauren segera menormalkan kadar keterkejutan nya, dan menatap lelaki itu tanpa takut. Lauren belum bisa tertidur, ia sedang memikirkan cara bagaimana menyampaikan tujuannya. Hm... Semula ia ingin mencari lelaki itu, akan tetapi tuhan memudahkan semuanya. Ternyata mereka berada di bawah atap yang sama, dan dia suami Andita.


"Aku ingin bicara." Yoga menatap dingin pada Lauren, wanita itu bangkit menghadap Yoga.


"Aku baru saja memikirkan bagaimana caranya bicara denganmu, kebetulan sekali kau datang." Tutur Lauren, melewati Yoga.


Lauren berdiri tidak jauh dari pintu, maksudnya jika lelaki itu bertindak sesuatu hal yang tidak di inginkan Lauren lebih cepat meraih pintu dan keluar meminta pertolongan.


"Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali. Bawah pergi apapun yang pernah terjadi di Antara kita dulu, jangan sekali-kali kamu mengungkit-ungkit masalah itu. Kalau kamu ingin hidup tenang." Tekan Yoga penuh intimidasi


Lauren tersenyum sinis tanpa menurunkan tatapan tajamnya, saat tujuannya ingin berbicara baik-baik di sambut dengan cara tidak baik. " Apa kau bilang ? Bawah pergi masalah dulu ? Dan pergi dari sini ? Kamu sedang mengancam ku ?". Tukas Lauren mengulang kata-kata Yoga barusan.


"Aku rasa kau tidak tuli, dan aku tidak perlu mengulangi kata-kata ku, atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ucapan ku, Lauren." Tegas Yoga


"Setelah kau menghancurkan hidupku dan masa depanku, sekarang dengan mudah kau berkata demikian. hah ! lelaki bajingan kamu !" Sinis Lauren


"Aku memang bajingan Lauren. Ya, aku memang bajingan." Jawab Yoga datar tanpa ekspresi


"Kamu tahu ? karena kamu, aku menderita ! Aku bahkan nyaris gila karena mendapati keadaan ku yang tengah berbadan dua, dan dia anakmu, bajingan !!". Air mata Lauren luruh membasahi pipinya.


"Aku sudah pernah membawah masalalu itu pergi jauh dari indonesia Dokter Febry !! Namun, takdir harus membawaku kembali bersamanya untuk bertemu denganmu." Mata Lauren tertuju ke arah Alga yang tertidur lelap.


Deg...deg... Jantung Yoga berpacu hebat, ia mengikuti arah anak mata Lauren. Yoga bungkam.


"Aku terlalu bodoh ! Terlena akan kelembutan dan kebaikan mu. Sehingga kamu dengan mudah memperdayai ku, dan aku tidak menyangka sama sekali di balik wibawa mu tersimpan kelakuan seperti itu. Kau tak ubahnya seperti binatang, yang selalu mengintai mangsanya. Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban sikap manipulatif mu itu ? Dokter Febry ?!." Lauren terus mencecar Yoga dengan kata-kata yang merendahkan.


"Tutup mulut mu Lauren!. apa kamu bilang, dia anakku ? Jangan mengada-ada Lauren. Aku bahkan baru sekali menyetubuhi mu, mana mungkin. Jangan berpikir untuk mencari pengakuan ku Lauren, bisa saja kamu melakukan nya dengan orang lain dan sekarang berharap pengakuan dari ku. Mimpi !" Yoga tersenyum menghina Lauren.


Plak....tamparan Lauren mendarat tepat di pipi mulus Yoga. Yoga mengelus lembut pipinya yang terasa memanas.


" Aku tidak mengharapkan kau mengakuinya, tujuan ku hanya memberitahu mu. Dan jangan sekali-kali kamu samakan aku dengan dirimu yang menjijikkan itu ! aku bukan jalang yang akan dengan leluasa membuka kedua pahaku di hadapan setiap lelaki. Kau ingat, kau memperdayai ku dan memperkosaku !!". Tangis Lauren kembali pecah


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak perduli soal dia anak ku atau bukan, yang ku mau kau pergi dari sini. Atau aku akan membunuhmu dan dia.!" Yoga mencengkeram erat rahang Lauren


Plak...plak... Kedua tangan Lauren yang terbebas kembali menampar wajah Yoga.


"Jangan memancingku untuk bertindak lebih Lauren." Geram Yoga tidak melepaskan cengkraman nya.


"Lepaskan aku brengsek ! Aku tidak takut ancaman mu itu, sebelum kau membunuh ku semua orang di rumah ini harus tau siapa kamu di balik wajah tampan dan berwibawa mu itu." Ucap Lauren terdengar seperti geraman, karena cengkraman Yoga semakin mengeras di rahangnya.


"Itu artinya kamu harus mati, sebelum kamu membuka mulutmu di hadapan semua orang." Mata Yoga berkilat, tangannya sudah mencekik leher jenjang Lauren.


Tangan Lauren berusaha meraih gagang pintu, sementara tangan Yoga semakin erat mencekik lehernya.


Bagas yang berada di balik pintu sejak tadi secepat kilat menerobos masuk, saat mendengar suara Lauren menggeram.


Bug...bug...bug...bug.... Bagas memberikan tonjokan di wajah dan di bagian ulu hati Yoga, Yoga terjatuh meringkuk saat merasakan sakit luar biasa menyerang bagian perutnya.


"Pengecut !! Kau hanya berani pada perempuan. Lelaki macam apa kau hah !" Bagas menerjang tubuh Yoga yang meringkuk di sudut kamar.


Bagas terus menyerang Yoga, sedangkan Yoga sedikitpun tak bisa membalas. Serangan Bagas terlalu tiba-tiba dan tak mampu ia hindari, hingga menjadikannya terkapar tak berdaya, sementara Bagas tidak menghentikan serangannya sampai Yoga babak belur.


Lauren memeluk Alga, ia menangis sejadi-jadinya di sisi putranya itu. Ia ternyata salah, salah telah berniat memberitahu kehadirannya Alga pada Yoga. "Mommy sayang Alga, sayang sekali." Lauren membelai lembut wajah tampan sang anak dan mengecupnya sayang.


"Ikut denganku !." Bagas menyeret tubuh Yoga keluar dari kamar Lauren.


Saat di tangga bagas kembali menyerang bagian perut dan ulu hati Yoga, Yoga hanya mampu meringis tak mampu lagi melawan. Nafasnya sesak, akibat pukulan yang beberapa kali mengenai ulu hati.


"Semua yang ada di rumah ini bangun !!" Teriak Bagas menggema


"Papa! Robert !! Bangun !" Teriakan Bagas kembali menggelar, membangunkan seisi rumah besar itu.


Bagas melirik pria yang terkulai di samping kakinya, bercak darah telah menodai kaus putihnya. Bagas tersenyum miring menatap Yoga...


Robert dan Brata berlari ke arah tangga, mereka melihat Bagas sedang menyeret tubuh seorang pria menuruni tangga.


"Apa pencuri ?" Desis Ayu tiba-tiba sudah berada di belakang Brata, mereka tergesa-gesa menuruni anak tangga, sementara itu Andita telah lebih dulu berdiri di tengah-tengah rumah menatap penuh tanya dengan apa yang di lihatnya. Ia jelas saja tau, sosok yang di seret Bagas, Andita sangat mengenal tubuh itu. Suaminya, ya tepat sekali.


Bruk... Bagas mendorong tubuh Yoga di hadapan Andita, sedangkan Andita hanya diam tak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


"Yoga ! Apa yang terjadi ?". Tanya Ayu kaget melihat kondisi Yoga yang babak belur.


Robert menatap Bagas tak percaya, ada apa dengan sahabatnya itu. Kenapa Bagas memukuli suami Andita sampai babak belur begitu.


Robert bergeser mendekati Bagas, tangannya ia sampirkan di bahu Bagas. " Lu ngapain sih, sudahlah. Ikhlaskan Andita, lu buka hati lu untuk perempuan lain. Apa lu tega, lihatlah Andita wajah nya terlihat sedih begitu ?". Bisik Robert


Bagas mendelik tajam pada sahabatnya itu. "Lu kalo gak tau masalah nanya. Adik lu tu, ampir mati tau gak lu. Ngorok aja lu bisanya." Sentak Bagas marah dan kesal sama Robert, bisa-bisanya Robert menghubungkan kejadian sekarang dengan urusan hatinya dan Andita.


"Hah ! Apa lu bilang ? Kenapa adek gue, ada apa ?" Tanya Robert gelagapan dan mendekati Lauren yang hanya menunduk di samping Ayu. Semuanya bungkam, hanya suara Robert dan Bagas. Mereka seakan sedang mencerna apa yang sedang terjadi dan telah terjadi.


"Alen, apa yang di katakan kak Bagas benar." Robert mencengkram bahu Lauren. dan Lauren mengangguk dengan air mata mengalir deras melaju di wajahnya. Semua mata menatap Lauren, sedangkan Andita hanya menatap prihatin dalam diam. Tebak-tebakan Tengah bermain di dalam benak Andita, antar Lauren di perkosa cabul itu dan kedua Andita tidak mau membayangkan nya.


"Katakan Alen !!". Sentak Robert marah.


Tubuh Lauren bergetar hebat. " Di..dia mencekik ku bang." Cicit Lauren


"Apa ?! Kenapa bisa terjadi ?!". Robert menggeram marah, dan mendekati tubuh Yoga yang lemah babak belur bagai maling yang ketangkap basah.


Robert menarik wajah Yoga untuk bersitatap dengannya, lalu bugh...bugh...membogem wajah Yoga dan mencekik balik leher Yoga. "Ada masalah apa kau dengan adikku, kau berani menyentuh adik seorang Robert itu artinya kau akan bersentuhan dengan ku.!" Robert kalap! penglihatan nya menggelap tak perduli orang-orang sekitarnya.


"Cukup !! Bisakah kalian tidak bertindak kekerasan seperti ini !! Apa masalah kalian ?!". Histeris Ayu menggelar memecah kesunyian malam.


"Hentikan Robert ! Yoga sudah lemah". Sentak Brata pada cengkraman tangan Robert di leher Yoga.


Andita menatap yang terjadi dengan tatapan dingin, tidak mencegah ataupun menghentikan kekerasan yang sedang berlangsung. Hatinya sudah membatu. Ayu menatap Andita, lalu berlari memeluk putrinya itu. Tanpa kata terucap, hanya tangis mewakili penyampaian Ayuningtyas terhadap Andita. Sedangkan Bagas diam-diam sudah menghubungi kedua orang tuanya Yoga.


"Apa yang terjadi." Tiba-tiba suara Chang Lie memecah keheningan di antara mereka. Chang Lie mengepalkan kedua tangannya melihat putra sulungnya itu sudah babak belur.


"Astaga. Apa yang kalian lakukan pada putraku ?!" Histeris Indira.


Brata membawa semuanya ke ruang tamu, tanpa terkecuali Yoga.


Chang Lie menatap murka pada Bagas, karena Bagas yang ia tau punya dendam pribadi terhadap putranya Yoga. Sementara yang di tatap hanya duduk santai sembari menyilang kan kedua kakinya, meskipun dalam balutan busana rumahan karisma dan wibawanya tetap terpancar kuat, elegan dan berkelas.


"Apa kau belum bisa melepaskan Andita untuk putraku ?" Tanya Chang Lie datar namun tatapan matanya tajam dan menusuk.


Bagas tersenyum miring menatap Chang Lie.


"Kau bahkan tidak tau masalahnya tuan Chang, kenapa kau bisa menyimpulkan dugaan mu itu." Jawab Bagas santai.


"Lalu apa masalah nya !". Sentak Chang Lie emosi. Harga dirinya habis ketika melihat putranya tertunduk lemah bagai begal tertangkap massa.


"Siapa pemilik masalah itu !." Emosi Chang Lie tersulut


"Tenangkan dirimu Chang. Masalah harus di hadapi dengan bijak dan kepala dingin." Brata berbicara setelah terdiam.


"Hah ! Kau meminta ku untuk tenang, dengan keadaan putraku seperti ini !." Dengus Chang Lie.


"Siapa di sini yang mempunyai masalah dengan putra ku ?!" Tanya Chang Lie lagi.


"Lauren ! Lauren bicaralah." Tukas Bagas


Semua mata menatap Lauren, berbagai pertanyaan mengarah pada nya.


Lauren menatap Andita sejenak, tiada ekspresi apapun di wajah wanita itu. Hanya tatapan kosong yang ia dapatkan.


"Beberapa tahun lalu, aku pernah bekerja sebagai asisten pribadinya Dokter Febry. Setelah perceraian nya dengan mantan istrinya.pada suatu malam, terjadilah perbuatan terkutuk itu, dia memperkosaku setelah memberikan ku minuman berisi obat perangsang. Setelah kejadian itu aku memutuskan tidak bekerja lagi, dan kembali ke kota K. Seiring waktu berjalan aku, aku mengandung hasil dari pemerkosaan nya. Kami mencarinya kemanapun namun setitik pun tidak menemukan jejak nya. Aku yang tidak siap menerima kenyataan itu, dan mengalami depresi berat hingga Abang ku membawa ku keluar negeri, janin yang ku kandung semakin berkembang seiring berjalannya waktu, dan sekarang dia telah besar. Aku berniat mempertemukan nya dengan ayah biologis nya, karena aku tidak mampu lagi membohongi nya terus menerus. Secara kebetulan aku bertemu dengan Dokter Febry di sini dan menyampaikan tujuanku ketika dia ingin berbicara dengan ku. Tapi, tapi dia menolak kenyataan itu. Dan meminta ku pergi, karena aku mengancam akan membuka kenyataan itu, penjahat itu ingin membunuh ku juga anakku." Jelas Lauren panjang lebar


"Kurang ajar ! Ternyata kamu yang sudah membuat adikku menderita keparat !" Mata Robert berkilat membara dan kembali memukul wajah Yoga, ia tidak perduli saat ini Yoga sedang dalam kondisi apapun. Sedangkan Yoga hanya menerima semuanya, tanpa ada kuasa lagi.


"Cukup !!". Teriak Indira histeris


"Aku akan menghancurkan mu ! Menghancurkan mu ! Camkan itu baik-baik.!" Robert menerjang Chang Lie yang berusaha menghalang-halangi nya hingga terjerembab di bawah kaki Bagas. Bagas memeluk Robert dan membawanya duduk bersama.


"Tenang bro, dia sudah aku hajar." Bisik Bagas.


Chang Lie mengusap wajah nya kasar, setelah berdiri dari tempatnya tersungkur tadi. dan semuanya mematung membisu setelah mendengar penuturan panjang lebar dari Lauren. Brata memeluk Andita, mengelus lembut rambut putrinya itu.


Brata menatap semuanya, lalu menatap wajah datar Andita yang berada dalam pelukannya. Sedangkan Bagas diam-diam memperhatikan Andita, Bagas heran kenapa Andita tidak bereaksi apapun terhadap apa yang sedang terjadi.


"Menurut mu bagaimana solusi terbaiknya Chang ?". Brata bertanya pada Chang Lie


"Dia harus bertanggung jawab atas Lauren dan anaknya." Andita tiba-tiba buka suara, setelah diam sejak tadi. Andita bangkit dari sana, mengarah ke kamarnya. Langkahnya terhenti saat menatap bocah lelaki yang terduduk sambil menangis di anak tangga.


"Sayang....kenapa bangun. Al harus bobok, biar cepat sembuh." Ucap Andita lembut, mata Andita berkaca-kaca menatap bocah itu lalu memeluknya erat.Andita menggendong Al menghadap wajahnya, ia berusaha untuk tersenyum manis di hadapan anak itu. Andita yakin sekali, anak itu mendengar semuanya. Semua pergerakan Andita tak lepas dari pandangan Bagas.


Andita keluar dari kamar dengan beberapa berkas di tangannya, lalu kembali duduk di tempatnya semula. Bagas berinisiatif meraih Alga dari Andita dan membawanya menjauh dari sana, karena menurut Bagas kehadirannya di sana tidak ada hubungan dengannya. Urusannya adalah membuka kedok Yoga, dan telah berhasil. Sementara kebusukan lainnya, Bagas tidak berwenang selama rivalnya itu tidak merugikan dirinya dan keluarganya ( Brata dan Ayuningtyas). Sedangkan Andita dia harus menerima konsekuensi nya, baik buruknya itu adalah pilihannya.


"Apa Al lapar ?" Tanya Bagas. Dan Al hanya menggeleng, Bagas membawa bocah tampan itu ke dapur. Setidaknya ia masih dapat mendengar pembicaraan dari ruang tamu dari dapur, bukan berarti dia tidak ingin tau. hanya saja tidak mau ikut campur terlalu jauh, bagaimana reaksi Andita selanjutnya. Tetap KEPO dong, ya gak, ya gak, ya dong.

__ADS_1


"Saya telah menggugat cerai Febry Lie Prayoga." Andita meletakkan berkas yang di ambilnya tadi.


Bagas mengintip dari arah dapur saat mendengar kata cerai ! Perasaan nya campur aduk antara senang dan sedih menjadi satu.


"Uncle, kenapa uncle seperti maling begitu." Tanya Al menatap Bagas yang sedang mengendap-endap di balik pembatas antara meja makan dan ruang tamu. Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu kembali duduk bersisian dengan Al.


"Uncle tadi melihat ada kecoak berjalan-jalan di sana." Elak Bagas, menutupi rasa malunya pada dirinya sendiri.


"Oh." Sahut Al acuh sambil mengaduk susu di gelasnya, layaknya orang dewasa.


Tentu saja pernyataan Andita itu membuat semuanya kaget bukan main, tiada angin dan badai diam-diam ternyata Andita telah melayangkan surat gugatan cerai.


"Nak, kenapa ? Apa yang terjadi ? Kenapa kami semua tidak tahu masalah ini ?." Tanya Brata menatap wajah Andita.


"Maafkan aku soal itu. Selama masih sah menjadi istrinya, Dita merasa tidak pantas membuka aib suami di hadapan kalian semua, meskipun kalian adalah keluargaku sendiri. Tapi moment ini waktu yang tepat aku membukanya." Jawab Andita


"Nak, tolong pertimbangkan keputusan mu itu." Indira bersujud di kaki Andita


Andita meraih tubuh Indira, dari tatapan matanya menyiratkan sedih dan penuh kecewa. Begitu banyak luka disana, begitu banyak kecewa dan harapan yang pupus dari sinar mata Andita.


"Andita, sayang." Indira Menangkup kedua pipi Andita.


"Apa masalah kalian ? Apa karena perempuan itu telah menghasut mu !!". Tunjuk Indira marah pada Lauren, Chang Lie menarik tangan istrinya untuk kembali duduk.


"Masalah kami tidak ada sangkut pautnya dengan Lauren. Dan aku sama sekali tidak mengetahui sejauh itu tentang kejadian Lauren dan Yoga. Jangan salahkan Lauren dalam masalah ku dan Yoga, karena tidak ada kaitannya sama sekali " tegas Andita.


"Gugatan ini berdasarkan kelakuan dia sendiri, selama aku terbaring sakit dia memanfaatkan situasi itu, dengan menggagahi perawat ku. Bahkan di depan mataku sendiri ! Itulah sebabnya kenapa sofa di kamar itu aku bakar.!" Tangis Andita pecah, sakit di dalam hatinya kembali menganga. Sakit ! Sakit sekali.


"Keterlaluan kamu Yoga.!" Pekik Ayuningtyas, ia menangis. Menangisi kesakitan Andita karena perbuatan Yoga.


"Bahkan sebelum menikahi ku, dia juga memperkosa ku.! Teriak Andita memecah keheningan malam.


Brata menggeram dalam diam, ingin sekali dia membunuh Yoga saat ini juga kalau bukan memandang Chang Lie dan Indira.


Wajah Chang lie merah padam, antara malu dan marah. Sejauh ini Chang Lie tidak pernah mengetahui perbuatan anaknya itu selain bekerja, di mata mereka Yoga adalah lelaki baik dan lembut terhadap siapa pun, terlepas dari luar kegiatan gelap mereka.


Yoga berdiri tertatih berusaha menggapai tubuh Andita, namun kondisinya tidak mendukung sama sekali. Tubuhnya tersungkur di bawah kaki Andita, ia menangis. Entah apa makna tangisan itu.


"Sa...say...sayang, maaf. Maafin mas." Lirih Yoga


"Tidak. Tidak ada kesempatan kedua. Bertanggung jawablah dengan mereka, kau lihat Alga, dia membutuhkan sosok figur seorang ayah. Dan kemungkinan besar besok perawat itu datang membawa perut besar ke hadapan mu. Jadi bersiaplah." Jawab Andita dingin, namun tegas.


Chang Lie mengangkat tubuh Yoga dengan susah payah. " Jangan rendahkan martabat seorang Prayoga seperti ini." desisnya sambil membawa Yoga dan merebahkan tubuh jangkung itu di sisinya.


"Tidak perlu. Aku mampu memberikan yang terbaik untuk Lauren dan Alga." Sahut Robert ketus


Bagas diam mematung, dia kembali mengingat semuanya. Kepergian Andita yang tidak bisa di lacak, hilang bagai di telan bumi. Pantas saja, Andita bersama lelaki penuh misteri dan licik itu.


"Mommy..." Alga datang di antara mereka. Robert dengan sigap merengkuh tubuh mungil Al kedalam pelukannya.


Semuanya terlalu tiba-tiba, antara percaya dan tidak. Namun itulah faktanya. Semua diam, dalam pikiran masing-masing, termasuk Bagas tidak menyadari sosok mungil di sisinya telah pergi meninggalkan nya sendiri.


"Kau lihat Indira. Bahkan kau sendiri mengakuinya bahwa Alga begitu mirip dengan Yoga sewaktu kecil, ketika kalian pertama kali bertemu dia. Lalu bagaimana bisa Yoga menolaknya." Cerca Ayuningtyas


Indira menatap Lauren juga Alga yang berada dalam pangkuan Robert. ia tidak menampik soal itu, tapi tentu saja sebagai ibu ia tidak terima anaknya di rendahkan dan di pukuli seperti itu. tentu saja Indira akan mencari pembenaran di sini, setidaknya membela diri harus ia lakukan. dia tidak mau tersudut dan bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. itu tidak akan terjadi dengannya !


"Hm... sepertinya kau begitu mendukung Andita dan Yoga bercerai Ayu. Bahkan sekarang kau seolah menyalakan ku, kenapa apa kau berniat menikahkan Bagas dan Andita ? Setelah melihat kesuksesan anak tiri mu itu.!" Tuding Indira, mencari-cari masalah baru.


"Apa maksudmu Indira !?". Balas Ayu sengit.


" Hah ! Kau lupa atau pura-pura lupa Ayu, tentang kebohongan yang kau ciptakan itu ?! Kau bahkan tega membohongi putrimu demi mencapai tujuan mu.!" Balas Indira sinis


"Cukup ! Sebaiknya kalian bawah Yoga dari sini. Selesaikan masalah ini dengan cara baik-baik." Brata ambil kesempatan bicara antara kedua wanita itu.


Andita berlari memasuki kamarnya tanpa menoleh, semua tahu Andita menangis. Menangisi akhir dari perjalanan rumah tangga nya. Sementara Yoga, telah terkapar pingsan tanpa di ketahui, karena semuanya sibuk dengan pikiran dan tudingan-tudingan saling menyalahkan atas apa yang telah terjadi.


Ayuningtyas berlari menyusul Andita, ia mengendor-gedor pintu kamar Andita. dalam keadaan kacau seperti itu, apapun bisa terjadi. Ayu khawatir Andita melakukan hal bodoh yang akan menyakiti dirinya sendiri.


...----------------...


To Be Continued


vote !


like !


gak usah pelit-pelit kenapa ? semangatin Author dong. setiap update tak pernah likenya tembus ke angka 500 boro-boro sampai seribu meskipun pembacanya ribuan. padahal yang baca banyak loh😀😁 jangankan berharap di vote, like aja males2an hihihi....


gak apalah, yang penting kalian membaca aja sudah bikin hati Author senang kok.

__ADS_1


__ADS_2