Pacarku Suami Temanku

Pacarku Suami Temanku
BAB~90


__ADS_3

"Nak Robert, Alen, Bagas, Terimakasih untuk yang telah kalian lakukan pada Andita. Jika tak di bantu kalian mama nyaris saja putus asa, bahkan suaminya yang Dokter,kedua mertuanya Dokter tak bisa melakukan apa-apa. Maksud mama, usaha mereka termasuk kami tidak membuahkan hasil." Ucap Ayuningtyas saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu.


"Ma, semua berkat kak Bagas. Kalau bukan karena kak Bagas, Alen gak mau datang kes ini." Sahut Alen pelan namun masih dapat di dengar oleh yang ada di sana.


Ayuningtyas tampak menunduk dan meremas ujung jarinya satu sama lain, ada raut bersalah disana.


"Khususnya buat Bagas, maafkan atas kesalahan yang sudah mama lakukan. dendam masalalu mama berimbas menyakiti perasaan kalian, Andita pasti sangat kecewa dengan semua itu." Ucap Ayu parau menahan tangis.


Bagas bangkit dan duduk di samping ibu sambungnya itu, lalu mengelus lembut pundak Ayuningtyas. ia tau hal ini pasti akan kembali di bahas, dan Bagas tidak mau memperpanjang soal itu.


"Ma...Bagas sudah menerima kenyataan itu, bahkan dari sebelum Andita menikah. Kita satu keluarga Sekarang, andai mau menuruti sakit dan benci, Bagas sangat sakit dan sangat membenci tindakan mama.Bagas sudah merelakan nya, Sudahlah jangan di bahas lagi, kita bersyukur saja, sekarang Andita yang terpenting. bagaimana reaksi Andita dan bagaimana cara mama menghadapi sikap Andita nanti." Ucap Bagas. karena di pertemuan terakhir mereka menjelang pernikahan nya Andita sempat bilang, ia berharap bahwa di antara Bagas bukan kakak dan adik.


"Tapi nak, Andita sepertinya tertekan selama dia menikah." Lirih Ayuningtyas, entah apa maksudnya berkata seperti itu.


"Ma sudahlah, jangan seakan membuka cela untuk Bagas. apapun yang terjadi di dalam rumah tangga Andita, Bagas tidak mau ikut campur." Sahut Bagas cepat. " Ohya, besok kita akan kembali ke kota K, kerjaan Bagas sudah menumpuk menunggu di sana." Sambungnya lagi, mengalihkan topik pembicaraan.


Bagas sengaja menghindari percakapan yang isinya hanya tentang Andita, kalau terus di bahas bukan tidak mungkin sisi arogan dan keras kepala nya bangkit karena mendengar wanita tercinta nya itu tertekan atau bahkan mendapat perlakuan yang tidak baik dari suaminya. syukurlah saat ini pemikiran Bagas sudah sedikit waras, kalau Bagas masih belum bisa memisahkan antara yang benar dan tidak sudah di pastikan ia akan terpancing dengan ucapan Ayuningtyas.


"Robert dan Lauren besok kedua mertua Andita ingin bertemu dengan kalian secara langsung, pastikan penerbangan kalian besok setelah bertemu mereka." Brata akhirnya buka suara, setelah terdiam mendengar pembicaraan antara Bagas dan Ayu.


Brata juga tidak bisa banyak berbuat atas kesalahan Ayu, semuanya sudah terjadi, hanya pasrah akan takdir saja bagaimana nanti akhirnya. Betul kata Bagas saat ini mereka adalah keluarga, betapa sulitnya membangun keluarga yang harmonis, apa mungkin mereka akan berselisih pendapat dan paham karena Andita menikah dengan lelaki yang di setujui oleh istrinya itu, lalu ikut menyudutkan Ayu atas kesalahan yang dilakukan nya.


Dan semuanya tidaklah murni kesalahan Ayu sendiri, yang kuat menyatakan bahwa Andita anak kandungnya dirinya sendiri, Brata bahkan tanpa memastikan terlebih dahulu kebenaran terkait anak kandung atau bukan. pada akhirnya pernyataan Brata di manfaatkan oleh istrinya, untuk memisahkan kedua insan yang saling mencintai karena Bagas anak Anjani, berikut dengan kesalahan Bagas yang mengkhianati Andita bahwa ternyata dirinya telah menikah dengan perempuan lain.


"Iya Om, kita akan terbang setelah bertemu mereka." Sahut Robert, meskipun lelaki itu harus menunda pertemuannya dengan beberapa rekan bisnisnya besok.


"Lauren ? Apa rencana mu setelah ini Nak ?" Tanya Brata


Lauren menatap Brata lalu tersenyum.


"Mungkin bantu abang kerja, itupun kalau boleh." Ujar Lauren sambil melirik Robert.


"Hahaha... bukankah bidang mu sama seperti Andita, lalu bagaimana bisa bekerja di perusahaan ?" Tanya Brata lagi menatap wajah Lauren menunggu jawaban nya.


"Bidang Alen dulu di tuntut untuk selalu siap siaga, tanpa ada kata libur kecuali cuti. Terkadang malam, entah jam berapa pun harus siap melayani. Selama Alen di luar, Alen memutuskan untuk melanjutkan study Busines management." Terang Lauren, jelas saja yang di lakukan nya itu karena menghindari pekerjaan yang berkaitan dengan rumah sakit, mengingat masalalunya seperti apa. Meskipun menjadi perawat adalah impiannya sejak kecil.


"Waw...kamu hebat." Tutur Brata berdecak kagum.


"Terimakasih om, hebat itu kalau sudah menunjukkan kemampuan Alen dan memperlihatkan hasilnya." Sahut Alen lagi sambil menunduk.


"Kerja sama kak Bagas aja, kalo kerja sama Robert yang ada kamu di suruh kelapangan ngecek tumpukan batu bara." Bagas menimpali.

__ADS_1


Semuanya tertawa mendengar ucapan Bagas, lalu Ayu kembali berbicara.


"Alen....." "Mommy ?" Rengek bocah laki-laki yang berusia sekitar 4 tahun tiba-tiba hadir di antara mereka sambil mengusap matanya, dan memutus pembicaraan Ayu. Seketika ia terpana menatap wajah anak kecil yang berjalan mendekat ke arah mereka. Wajahnya itu loh, baik Ayu, Bagas dan juga Brata terkejut.


"Hi baby-nya mommy kok bangun, mbaknya mana sayang ?" Tanya Alen lembut, dan sekaligus menangkap anak itu membawa kedalam pelukannya.


"Mommy...Al lapar." Rengek anak Alen dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alen.


"Bisa bicara Indonesia ?" Tanya Bagas.


"Bisa dong, pembantu Alen termasuk pengasuh semua aku datangkan dari Indonesia. Aku tidak percaya sama orang asing soal kehidupan sehari-hari mereka disana." Sahut Robert


"Siapa namanya sayang, kamu tampan sekali. Mau makan sama Oma ?" Senyum Ayu


"Panggil Al, mommy sama uncle panggil Al,mbak juga." Sahut Al dengan bahasa khas anak-anak,tanpa melihat wajah Ayu yang bertanya.


"Hm pintarnya. Mau makan sama oma ? Al mau makan apa, biar oma masakin." Tanya Ayu lagi.


"Mommy Al boleh makan spaghetti ?" Tanya Al sama Alen sebagai izin, mengingat Alen sangat protektif terhadap asupan nutrisi yang dibutuhkan Al.


"Tidak baby. Sayuran sama ayam kukus saja ya." Yang akhirnya di angguki sama Al.


"Kalau begitu ayo kita ke dapur." Ajak Ayu antusias.


Bagas menatap anak Lauren yang berjalan menuju dapur, kenapa wajah anak itu sangat familier di ingatannya. Bagas berusaha positif terhadap pikirannya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali mengusir pikiran yang menjelajahi benaknya.


"Bagas, Robert, ayo ikut." Brata bangkit menuju ruang kerjanya.


Brata duduk di kursinya, sedangkan Bagas dan Robert duduk di Sofa.


Brata diam cukup lama, sambil menatap kedua wajah lelaki di hadapannya saat ini. awalnya ia ingin menanyakan tentang Lauren,tapi ia urungkan karena tidak ingin mengganggu privasi Robert.


"Yoga, maksud nya begini. papa tidak sengaja melihatnya waktu itu berbicara dengan anak buah Jack. Dan yang papa dengar langsung dari anak buah Jack, Yoga meminta mereka mencari darah untuk Andita bagaimana pun caranya. Karena hal itu akan merugikan banyak pihak, maksud papa keselamatan orang lain dan papa mencegahnya. Dan papa berhasil mencegah Jack, karena bagaimanapun kita membutuhkan darah itu tidak bisa kita berbuat semena-mena tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Jadi intinya Yoga adalah pemain dunia gelap juga selama ini, dan anak itu cukup pandai memanipulasi keadaan tanpa sedikitpun terlihat cela nya." Jelas Brata akhirnya setelah terdiam.


Robert menangkap kekahwatiran di wajah Brata, hal yang wajar karena tidak menutup kemungkinan hal-hal yang tidak di inginkan seketika menyerang mereka jika memelihara binatang buas yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Om tenang aja, tapi tetap waspada Kalau begitu ceritanya. Apa sebetulnya yang paling om takutkan dari lelaki itu ? Kalau dia ternyata bermain di bawah naungan Jack." Ujar Robert


"Keselamatan keluarga dan Perusahaan. Jack membutuhkan uangnya bukan, jadi ada kemungkinan besar akan terikat bisnis di antara mereka. pergerakan Yoga cukup rapi,menurut om." Sedangkan Bagas hanya diam, tanpa harus bicara pun orang sudah tau kekuatan nya saat ini, bahkan nyaris tak ada yang bisa menembus portal keamanan perusahaannya. Hanya portal keamanan hatinya saja yang bisa di tembus pihak lain, ya...contohnya Andita sekuat apapun dia menggenggam akhirnya terlepas juga.


"Robert sama Jack akan melindungi keselamatan kalian, sekuat dan semampunya om. percayalah Jack tidak akan seperti dugaan Om. Robert sangat mengenalnya" Ucap Robert mantap dan menyakinkan.

__ADS_1


"Khawatir papa jangan berlebihan." Bagas menimpali ucapan Brata dengan santai.


"Nak...papa sudah tua. Fisik papa juga tidak sekuat dulu..." Kalau begitu tinggalkan Jakarta, kembali ke kota K. Bagas bisa melindungi kalian 24 jam." Potong Bagas tegas.


"Soal Yoga biar kami selidiki, tawaran Bagas sepertinya patut om pertimbangkan." Ujar Robert lagi


"Papa sudah pantas pensiun dari dunia bisnis, Yoga bisa menghandle semuanya sekaligus mencukupi kebutuhan hidup kalian dan melindungi kalian. Apa lagi yang papa kejar, nikmati lah sisa-sisa usia papa bersama mama." Tukas Bagas


"Akan papa pertimbangkan, sementara itu dulu informasi mengenai Yoga. Kalian silakan istirahat." Ucap Brata kemudian.


Robert dan Bagas meninggalkan ruang kerja pribadi Brata dan kembali ke kamarnya masing-masing.


Bagas duduk sejenak di tepi ranjangnya, lalu beranjak kearah balkon. Bagas jelas saja belum mengantuk, perkataan Ayu tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Andita tertekan ? Apa dia tidak bahagia ? Kalau iya apa hubungannya denganku ? Menikah dengan lelaki itu adalah pilihannya. Tapi kenapa aku jadi kepikiran dia ?" Batin Bagas


"Aghhh...ayolah Bagas, kamu tidak boleh memikirkannya secara berlebihan lagi.kewajiban kamu membantu dan itu sudah kamu lakukan. Ingat Bagas dia istri orang. Tapi aku masih sangat mencintainya..." Lirih Bagas.


"Apa arti genggaman tangannya tadi, kenapa begitu erat sekali. Apa dia merindukan ku seperti perasaan yang aku miliki ? Aghhh !!" Bagas mengacak rambut nya frustasi.


Bagas menengadah menatap langit bertabur bintang, ia tersenyum kecut. Mengingat perjalanan hidupnya, yang menikah karena terjebak, yang di tinggal pergi oleh Andita,di tinggal menikah dan yang paling menyakiti mengetahui kenyataan pahit bahwa ibu kandungnya sendiri tidak menginginkan nya selain di manfaatkan demi harta semata.


Bagas merogoh saku celananya mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Erwin, ketika ia mengingat sosok yang pernah hadir dalam hidupnya meskipun bukan karena dasar cinta. Membebaskan perempuan jahanam itu adalah pilihannya saat ini, semoga saja perempuan itu bisa menata hidupnya kedepan.


"Bebaskan perempuan itu." Tegas Bagas setelah telponnya tersambung dengan Erwin.


"Maksudnya mantan istri lu ?" Tanya Erwin kaget.


"Siapa lagi hah ? Emang ada perempuan yang lain aku masukin kesana !!" Jawab Bagas.


"Enggak bukan itu, maksudku kenapa lu berubah pikiran." Sahut Erwin


"Karena aku merasa sudah cukup." Jawab Bagas


"Oke, siap bro." Jawab Erwin


Ya, Bagas membebaskan Hanna dari neraka terkutuk yang di buat oleh Bagas. Ia sudah merasa cukup memberikan pelajaran bagi perempuan itu, agar tidak seenaknya bermain-main dengan seorang Bagas atau bahkan orang lain.


Bagas sosok yang kejam, tapi bukan pembunuh. Berhati lembut namun keras kepala, pemarah dan egois. Tapi tentu saja semua orang itu ada sisi buruk dan baiknya. Sejatinya manusia tidak ada yang sempurna, hanya sikap dan tingkah laku lah yang menyempurnakan.


...----------------...

__ADS_1


TBC


__ADS_2