
Mike tau orang suruhan Aran tengah mengikutinya untuk mencari tau keberadaan Bayu. Mike sungguh bingung dengan Arandra Caisar.
"Diona cantik. Cepat ini hari pertamamu sekolah." Paul sudah berteriak di pintu apartemen. Diona berlari keluar dari kamarnya.
"Ok aku sudah siap." Diona bingung apa yang harus dia kenakan di hari pertamanya sekolah. Mereka segera ke parkiran. Paul menatap Diona yang tampak manis dengan busananya hari ini.
"Hati-hati memilih teman, jangan mudah di rayu." Paul merasa dengan kecantikannya, Diona akan menarik perhatian.
"Aku kan mau belajar, bukan pacaran." Diona kesal. Dia sedang gugup dengan pelajarannya malah bicara tentang pria. Paul tertawa. Sekolah Diona tidak jauh, tapi Paul senang mengantar gadis itu.
"Karena hari ini hari pertama, mungkin tidak lama. Aku akan menunggumu." kata Paul sambil menjalankan mobilnya.
"Kau tidak bekerja?" Diona bingung melihat Paul begitu santai.
"Mungkin nanti sore. Kau tidak apa kan malam ini sendiri di rumah?" Paul harus mengawasi dua restauran ayahnya.
"Tapi kau akan pulang kan?" Diona tidak mau sendiri di apartemen.
"Aku pasti pulang. Tetap nyalakan lampu jika kau takut." walau Paul yakin apartemennya aman dia paham ketakutan Diona.
"Jadi aku makan malam sendiri nanti?" Diona membayangkan malamnya yang sepi. Paul mengangguk.
__ADS_1
"Kalau menungguku pulang kau akan telat makan." Paul tidak tau jam berapa dia selesai. Tapi pasti sudah lewat waktu makan malam. Sebentar saja mereka sudah tiba di sekolah Diona. Paul memarkir mobilnya. Mereka keluar dari mobil.
"Masuklah aku tunggu di sini." kata Paul sambil duduk di sebuah kursi taman.
"Ok." Diona berlari dengan semangat. Paul tersenyum melihatnya. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu asik bermain game. Beberapa siswi yang liwat meliriknya, bahkan ada yang berdehem atau batuk untuk menarik perhatiannya. Tapi Paul tidak peduli. Yang tinggal bersamaku sudah cantik dan manis, pikirnya. Diona sudah tau kelasnya di mana. Dia tidak mau membuang waktu. Diona sengaja memilih tempat duduk di paling belakang. Tujuannya agar bisa mengamati teman-teman sekelasnya. Di kelasnya ini ada lima belas orang murid baru untuk satu tahun masa belajar. Tapi mereka bisa meneruskan hingga tiga tahun. Diona merasa satu tahun sudah cukup. Apa lagi dia sudah berjanji pada Danu. Di sebelah kiri Diona duduk seorang pria dengan perawakan tinggi, lebih tinggi dari Paul. Wajahnya tirus, kulit putih dan rambut hitam. Dia memelihara cambang di dagunya, lumayan keren. Tampan sih, dia tampak pendiam. Tiba-tiba pemuda itu menatap Diona.
"Kau mengamatimu?" tanyanya tajam. Diona tersipu dan terkejut. Dia tidak menyadari tindakannya di ketahui pemuda itu. Diona berjanji tidak akan melihat pada pemuda itu lagi, karena rasa malunya. Diona pun memperhatikan siswa yang lain. Rata-rata seusianya. Mungkin di aturnya demikian karena ada kelas lain juga. Gurunya datang. Seorang wanita yang manis, sepupu Toby. Namanya Penina tapi dia senang di panggil miss Peni. Tepat seperti yang Toby katakan. Sepupunya ramah. Miss Peni menerangkan secara garis besar apa saja yang akan mereka pelajari dalam satu tahun ini. Dia mengabsen muridnya untuk tau nama-nama mereka. Dan itu membuat Diona tau nama pemuda yang tadi di perhatikannya. Lucca Goutik. Nama yang belum pernah di kenal Diona. Untuk selanjutnya mereka akan mengisi kartu absen. Sebagai kelas perkenalan miss Peni bertanya pada para siswanya , apa yang menjadi alasan mereka di sana. Ada yang mengatakan ingin tau dunia melukis , ada yang menjawab ingin menjadi pelukis sebagai karirnya. Ketika Diona di tanya dia menjawab ingin bisa melukis seperti ibunya. Ketika miss Peni bertanya apakah ibunya masih melukis , Diona menjawab tidak. Ibunya sudah meninggal dunia. Miss. Peni meminta maaf. Diona hanya tersenyum. Dia sudah terbiasa di tanya tentang ibunya. Lucca menatapnya iba diam-diam. Dia penasaran dengan gadis yang memperhatikannya. Tapi rupanya gadis itu langsung acuh setelah ketahuan. Miss Peni menerangkan peralatan apa saja yang akan mereka gunakan. Diona bersyukur Bayu sudah mempersiapkannya. Miss Peni mengatakan mereka akan ada di dua kelas. Kelas belajar dan kelas seni. Tapi nantinya akan lebih banyak di kelas seni. Kelas perkenalan itu tidak lama. Mereka akan benar-benar belajar besok. Begitu kelas bubar, Diona pun segera keluar. Dia ingat pada Paul yang menunggunya. Lucca mengikutinya karena ingin tau Diona akan ke mana. Di lihatnya Diona menghampiri seorang pemuda yang sedang duduk dan asik dengan ponselnya.
"Paul." Diona menyapa. Paul segera mematikan ponselnya dan memperhatikan Diona.
"Sudah?" tanya Paul sambil tersenyum.
"Sudah. Tidak lama kan?" Diona duduk di sebelah Paul.
"Belum." jawab Diona jujur. Tepat seperti dugaan Paul. Diona tampak tidak mudah dekat dengan orang lain. Itu sebabnya Bayu menitipkannya. Dirinya kekecualian karena dia memiliki apartemen dan Diona membutuhkannya. Paul mengacak rambut Diona untuk menghiburnya.
"Sudah tidak apa, nanti juga kamu akan punya teman." Paul bangkit di ikuti Diona. Mereka jalan ke mobil.
"Kau butuh sesuatu untuk sekolahmu?"Paul membukakan pintu mobil untuk Diona. Gadis itu merasa senang.
"Tidak ada. Semua sudah ada." jawab Diona sambil masuk ke dalam mobil. Paul menutup pintunya, lalu berjalan ke sisi yang satu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Baiklah kita pulang kalau begitu." Paul menjalankan mobilnya dan meninggalkan sekolah di iringi tatapan Lucca.
"Kau ingin makan apa?" Paul melihat sudah waktunya makan siang.
"Terserah." jawab Diona cepat. Paul berpikir akan membawa Diona ke mana.
"Bisakah kita ke tempat kemarin?" tanya Diona.
"Pasar?" Paul bingung. Mengapa Diona mau ke sana lagi.
"Aku ingin beli makanan yang kemarin untuk di rumah." Diona menjawab kebingungan Paul.
"Ok kita ke sana." Mereka pun berangkat menuju Mercato Centrale. Paul memutuskan untuk sekalian makan siang di sana. Setelah makan dan berbelanja makanan yang Diona suka, mereka pun pulang. Karena Paul akan pergi bekerja. Tadinya Paul berniat membuatkan makan malam untuk Diona, tapi gadis itu menolak. Dia cukup dengan makanan yang di belinya dan susu. Tiba-tiba Danu menghubungi Diona. Gadis itu memberi isyarat pada Paul untuk diam dan tidak menampakkan diri. Karena Danu menghubunginya melalui Vidio call.
"Hai sayang." Tampak Danu dan Wilma di layar.
"Hai om, Tante." Diona membalas salam mereka.
"Bagaimana hari pertama sekolah? tidak betah ya, mau pulang?" tanya Danu menggoda Diona.
"Om Danu nih maunya Di pulang terus. Di kan mau sekolah." Diona pura-pura marah.
__ADS_1
"Om kamu khawatir karena kamu jauh di sana. Bayu masih temani kamu sayang?"