PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Cerita Bayu


__ADS_3

"Lalu mengapa tidak? Ibu suka padanya." Del melihat Diona gadis yang menyenangkan.


"Didi di larikan ke sini karena patah hati. Keluarganya ingin menghiburnya. Tapi tampaknya Didi masih menyimpan pria itu di hatinya." kata Paul lesu.


"Dari mana kau tau?" Del jadi kasihan pada Diona.


"Aku pernah dengar Didi menangis di malam hari." Paul sejak itu menyadari, Diona tampak ceria namun menyembunyikan kesedihannya.


"Bawa dia main ke rumah Paul." Del jadi ingin kenal lebih jauh Diona.


"Kalau Didi mau aku akan senang membawanya. Lagi pula setelah sekolah Didi sendirian di apartemen." kata Paul.


"Pantas saja dia tidak jadi kekasihmu. Pikiranmu hanya kerja saja." Del menyayangkan Paul yang tidak dapat menggunakan kesempatan.


"Bu, hatinya belum bisa terbuka untuk yang lain." kata Paul berkilah.


"Itu karena kau tidak bisa membuatnya lupa pada pria itu." Del tetap berkeras pada pendapatnya. Putranya tampan dan masa depannya cerah tidak sulit untuk mendapatkan pasangan yang baik. Untung mereka sudah tiba di rumah Miguel. Del pun turun. Paul jadi pusing mendengar perkataan ibunya. Setelah mengantar Del, Paul lalu ke restauran memulai kerjanya.


Bayu menghadiri pameran di Jepang seperti yang di minta ayahnya. Ada banyak pesaing bisnis mereka di sini. Sambil memotret dia langsung melaporkan pada ayahnya melalui ponselnya. Bayu takut lupa dan ada yang terlewat. Karena pameran ini sangat penting bagi kemajuan perusahaan. Setelah selesai dengan pekerjaannya Bayu merasa lapar. Dia pun meninggalkan pameran menuju rumah makan. Walau makan sendiri tidak menyenangkan tapi Bayu cukup menikmati makan malamnya. Selesai makan Bayu ingin segera istirahat. Dia keluar untuk kembali ke penginapan. Keluar pintu rumah makan Bayu merasa ada yang menabraknya. Tampak seorang gadis terjatuh karena menabrak dirinya. Bayu membantu gadis itu berdiri. Tubuhnya lemas, sepertinya sudah lama berlari.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Bayu karena mata gadis itu terpejam.

__ADS_1


"Tolong aku........" kata gadis itu lirih dalam bahasa Jepang, lalu pingsan. Bayu terkejut. Tapi melihat gadis itu yang pucat Bayu berkesimpulan gadis itu dalam kesulitan. Bayu menggendongnya dan membawa gadis itu ke penginapan. Kebetulan dia menginap tidak jauh dari lokasi restauran. Penginapan itu sepi dan bersih. Terpaksa Bayu membawa gadis itu ke kamarnya.


"Tolong saya minta air hangat untuk tunangan saya." terpaksa Bayu berbohong pada pelayan penginapan. Bayu merebahkan gadis itu di pembaringan. Karena lampu kamar yang terang maka Bayu bisa mengamati gadis itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Bayu masih lebih tinggi darinya. Badannya langsing dengan kulit putih khas gadis Jepang. Wajahnya cantik walau pucat. Melihat wajahnya Bayu baru sadar jika dia harus menyadarkan gadis itu. Bayu menepuk pipi gadis itu lembut. Tidak berpengaruh. Di guncangnya bahu gadis itu, sama saja. Bayu akhirnya memutuskan untuk membiarkan gadis itu. Air hangat pun datang. Tapi gadis itu belum juga sadar. Bayu melihat kelopak mata gadis itu bergetar. Lalu mengerjab dan terbuka. Mata gadis itu mengamati dengan bingung.


"Aku ada di mana?" tanyanya pelan. Perlahan gadis itu bangun, baru dilihatnya Bayu yang tersenyum lembut.


"Kau berada di kamarku. Ini penginapan Teratai." jawab Bayu ramah. Gadis itu mengamati Bayu, menilai apakah Bayu sosok yang baik atau tidak.


"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Kau menabrakku tadi dan jatuh pingsan. Aku tidak tau apa yang terjadi denganmu tapi sepertinya kau dalam kesulitan." kata Bayu menjelaskan. Gadis itu jadi teringat apa yang terjadi dengan dirinya.


"Kau sudah menolongku." katanya setelah sadar.


"Kau ingin lagi?" tanya Bayu melihat gadis itu haus.


"Tidak terima kasih." jawabnya malu.


"Aku Bayu, siapa namamu?" tanya Bayu ingin tau.


"Bayu? Aku Mitsuko Koda." menurut Mitsuko nama pria itu asing dan baru di dengarnya.


"Nah Mitsuko, ada apa denganmu?" Bayu menatap Mitsuko yang duduk di pembaringan. Agak lama gadis itu terdiam.

__ADS_1


"Ayahku menjodohkan aku dengan seorang pria. Aku tidak suka padanya. Dia anggota geng mafia. Dia cukup di segani hingga ayahku takut padanya. Hari ini harusnya aku bertemu dengannya. Aku melarikan diri. Pengawal ayahku mengejarku lalu aku bertemu denganmu." kata Mitsuko sedih.


"Ayahmu memilih suami yang buruk untukmu. Apa kau tidak bisa menolaknya?" Bayu rasa ayah Mitsuko tidak waras. Menjodohkan putrinya dengan orang dari dunia hitam.


"Ayahku kejam. Dia tidak pernah baik pada keluarganya termasuk aku putrinya. Aku tidak bisa menolak maka aku lari." Dari roman wajah Mitsuko Bayu yakin gadis itu tidak bohong.


"Lalu kau akan pergi ke mana?" Bayu penasaran dengan apa yang di rencanakan Mitsuko.


"Harusnya aku bertemu temanku tadi. Dia yang akan membawaku pergi. Tapi terlambat, dia pasti sudah pergi." Mitsuko tampak kecewa rencananya gagal.


"Maksudku tujuanmu pergi ke mana?" Bayu masih belum mengerti siasat Mitsuko dan temannya.


"Aku tidak tau, yang penting jauh dari ayahku dan orang itu." Mitsuko hanya percaya temannya akan membawanya jauh-jauh. Entah apa yang akan dia lakukan nanti.


"Kalau hanya membawamu pergi, aku juga bisa lakukan itu." kata Bayu tegas. Malah Bayu akan membawa Mitsuko pergi sangat jauh. Mitsuko menatap Bayu tidak percaya. Pria ini akan menolongnya.


"Apa kau membawa bukti identitasmu?" tanya Bayu serius. Mitsuko mengangguk. Dia memperlihatkan isi tasnya. Tampak di sana semua bukti identitasnya. Rupanya gadis ini sudah bertekad untuk lari.


"Baiklah, aku akan membawamu besok pagi. Kau istirahat saja di sini. Pasti kau lapar karena belum makan malam. Akan aku pesankan makan malam untukmu." kata Bayu akhirnya. Mitsuko terpana menatap Bayu. Pria itu betul-betul menolongnya. Apa tujuannya tidak berani Mitsuko tanyakan. Karena ini merupakan angin segar untuknya. Harapan. Dia bisa jauh dari ayahnya. Ketika makan malam datang, Bayu memberikannya pada Mitsuko.


"Aku akan pergi sebentar. Nikmati makan malam mu. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun. Biar mereka mengira kamar ini kosong." Bayu melangkah keluar dari kamar. Bagi Mitsuko tidak Masalah, dia lapar dan perasaan hatinya sudah tenang. Bayu keluar untuk membeli keperluan Mitsuko. Gadis itu tidak membawa apa pun selain bukti identitas dirinya. Selain itu Bayu juga ingin melihat suasana. Ketika Bayu akan memasuki toko pakaian wanita terlihat beberapa pria berpakaian hitam. Mereka tampak mengamati para pejalan kaki wanita. Bayu berkesimpulan mereka pasti mencari Mitsuko.

__ADS_1


__ADS_2