
"Apa saja yang dia lakukan untukmu?" tanya Aran cemburu. Wajahnya memperlihatkan dia akan memeras Diona karena hal itu.
"Dia hanya menjagaku seperti yang kau lakukan dulu." Diona awalnya ingin memanasi Aran. Tapi ingat dengan apa yang Aran alami dia batal melakukannya.
"Ingat ya nona Diona, tidak ada pria lain lagi yang dekat denganmu." Aran berkata tegas.
"Memangnya kau akan membunuhnya jika ada?" tantang Diona.
"Aku tidak sekejam itu. Hanya akan menenggelamkannya di Canal. Kalau dia mati ya itu salahnya, tidak bisa menyelamatkan diri." Aran berkata tanpa merasa itu salah.
"Sama saja." protes Diona. Aran tertawa. Tapi Aran yakin Diona bisa menjaga cintanya.
"Tolong jangan pergi lagi dari sisiku." pinta Aran sambil menatap Diona.
"Aku tidak bisa melakukannya. Karena ada Leana di dekatku." Diona kini menggoda Aran.
"Jadi kalau Leana tidak ada, kau akan lari dariku?" Aran gemas dan tidak dapat menahan dirinya lagi. Di tariknya Diona ke dalam pelukannya.
"Di, maukah kau menikah denganku? Setelah sekolahmu selesai kita akan menikah." Aran berkata penuh tekanan. Diona tidak boleh menolaknya.
"Itu kan dua bulan lagi. Apa tidak terlalu cepat?" Diona terkejut.
"Kita sudah menyimpan perasaan ini lama Di. Aku ingin kita tidak membuang waktu lagi " Aran berkeras.
"Tapi kita kan sudah bersama." Diona merasa belum siap.
"Dulu aku sudah mempersiapkan rumah untuk kita. Ternyata aku tempati bersama Mhina. Rumah itu sudah kujual. Sekarang aku sudah mempersiapkan rumah yang baru. Apa kau ingin aku menempatinya bersama wanita lain lagi?" ancam Aran.
"Wanita mana lagi yang akan kau pilih?" tantang Diona.
"Atau kau ingin lebih lama menyimpan mantelku?" Aran tersenyum penuh arti. Diona lalu memeluk Aran.
__ADS_1
"Aku sudah dapat orangnya." manisnya perkataan Diona. Aran pun mencium Diona lembut. Rasanya tidak ingin pulang. Terus saja di Venezia.
"Bereskan saja sekolahmu. Aku akan mengatur segalanya." Aran memutuskan.
"Bagaimana jika kita bertunangan dulu? Hati kita sudah saling memiliki. Kau tidak perlu khawatir, kita pasti akan menikah." janji Diona. Menurut Diona masih terlalu cepat mereka menikah.
"Baiklah, aku turuti apa pun yang kau mau." Aran tidak ingin memaksakan kehendak. Memiliki perasaan yang sama dengan Diona sudah membuatnya bahagia. Mungkin memang harus pelan-pelan. Mereka kembali ke hotel. Diona memutuskan untuk beristirahat. Leana mulai bersiap untuk mereka pulang besok. Diona terbangun tepat ketika waktu untuk makan malam.
"Nona, tuan Aran akan menjemput sebentar lagi." kata Leana memberi tau. Diona pun segera bersiap. Aran membawanya makan malam di sebuah cafe yang baru pernah di lihat Diona.
"Kau suka?" tanya Aran.
"Suka sekali." Diona menjawab sambil mengangguk. Makanan yang di hidangkan pun enak. Itu yang paling Diona suka.
"Diona, kamu sudah bersedia menikah denganku kan. Malam ini aku mengikatmu jadi milikku." Aran mengenakan sebuah cincin berlian di jari manis Diona. Dengan terpukau Diona menatap cincin di jari manisnya itu.
"Aran, ini cantik sekali." puji Diona dengan mata bersinar.
"Kau tau kan maksudku bukan begitu. Aku bahagia dengan apa yang kau lakukan." Diona tersipu. Aran tersenyum mesra, dia sudah mengikat Diona. Venezia mengukir kisah cinta mereka. Aran mengantar Diona dan Leana kembali ke Florence. Setelah itu dia kembali ke Indonesia. Hadiah untuk Dewanti di sampaikannya.
"Bunda, gelang ini yang pilih Diona." kata Aran sambil menyerahkan gelang yang di belinya di Venezia.
"Diona yang pilih?" Dewanti meraih kotak gelang itu dan membukanya. Diamatinya gelang yang menarik itu.
"Bunda suka?" tanya Aran ingin tau.
"Tentu bunda suka, gelang pilihan calon menantu." apa pun yang di pilih Diona, Dewanti akan suka. Karena Diona gadis yang di cintai Aran. Dewanti mengenakan gelang itu di tangannya lalu mengamatinya sambil tersenyum. Melihat itu Aran menjadi lega, itu tandanya bunda suka.
"Bunda, Aran juga sudah mengikat Diona. Kami sudah bertunangan " kata Aran lagi perlahan.
"Apa?" Dewanti terkejut.
__ADS_1
"Tadinya Aran melamar Di dan ingin kami menikah setelah sekolahnya selesai. Tapi Di belum siap. Dia ingin kami bertunangan dulu." jelas Aran.
"Anak ini, hal bagus seperti itu orangtua di lewatkan. Bunda mau marah rasanya." Dewanti merajuk.
"Aran tidak ingin ada keramaian. Cukup Aran dan Diona saja." Aran mengungkap ketetapan hatinya.
"Tapi Aran ini hal yang serius, kami berhak tau." Dewanti tidak mau kalah.
"Aran mengerti, hanya saja waktunya tepat untuk mengikat Diona. Tapi Aran akan ke Surabaya untuk bicara dengan om Danu. Tidak pantas rasanya melewatkan orangtua. Mereka kan pengganti orangtua Di." Aran bermaksud meminta restu.
"Itu benar, kalau begitu bunda dan ayah akan mendampingimu ke Surabaya. Biar bunda yang ber tau ayah." Dewanti senang Aran mendapatkan cintanya. Dia paham putranya tidak sabar untuk mendapatkan Diona.
"Bunda tau Di bilang apa? Dia janji tidak akan pergi lagi dari sisi Aran. Lalu kami pasti akan menikah." wajah Aran berseri-seri ketika mengatakan itu. Dewanti menatap putranya. Harusnya sejak dulu dia melihat putranya seperti itu.
"Aran pulang dulu ya bunda. Ingin istirahat " Aran pamit. Dari bandara dia langsung menemui Dewanti. Aran ingin segera membagi berita bahagianya. Parjo pun membawa Aran pulang ke rumahnya. Dewanti masih terus mengamati gelang di tangannya. Tidak sadar Rustam datang menghampirinya.
"Gelang baru ya, mas baru lihat." komentar Rustam pada istrinya.
"Eh mas sudah pulang. Ya ini gelang baru. Tentu saja mas baru lihat. Ini pilihan calon menantu." ucap Dewanti bangga.
"Untuk mas mana?" tanya Rustam cemburu.
"Memangnya mas mau pakai gelang?" Dewanti mengejek.
"Kapan dapatnya?" Rustam masih penasaran.
"Baru saja. Aran tadi datang memberi tau kalau dia sudah bertunangan dengan Diona. Dia akan ke Surabaya untuk bertemu Danu dan Wilma. Sebetulnya Aran sudah melamar Diona untuk menikah setelah gadis itu pulang. Tapi Diona belum mau." Dewanti sedikit kecewa.
"Diona pasti punya alasan sendiri. Mereka baru saja bersama, terlalu cepat jika menikah. Putramu sungguh tidak sabar. Tapi baik jika mereka bertunangan dulu. Mereka bisa lebih mengenal dan menguatkan cinta mereka " Rustam bisa mengerti keputusan Diona.
"Kalau begitu mas mau kan kita ke Surabaya untuk mendampingi Aran?" tanya Dewanti berharap.
__ADS_1
"Tentu saja. Ini kan menyangkut kebahagiaan anak-anak kita. Mas yang akan persiapkan keberangkatan kita " Rustam ingin menebus kesalahannya dulu. Kali ini dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk membuat putranya bahagia. Sementara Rustam mempersiapkan keberangkatan mereka ke Surabaya, Aran justru menggunakan waktunya dengan tidur. Ketika tiba di rumah dia mengantuk sekali dan segera tidur.