PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kejujuran Aran


__ADS_3

"Apa?" Mhina langsung takut mendengarnya.


"Terima kasih ya sayang, kamu memberi hadiah terindah semalam." Luthan tersenyum mesra, tangannya akan memeluk Mhina. Tapi tangannya di tepis Mhina.


"Luthan ini tidak seharusnya terjadi. Nanti aku bilang apa pada Aran." Mhina pucat dan ketakutan.


"Tenang sayang itu bisa di atur." Luthan masih tetap tenang.


"Kamu pulang saja sekarang, nanti ada yang lihat kita di sini." Mhina bangkit dan memakai bajunya, Luthan masih menatap Mhina terpana. Mhina perlahan berjalan ke pintu dia mengintip ke luar. Tampaknya belum ada orang.


"Ayo Luthan cepat pergi." Mhina mengusir Luthan yang berdiri dengan malas. Di pakainya bajunya.


"Iya aku pergi, sudah jangan bingung." Luthan bergegas keluar, dia tidak mau Mhina terus merasa panik. Luthan meninggalkan rumah Aran. Mhina pun membereskan kamarnya lalu mandi. Dia tidak mau para pekerjanya curiga. Tidak lama mbok Yem, Sumi dan Parjo pulang. Mereka langsung bekerja membersihkan rumah dan memasak. Tidak tau apa yang terjadi ketika mereka belum datang. Mhina tetap di kamar. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Mhina menyesal, seandainya dia tidak pergi ke luar. Aran kembali malam hari, Mhina tidak keluar dari kamarnya karena takut bertemu Aran. Suaminya malah berpikir Mhina sudah tidur. Dari laporan Sumi rumah baik-baik saja, Aran tenang. Tapi sebenarnya Aran sedang sibuk memikirkan Diona. Walau sekejap Aran bisa melihat Diona lebih berisi tubuhnya. Tambah cantik. Apa dia bahagia? Karena sekarang ada seseorang di sampingnya. Pagi hari seperti biasa Aran sarapan Mhina tampak canggung dan takut padanya. Aran heran tapi tidak ambil pusing, karena hatinya sendiri sedang rusuh. Ketika datang ke kantor juga Aran berupaya memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Tiba-tiba Dewanti Wiraguna datang.


"Bunda, kenapa tidak bilang mau datang?" Aran menyambut ibunya dengan senang.


"Kamu ya pergi tidak bilang-bilang. Tau kamu pergi bunda kan bisa ikut." Dewanti mengomel.


"Maaf bunda, tapi apa ayah mengijinkan?" Aran menuntun bundanya untuk duduk.

__ADS_1


"Kamu tidak lelah, pulang langsung bekerja?" Dewanti sangat sayang pada putranya. Selain putra satu-satunya yang di milikinya, Aran juga pandai mengambil hati ibunya.


"Sudah biasa seperti itu. Bunda tidak perlu kuatir. Ada apa bunda tiba-tiba datang?" Aran ingin tau.


"Kenapa kamu tidak cerita pada bunda tentang ulah istrimu? Siapa laki-laki yang terus menemuinya?" tanya Dewanti serius. Aran terkejut.


"Dari mana bunda tau tentang itu?" Aran tidak menduga ibunya akan tau. Dewanti pun bercerita tentang para pekerja di rumah Aran yang bertandang ke rumahnya. Juga apa yang mbok Yem ceritakan. Aran sadar, tidak ada yang dapat dia tutupi lagi dari ibunya sekarang.


"Ya bunda. Aran kecewa Mhina ternyata tidak patuh pada suami. Pria itu bernama Luthandio, masih saudara jauh dan di angkat anak oleh ayah Mhina. Aran kecewa bunda, Mhina tidak mau memberitahu suaminya tentang pria itu. Aran mencari tau sendiri." jujur Aran berkata.


"Apa? jadi sampai saat ini Mhina tidak pernah berkata jujur?" Dewanti marah.


"Tapi tidak begitu caranya Aran. Walau memiliki keterbatasan dia masih bisa melakukan hal berguna. Kalau dia bosan dia bisa datang sesekali ke sini menengokmu. Mhinanya saja yang memang tidak perduli pada suami." Dewanti semakin kesal karena ternyata pengamatannya terbukti benar.


"Maaf bunda jadi marah. Bunda benar mungkin tidak seharusnya dulu Aran menentang bunda. Ternyata rasa iba dan niat baik memang tidak cukup bagi Aran untuk membina rumah tangga. Dulu Aran berniat untuk belajar mencintai dan menjaga Mhina. Membuatnya bahagia. Tapi setelah hidup berdua ternyata apa yang di lihat dan di rasa berbeda. Aran tidak mendapat apa yang di harapkan dari Mhina dan Mhina juga mungkin tidak mendapat apa yang dia ingin dari Aran." Aran tidak ingin Dewanti marah. Bukan tujuannya membuat orangtuanya marah dan kecewa atas rumah tangganya.


"Maksud kamu cinta? Tapi katanya Mhina mencintai kamu Aran." Dewanti heran. Aran sendiri heran.


"Entahlah bunda, cara Mhina mencintai Aran sampai saat ini Aran masih bingung. Sepertinya Mhina hanya ingin memiliki aku tapi tidak mencintai aku." Aran mengungkap apa yang di rasakannya.

__ADS_1


"Mungkin dia mencintaimu Aran, tapi dia sibuk dengan dirinya sendiri. Sabar ya, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Dewanti sudah merasa Mhina bukan gadis yang tepat untuk di jadikan istri bagi putranya. Tapi semua sudah terjadi. Dia tidak mau mengecilkan hati Aran.


"Aran belum tau bunda. Saat ini aku hanya menjalankan tanggung jawabku menjaga Mhina." Aran menanti waktu yang tepat untuk bicara pada bundanya tentang perasaan yang di simpannya. Perasaan yang membuatnya enggan meneruskan rumah tangganya.


"Tapi Aran dengan hanya perkataan saja ayahmu tidak akan menyetujui perceraian. Begini saja, bicara pada Mhina bahwa kau sudah tau semua tingkahnya dan katakan jika kau tidak suka dia terus bertemu dengan Luthandio. Biar bagaimana mereka tidak sedarah. Jika Mhina tidak setuju kau boleh singgung tentang perceraian, semoga Mhina berubah. Dan jika dia berubah kau harus menepati kata-katamu nak untuk mencintainya." Dewanti memberi saran.


"Baik bunda, aku coba bicarakan." Aran lesu. Perkataan terakhir Dewanti membuatnya mulas. Tapi ini memang sudah resiko atas keputusannya.


"Satu lagi, Sekarang bunda sudah tau apa yang terjadi dengan pernikahanmu. Untuk selanjutnya jangan ada yang kamu sembunyikan pada bunda. Ceritakan pada bunda, percayalah bunda sakit mendengarnya dari orang lain." Dewanti berpesan.


"Bukan maksud aku untuk menyembunyikan bunda. Hanya aku kan sudah dewasa, ingin menyelesaikan masalahku sendiri. Tidak ingin merepotkan orangtua. Maaf kalau bunda merasa di abaikan." Aran memegang tangan Dewanti, ingin meyakinkan bundanya.


"Bunda mengerti, tapi ini serius Aran. Orangtua harus tau. Apalagi orangtua Mhina." Dewanti gemas. Orangtua Mhina tampak terlalu bangga pada putrinya.


"Bunda sabar dulu ya, jangan mengatakan apa-apa dulu. Ingat ya ini urusanku. Nanti biar aku yang selesaikan." Aran khawatir Dewanti bertindak sendiri, bicara pada orangtua Mhina.


"Bunda percaya sama kamu. Bunda hanya kasihan pada putra bunda. Tidak sepantasnya mengalami hal seperti ini. Ya sudah, ini sudah siang makan sama bunda ya." Dewanti tidak rela putra kesayangannya kesulitan.


"Ayo kita makan siang." Aran semangat. Sudah lama dia tidak makan siang dengan bundanya.

__ADS_1


"Bunda tidak ke tempat ayah?" tanya Aran.


__ADS_2