
Bayu hanya terdiam melihat Aran menuntun Diona keluar dari apartemen. Bayu menyusul dan mengunci apartemen. Bayu berpikir mereka akan menggunakan taksi tapi ternyata tidak. Aran menghampiri sebuah mobil pribadi dan membantu Diona masuk pada kursi penumpang.
"Kau temani Di. Aku yang akan bawa mobilnya." kata Aran pada Bayu. Tanpa protes Bayu pun duduk di sebelah Diona. Aran masuk di kursi pengemudi dan menjalankan mobil itu. Bayu tidak tau Aran akan membawa mereka ke mana, tapi dia akan ikuti kemauan Aran.
"Tenang Di kau akan baik-baik saja " Bayu menarik Diona dalam pelukannya. Diona masih sedikit gemetar dan pucat.
"Kau tidak sekolah hari ini, jadi sejak pagi kau di apartemen?" tanya Bayu ingin tau. Diona mengangguk.
"Paul bekerja ya, dia tidak pulang siang ini?" Bayu heran biasanya Paul membuatkan makan siang untuk Diona.
"Paul sedang ke Amalfi, besok baru kembali." kata Diona pelan. Bayu jadi merasa bersalah. Harusnya dia tidak perlu makan siang dengan gadis sombong tadi. Kalau dia pergi menemui Diona dan makan siang dengan gadis itu pasti hal ini tidak akan terjadi. Berbeda dengan Aran yang melihat Diona dalam pelukan Bayu dia sangat cemburu. Harusnya dia yang memeluk Diona. Tapi Aran mengerti , perasaan Diona masih kacau dan Bayu ingin membuat Diona tenang. Mereka tiba di sebuah rumah mungil yang asri. Di halamannya banyak bunga-bunga tumbuh. Aran memadukan mobil pada garasi. Mereka pun turun dari mobil. Aran mengeluarkan kunci rumah itu dari saku celananya. Di bukanya pintu rumah dan mempersilahkan Bayu dan Diona masuk.
"Aran, ini rumah siapa?" tanya Bayu penasaran. Matanya mengamati ke sekeliling rumah itu.
"Rumah milik kolegaku. Dia mempersilahkan aku menggunakannya jika aku ingin liburan. Sepertinya dia sudah membersihkannya dan menyiapkannya ketika mendengar aku akan ke Italy. Sayangnya aku tinggal di hotel bersamamu." jelas Aran. Sebenarnya Aran tidak mau tinggal di hotel, namun dia ingin tinggal di apartemen di sebelah apartemen Paul. Tapi karena dia datang bersama dengan Bayu terpaksa dia mengambil kamar di hotel yang sama dengan Bayu. Tapi Aran tidak tidur di sana. Sejak semalam dia tidur di apartemen. Itu sebabnya dia tau Luthan datang menemui Diona. Luthan tidak menutup pintu apartemen hingga teriakan Diona terdengar dan Aran bisa masuk. Tentu saja ini tidak akan di katakan ya pada Bayu. Saat itu Bayu sudah memeriksa kamar-kamar yang ada. Dia mengantar Diona pada sebuah kamar yang rapih dan bersih.
"Kau tidur di sini, gantilah bajumu." Bayu meletakan tas yang berisi semua keperluan Diona pada sebuah meja, lalu keluar dari kamar itu. Diona perlahan membuka mantel Aran dan membuka bajunya yang telah rusak. Dia memilih satu bajunya dari tas lalu memakainya. Diona duduk di tepi tempat tidur, dia lalu memeluk mantel Aran. Di ciumnya mantel itu wanginya masih sama dengan wangi Aran yang dulu. Diona rindu pada pria itu dan bersyukur Aran menyelamatkannya. Bayu telah melihat-lihat ruangan di rumah kecil itu.
__ADS_1
"Memang sudah di bersihkan semua " kata Bayu pada Aran.
"Hanya ada roti dan pasta. Tidak ada nasi. Tapi sayur dan buah lengkap. Kurasa cukup untuk hari ini." kata Aran yang memeriksa dapur. Dia mencoba membuat roti isi untuk Diona. Aran yakin Diona belum makan siang.
"Jadi siapa pria itu?" tanya Bayu menuntut penjelasan. Diona baru saja membuka pintu kamar sedikit ketika dia mendengar Bayu bertanya. Diona menahan langkahnya.
"Luthandio Aransyah. Putra angkat ayah Mhina. Selingkuhan Mhina dan lebih tepatnya ayah dari bayi yang di kandung Mhina." jawab Aran sinis. Bayu terkejut.
"Pria itu sudah gila ya, untuk apa dia menyakiti Diona?" Bayu berkata marah. Diona lebih terkejut lagi. Mhina berselingkuh. Diona memutuskan untuk tidak keluar dulu. Dia akan mendengar percakapan Bayu dan Aran diam-diam.
"Dari mana kau yakin kalau itu bukan bayimu?" tanya Bayu curiga. Aran menatapnya dan tertawa.
"Aku tidak pernah menyentuh Mhina dari awal pernikahan hingga kami bercerai." jawab Aran yakin dan mantap. Diona baru tau Aran telah bercerai. Dia merasa betapa bodohnya Mhina. Empat tahun berupaya menjadikan Aran miliknya. Ternyata harus bercerai. Apa kata Aran tadi, selingkuh?
"Memang kenapa kau tidak mau menyentuhnya? dia kan istrimu Aran?" Bayu penasaran.
"Aku tidak mencintainya, belum. Aku juga mempertimbangkan kesehatan Mhina dalam hal mengandung dan melahirkan. Istriku memiliki tubuh yang tidak biasa. Terlalu lemah. Pasti nantinya kami ingin punya anak." wajah Aran sedih, dia memang ingin punya anak.
__ADS_1
"Jadi kau sudah tau keadaan istrimu." Bayu terkesima.
"Tentu saja aku sudah tau keadaan istriku dari sebelum kami menikah " Aran menunjukan bahwa pernikahannya di sertai pertimbangan yang matang. Bayu jadi paham mengapa Aran sangat marah dan sakit hati. Dia sudah memberi kesempatan pada Mhina yang pria lain pasti tidak mau melakukannya. Tapi di balas dengan perselingkuhan dan mengandung bayi pria lain.
"Aku paham perasaanmu. Aku dengar Mhina saat ini berada di rumah sakit." Bayu yakin Aran pasti tau.
"Ya dia mau aku datang melihatnya. Tapi untuk apa. Dia bukan lagi bagian dalam hidupku. Bayi itu juga bukan milikku. Aku rasa tinggal menunggu waktu sampai kapan bayi itu bisa bertahan " Aran menyatakan kalau Mhina sedang berulah. Ada perasaan iba yang Diona rasakan dari perkataan Aran. Tapi ada perasaan lega karena sekarang dia bisa tetap mencintai Aran.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Bayu, menawarkan bantuan.
"Ini urusanku. Kau temani Di saja di sini. Aku akan kembali ke hotel dan membereskan barangmu. Akan aku kirim ke sini." Mendengar Aran akan pergi Diona memutuskan untuk keluar dari kamar. Diona duduk di sofa. Aran menghampirinya.
"Makanlah Di, kau pasti lapar. Ini ada coklat hangat untukmu." Aran meletakan roti isi yang di buatnya tadi beserta minuman coklat hangat. Diona tidak menolak. Dia memang lapar dan roti itu buatan Aran.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Di?" tanya Bayu bingung. Tidak mungkin Diona sembunyi terus.
"Kau benar, tunggu sebentar." Aran berjalan ke dekat jendela. Dia menghubungi seseorang dengan segera.
__ADS_1