PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Menurut Lucca, apa pun itu mereka harus tau.


"Baiklah kalau begitu. Justin Filmore pengacara yang bagus. Namanya cukup bersinar. Itu sebabnya mudah di kenal. Dia sudah mengajukan surat pengunduran dirinya pada kantor pengacara tempat dia bekerja. Hanya ada beberapa pekerjaan yang harus di lakukannya. Salah satunya dia harus ke Canada. Tapi ternyata Justin mengalami kecelakaan di sana. Dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Rekan kerjanya di sana menghubungi Rebecca Larsen, tunangan Justin. Becky, nama panggilan gadis itu menjemput Justin ke Canada. Karena ternyata Justin mengalami amnesia." penjelasan Brad membuat Lucca dan Elis jadi tau mengapa Justin tidak bisa di hubungi.


"Tapi bukankah Justin sudah memutuskan pertunangannya?" tanya Elis sedih.


"Tidak ada yang tau tentang hal itu. Tapi seandainya benar mungkin rekan kerjanya tidak tau." jawab Brad, dia merasa tidak enak hati pada Elis.


"Jadi sekarang Justin ada di mana?" tanya Lucca penasaran.


"Ada di apartemennya. Becky membawanya pulang. Menurut kabar Justin belum melakukan kegiatan apa-apa. Aku punya alamatnya." Brad mengeluarkan sebuah kertas berisi alamat apartemen Justin.


"Aku bersedia mengantar kalian ke sana jika kalian mau." Brad menawarkan.


"Bagaimana Elis, kau bersedia bertemu dengannya?" tanya Lucca. Mengingat Justin amnesia, belum tentu dia mengenali Elis.


"Aku rasa aku memang harus menemuinya." kata Elis, walau cemas dan takut tapi dia ingin bertemu Justin.


"Baik kalau begitu aku akan mengantar kalian." Brad bangkit berdiri. Mereka pun berangkat. Tangan Elis dingin, dia gugup. Bagaimana jika Justin tidak mau bertemu dengannya? Lucca menggenggam tangan Elis, dia bisa melihat Elis gugup dari raut wajah gadis itu. Elis jadi lebih tenang. Mereka tiba di apartemen milik Justin. Lucca menekan bel pintu apartemen. Pintu terbuka. Tampak seorang gadis cantik dengan penampilan elegan. Tepat seperti yang di gambarkan Justin, Elis menduga ini tunangan Justin.


"Ada apa?" tanya gadis itu angkuh.


"Kami mencari Justin Filmore." kata Lucca sopan. Dia langsung merasa tidak suka pada gadis itu.

__ADS_1


"Justin? Kalian siapa?" tanya gadis itu curiga.


"Kami temannya dari Italy." jelas Lucca. Dia tidak mau gadis itu tau dulu tentang Elis.


"Teman? Aku tidak yakin dia ingat kalian. Tapi coba saja temui dia." gadis itu meremehkan mereka. Tapi Lucca memberi isyarat pada Elis untuk tetap tenang. Ikuti saja dulu permainan gadis itu. Mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Brad menunggu di luar. Gadis angkuh itu masuk ke dalam memanggil Justin. Tidak lama pria itu keluar di iringi gadis tadi. Justin menatap mereka dengan dingin, tanpa mengatakan apa pun dia duduk di hadapan mereka. Matanya menatap Lucca dan Elis bergantian. Lucca menduga Justin sedang mencoba mengingat mereka siapa.


"Kalian siapa?" tanya Justin pada akhirnya.


"Betulkan kataku, dia tidak tau kalian." kata gadis itu.


"Becky, mereka tamuku." tegur Justin, gadis itu terdiam. Elis menangis, bagaimana dia akan bilang mereka akan punya bayi jika Justin tidak ingat padanya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Justin lembut pada Elis. Becky menatap sinis pada Elis.


"Kekasihku?" tanya Justin terkejut. Elis semakin larut dalam tangisnya.


"Itu bohong, Justin tunanganmu." kata Becky marah.


"Dia sudah memutuskan pertunangannya denganmu. Justin dan Elis adalah teman sepermainan sejak kecil. Mereka berpisah ketika Justin kuliah ke New York. Bertemu lagi di Italy beberapa bulan yang lalu. Saat itulah dia menelponmu, memutuskan pertunangannya denganmu. Itu sebabnya pula Justin mengundurkan diri dari kantornya. Dia ingin pulang bersama Elis ke Dakota." Lucca menjelaskan dengan marah. Becky terkejut, dia tidak menyangka Lucca tau dia dan Justin sudah putus.


"Aku dan Becky sudah putus?" Justin juga terkejut.


"Iya, gadis itu juga bilang dia bisa mencari pria lain yang lebih baik darimu." Lucca ingat cerita Justin hari itu ketika memutuskan tunangannya.

__ADS_1


"Bohong." Becky jadi semakin takut. Justin menatap Elis lekat.


"Dengar aku muak pada gadis yang masih mengaku sebagai tunanganmu itu. Aku sudah mengatakannya padamu, kau percaya atau tidak kau putuskan sendiri. Tapi ingat aku memberi tau padamu, saat ini Elis tengah mengandung anakmu. Kalian membuatnya sebelum kau pulang ke London. Elis sangat bingung karena kau tidak bisa di hubungi. Ini alamat tempat kami menginap kalau kau sudah sudah memutuskan. Kami pergi dulu." Lucca tidak mau Elis semakin sedih. Ada bayi yang harus dia jaga. Lucca merangkul Elis membantunya berdiri karena Elis lemas. Perlahan Lucca membantu Elis berjalan. Tatapan Justin tidak lepas dari Elis. Tapi dia masih tidak mengatakan apa pun.


"Jangan sampai kau menyesal." kata Lucca sebelum mereka menghilang di balik pintu. Brad masih menunggu mereka di luar. Dia langsung membantu membukakan pintu mobil melihat Lucca yang keluar bersama Elis. Lucca duduk bersama Elis di bangku belakang, gadis itu menangis dalam pelukan Lucca. Brad tidak berani bicara, dia duduk dan mengemudi mobil menuju tempat Lucca dan Elis menginap.


"Sudah jangan menangis. Pasti ada jalan keluar nanti." kata Lucca menghibur Elis. Tapi Elis tetap menangis. Ketika tiba di penginapan Lucca membantu Elis ke kamarnya. Membaringkan Elis di tempat tidur, lalu Elis tertidur karena lelah. Lucca keluar menemui Brad. Temannya tetap menunggu di ruang tamu. Penginapan yang di pilih Lucca memiliki ruang tamu dan dua kamar tidur.


"Maaf, apa Justin menolak Elis?" tanya Brad.


"Dia tidak ingat pada Elis tapi tidak mengatakan apa pun. Justin sendiri tidak ingat dia sudah memutuskan tunangannya. Dan gadis itu bertingkah seolah mereka masih bertunangan." kata Lucca jijik pada tingkah Becky.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanya Brad ingin tau.


"Aku sudah memberikan alamat tempat ini. Kalau Justin tidak datang kami akan pulang ke Italy." kata Lucca pada Brad. Lucca tidak mau Elis di hina atau di tolak. Gadis itu tidak salah.


"Baiklah, kabari aku jika kau butuh bantuan." kata Brad ingin pamit.


"Aku yang berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan bagi kami." kata Lucca mengantar Brad keluar. Setelah Brad pergi Lucca memesan makanan untuk dia dan Elis. Lucca menunggu gadis itu bangun. Dia harap Justin datang dan menemui Elis. Tapi rasanya sulit, karena pria itu lupa ingatan. Akhirnya Elis bangun. Tapi perasaannya hatinya tidak berubah. Dia sangat sedih melihat Justin yang tidak ingat akan dirinya.


"Elis, ayo makan dulu." bujuk Lucca dengan lembut.


"Aku tidak lapar." jawab Elis sendu.

__ADS_1


"Tapi kau harus ingat bayimu, jangan egois." Lucca mengingatkan.


__ADS_2