
Setelah beberapa waktu panggilan Aran baru di jawab dengan suara seseorang yang baru bangun tidur.
"Ya Aran, ada apa? Kau butuh bantuanku?" tanya Bayu yang terpaksa bangun karena dering ponselnya.
"Kau baru bangun tidur?" Aran tertawa, dia berpikir Bayu betul-betul menggunakan waktunya untuk bulan madu.
"Mitsi ingin mengunjungi pasar malam. Kami pulang sangat larut. Bagaimana persiapan pernikahanmu?" Bayu berkata dengan suaranya yang mengantuk.
"Kami tertahan di Singapure. Ada kejadian buruk yang terjadi. Leana terluka dan sedang dirawat di rumah sakit. Nanti saja aku ceritakan. Aku hanya ingin memberi tau, kami belum bisa kembali ke Indonesia." Aran menjelaskan.
"Astaga, untung saja kami belum kembali. Tolong bookingkan kamar hotel, kami akan menyusul ke sana " hilang sudah rasa kantuk Bayu.
"Tidak perlu terburu-buru. Aku dan Di baik-baik saja. Lagi pula ayah dan bunda sudah ada di sini." Aran tidak mau rencana Bayu terganggu.
"Tidak, kami akan segera ke sana. Akan aku hubungi jika sudah tiba di Singapure." Bayu semakin ingin datang mendengar Rustam dan Dewanti menyusul ke Singapure. Itu berarti serius. Bayu memutus kontak, karena dia akan segera bersiap untuk berangkat meninggalkan Italy. Bayu segera bangkit untuk mandi, di biarkannya istrinya yang masih tertidur. Aran menyimpan ponselnya ketika Bayu memutus kontak.
"Apa kata Bayu?" tanya Diona ingin tau.
"Mereka akan segera datang ke sini." jawab Aran singkat.
"Tapi mereka kan sedang bulan madu." Diona merasa tidak enak.
"Sudahlah, di sini mereka juga masih bisa menikmati bulan madu." Aran menenangkan. Toh keinginan Bayu tidak dapat di cegah. Diona membenarkan dalam hati.
"Di, ayo kita mengukir hari di sini. Jangan hanya ingat kau di sini bersama Bayu." Aran menarik Diona untuk bangkit berdiri. Mereka jalan-jalan sambil berfoto. Sampai Rian datang untuk menjemput.
__ADS_1
"Di, kamu mau makan di sini atau di rumah sakit?" tanya Aran lembut.
"Kita makan sama-sama saja di rumah sakit." Diona tidak suka jika harus menambah pekerjaan Rian. Menunggu mereka makan baru ke rumah sakit. Atau ke rumah sakit dulu mengantarkan makanan lalu datang lagi menjemput mereka. Merepotkan.
"Ya sudah, kita kembali ke rumah sakit." hati Aran terasa hangat. Diona mau bersama dengan orangtuanya. Dulu Mhina mana pernah mau begitu. Acara keluarga saja Mhina malas datang. Mereka kembali ke rumah sakit. Makan bersama orangtua Aran termasuk Rianto. Dewanti tampak telaten memperhatikan Leana. Rustam menggelengkan kepala. Calon menantunya saja tidak di perhatikan seteliti itu. Tapi Diona juga tidak kalah perhatian dengan Leana.
"Lea, ini kesukaanmu." Diona memberikan salah satu menu makan siangnya pada Leana.
"Dulu kita pernah coba bikin tapi gagal." Diona tertawa ingat ketika mereka rindu makanan Indonesia. Makan siang yang di beli Rian memang makanan Indonesia.
"Wah sepertinya enak ini." Leana mencoba makanan tersebut.
"Benar enak." Leana berseri wajahnya.
"Kalau suka perkedel tahu nanti bunda buatkan yang banyak." kata Dewanti menanggapi.
"Kita bagi dua ya." Diona membagi dua perkedel tahu itu dan memberikan setengahnya pada Aran. Rustam melihat itu jadi tersenyum. Tidak sengaja matanya menatap Rianto yang mengacungkan ibu jarinya pada Rustam. Rupanya asisten Aran itu sudah sering menangkap moment manis pasangan itu. Setelah makan Leana tidur karena obat yang di minumnya membuat dia mengantuk.
"Sayang, kita kembali dulu ke hotel ya. Biar Aran dan Diona yang menjaga Leana. Nanti sore kita kembali lagi." saran Rustam pada Dewanti.
"Baiklah mas." Dewanti menurut, dia membetulkan letak selimut Leana.
"Aran bunda istirahat dulu, nanti sore kembali lagi " Dewanti pamit pada putranya.
"Diona kamu istirahat saja di tempat tidur yang satu. Kamu juga masih perlu istirahat." Rustam memberi perhatian pada calon menantunya. Dia paham istrinya sedang banyak pikiran. Dewanti tersadar jika dia sudah mengabaikan Diona.
__ADS_1
"Kamu tidak apa Di, istirahat di sini?"tanya Dewanti merasa tidak enak hati telah mengabaikan calon menantunya.
"Sudah bunda, Di urusan aku. Bunda kembali saja dengan ayah." Aran mengambil alih perhatian untuk Diona. Aran menarik Diona ke arah tempat tidur, mendudukkan gadis itu memaksanya untuk istirahat.
"Kau juga harus istirahat." Aran tidak ingin di bantah. Diona pun menurut dengan merebahkan dirinya. Melihat itu Rustam dan Dewanti keluar dengan di iringi Rian. Membiarkan Diona beristirahat.
"Rian kamu antar ayah dan bunda kembali ke hotel, lalu pesankan satu kamar lagi untuk Bayu." kata Aran yang menyusul keluar.
"Bayu mau ke sini?" tanya Rustam heran.
"Ya ayah, Bayu akan menyusul datang. Tapi tidak tau kapan tibanya." jawab Aran.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke hotel. Rian masih punya tugas." ajak Rustam pada Dewanti. Mereka pun bergegas pergi meninggalkan Aran.
Di Italy Bayu dan Mitsi sudah bersiap untuk ke Singapure. Mereka sudah tiba di bandara.
"Aku akan membeli tiket pesawat, kau mau duduk dan menunggu?" tanya Bayu pada Mitsi. Tapi tiba-tiba Mitsi merapatkan tubuhnya.
"Bayu tunggu." Mitsi terdiam dan menahan lengan Bayu agar berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanya Bayu bingung menatap Mitsi lekat.
"Tadi aku sempat melihat pria yang akan di jodohkan denganku lewat tidak jauh dari kita. Aku takut Bayu." kata Mitsi dengan wajah cemas. Bayu terdiam mencerna perkataan Mitsi. Dia ingat Mitsi akan di jodohkan dengan seorang mafia oleh ayahnya hingga dia melarikan diri. Mungkinkah orang itu ada di Italy? Tapi Bayu tidak mau ambil resiko. Bisa saja orang itu memang ada di Italy. Bayu memperhatikan penampilan Mitsi. Istrinya menggunakan mantel panjang warna cream. Warna yang tidak menarik perhatian. Mitsi juga mengenakan scrap warna putih dengan bunga-bunga kecil warna kuning. Bayu menaikan scraf Mitsi menutupi kepalanya, untung saja scraf itu lebar. Mitsi jadi mengenakan kerudung.
"Di mana kacamata hitammu?" tanya Bayu. Mitsi segera membuka tasnya dan mengeluarkan kaca mata hitam miliknya. Bayu meraihnya dan memakaikannya pada Mitsi.
__ADS_1
"Untuk sementara begini dulu. Ikut aku kita beli sesuatu." tangan Bayu merangkul Mitsi. Mereka menuju salah satu toko di dekat bandara. Toko itu menjual banyak barang termasuk suvenir untuk para turis. Bayu membeli masker untuk Mitsi yang segera di gunakannya. Bayu sendiri membeli sebuah topi warna hitam sama dengan warna mantelnya. Di kenalannya topi itu dan tidak lupa Bayu mengenakan kacamata hitamnya. Mereka kembali memasuki bandara. Kali ini Mitsi tidak lepas dari Bayu. Mereka mencari penerbangan yang tercepat ke Singapure. Bayu memang tidak membeli tiket secara online. Khawatir keadaan istrinya yang berubah. Bayu menyesal sekarang.