PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Aku Temukan Kamu


__ADS_3

Danu dan Wilma mengunjungi Diona. Kali ini Diona minta mereka untuk jalan-jalan ke Roma. Ibukota Italia. Mereka mengunjungi Koloseum yang banyak di minati. Air mancur Trevi yang menyegarkan mata. Kalau boleh Diona ingin masuk ke dalam airnya. Tidak lupa melihat panorama indah Roma dari kubah Basilika Santo Petrus dan Forum Romawi. Hotel yang Danu pilih juga menampilkan pemandangan indah kota Roma. Lalu yang tidak boleh ketinggalan adalah makanan. Itu favorit Diona. Karena bosan dengan pasta Diona memilih makanan laut. Mereka makan roti isi dengan sayur dan gurita. Awalnya Diona merasa aneh, tapi menurutnya lumayan. Ada juga penjual kaki lima yang menjual roti isi seperti itu dan isinya benar-benar banyak. Ada sayur, daging, keju dan lainnya. Diona yakin dia tidak dapat menggigit roti itu karena tingginya. Tapi roti itu terlihat menarik. Untuk Wilma dia tidak melewatkan Spanish Steph. Di mana banyak toko-toko berjejer. Tapi Diona suka tempat itu, karena ada banyak makanan juga di sana. Paul tertawa, kalau tantenya sibuk belanja barang-barang mewah. Keponakannya justru sibuk mencoba makanan. Tapi anehnya barang di lemari Diona pasti bertambah. Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Palazzo Doria Phamphilij. Di mana banyak barang seni di pamerkan. Tempat ini membuat pandangan Danu pada seniman semakin berubah. Dia tidak lagi sekaku dulu. Apalagi dilihatnya Diona sekarang mulai menikmati hidupnya. Mungkin memang darah seninya kuat. Jika melihat Diona, Danu jadi teringat pada Aran. Ternyata dua orang ini memiliki perasaan yang sama. Danu jadi merasa bersalah, dirinya kurang peka untuk tau perasaan Diona. Kehilangan kedua orangtuanya membuat Diona menjadi gadis yang tertutup. Sedangkan Danu terlalu sibuk menangani perusahaan, karena itu warisan milik Diona. Wilma sudah pasti memberikan perhatian pada Diona, tapi ternyata itu belum cukup. Belajar melukis ternyata bukan hanya membuat Diona nyaman. Tapi juga merasa dekat dengan dunia ibunya. Sosok yang di rindukannya. Perasaannya pada Aran ternyata berbalas. Hanya saja Aran sudah membuat keputusan yang membuatnya susah. Danu tidak tau harus berbuat apa. Tapi untuk sekarang sebaiknya memang Diona tidak bertemu Aran.


"Tuan ada beberapa kerjasama yang harus di tinjau kembali. Kerjasama ini tuan Rustam yang mengaturnya dulu." Rianto melaporkan pada Aran.


"Kamu atur saja, jika kita perlu bertemu kita akan membahasnya. Tolong buat janji dengan mereka." Aran tau ayahnya sudah bekerja keras dulu. Sampai sekarang pun Rustam masih terus mengembangkan usahanya. Aran selain menjalankan tanggung jawab di perusahaan ayahnya, dia juga melampiaskan rasa kecewanya pada pekerjaan.


"Sepertinya tuan harus keluar negeri, tuan Reynold dari perusahaan RB Co ingin bertemu." Rianto datang kembali.


"Baik kamu atur. Saya akan berangkat." kata Aran. Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu Aran tiba di London. Rianto sudah mengatur hotel tempat dia menginap. Tempat pertemuan juga tidak jauh dari situ. Aran memilih beristirahat dulu, sebelum menemui Reynold. Aran juga memutuskan untuk makan di hotel saja. Ketika waktunya tiba dia berangkat menuju tempat pertemuan. Sebuah cafe dengan nuansa ketimuran terasa hangat.


"Tuan Reynold." Aran sudah melihat fotonya, jadi tidak salah menyapa orang.


"Jadi ini tuan Aran Wiraguna. Mari duduk. Perkenalkan ini pengacara saya Justin Filmore. Kami baru saja ada pertemuan." Reynold menyalami Aran dan mengenalkan pria di sebelahnya.


"Saya Justin Filmore. Anda dari Asia?" tanya Justin ingin tau.

__ADS_1


"Betul, saya dari Indonesia." jawab Aran sambil tersenyum ramah.


"Saya juga punya kenalan dari Indonesia." kata Justin. Dia teringat ketika makan malam dengan Elis di sebuah restauran. Ketika Lucca sudah membawa Elis pulang Justin masih berdiri di depan dengan pikirannya pada Elis. Tiba-tiba teman Elis datang dari dalam restauran.


"Hai kau teman Elis ya." sapa Justin pada Diona.


"Ya betul, kau Justin kan. Aku Diona Azalea." Diona membalas ramah sapaan Justin.


"Kau dari Asia ya ?" Wajah Diona berbeda.


"Ya aku ingat namanya Diona Azalea. Dari Indonesia." kata Justin yakin. Aran tertegun. Justin memperlihatkan foto Elis dan Diona yang diambilnya diam-diam. Itu Diona.


"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Aran sambil berdebar.


"Florence, Italy." jawab Justin cepat. Pertemuan berjalan lancar. Senyum Aran tidak pernah pupus. Aku menemukanmu Diona. Selesai pertemuan Aran menghubungi Dewanti.

__ADS_1


"Aran sayang, ada apa nak?" tanya Dewanti melihat Aran tiba-tiba menghubunginya. Dia tau Aran sedang ke London.


"Bunda, Aran sudah menemukannya." jawab Aran cepat. Dewanti terdiam, bingung. Tapi lalu otaknya bekerja. Siapa yang selama ini di cari Aran. Tentu saja Diona.


"Apa? Bagaimana bisa?" Dewanti terkejut dan takut.


"Nanti Aran ceritakan. Tapi saat ini Aran akan melihatnya." kata Aran sambil tertawa senang.


"Aran janji pada bunda dulu kau tidak akan menemuinya." Dewanti benar-benar takut.


"Ya bunda Aran janji. Aran hanya akan melihatnya." kata Aran yakin.


"Baiklah bunda percaya padamu. Kabari bunda nanti ya." Dewanti bersyukur Aran masih berpikiran sehat.


"Pasti bunda. Aran pergi dulu. Aran sayang bunda." Aran memutus kontak. Dia lalu memesan tiket penerbangan ke Italy. Tepatnya Aran menuju Florence. Justin hanya memberi tau alamat kantor Lucca teman Diona dan sekolah tempat Diona belajar melukis. Sekarang Aran tau, kemana Diona pergi dan untuk apa. Aran memutuskan untuk menunggu di depan sekolah Diona diam-diam. Dia melihat Diona di antar seorang pria yang di lihatnya di Parish. Hati Aran kembali perih. Aran mencari informasi jam berapa kelas Diona berakhir. Dia jadi punya waktu untuk melihat-lihat Florence. Kota di mana tambatan hatinya selama ini bersembunyi. Aran berjala-jalan di sekitar sekolah Diona. Kemudian kembali untuk memantau Diona. Gadis itu tampak lebih ceria di banding dulu. Siang itu dia di jemput kembali oleh pria itu. Aran pun mengikuti ke mana mereka pergi. Mereka menuju ke sebuah hunian apartemen. Aran jadi tau di mana Diona tinggal. Dari keamanan di sana Aran tau Diona tinggal bersama Paul, sepupunya. Hal yang Aran baru tau Diona punya sepupu. Mereka juga mengatakan apartemen di sebelah apartemen Paul kosong dan di sewakan. Aran pun tidak membuang kesempatan. Kali ini dia tidak akan melepaskan Diona. Dia ingin dekat dengan Diona. Setelah bisa melihat Diona dan tau gadis itu baik-baik saja, Aran pun pulang. Dia tengah di tunggu oleh Dewanti. Tentu saja Dewanti cemas. Dewanti pun memutuskan untuk menghubungi Wilma saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2