PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Danu & Aran


__ADS_3

Claire melihat foto Mark. Tampaknya orangnya mudah di kenali.


"Ayo kita berangkat sekarang. Aku akan mengantar kalian pulang dulu, lalu akan ke bandara mengantar Claire." kata Lucca. Dia menerima surat yang Claire buat untuk sekolah. Lucca menyimpannya. Mereka pun berangkat. Diona di antar pulang lebih dulu, lalu Elis. Setelah itu Lucca dan Claire ke bandara. Lucca membelikan tiket pesawat ekonomi untuk Claire. Di serahkan ya tiket itu juga uang pada Claire.


"Claire ini tiket dan uang untuk ongkosmu ke Dakota. Benar kau bisa pergi sendiri?" tanya Lucca memastikan.


"Aku bisa. Tidak perlu merepotkanmu lebih jauh." jawab Claire.


"Segeralah naik ke pesawat. Aku khawatir ada mata-mata Dann mencarimu." kata Lucca.


"Terima kasih Lucca. Boleh aku memelukmu?" tanya Claire manis.


"Sebaiknya jangan. Takutnya aku tidak akan melepaskanmu. Masuklah." Lucca tidak mau Claire berharap padanya nanti. Sedangkan dia tidak punya perasaan apa pun pada gadis itu. Claire pun tersenyum malu dan mulai berjalan masuk. Mungkin ini terakhir kalinya dia bertemu Lucca. Setelah Claire menghilang Lucca pun pulang. Claire benar-benar tiba di New York. Dia lalu memfoto tiket ke Dakota dan mengirimnya pada Lucca. Agar pria itu tau dia benar mengikuti arahan mereka. Claire tiba di rumah ayah Elis dengan selamat.


"Sayang, coba bilang dulu sama mas. Kenapa kamu mau kita kerjasama dengan perusahaan Danu Wirya.?" Rustam curiga Dewanti ingin mengenal Danu.


"Tujuan aku sederhana mas. Hanya ingin membangun pondasi yang baik antara Danu dan Aran. Mungkin saja nanti berguna. Biar Danu mengenal bagaimana Aran sebenarnya. Karena yang di cintai Aran itu keponakan Danu." jelas Dewanti.


"Jadi itu sebabnya kamu bertemu sama Wilma Atmaja, istri Danu?" Rustam lega.


"Loh kok mas tau?" harusnya Dewanti tidak perlu bertanya.


"Ya sayang, kamu kan tau betapa cintanya mas padamu. Tentu saja mas khawatir kamu tiba-tiba ingin pergi ke Surabaya. Maaf ya, mas bukan ingin ikut campur. Hanya ingin tau." Rustam berusaha membuat Dewanti mengerti, dia takut kehilangan istrinya.


"Tidak apa-apa mas, aku juga suka begitu." kata Dewanti jujur. Rustam menatap istrinya senang.


"Jadi kamu juga suka cemburu?" tanya Rustam sambil mencubit pipi istrinya.

__ADS_1


"Ya pastilah, mas kan sering bertemu orang di luar. Tidak terkecuali wanita." Dewanti tersipu. Rustam merangkul istrinya.


"Mas senang dengarnya. Baiklah mas akan atur untuk kerja sama dengan perusahaan Danu. Biar Aran yang lakukan. Kita fokus pada rumah tangga Aran saja. Diam bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa kan." Rustam berkata lembut.


"Ya mas kita beri dukungan pada Aran apa yang dia butuhkan. Kita percaya kan pada Aran. Terima kasih mas mau mengerti kami." Dewanti melihat Rustam berubah.


"Maaf selama ini mas mengabaikan perasaan kalian." Rustam tidak ingin kesalahan yang dibuatnya terulang. Cukup sampai di sini saja. Melihat putranya kecewa dan istrinya marah karena itu. Rustam pun mengatur pengajuan kerjasama dengan perusahaan Danu. Aran yang di titahkan melaksanakan itu bingung. Tapi dia tidak menolak untuk kenal lebih dekat dengan sosok paman dari orang yang dia cintai. Danu sendiri bertanya-tanya, apa tujuan dari kerjasama itu. Tapi dia merasa tidak ada salahnya menjalin kerjasama. Maka Danu pun berhadapan dengan Aran.


"Jadi kamu sepupu Bayu, panggil saya om kalau begitu." kata Danu pada Aran. Mereka duduk berbincang setelah perjanjian di tanda tangani. Danu jadi ingin tau tentang Aran.


"Benar om, sebenarnya saya dekat dengan Bayu. Tapi ada keputusan saya yang membuat Bayu marah. Saya tau itu hal yang Bayu tidak suka saya lakukan." Aran bersikap jujur. Danu pasti merasa aneh jika tau dia dan Bayu sekarang saling menjauh.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Danu pura-pura tidak tau.


"Sudah om, setelah lulus kuliah saya menikah. Sebenarnya itu perjodohan dari ayah. Tapi saya setuju karena suatu pertimbangan. Tapi hidup itu tidak selalu indah." kata Aran penuh misteri.


"Maksud kamu apa?" Danu jadi penasaran. Dia sudah tau dari Wilma kalau pernikahan Aran tidak bahagia.


"Tidak, kita memang harus bertanggung jawab pada pilihan kita." Danu mengerti apa yang Aran maksud.


"Bagaimana kabar Diona?" tanya Aran penasaran.


"Dia baik-baik saja." jawab Danu singkat. Dia tetap tidak mau berkata banyak tentang keponakannya.


"Tentu begitu, saya melihatnya di Paris." kata Aran sambil tersenyum.


"Apa? Diona di Paris?" Danu terkejut.

__ADS_1


"Ya, saya melihat Diona dengan seorang pria. Mungkin teman dekatnya. Saya harap Di bahagia." kata Aran, dia pun pamit. Aran tau Danu tidak akan bicara di mana Diona. Danu menatap Aran sendu, Diona hanya bahagia sama kamu nak. Setelah Danu bertemu Aran, dia dan Wilma berangkat untuk menengok Diona.


Bayu tengah mencari keberadaan ibu Paul. Menurut ibunya, Deliana berasal dari Bali sama dengan Dewanti. Jadi Dewantilah yang tau desa tempat Deliana lahir dan di besarkan. Bayu pun memenuhi Dewanti. Tentu saja Dewanti terkejut Bayu menemuinya.


"Ada apa Bayu, kamu cari Tante." tanya Dewanti.


"Bayu mau tanya tentang Tante Deliana. Saudara ibu yang menikah dengan orang Italy." tanya Bayu hati-hati.


"Deliana?" Dewanti mengingat-ingat.


"Benar Tante. Apa Tante tau?" Bayu berharap.


"Pernah dengar. Tapi Tante tidak tau dia menikah dengan siapa." Dewanti samar-samar ingat Deliana.


"Tante tau tempat tinggalnya dulu?" Bayu semakin semangat.


"Kalau tidak salah dia dari desa. Tapi desa itu sudah tidak ada. Karena perkembangan tempat itu sudah jadi resort atau tempat wisata. Kamu cari Deliana?" tanya Dewanti.


"Betul Tante. Dia ibu teman Bayu. Tiba-tiba pulang ke Indonesia tanpa kabar. Teman Bayu mencarinya." kata Bayu lesu.


"Kalau tidak salah Deliana punya kerabat dekat rumah Tante dulu. Mungkin dia di sana." Dewanti mencoba mengingat nama kerabat Deliana.


"Bayu minta alamatnya Tante." Dia mulai semangat lagi. Tidak enak pada Paul yang bertanya tentang ibunya.


"Ini alamat rumah Tante, kerabat Deliana rumahnya dua rumah dari rumah Tante. Nama pemilik rumah itu Dewangga. Dia seusia kakek." Dewanti memberikan secarik kertas pada Bayu Keponakannya ini baik sekali membantu temannya.


"Baiklah Tante, terima kasih ya. Maaf Bayu mengganggu Tante."kata Bayu dengan manis pada Dewanti.

__ADS_1


"Iya Bayu, tapi nanti kalau Tante butuh bantuan Bayu bantu ya." Dewanti mencatat apa yang dia lakukan pada Bayu.


"Baik Tante, hubungi Bayu saja." janji Bayu.


__ADS_2