
"Leana tidak perlu menjemput, biar om dan Tante datang sendiri.Agar Di tidak cemas " kata Danu bijak. Wilma tambah bingung.
"Baiklah tujuan kami datang rasanya sudah tersampaikan." kata Aran lega.
"Kalian akan ke mana dari sini?" tanya Danu ingin tau.
"Saya ada pertemuan dengan anak buah saya di Surabaya ini. Terpaksa diadakan malam hari karena besok pagi kami kembali ke Jakarta." jelas Aran. Wilma mempersilahkan mereka menikmati suguhan.
"Memangnya kau ada pertemuan penting apa besok pagi?" tanya Bayu pada Aran.
"Bim Dirgantara mengajukan kontrak kerjasama untuk perusahaannya di Italy " jawab Aran. Bayu tertawa.
"Hati-hati, kau nanti jadi target untuk putrinya." Bayu teringat Alenza.
"Tenang saja, aku sudah punya pengalaman buruk tentang hal itu. Lagi pula kau kan tau siapa yang ada di hatiku." jawab Aran santai. Mereka pun pamit pada Danu dan Wilma. Meski Danu menawarkan untuk bermalam di rumahnya tapi Aran menolak. Rasa bersalahnya membuat dia tidak mau merepotkan Danu. Setelah Aran dan Bayu pergi Wilma bertanya.
"Di pindah tempat tinggal, mengapa? Ada apa dengan Paul?" Wilma tidak sabar.
"Tenang sayang, nanti kita cari tau ya. Kamu siap-siap saja. Kita akan ke Italy " Danu tetap tidak mau Wilma tau. Biar nanti dengar sendiri di sana.
Diona datang ke sekolah dengan di dampingi Leana. Teman-temannya bingung karena Diona berganti mobil dan tidak di antar Paul. Apalagi ketika Leana menunggu di depan kelas Diona. Rasa penasaran teman-temannya di tahannya hingga makan siang. Di cafe baru Diona bercerita apa yang terjadi dengannya. Mereka duduk di satu meja sambil menikmati makan siang. Leana duduk tidak jauh dari Diona. Dia tidak mau mengganggu kegiatan gadis itu.
"Jadi kau sekarang tidak tinggal dengan Paul lagi?" tanya Lucca pada Diona. Ada perasaan lega juga ada perasaan khawatir. Lega karena Diona tidak semakin dekat dengan Paul. Tapi khawatir karena Diona tinggal tanpa ada kehadiran seorang pria di dekatnya untuk melindunginya.
__ADS_1
"Benar, menurut Aran apartemen Paul tidak aman. Aku juga masih takut di sana." Diona berkata sambil makan dengan santai.
"Benarkah dia bisa di andalkan?" tanya Lucca sambil melirik Leana. Yang di lirik bukannya tidak tau sedang di bicarakan, tapi Leana pura-pura tidak tau.
"Kata Aran dia memang bisa diandalkan. Selama ini Leana telah menjaga ibunya " jawab Diona yakin. Sekarang masalah Lucca bukan Paul lagi, tapi Aran. Dan dia lebih berkuasa.
"Aku jadi cemas akan dirimu. Boleh kami mampir ke tempatmu yang baru? Agar kami yakin kau baik-baik saja." kata Elis dengan wajah khawatirnya.
"Tentu saja kalian boleh datang. Aku senang, jadi tidak sepi " Diona menerima dengan terbuka. Sekarang dia tidak mau di tinggal seorang diri.
"Siap-siap saja, kami akan merepotkan mu nanti." Lucca juga penasaran akan kehidupan Diona sekarang.
"Tidak takut." kata Diona senang. Mereka menikmati makan siang sambil sibuk bercerita agar perasaan Diona riang.
"Baik nona saya siapkan mobilnya dulu." Leana bergegas keluar mengambil mobil untuk menjemput Diona.
"Wah sudah jadi nona besar sekarang. Ayo nona Elis, kita juga pulang." sindir Lucca pada Diona.
"Aku nyonya sekarang. Kau mau melewatkan Justin." protes Elis pada Lucca. Tapi dia bersiap juga.
"Wah gadis-gadisku sudah punya pelindungnya masing-masing. Apa aku harus mencari gadis-gadis baru nih?" Lucca pura-pura sedih. Dia segera di hujani pukulan oleh Diona dan Elis.
"Dasar wanita-wanita egois. Aku di biarkan merana sendiri." Lucca tetap menggoda.
__ADS_1
"Kau bisa mengobrol bersama Paul. Bagaimana kalau kita makan siang ke tempatnya?" usul Diona, dia rindu Paul.
"Ide bagus, dia perlu di hibur karena di pensiun sebelum waktunya." Kembali Lucca menyindir Diona. Bukannya kesal tapi Diona menerima sindiran itu dengan lapang dada. Sebab ada Aran yang sekarang menjaganya. Leana pun tiba di depan cafe dengan mobilnya. Diona segera berlalu. Lucca menatapnya dalam diam. Dia ingin tau siapa Aran. Diona tiba di rumah bersama Leana. Hari ini Diona ingin melukis. Bunga-bunga di halaman rumahnya membuatnya ingin memindahkannya ke dalam kanvas. Diona pun mulai menyiapkan alat lukisnya. Sedangkan Leana sibuk menyiapkan menu untuk nanti malam mereka makan sambil membereskan rumah. Ada pelayan yang datang dua hari sekali untuk melakukan pekerjaan mencuci dan membersihkan rumah. Leana hanya mengontrol pekerjaan mereka. Tapi memasak sudah tugasnya. Kadang Diona memasak untuk mereka. Hasil belajarnya dari Paul. Kemarin Paul datang membawa makana untuk mereka. Leana hanya tinggal menghangatkan saja. Sekarang Leana telah tau hubungan yang sebenarnya antara Diona dan Paul. Dan itu di laporkannya pada Aran. Menerima laporan itu Aran senang sudah memisahkan Diona dan Paul. Antara Bayu dan Diona saja kadang Aran cemburu. Apalagi Paul yang tidak ada hubungan darah dengannya. Aran sempat marah pada Bayu karena membawa Diona pergi. Tapi sekarang semua sudah ada dalam kendalinya. Selain itu Kemana selalu melaporkan keadaan Diona dan kegiatan yang di lakukannya, itu membuat hati Aran lebih tenang. Danu dan Wilma tiba di Italy, mereka segera menuju alamat yang Aran berikan. Danu cemas, tapi dia menutupinya dari Wilma. Ketika mereka tiba di rumah yang di tuju, Leana yang membukakan pintu. Tentu saja Leana tau siapa Danu dan Wilma. Karena dia yang mencari tau tentang keluarga Diona itu atas perintah Dewanti.
"Mari masuk, saya Leana." kata Leana mempersilahkan Danu dan Wilma masuk.
"Jadi kamu Leana, dimana Diona?" tanya Danu yang sangat ingin bertemu Diona.
"Ada di kamarnya, nona baru saja melukis di halaman tadi " jawab Leana sambil melangkah ke kamar Diona. Danu mengikuti Leana. Pintu kamar Diona tidak tertutup, Diona sudah hampir terlelap ketika Danu memanggilnya.
"Di kamu tidur?" tanya Danu, Diona segera terbangun.
"Om Danu?" Diona segera bangkit dan berlari memeluk omnya. Danu segera menggiring Diona ke ruang duduk di mana Wilma tengah duduk menunggu.
"Katakan pada om, apa yang terjadi padamu?" tanya Danu tidak sabar. Diona terbelalak heran.
"Bagaimana om tau?" tanya Diona heran.
"Aran dan Bayu datang pada om. Mereka cerita apa yang terjadi padamu." kata Danu menjelaskan. Wilma yang sekarang terkejut.
"Memang apa yang terjadi pada Di?" tanya Wilma. Diona pun pelan-pelan bercerita, tepat seperti yang Aran ceritakan. Danu hanya ingin menegaskan, apakah cerita Aran benar. Wilma langsung pucat mendengar itu.
"Sayang kenapa kamu tidak cerita padaku?" tuntut Wilma pada Danu.
__ADS_1