PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Berat Untuk Berpisah


__ADS_3

Di Surabaya rumah om Danu tidak ada tempat untuk menaruh lukisannya.


"Coba ikut aku." Aran menarik tangan Diona lembut. Gadis itu pun mengikuti Aran dengan perasaan ingin tau. Mereka berjalan menuju ujung kolam renang. Di sebelah kanan ada pintu, Aran membukanya.


"Coba lihat tempat ini, apa bisa di pakai?" tanya Aran membiarkan Diona masuk melihat keadaan di dalam ruangan itu.


"Aku rasa cukup. Wah ini bisa jadi studio melukis aku." Mata Diona berbinar membayangkan dia punya studio melukis sendiri.


"Benarkah? Aku tidak menyangka akan begitu." Aran senang melihat binar di mata Diona.


"Memangnya tadinya tempat ini untuk apa?" tanya Diona.


"Aku tidak tau, aku beli rumah ini tempat ini sudah ada." Aran tidak tau kegunaan ruangan itu. Diona tersenyum senang. Jadi tidak sabar untuk segera tinggal di sini. Tapi kalau begitu kan.......Diona memutus lamunannya melihat Aran yang menatapnya penuh arti. Apa Aran berpikir hal yang sama dengannya?


Diona harus kembali ke Italy. Aran mengantarnya dengan berat hati. Di pesawat dia terus menggenggam tangan Diona. Berat rasanya harus meninggalkan Diona di Italy nanti. Tapi mau apa lagi. Kenyataannya Diona harus menyelesaikan urusannya di sana.


"Janji ya setelah ini tidak ada lagi sekolah di luar negeri. Jika kau mau belajar, lakukan itu di Jakarta." pinta Aran dengan sangat. Diona tersenyum, dia paham perasaan Aran. Dia pun demikian. Rasanya malas harus berpisah dengan pria itu. Ingin rasanya Diona meminta Aran menemaninya selama urusannya belum selesai di Florence. Tapi Diona sadar itu tidak mungkin. Aran tentu sibuk dengan pekerjaannya. Apa lagi dengan acara pernikahan Bayu Aran sudah mengorbankan waktunya untuk dia seorang.


"Aku mau belajar jadi ibu rumah tangga yang baik." kata Diona.


"Kalau itu aku setuju." Aran senang, dia mencium tangan Diona.

__ADS_1


"Tapi kalau jadi ibu kan harus ada anaknya sayang. Lalu kita buat anaknya kapan?" tanya Aran, wajahnya di buat serius. Diona gemas, dia mencubit tangan Aran.


"Mau meniru Bayu?" tantang Diona.


"Boleh nih? Aku sih mau saja. Biar cepat dapat ijin om Danu." Aran semangat. Diona jadi tambah gemas. Apa semua pria begitu ya. Tapi mereka memang harus memikirkan cara untuk mendapat ijin om Danu. Hanya saja jika harus hamil duluan Diona tidak berani.


"Sudah jangan di pikirkan, aku hanya bercanda. Walau aku tau kau akan suka jika kita memiliki anak." Aran tidak berhenti menggoda. Tapi Diona jadi salah paham. Aran sudah pernah menikah tentu dia berharap memiliki anak dari pernikahannya. Hanya saja Mhina tidak seperti wanita pada umumnya. Keadaan tubuhnya membuat Aran harus mengalah.


"Aran, apa kau ingin segera punya anak?" tanya Diona ingin tau.


"Kenapa kau bertanya begitu? Kita menikah tentu ingin punya anak. Aku hanya ingin menahanmu di rumah. Dengan mengurus bayi kita kau akan sibuk di rumah. Aku tidak perlu khawatir kau ada di mana." jawab Aran. Astaga, Diona yang semula sudah serius ternyata jatuh kembali pada godaan Aran.


"Huh, aku kira kau memang benar-benar ingin segera punya anak." kata Diona kesal.


"Kita sudah bicara terlalu jauh, belum tentu dapat ijin untuk segera menikah." kata Diona kembali pada kekhawatiran awal.


"Aku kan sudah menyarankan cara yang cepat, tapi kau tidak mau. Aku bisa saja segera membuatnya setelah kita turun dari pesawat." Aran kembali pada kekonyolannya. Menjemput dan mengantar Diona ke Italy adalah cara Aran untuk menggunakan waktunya bersama Diona. Menebus waktu yang hilang selama satu tahun dan menguatkan cinta mereka. Bagi Diona perjalanan jadi tidak membosankan. Selain itu hatinya bahagia berdampingan dengan orang yang dia cintai. Tepat seperti yang Aran dan Diona perkirakan, mereka berat untuk berpisah setelah tiba di Italy.


"Di, kau tetap di Itu bersama Leana. Aku akan tenang bila dia tetap menjagamu. Aku harus kembali ke Jakarta." kata Aran dengan berat hati.


"Jadi kau akan kembali ke Jakarta." Diona berkata lesu.

__ADS_1


"Sabarlah, sebentar lagi keluargamu akan segera datang. Sebentar lagi kau wisuda dan akan pulang." hibur Aran pada tunangannya. Jika mengikuti kata hati dia pun enggan berpisah. Tapi Aran khawatir dia nanti khilaf dan benar-benar seperti Bayu. Aran mencium kening Diona. Ingin rasanya menarik Diona agar gadis itu terus dalam pelukannya. Tapi dia menahan dirinya sekuat hati. Sabar, sabar dalam hatinya berucap. Akhirnya perpisahan pun terjadi. Wajah Diona yang sedih membuat Aran tertahan.


"Jangan sedih dong Di. Nanti aku hubungi setelah aku tiba." janji Aran.


"Hati-hati ya. Jangan lupa datang pada wisudaku " pesan Diona. Dia sadar tidak mungkin menahan Aran.


"Pasti sayang." jawab Aran yakin. Dia sudah merancang hadiah istimewa untuk tunangannya. Mereka pun berpisah. Leana yang melihat wajah Diona yang muram dapat mengerti perasaan Diona.


"Nona, sebaiknya bereskan saja lukisan-lukisan yang akan di bawa pulang." sarannya pada Diona, agar gadis itu teralihkan.


"Benar juga. Apa Aran sudah mengatakan padamu tentang lukisanku?" Diona kembali bersemangat.


"Sudah nona, semua akan di kirim ke rumah tuan Aran." jawab Leana. Dia yang bertanggung jawab untuk mengirim lukisan- lukisan tersebut.


"Akan ada orang yang akan membereskannya untuk nona. Jika nona mau saya akan memanggilnya hari ini." kata Leana meminta kesediaan Diona.


"Panggil saja hari ini. Aku ingin segera beres." Diona setuju. Dia mulai mengeluarkan koleksi lukisannya.


"Apa ada yang nona ingin hadiahkan pada seseorang?" tanya Leana memberi ide. Diona berpikir sesaat. Setuju dengan ide Leana. Dia mulai memilih di antara karyanya.


"Leana, aku mau lukisanku yang ini untuk Paul. Dia sudah lelah menjagaku." putus Diona menunjuk satu lukisannya.

__ADS_1


"Tuan Paul pasti suka." puji Leana sambil memisahkan lukisan itu. Pemandangan Amalfi dengan restaurant milik Del, yang membuatnya manis kios es krim di depannya. Tidak berapa lama orang dari kantor pengiriman datang. Mereka mengemas lukisan-lukisan itu dengan baik sebelum di angkat ke dalam mobil untuk di kirimkan. Tentu saja ini perlakuan spesial karena Aran membayar mahal untuk itu. Mereka bekerja dengan terampil dan cermat. Diona puas melihatnya.


"Nona hari ini juga lukisan-lukisan itu akan di kirim ke Indonesia." kata pimpinan pekerja tadi.


__ADS_2