PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Mengunjungi Pameran


__ADS_3

Paul sudah kembali, tapi dia tidak berani bertanya pada Diona apa betul dia bertemu Aran. Lagi pula Diona tampak sudah ceria lagi.


"Memangnya di sana sudah selesai Paul?" tanya Diona ingin tau.


"Belum, tapi aku harus membereskan pekerjaan di sini." jawab Paul beralasan. Dia cemas akan Diona, makanya pulang.


"Paul aku akan datang ke pameran yang di adakan kantor Lucca besok ." kata Diona riang.


"Betulkah? yah kau boleh bersenang-senang karena aku harus bekerja. Perlu ku antar atau ku jemput?" tanya Paul lega. Diona sudah bersemangat akan hidupnya lagi.


"Tidak perlu, Lucca akan pergi bersama kami." Diona menolak.


"Ok hati-hati. Semoga menyenangkan." Paul mengacak rambut Diona. Sulit rasanya untuk tidak perduli pada gadis ini.


"Oya Paul. Elis boleh menginap?" Diona minta ijin.


"Mengapa tidak. Elis gadis yang baik." Paul suka pada teman-teman Diona. Mereka baik dan sopan.


"Baiklah aku pergi dulu." Diona keluar dari mobil. Mereka mengobrol ketika berangkat menuju sekolah. Di kelas Lucca dan Elis tampak sedang seru mengobrol.


"Pasti tentang pameran besok ya." Diona memotong obrolan mereka.


"Kau tau Di, besok itu ternyata pameran besar. Banyak orang penting yang datang." kata Elis antusias.


"Ya kalian harus tampil cantik ya, aku malu jika harus membawa kalian dalam tampilan seperti itu." kata Lucca sambil menatap mereka dengan meremehkan.

__ADS_1


"Cih, belum tau ya kalau kami sudah dandan." balas Diona terpancing.


"Ya Luc, aku kan tidak punya gaun indah." Elis murung.


"Hei tidak perlu khawatir, aku akan mengubahmu menjadi gadis cantik. Lucca akan melewatimu karena dia tidak tau itu kau." Diona dengan sombong membujuk Elis.


"Pokoknya kalau kalian tidak cantik kalian naik taksi saja." Lucca ingin pergi membawa gadis-gadis cantik. Dia tidak punya pacar untuk di pamerkan. Maka kalau dia bisa membawa dua gadis cantik, teman-temannya akan kagum padanya. Diona membujuk Elis untuk menginap. Karena akhir pekan mereka libur, maka dari pagi Diona sudah menggarap Elis. Melulur gadis itu, memakaikan kutek, mengeblow rambut Elis hingga bergelombang indah. Diona memilihkan gaun sutra biru langit untuk Elis kenakan. Lalu sepatu putih susu dan tas yang sama warnanya. Diona mengeluarkan perhiasannya yang di milikinya. Kebanyakan hadiah dari Tante Wilma dan Bayu pada hari spesialnya. Disiapkannya kalung mutiara putih dengan liontin berlian berbentuk hati serta antingnya yang sama. Diona mengenakannya pada Elis.


"Di ini cantik sekali. Aku ko berasa seperti Cinderella." Elis melihat dengan takjub dirinya di depan cermin.


"Kalau tidak cantik kita harus naik taksi, ingat kan kata Lucca." kata Diona yang menarik gaun hijau tua polos dengan renda pada tepian roknya. Diona malas mengenakan kalung. Dia mengenakan Bros pemberian Aran.


"Di itu cantik sekali. Sangat berkilau." puji Elis melihat brosnya. Tentu saja cantik, itu sebabnya dia terpikat pada Bros itu. Diona segera mendandani Elis, karena gadis itu tidak pernah berdandan tentu saja malam ini Elis tampak memukau. Diona mengenakan jepit berlian sederhana sebagai pemanis rambutnya yang dia gerai. Diambilnya sepatu hitam dan tas tangan kecil hitam untuknya. Setelah Diona memoles lipstik orange muda tipis pada bibirnya, bel pintu berbunyi.


"Kalian benar tidak mau naik taksi ya." komentar Lucca. Dia tampak tampan dengan setelan jas birunya yang senada dengan Elis.


"Elis kau cantik sekali." Lucca menatap Elis tidak percaya.


"Maaf aku tidak punya uang tips untukmu." kata Elis sambil tersipu. Baru kali ini dia di puji cantik.


"Ayo kita berangkat, aku curiga kalian sedang jatuh cinta nih." Diona membuyarkan suasana romantis Lucca dan Elis. Mereka pun berangkat.


"Karena kalian tampak serasi berdua, maka Elis duduk di depan." kata Diona di dekat mobil Lucca.


"Kau seperti ibu mertua yang duduk di belakang." balas Lucca meledek Diona.

__ADS_1


"Kalau aku ibu mertuamu, aku akan duduk di depan." kata Diona dengan wajah yang terlihat jail. Contoh ibu mertua yang tidak suka menantunya senang. Mereka pun segera menuju pameran. Tepat seperti perkiraan Lucca, teman-temannya kagum melihatnya membawa dua gadis cantik sebagai partner malam itu.


"Kalian melihat-lihat saja dulu. Aku masih ada tugas." kata Lucca pada Elis dan Diona. Mereka dengan senang hati melihat-lihat. Selain lukisannya yang indah para pengunjungnya juga tampil cantik dan anggun. Elis bersyukur dia punya teman Diona yang mau mendandaninya. Ada banyak lukisan yang menarik hati Diona. Tentu saja harga lukisan tersebut fantastis. Diona berharap dia bisa membuat pameran lukisan suatu hari nanti. Walau pameran kecil. Puas melihat-lihat mereka memutuskan untuk pulang. Kaki mereka sudah pegal karena sepatu. Mereka pun mencari Lucca.


"Kalian mau pulang. Baiklah kita pulang " kata Lucca.


"Tunggu, aku ke toilet dulu." kata Elis tiba-tiba.


"Kau tau letaknya? Mau aku antar?" tanya Lucca lembut.


"Tidak perlu, kau di sini saja bersama Di. Aku tau tempatnya." Elis segera berjalan menuju toilet. Tidak butuh waktu lama Elis di toilet. Dia segera keluar. Dia berjalan perlahan menuju tempat Diona dan Lucca tadi. Tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang yang juga tengah menatapnya tajam.


"Justin?" tanya Elis tak percaya.


"Elis, kau kah itu?" pria itu semula tak percaya yang dilihatnya Elis. Mereka pun saling bertatapan tanpa bicara. Elis menatap pria itu kagum karena tampan dan penampilannya yang menawan. Justin menatap Elis terpana karena gadis itu tampak cantik dan sangat berbeda.


"Elis, ayo kita pulang. Di sudah menunggu di mobil." Tiba-tiba Lucca menghampiri Elis dan mengajaknya pulang. Elis jadi tersadar.


"Maaf, aku pulang dulu." kata Elis pada Justin lalu menggandeng Lucca yang segera membawanya pergi. Justin masih terus menatap Elis bersama Lucca yang menjauh. Mereka tampak berpasangan, pikir Justin melihat baju Lucca dan Elis yang senada. Lucca membukakan pintu mobil bagi Ellis. Seperti awalnya dia duduk di depan.


"Karena kita belum makan malam, maka kita mampir dulu untuk makan ya." kata Lucca pada dua gadisnya.


"Ya aku lapar. Bisakah kita makan di tempat Paul?" tanya Diona.


"Ide yang bagus." seru Lucca setuju. Elis masih tetap diam. Dia masih teringat penampilan Justin tadi yang sangat berkelas. Mereka tiba di restauran Paul. Untungnya mereka masih mendapat tempat yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2