PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Teman Seatap


__ADS_3

Diona menghabiskan airnya dengan cepat.


"Kenapa kau di sini?" tanya Diona pada Paul. Setau Diona Paul mendapat kontrak kerja di Paris selama setahun.


"Aku batal mendapat kontrak kerja di Paris. Padahal aku sudah tiba di sana. Mereka bilang aku akan di panggil nanti jika di butuhkan." Paul berbohong pada Diona. Yang benar adalah dia tidak di tolak, tapi dia harus menolak. Karena ayahnya jatuh sakit, maka dia harus kembali.


"Lalu?" tanya Diona kemudian. Dia percaya perkataan Paul.


"Diona, apa kau takut tinggal bersamaku?" tanya Paul serius. Awalnya Diona mengangguk tapi lalu menggeleng. Diona serba salah. Jika dia bilang takut lalu dia harus ke mana. Ini apartemen milik Paul, pasti dia yang lebih berhak tinggal di sini. Paul tertawa melihat kebingungan Diona.


"Kau tidak perlu takut. Aku pria baik-baik. Bayu sudah kenal aku lama." Paul menjelaskan.


"Bagaimana kau kenal Bayu?" tanya Diona ingin tau.


"Begini, ayahku seorang Italia tapi ibuku orang Indonesia. Nah ibuku masih kerabat dari ibunya Bayu." jelas Paul.


"Oh pantas kau bisa bahasa Indonesia." kata Diona paham.


"Ibuku yang mengajariku." Paul tersenyum. Tapi dia sedih bila ingat ibunya.


"Bolehkah aku bertemu ibumu?" tanya Diona. Senang bila bisa bertemu orang Indonesia di negeri orang.


"Itu tidak mungkin. Aku sudah keluar dari rumah lama, karena tidak mau di kekang oleh ayahku. Ku dengar ayah dan ibuku bertengkar lalu ibuku pulang ke Indonesia. Sampai sekarang aku tidak tau ibuku di mana." Paul dengan sedih menjelaskan.


"Maaf, aku tidak tau." Diona jadi tidak enak.


"Lalu bagaimana, kau takut tinggal denganku?" tanya Paul lagi. Dia belum mendapatkan jawaban Diona.


"Aku sebenarnya tidak keberatan. Karena aku takut di tinggal sendirian. Tapi aku tidak mau menyusahkan Bayu. Hanya saja mungkin keluargaku keberatan jika aku tinggal bersamamu." Diona bingung. Dia percaya Paul tidak akan macam-macam karena dia teman Bayu. Paul terdiam. Dia melihat keberanian Diona yang mau menerimanya. Tapi sebenarnya ketakutan Dionalah yang paling besar untuk tinggal sendiri.

__ADS_1


"Begini saja, kita tinggal bersama tapi keluargaku tidak perlu tau." Diona memutuskan. Dia tidak enak pada Paul.


"Toh nanti kalau kau di panggil bekerja, aku mungkin sudah terbiasa hidup sendiri." Diona menambahkan. Paul tersenyum.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan menjagamu. Wajar kau merasa takut karena jauh dari keluargamu." Paul jadi bersimpati pada Diona. Gadis ini pasti istimewa sehingga Bayu perhatian padanya.


"Aku lapar, belum makan malam." Paul berjalan ke dapur untuk melihat apa yang ada di sana. Ternyata makanan instan semua.


"Maaf, aku tidak bisa masak." Diona seperti tau apa yang di pikirkan Paul.


"Nona, kalau kau mau tinggal di tempatku maka kau harus belajar masak." Paul berubah dari pemuda baik hati menjadi pemilik apartemen yang banyak aturan. Diona meringis. Semoga saja masakannya tidak sulit. Setelah Paul makan, mereka masuk ke kamar masing-masing. Diona melanjutkan tidurnya, tapi kali ini perasaannya lebih tenan. Karena ada yang menemaninya tinggal di situ. Besok paginya Paul membangunkan Diona.


"Aku akan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Kau mau ikut?" tanya Paul pada Diona yang baru bangun.


"Aku mau ikut." Diona bangkit dan berlari ke kamar mandi. Dari pada di dalam apartemen terus lebih baik ikut Paul ke pasar. Paul tersenyum melihat Diona bersemangat. Tiba-tiba handphone Diona berbunyi. Ada nama Bayu di layar. Timbul niat iseng Paul. Dia pun mengangkatnya.


"Halo." kata Paul.


"Kau siapa?" tanya Paul lagi mempermainkan Bayu. Pria itu diam sebentar, dia seperti mengenal suaranya.


"Paul?" tanya Bayu kemudian.


"Ya ini aku, Paul." sambil tertawa dia menjawab.


"Apa yang kau lakukan di sana?" Bayu menuntut penjelasan.


"Ayahku sakit, dia memanggilku pulang. Maka aku batal kerja di Paris. Tapi aku tidak mau tinggal bersamanya." jelas Paul.


"Lalu bagaimana dengan Diona?" Bayu khawatir pada Diona.

__ADS_1


"Dia gadis baik. Dia tau aku tidak punya tampang kriminal. Maka dia bisa menerimaku dengan baik." Paul memuji Diona.


"Untunglah kalau kau kembali. Aku bisa menitipkannya padamu. Aku akan datang jika urusanku selesai." Bayu percaya pada Paul.


"Kau mau membunuhnya, dengan makan makanan instan setiap hari?" Paul protes, dia tau Bayu yang beli semua itu. Bayu tertawa.


"Di mana Diona?" tanya Bayu penasaran.


"Dia sedang mandi. Dia akan ikut aku ke pasar. Aku tidak bisa makan makanan instan setiap hari." Paul mengatakan rencana mereka hari itu.


"Di tidak bisa masak. Terpaksa itu ku lakukan. Tapi kalau ada kau di sana aku jadi lega. Nanti kuhubungi lagi. Aku harus bekerja." Bayu memutus kontak. Paul tersenyum. Betulkan Bayu perhatian pada Diona. Paul penasaran, apakah Bayu mencintai Diona? Mereka pun pergi ke pasar. Walaupun sibuk berbelanja namun Paul memperhatikan Diona. Awalnya ketika Bayu mengatakan temannya akan sekolah di sana dan butuh apartemen, Paul mengira itu hanya pertemanan biasa. Tapi ternyata Bayu begitu perhatian pada Diona. Dari tingkahnya terlihat Diona bukan gadis yang menyebalkan. Malah menyenangkan. Paul merasa tidak keberatan untuk menjaganya. Paul tau Diona pasti lapar. Tadi dia hanya menyediakan segelas susu pada gadis itu. Paul membawa Diona pada sebuah kedai yang menjual makanan kecil khas Italia. Hanya makanan rakyat. Tapi Diona menyukainya. Atau mungkin karena dia lapar. Paul memastikan Diona kenyang sebelum mereka kembali ke apartemen. Tiba di rumah Diona merebahkan diri di sofa. Paul membereskan belanjaan di dapur. Ada sayur, daging, buah dan pasta.


"Kapan sekolahmu di mulai?" tanya Paul pada Diona.


"Lusa, besok hanya perkenalan sepertinya." jawab Diona malas.


"Kau sudah lihat sekolahmu?" Paul menyiapkan bahan untuk memasak. Dia akan membuat makan siang untuk mereka berdua.


"Sudah bersama Bayu kemarin." Diona bangkit dan mulai memperhatikan Paul.


"Ke sini." kata Paul pada Diona. Gadis itu menurut. Ternyata Paul mengajarkannya memasak menu makan siang mereka.


"Paul sebenarnya pekerjaanmu apa?" Diona ingin tau.


"Aku seorang chef. Tugasku memasak." jawab Paul jujur.


"Oh jadi kontrak kerjamu di Paris di sebuah restauran." Diona menyimpulkan.


"Betul, restauran yang ku dambakan sejak lama." Paul kesal jika ingat itu.

__ADS_1


"Kau pasti kecewa ya. Lalu apa yang akan kau lakukan?" Diona bersimpati pada Paul. Padahal Paul berbohong.


"Aku membantu bos lamaku untuk sementara. Sampai ada kesempatan lagi." Entah kapan kesempatan itu. Paul sangsi dia akan mendapatkannya lagi. Diona percaya saja perkataan Paul, padahal yang di maksud bos lamanya adalah ayah Paul sendiri.


__ADS_2