PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Teman Baru


__ADS_3

"Terima kasih kamu ajak aku ke sini." kata Diona agar tidak canggung.


"Santai saja, kita kan teman sekelas. Namaku Lucca, namamu Diona kan?" Lucca tersenyum. Sejak awal dia ingin berkenalan dengan Diona. Gadis itu mengangguk. Makanan mereka datang. Mereka pun makan. Ternyata Diona dan Lucca sama-sama pendiam. Jadi mereka makan sambil saling melirik.


"Kau suka makananmu?" tanya Lucca mencoba mencairkan suasana.


"Suka, enak ko." jawab Diona.


"Kau bukan orang sini ya?" Lucca penasaran dengan Diona.


"Aku dari Indonesia. Sengaja ke sini untuk sekolah melukis." jelas Diona.


"Kamu sendiri asli orang sini?" tanya Diona yang juga ingin tau tentang Lucca.


"Aku berasal dari Rusia, tapi lama tinggal di sini. Aku juga punya pekerjaan di kota ini." jelas Lucca. Diona jadi memperhatikan Lucca lebih cermat.


"Di mana kau bekerja?" Harusnya Diona juga sudah bekerja, pikirnya.


"Aku bekerja sebagai marketing di sebuah kantor pemasaran. Kami menjual benda-benda seni. Itu sebabnya aku jadi tertarik untuk melukis. Aku dengar alasanmu ingin belajar melukis kemarin. Aku turut sedih." kata Lucca menunjukan wajah simpati.


"Sudahlah itu sudah lama terjadi. Aku sudah terbiasa hidup tanpa ibuku. Aku memiliki seorang bibi yang berperan sebagai ibuku." Diona memaksudkan Wilma.


"Lalu ayahmu?" Lucca berpikir Diona hanya kehilangan ibunya.


"Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan pesawat terbang. Sejak saat itu aku tinggal bersama paman dan bibiku. Hingga sekarang." kata Diona akhirnya. Dia lihat Lucca tulus bersimpati padanya.


"Maaf aku tidak tau. Maukah kau berteman denganku? Terus terang aku malas berteman dengan yang lain." Lucca memang keren. Menurut Diona karena dia keren dia jual mahal dalam berteman. Diona juga bukan orang yang terbuka dan mudah berteman. Tapi Lucca sepertinya pria yang baik. Di coba saja.


"Baiklah aku juga tidak punya teman yang lain." jawab Diona. Paling tidak dia punya teman mengobrol di sekolah.

__ADS_1


"Kau tinggal di mana? Apa di sini ada sanak saudaramu?" Lucca ingat pria yang bersama Diona kemarin, dia ingin tau.


"Tidak ada, aku tinggal sendiri di sini. Temanku punya apartemen di sini, aku bisa menempatinya. Senang ya kau sudah bekerja. Mungkin aku baru tahun depan bekerja." Diona mengisyaratkan dia hanya satu tahun belajar.


"Jadi kau akan kembali ke negaramu setelah satu tahun?" Lucca berkesimpulan demikian.


"Betul, beasiswa melukisku hanya satu tahun. Tapi itu sudah membuatku senang." Diona berkata jujur.


"Ya aku bisa melihat kau bukan seorang yang punya ambisi untuk jadi pelukis." sebagai seorang marketing mata Lucca pandai menilai. Mereka pun selesai makan. Lucca mentraktir Diona karena merasa sudah bekerja. Mereka berjalan kembali ke sekolah.


"Sebelumnya kau kuliah atau apa?" Lucca ingin mengenal baik Diona.


"Aku kuliah bisnis dan baru lulus. Aku kuliah di Jakarta, begitu selesai aku ke sini." jawab Diona jujur. Dia sudah merasa nyaman dengan Lucca. Awalnya Diona merasa pria itu angkuh. Ternyata ramah. Padahal hanya pada Diona Lucca ramah. Mereka menuju kelas seni. Di kelas Lucca dan Diona duduk berdekatan. Ada seorang gadis berambut pirang. Dia selalu menatap Lucca. Kalau tidak salah namanya Claire.


"Luc gadis itu terus menatapmu." Bisik Diona pada Lucca.


"Abaikan saja. Sejak pertama masuk dia sudah begitu." bisik Lucca pada Diona. Karena tujuan Diona adalah belajar maka Diona mengikuti saran Lucca untuk mengabaikan gadis itu. Selesai kelas seni, Diona merasa mengantuk dan ingin cepat pulang. Diona ingin melihat apakah Paul menjemputnya. Lucca membarengi langkah Diona.


"Jujur aku mengantuk, mungkin karena makan terlalu banyak tadi." sambil berjalan Diona menguap. Lucca tersenyum melihatnya.


"Ku pikir kau serius belajar melukis ternyata sempat mengantuk juga." komentar Lucca. Diona hanya tertawa. Dia juga bingung mengapa mengantuk. Keluar dari gedung sekolah Diona melihat Paul tengah menunggu.


"Itu kekasihmu?" tanya Lucca penasaran.


"Bukan, Paul temanku." jawab Diona santai. Diona pun pamit pada Lucca dan cepat-cepat menghampiri Paul. Sedangkan Lucca segera menuju mobilnya dan pergi dari situ. Dia tau ada yang mengejarnya di belakang.


"Aku sudah dapat teman hari ini. Namanya Lucca dari Rusia. Dia bekerja di Florence." kata Diona pada Paul di mobil.


"Aku bilang jangan mudah di rayu." Paul berkata kesal.

__ADS_1


"Dia tidak merayuku, kami hanya kebetulan makan siang bersama karena kantin penuh. Tapi aku suka cafe tempat aku makan siang tadi." Diona lebih suka cafe dari pada kantin.


"Kau makan apa tadi?"tanya Paul ingin tau.


"Pasta, rasanya lumayan enak." Diona promosi.


"Di mana sih cafenya, mungkin aku bisa menunggumu di sana." Paul bosan menunggu di tempat parkir.


"Di sebelah sekolahku. Tempatnya nyaman. Kau bisa menungguku di sana." Menurut Diona itu ide yang bagus. Hari pun berjalan, sudah menjadi rutinitas Paul mengantar dan menjemput Diona. Di sekolah Diona sudah punya Lucca sebagai temannya. Hari ini di kelas seni seperti biasa Diona duduk dekat Lucca. Tiba-tiba Claire mendekati Diona.


"Hai Diona, maukah kau tukar tempat duduk denganku?" tanya gadis itu pada Diona. Claire ingin duduk dekat Lucca. Diona tau itu. Tapi kalau dia setuju Diona khawatir Claire akan seenaknya melakukan hal yang sama nanti.


"Kau kan sudah mendapat tempat dudukku. Jangan ganggu Diona, dia tetap duduk di tempatnya." Lucca menjawab tegas. Beberapa murid memperhatikan mereka, Claire pun kembali ke tempatnya dengan kesal dan malu.


"Jangan berikan tempat dudukmu padanya. Dia akan seenaknya padamu." kata Lucca pada Diona. Sebetulnya Diona tau Claire sering menatap Lucca dan berusaha dekat dengan pria itu. Tapi Lucca tampaknya tidak tertarik. Walau Claire tampak cantik.


"Apa sih yang membuatmu tidak suka padanya?" tanya Diona penasaran. Mereka sedang duduk di cafe.


"Kacangan. Aku sebagai pria bisa melihat dengan baik. Tapi nanti mungkin kau tau alasannya." kata Lucca, dia tidak nyaman berkata pada Diona kalau Claire itu murahan.


"Tapi para pria suka tuh dengannya." kata Diona lagi. Dia suka melihat para cowok menyapa Claire.


"Nah itu, kacangan." kata Lucca menegaskan. Tampak seorang gadis menghampiri mereka.


"Hai, boleh aku duduk di sini? tempat yang lain sudah penuh." ? cafe memang penuh hari itu.


"Tentu." Diona menggeser duduknya dengan setengah hati. Ko seperti deja vu ya. Persahabatannya dulu dengan Aran dan Mhina seperti ini, hanya beda orang saja.


"Aku Elis, aku ingin berteman dengan kalian boleh?" Mendengar itu Lucca hanya diam, mengamati. Diona jadi tidak enak.

__ADS_1


"Tentu kau boleh berteman dengan kami."


__ADS_2