PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
BAGIAN III Armhina Aransyah Siasat


__ADS_3

Armhina Aransyah, putri tunggal dari Fatar Aransyah dan Riama. Terlahir dengan jantung yang bocor membuat gadis itu di manja dan di penuhi keinginannya. Hal itu membuatnya menjadi gadis angkuh dan tidak punya teman. Mhina terbiasa hidup hanya berfokus pada dirinya sendiri. Tidak ada teman yang dianggapnya pantas dekat dengannya. Ketika SMA ayahnya membawa Luthandio ke rumah mereka. Mhina pun punya teman. Luthan selalu mengikuti keinginan Mhina. Membuat Mhina senang dan tidak kesepian. Tapi itu tidak berlangsung lama. Luthan berangkat ke luar negeri untuk kuliah. Karena melihat teman-teman sekolahnya bersemangat untuk melanjutkan sekolah, Mhina pun tidak mau kalah. Dia pun ingin ikut kuliah. Ayahnya melarangnya, karena kesehatannya. Tapi Mhina ingin merasakan seperti teman-temannya, kuliah. Dengan berat hati Fatar mengijinkan Mhina kuliah, dengan syarat Mhina harus mengikuti semua aturan ayahnya. Mhina pun setuju. Maka Mhina kuliah dengan di antar dan di jemput oleh supir. Kegiatannya hanya belajar di kampus lalu pulang. Sebenarnya Mhina tidak punya cita-cita. Hidupnya hanya untuk membuat dirinya senang dan tidak bosan. Ketika dia kuliah dia melihat Aran. Pemuda tampan itu selalu bersama dengan seorang gadis yang bernama Diona. Pelan-pelan Mhina mencari tau siapa Aran. Penampilannya yang rapih dan mahal tentu saja dari keluarga berada. Tapi Mhina memang sudah tertarik pada Aran. Mhina pun mendekati Diona karena di mana ada Diona selalu ada Aran. Mhina berusaha akrab dengan Diona menggunakan berbagai cara. Diona juga gadis yang tertutup. Tapi dengan kebaikan hatinya dia mau menerima Mhina. Mhina dekat dengan Diona otomatis dekat dengan Aran. Namun sikap Aran tetap lebih perhatian pada Diona. Mhina kesal. Mhina mencari cara lain untuk lebih dekat dengan Aran. Dia pun bicara dengan ayahnya. Fatar yang terbiasa memenuhi keinginan putrinya mencari tau tentang keluarga Aran. Ternyata dia dengan Rustam dulu pernah satu sekolah. Fatar pun mulai mendekati Rustam. Mengenalkan putrinya yang hidup dengan jantungnya yang tidak sempurna Rustam pun iba. Apa lagi sikap Mhina pada Rustam begitu manis. Fatar pun minta agar Aran di jodohkan dengan Mhina, apa lagi mereka bersahabat. Aran meminta waktu untuk berpikir. Pada akhirnya Aran menyetujui. Mhina meminta pertunangan, dan itu terjadi. Mhina mengira dengan menjadi tunangan Aran, sikap Aran akan berubah. Ternyata tidak. Diona tetap nomer satu. Mhina benci pada Diona. Dia ingin menyingkirkan gadis itu dari hidup Aran. Tapi tidak bisa. Aran hanya mau pergi jika Diona ikut. Jika tidak Aran memiliki berbagai alasan untuk tidak pergi. Mhina bahagia ketika mereka lulus kuliah dan menikah. Itu pun atas permintaannya juga. Ternyata sikap Aran tidak berubah. Di saat mereka bulan madu pun Aran justru masih sibuk dengan pekerjaannya. Mhina sempat di tinggal Aran ke Singapore bertemu rekan bisnisnya. Mhina senang ketika tau Diona menghilang. Dia tidak mau bersandiwara lagi. Mhina berharap Diona menghilang selamanya.


Kalau yang lalu Elis yang senyum-senyum. Kali ini Lucca yang melakukannya. Diona dan Elis heran.


"Luc, kau sedang jatuh cinta?" tanya Diona jail.


"Memangnya orang senang itu harus selalu jatuh cinta?" Lucca balik bertanya. Dia senang bisa mengganggu para gadis.


"Lalu apa yang membuatmu senang?" tanya Elis penasaran.


"Begini, hasil pameran kemarin sangat baik. Aku bisa memperlihatkan pada pimpinanku kalau hasil lukisan pilihanku terjual dengan harga bagus. Sedangkan hasil pilihan atasanku justru tidak terjual. Maka aku naik jabatan. Atasanku di pindah ke lain kota." Lucca bercerita dengan bangga.


"Hebat. Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Diona.


"Itu rahasia. Kalian tidak boleh tau." Lucca pelit membagi siasatnya. Dia memang marketing yang hebat.


"Tapi tidak curang kan?" tanya Diona curiga.


"Kau mengataiku curang ya." Lucca menarik hidung Diona.


"Karena kau sedang senang, kau harus traktir kami makan." kata Elis yang ingin menghilangkan kebosanan.

__ADS_1


"Nanti malam saja ya. Hari ini aku sibuk di kantor." Lucca setuju. Elis mengedipkan matanya pada Diona. Todongannya berhasil. Lucca benar-benar membawa mereka makan malam. Restauran yang dipilihnya berbeda dari yang biasa. Kali ini Lucca mentraktir mereka makan seafood.


"Sepertinya kau harus sering naik jabatan." goda Elis.


"Kalian berdoa saja. Jangan kaget kalau doa kalian terkabul." kata Lucca tidak mempan di goda.


"Tapi aku baru tau makanan di sini enak." komentar Diona. Di tengah kejenuhannya dengan makanan Italy malam ini dia cukup senang.


"Aku ke toilet dulu ya." kata Diona yang tidak tahan akan buang air kecil.


"Jangan lama-lama ya Di. Nanti makananmu dingin." kata Lucca. Diona segera mencari toiletnya. Rupanya ada di belakang. Bersih dan sepi jadi Diona bisa segera selesai. Ketika keluar dari toilet tampak seorang pria sedang menunggunya.


"Hai Diona, apa kabar?" sapa pria itu.


"Aku rindu padamu Diona. Lama kita tidak bertemu." Sean tertawa terlihat jelas di wajahnya punya niat jahat pada Diona.


"Kau mabuk ya?" Diona mulai mundur agar jarak antara dia dan Sean cukup jauh.


"Aku mabuk akan dirimu sayang. Aku mau jadi pacarmu." Mata Sean yang merah menunjukan dia memang mabuk. Diona tidak bisa mundur lagi. Di belakangnya tembok. Sean tampak senang melihat itu. Dia akan segera memeluk Diona ketika ada yang memukul kepalanya. pada saat Sean terjatuh Diona baru melihat orang itu.


"Claire." seru Diona terpaku.

__ADS_1


"Hai Diona, aku terpaksa memukul fansmu." kata Claire.


"Bukankah dia di tangkap?" kata Diona tentang Sean.


"Ya dia melarikan diri." jawab Claire.


"Kau tau Sean di tangkap." Diona heran.


"Tentu saja aku tau. Dia bekerja di club' malam yang sering aku datangi. Ketika dia di tangkap aku ada di sana." kata Claire. Dia menarik tangan Diona untuk masuk ke dalam.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru saja keluar.


"Pak ada orang mabuk yang melarikan diri dari kantor polisi. Dia mengganggu tamu." kata Claire, tampaknya pria itu managernya.


"Kalau begitu kalian masuk, biar aku tangani." dia langsung menelpon kantor polisi.


"Claire terima kasih, kau sudah menolongku." kata Diona tulus.


"Sama-sama Diona, aku sedang bekerja di dapur. Tolong jangan bilang aku bekerja di sini. Nanti kita ngobrol lagi ya Diona, aku harus kembali bekerja." Claire masuk ke bagian dapur. Diona pun segera kembali ke mejanya.


"Di kau lama?" tanya Lucca yang penasaran.

__ADS_1


"Tadi ada Sean menggangguku, dia mabuk. Claire menolongku, dia memukul kepala Sean hingga pingsan." kata Diona terus terang.


"Apa katamu?"


__ADS_2