
"Aku tidak akan pernah kembali padamu. Jangan datang mencariku lagi. karena semua usahaku telah ku serahkan pada putraku. Aku akan pergi bersama Del untuk menikmati waktu kami berdua. Pergilah, aku juga akan pergi menemui Del." Miguel bangkit berdiri lalu berjalan ke dalam tanpa menoleh lagi.
"Miguel sayang." panggil Ros berlagak mesra. Tapi percuma. Miguel mengabaikannya. Paul mendengar percakapan itu dengan senang. Dia rasa ayahnya sudah benar menolak wanita itu. Mana mungkin ayahnya tergoda. Kemarin saja dia hampir mati kehilangan istrinya. Paul pura-pura tidak tau ketika ayahnya kembali. Dia seolah sedang membaca laporan.
"Paul ayah tidak akan menemuinya lagi. Mungkin sudah waktunya kau mengambil alih semua usaha ayah. Sekarang ayah hanya ingin menghabiskan waktu bersama ibumu. Mungkin ada baiknya kami jalan-jalan ke Amalfi." kata Miguel pada Paul serius. Jika dia tidak muncul di restauran, Ros juga tidak datang lagi.
"Ide bagus ayah, bibi Irene pasti senang ayah datang ke sana." Paul tersenyum. Biarlah dia jadi sibuk, asal orangtuanya bahagia. Apa yang Miguel lakukan di dengar oleh Del. Dia senang dengan keputusan Miguel.
"Benar apa yang kau katakan itu?" tanya Del penasaran.
"Tentu saja. Aku membangun usahaku untuk siapa kalau bukan untukmu. Kau wanita yang menerimaku apa adanya. Sebab itu jangan tinggalkan aku lagi." kata Miguel dengan wajah serius.
"Maafkan aku, pernah tidak percaya padamu." Del menyesal, pernah marah dan meninggalkan Miguel. Jika dia pikirkan lagi dia bodoh menyia-nyiakan ketulusan suaminya.
"Untung Paul mencarinya jika tidak bagaimana dengan hidupku." Miguel memeluk Del. Sekarang dia tidak mau lagi melewatkan hatinya tanpa Del. Seperti yang di katakan Miguel, dia mengajak Del untuk ke Amalfi. Itu langkah pertama untuk membuat Del senang. Dari pada Del menghabiskan waktu di rumah. Miguel akan membawa Del wisata. Paul setuju. Dia pun melepas orangtuanya untuk menikmati waktu mereka.
Diona, Elis dan Lucca sibuk dengan lukisan mereka masing-masing. Sejak awal Elis tampak senang. Dia kerap tersenyum.
"Sepertinya ada yang senang nih." kata Lucca yang sejak tadi memperhatikan. Diona langsung tau yang di maksud Elis, karena dia diam saja sejak tadi.
__ADS_1
"Senang tidak di bagi, apa ini teman?" tanya Diona menyindir. "Kalian selalu tau ya apa yang kurasakan." Elis tertawa lepas.
"Ayo cepat bilang ada apa?" Lucca tidak sabar.
"Aku senang, kalian tau kan Justin lupa ingatan. Belakangan ini dia mulai ingat sedikit demi sedikit. Walau Justin mau bertanggung jawab padaku, tapi karena dia belum ingat pasti perasaan cinta itu belum hadir kembali di hatinya. Dia hanya tau aku seseorang yang berharga dari catatan yang di buatnya. Lalu dia yakin dia akan menyesal bila mengabaikan aku. Maka kamimenikah karena Justin senang dia akan punya anak." Elis menatap dan mengusap perutnya yang mulai kelihatan kehamilannya.
"Kau tau darimana ingatan Justinmulai kembali?" tanya Lucca sambil menatap Elis lekat. Menarik pikirnya. Dia ingin tau pikiran Justin ketika sudah ingat.
"Justin yang bilang. Awal kami menikah kami masih canggung. Karena yang cinta kan cuma aku. Tapi untungnya Justin merasa nyaman denganku.Maka kami bisa melewati hari dengan baik. Dia bilang dia mulai sayang padaku." Elis mengakui.
"Wah aku tidak pernah tau kau merasakan itu." kata Diona menyesal.
"Lalu bagaimana Justin ingat padamu?"ucca kembali pada inti pengakuan Elis. Dia tidak sabar.
"Justin bilang belakangan ini di sering sakit kepala. Hal itu membuatnya ingat sedikit demi sedikit . Seperti ada sekilas kenangan di pikirannya yang hadir. Diam-diam Justin mengamati aku." Elis tersenyum manis mengingat Justin.
"Jangan bilang dia curiga kepadamu." Lucca menduga.
"Bukan curiga sih, tapi menelusuri kembali tentang cerita aku dan dia. Itu membuat dia senang. Kau lihat deh nanti, wajah Justin lebih ceria." Lucca percaya pada perkataan Elis. Karena wajah Elis sendiri sudah menampakan itu.
__ADS_1
"Mengetahui pilihannya benar pasti saja pria itu bahagia. Tapi kalau menyadari pilihannya salah tentu akan kecewa." Diona berkata sambil memikirkan Aran. Entah mengapa dia jadi melihat keadaan yang terbalik antara Justin dan Aran.
"Kau ini membicarakan siapa?" tanya Lucca curiga. Wajah Diona jadi murung sebabnya.
"Maksudku jika Justin memilih tetap bersama tunangannya waktu itu." Diona berdalih. Dia lalu merubah ekspresi wajahnya.
"Sebenarnya mantan tunangannya itu masih suka menghubungi Justin. Berharap dia berubah pikiran. Dia tau Justin punya ambisi dalam karirnya. Tapi belakangan Justin sudah berubah pikiran. Dia merasa nyaman tinggal bersamaku. Justin tidak bilang padaku karena tidak mau aku khawatir, karena aku sedang mengandung. Tapi sekarang Justin bisa bilang pada mantannya. itu, dia tidak menyesal atas pilihannya dan dia sudahi gat kembali " wajah Elis tampak bahagia, dia sudah menemukan cintanya kembali.
"Justin tetap bersamamu karena dia mencintaimu, tanpa dia sadari. Dasar wanita tidak tau malu." Gerutu Lucca. Diona tidak berkata apa pun. Tapi pikirannya kembali pada Aran. Bagaimana kalau dia tidak pergi, tentu hubungannya dengan Aran tidak secanggung ini. Aran tidak ada kabarnya dan tidak menghubunginya atau menemuinya lagi. Sedangkan dia sendiri enggan untuk menghubungi Aran, bukan karena tidak mau tapi karena rasa canggung tadi. Namun Diona segera menepis pikiran itu. Dia berada jauh dari Aran saja pikiran Mhina tetap buruk padanya. Bagaimana jika dia tidak pergi. Dia akan lebih jauh terlibat. Diona merasa keputusannya sudah benar.
"Di, apa yang kau pikirkan?" tanya Lucca tiba-tiba melihat Diona terdiam di depan lukisannya. Diona jadi tersadar.
"Inspirasi apa yang kita dapat dari sebuah pohon?" tanya Diona bertaka-teki. Karena dia baru saja melukis sebuah pohon.
"Bisa menghindari kita dari panas dan hujan mungkin." jawab Lucca menggambarkan dengan dalam.
"Kita bisa menarik manfaat dari pohon misalnya siklus air." jawab Elis dengan serius.
"Menurutku enak di lihat saja sih." jawab Diona santai. Lucca ingin menimpuk Diona rasanya. Mereka sudah terbawa pada pertanyaan iseng Diona.
__ADS_1
"Kalau tidak enak di lihat, tidak mungkin orang melukisnya." tambah Diona. mLucca dan Elis memilih diam karena kesal. Mereka melanjutkan melukis dalam diam. Karena perasaannya yang senang Elis selesai duluan. Dia menatap lukisannya dengan perasaan puas. Lucca selesai ketika Elis tengah membereskan peralatannya. Diona yang belum selesai karena pikirannya yang berat.