
Lucca bangkit berdiri lalu menuju pintu. Diona mengikutinya.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku ya." kata Lucca sebelum membuka pintu.
"Thanks Luc, hati-hati di jalan." jawab Diona. Lucca segera menghilang di balik pintu. Lucca berjalan pelan melewati apartemen Sean. Terdengar suara pertengkaran dari dalam. Lucca berkesimpulan, jika terdengar sampai keluar berarti pertengkarannya sangat hebat di dalam. Bagaimana orang bisa hidup seperti itu. Lucca pun segera berlalu.
"Di bajumu sungguh modis dan cantik." Elis mengagumi isi lemari Diona.
"Padahal aku tidak pernah berbelanja. Itu semua perbuatan Paul, Bayu dan Tante Wilma." jelas Diona terus terang.
"Tidak suka belanja saja seperti ini. Bagaimana kalau kau hobi belanja." Elis memilih kaos dan celana pendek untuk di pakainya. Dia memilih baju santai untuk tidur.
"Aku rasa lemarinya tidak akan muat." Diona tertawa.
"Andai nasibku sepertimu ya, pasti senang." Elis mulai melamun. Diona menoleh padanya.
"Memangnya apa yang kau risaukan?" Diona tidak begitu tau tentang Elis.
"Aku hidup di peternakan. Orangtuaku memiliki peternakan yang lumayan besar. Suatu hari aku yang harus mengurusnya. Tidak ada dalam kamus hidupku bekerja di kantor dengan baju modis atau seksi sekalipun. Bertemu dengan pria-pria tampan yang elegan atau berpenampilan rapih seperti Lucca atau Bayu. Kenapa aku belajar melukis karena hidupku akan membosankan. Oleh sebab itu aku punya hiburan nanti dengan melukis aku tidak akan jenuh." Elis berkata dengan mata yang menerawang jauh. Diona baru tau apa yang ada di pikiran Elis.
"Cintailah duniamu, jika kau tidak dapat mengubahnya. Kau sudah membuat pilihan yang benar dengan belajar melukis. Aku juga sama tidak bisa menghindar dari dunia masa depanku." Diona merasa dia dan Elis sama, walau berbeda situasi.
"Elis, kau pernah jatuh cinta?" tanya Diona tiba-tiba.
"Pernah, dulu dia teman masa kecilku. Dia tinggal di peternakan sebelah. Dia tampan dan gagah. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Tapi kemudian tiba-tiba dia menghilang. Kata pekerja di tempatnya dia pergi ke kota, melanjutkan sekolahnya. Dia memang pernah bilang padaku, ingin menjadi seorang pengacara hebat. Dan sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi. Dia tidak pernah pulang. Aku dengar dia sudah bertunangan." Elis jadi murung.
"Oh Elis, maaf. Aku membuatmu sedih." Diona memeluk Elis. Dia tidak menyangka Elis punya cerita sedih.
__ADS_1
"Lega rasanya bisa bercerita padamu." kata Elis sambil mengurai pelukan mereka.
"Elis apa kau masih mencintainya?" Diona penasaran.
"Aku belum bisa melupakannya. Kadang jika aku melihat Lucca dengan setelan kerjanya, terbersit dalam pikiranku apa dia sudah sukses atau apa dia bahagia? Aku harusnya tidak memikirkannya ya." Elis berkata lesu. Diona tidak menyalahkannya. Dia pun demikian, masih menyimpan sebuah nama. Padahal orang itu sudah menikah. Paul menelpon lagi malam itu memastikan Diona baik-baik saja. Diona bilang dia bersama Elis. Dan besok pagi Lucca akan menjemput mereka untuk berangkat ke sekolah. Paul berjanji akan segera pulang.
Aran menghadiri pertemuan keluarga. Mhina menolak datang dengan alasan kurang sehat. Padahal dia takut bertemu Dewanti, ibu mertuanya. Aran tidak perduli. Tujuan Aran datang kali ini untuk bertemu Bayu. Dari jauh Aran melihat Bayu sedang mengobrol dengan ayahnya, Wildan Wiraguna. Aran menghampiri.
"Malam om, apa kabar?" sapa Aran pada Wildan.
"Om baik Aran. Mana Mhina?" Wildan menanggapi ramah. Bayu menatapnya malas. Aran tau Bayu masih kesal padanya.
"Tidak ikut om, sedang kurang sehat." jawab Aran sopan.
"Baiklah om tinggal dulu ya." Wildan berlalu sebelumnya menepuk bahu Aran.
"Aku bertemu Diona." kata Aran pada Bayu. Sepupunya tampak terkejut. Tapi lalu bersikap biasa.
"Di Paris. Dia bersama seorang pria." jawab Aran sambil menatap Bayu tajam. Bayu terlihat lega.
"Oh di Paris. Jadi Di sudah punya pacar?" Bayu berlagak tidak tau. Dia yakin Diona bersama Paul.
"Aku tidak tau, kau yang tau." tegas Aran. Dia menunggu penjelasan Bayu. Tapi Bayu menolak.
"Mungkin Diona sudah menemukan pria yang tepat untuknya. Tidak mungkinkan Diona terus sendiri." Bayu berkata sinis. Perkataannya bagai ribuan jarum menghujam dalam hati Aran.
"Sudahlah, untuk apa kau mengurusi tentang Diona. Urus saja istrimu yang sedang sakit." Bayu berlalu meninggalkan Aran. Percakapan mereka di dengar Dewanti. Dia baru tau hubungan Aran dan Bayu saat ini tidak baik. Timbul keingintahuan dalam hati Dewanti, ada apa sebenarnya? Bayu segera menghubungi Paul.
__ADS_1
"Hai Bayu, apa kabarmu?" tanya Paul ketika menjawab telpon Bayu. Dia tengah bersiap untuk kembali ke Florence.
"Kau ke Paris bersama Di?" tanya Bayu tidak membuang waktu.
"Benar. Kau tau, apa Didi yang mengatakannya?" tanya Paul heran.
"Untuk apa kau ke sana?" Bayu terdengar tidak senang.
"Membawa temanku untuk bekerja di sana. Kami jalan-jalan dan mampir ke restauran idamanku. Tidak lama hanya dua hari. kenapa memangnya?" Paul merasa Bayu tidak suka.
"Kau bodoh Paul. Di bertemu Aran di Paris." kecam Bayu.
"Apa? bertemu Aran, di mana? Didi terus bersamaku. Nanti dulu. Aku sempat meninggalkan Didi sendirian ketika memanggil taksi. Tapi dia......ah ada seorang pria di dekatnya ketika aku menyusulnya. Apa itu Aran? Aku tidak memperhatikannya. Tapi aku ingat Didi jadi diam sejak saat itu. Kau benar aku bodoh. Harusnya aku tidak meninggalkannya." Paul baru paham mengapa Bayu marah.
"Di mana itu?" tanya Bayu belum puas.
"Kami jalan-jalan di Menara Eiffel. Besoknya Didi langsung minta pulang." Paul jadi tau mengapa Diona aneh.
"Untung saja kian pulang. Aran belum tau tempat Diona tinggal. Jaga Diona baik-baik. Di mana dia?" kata Bayu dengan lega.
"Didi di Florence dengan temannya. Elis menemaninya, aku sedang di Amalfi dan akan pulang. Tenang saja aku akan menjaga Didi." setelah Paul berkata begitu Bayu memutus kontak. Paul merutuki dirinya, dia bisa tidak tau Diona bertemu Aran. Paul segera membereskan barangnya.
Dewanti diam-diam memanggil Rianto. Tanpa setau Aran Rianto menemui nyonya besarnya.
"Siang nyonya, maaf saya terlambat." kata Rian menyapa Dewanti. Mereka bertemu di sebuah cafe.
"Tidak apa, duduklah. Ada yang saya ingin tanyakan padamu." Dewanti mengisyaratkan Rian untuk duduk dengan matanya. Rian duduk sambil berdebar. Baru pertama kali ini nyonya besarnya ingin bertemu. Rahasia pula.
__ADS_1
"Rian, jawab saya dengan jujur. Siapa sebenarnya yang di cari anak saya Aran? kamu pasti tau." Dewanti berkata dengan tegas.
"Tuan Aran sedang mencari sahabatnya nona Diona." jawab Rianto jujur.