PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Derita Elis


__ADS_3

Dewanti yang semula diam kini malah sibuk mengomel pada suaminya. Rustam merasa bersalah, oleh sebab itu dia diam saja Dewanti begitu. Hingga tiba di rumah Dewanti masih terus mengomel. Rustam pikir lebih baik demikian, dari pada Dewanti memendam rasa kecewa dan kesalnya lalu sakit. Rustam masih terus mendengarkan Dewanti hingga istrinya puas. Rustam sadar putranya mengalami ini semua karena dia. Rustam berjanji akan mendengarkan perkataan Dewanti sejak saat ini. Omelan Dewanti berhenti ketika Rustam memeluknya erat.


"Sayang, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku akui kesalahanku. Mulai hari ini aku akan mendengarkanmu." kata Rustam tulus. Mendengar itu Dewanti terdiam. Suaminya sudah meminta maaf dan menyadari kesalahannya.


"Kenapa tidak sedari tadi? Aku kan cape ngomel melulu." kata Dewanti sambil memalingkan wajahnya, dia senang suaminya melakukan itu. Rustam tersenyum dan mencium pipi istrinya.


"Aku tau kamu marah. Putra kesayanganmu harus mengalami hal seperti ini. Aku pantas mendapat marahmu. Tapi jangan tinggalin aku dan mencari pria lain ya." kata Rustam sambil menggoda Dewanti.


"Cih...menghilangkan kesempatan saja." Dewanti berlagak protes.


"Apa? jadi kamu niat ya mencari pria lain." Rustam menghujani istrinya dengan ciuman. Dewanti tertawa dan menyembunyikan wajahnya di dada Rustam.


"Makanya kalau tidak ingin di tinggal, berubah dong." kata Dewanti manja.


"Bukannya aku sudah berubah? Dari kemarin aku selalu dengarin kamu." Rustam membela diri. Dewanti mengakui itu dalam hati. Rustam mengusap rambut Dewanti lembut.


"Sekarang aku akan menebus kesalahanku dengan membantu Aran untuk bahagia." Rustam bersungguh-sungguh. Dewanti menatap wajah Rustam.


"Mas kamu harus bantu Aran untuk bercerai dari Mhina. Aku yakin ini tidak akan mudah. Kau harus menekan Fatar agar surat perceraian bisa segera di urus." kata Dewanti serius. Rustam mengangguk. Dia juga sepikiran dengan Dewanti.


"Kebahagiaan Aran sudah ada di luar sana. Tapi mungkin waktunya belum tepat." Dewanti teringat Diona. Semoga gadis itu jodoh Aran.


"Jika memang begitu, pertemukan aku dengan keluarganya." pinta Rustam tulus. Dewanti setuju, mereka memang harus bertemu. Aran menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan hari itu, walau hatinya membara. Dia meminta Rian untuk mengurus surat perceraiannya dengan Mhina. Rianto terkejut. Secepat itu mereka akan berpisah. Belum satu tahun pernikahan Aran dan Mhina kandas. Tapi ketika mengetahui alasan Aran menceraikan Mhina, Rian tidak bertanya lagi. Dia melihat wajah Aran yang gelap lalu memutuskan untuk tidak mencari masalah. Aran ingin menjual rumahnya, walau dia menyayangkan hal itu. Rumah itu hasil jerih payahnya. Tapi dia merasa marah tiap kali pulang ke rumah. Teringat apa yang di lakukan Mhina. Aran mencari rumah baru dan memutuskan untuk pindah. Rumah lamanya di kosongkan dan di jual.


Italy siang itu cuacanya cerah, tapi tidak dengan hati Elis. Dia sudah gelisah karena suatu hal. Lucca dan Diona sudah bisa melihat kegelisahan Elis. Mereka pun duduk bertiga untuk bicara.

__ADS_1


"Elis, apa sih yang membuatmu tidak tenang?" tanya Diona. Elis menatap dua sahabatnya ragu. Ada yang dia sembunyikan tapi malu rasanya jika harus mengutarakannya.


"Ayolah bilang, ada apa sebenarnya." Lucca tidak sabar.


"Sebenarnya sudah beberapa waktu ini aku tidak dapat menghubungi Justin." cerita Elis dengan lesu.


"Apa dia sibuk? Bukankah dia akan berhenti?" Diona ingat pada keputusan Justin.


"Itu benar, dia sedang membereskan beberapa pekerjaannya. Tapi biasanya dia mudah ku hubungi. Bahkan Justin yang sering menghubungiku." Elis membeberkan fakta.


"Jadi kau tidak tau apa sebabnya dia tidak ada kabarnya?" Lucca menegaskan.


"Benar, hingga hari ini aku tidak tau kabarnya." Elis sedih.


"Apa kah ini serius Lucca, atau Justin memang sibuk akan sesuatu?" Diona curiga tapi tidak yakin Justin mengabaikan Elis.


"Jadi kamu gelisah karena ini rupanya." kata Diona menyimpulkan.


"Sebenarnya bukan itu saja." Elis berkata pelan. Diona dan Lucca menatap Elis serius.


"Apa lagi?" tanya Diona ingin tau. Elis sempat terdiam, tapi dia rasa dia harus mengatakannya.


"Aku terlambat datang bulan. Aku rasa aku........" Elis terhenti, dia yakin Diona dan Lucca dapat menangkap ucapannya.


"Astaga, jadi ketika aku mengantarmu ke hotel bertemu Justin, kalian melakukannya?" Lucca teringat peristiwa dia mengantar Elis bertemu Justin sebelum pria itu pulang ke London. Elis dengan malu mengangguk. Lucca dan Diona lemas.

__ADS_1


"Ini sih darurat namanya. Kita harus bertemu Justin." Lucca berkata tegas. Elis merasa lebih lega ketika Lucca menyebut kita.


"Caranya?" tanya Diona. London itu jaraknya jauh.


"Biar aku cari tau dulu lewat temanku. Baru kita nanti ambil keputusan." Lucca butuh waktu untuk menghubungi temannya. Pergi ke London itu mudah, tapi bertemu dengan Justin yang belum pasti. Mereka mencoba untuk tetap berpikir positif sambil menunggu kabar. Lucca bisa menghubungi temannya di London. Dia pun menyampaikan hasilnya pada Elis.


"Menurut temanku bisa di pastikan Justin berada di London." kata Lucca.


"Tapi mengapa dia tidak dapat di hubungi?" tanya Elis bingung.


"Temanku sedang mencari tau." jawab Lucca, dia paham kebingungan Elis.


"Sepertinya kalian harus pergi ke London." kata Diona. Elis tidak mungkin pergi sendiri.


"Bagaimana Elis, kau setuju kita pergi ke London?" tanya Lucca, dia paham perkataan Diona.


"Dengan keadaan aku yang seperti ini aku harus bertemu Justin." Elis tidak punya pilihan. ia tidak dapat membayangkan dia harus menghadapi keluarganya seorang diri.


"Baiklah kita berangkat ke London sambil terus menunggu kabar." Lucca tidak mau membuang waktu. Dia sangat ingin tau mengapa Justin tidak dapat di hubungi walau dia berada di London. Lucca dan Elis pun berangkat ke London. Diona tetap tinggal.


"Elis, apa Justin tau tentang kehamilanmu?" tanya Lucca ketika mereka duduk di pesawat.


"Tidak. Aku belum tau tentang ini ketika terakhir bicara dengannya." perkataan Elis mengugurkan dugaan Lucca, jika Justin pria brengsek. Ternyata memang Justin belum tau. Mereka tiba di London dan mencari penginapan yang cukup baik. Lucca mengabarkan kedatangan mereka pada temannya. Tidak lama temannya datang untuk memberi info terakhir.


"Hai aku Brad teman Lucca." kata pria itu pada Elis. Pria berdarah London yang jelas terlihat dari aksen bicaranya.

__ADS_1


"Maaf mungkin apa yang aku sampaikan tidak enak." kata Brad menyesal. Dia sudah tau mengapa Lucca dan Elis mencari Justin.


"Tidak apa-apa, kami harus tau tentang Justin. Sekecil apa pun atau seberat apa pun." kata Lucca. Mereka sudah jauh-jauh datang ke London.


__ADS_2