PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Eiffel, Aku Shock


__ADS_3

Mhina sangat senang datang ke tempat itu. Mereka duduk berdua. Luthan tidak mau duduk bersama teman-temannya, karena mereka berengsek. Luthan tidak mau mereka mengganggu Mhina. Mereka duduk dan menikmati suasana. Mhina juga mencoba minuman. Luthan sesekali minum sambil memperhatikan Mhina. Tidak lama Mhina pun mulai mabuk, Luthan merasa kepalanya mulai pening. Dia memutuskan untuk membawa Mhina pulang. Tiba di rumah Mhina sudah terhuyung-huyung berjalan. Luthan memutuskan untuk menggendong dan membawanya ke kamar. Dia membaringkan Mhina di tempat tidur. Awalnya Luthan ingin meninggalkan Mhina seorang diri. Tapi tangan Mhina menahannya. Teringat Mhina seorang diri di rumah Luthan pun memutuskan untuk tinggal.


Diona baru pulang dari restauran bersama Paul. Dia baru menyadari ternyata pelayan di restauran Miguel laki-laki semua.


"Paul ternyata pelayanmu pria semua. Apa di semua restauran seperti itu?" tanya Diona penasaran.


"Benar, itu ketentuan ayahku. Dia tidak suka jika ada pekerjaannya yang jatuh cinta dan berpacaran. Mengganggu waktu bekerja katanya." jawab Paul.


"Ayahmu kejam juga." Menurut Diona begitu.


"Tidak juga. Kau tau Didi para pekerja itu berasal dari anak-anak putus sekolah atau orangtua yang tidak lengkap. Ayahku memberi kesempatan untuk mereka belajar dan menata hidupnya. Ada yang bisa sekolah lagi dengan gaji yang di terimanya. Tapi kalau mereka memutuskan untuk menikah ya itu urusan mereka. Ayahku hanya memberi kesempatan agar mereka bisa hidup lebih baik." jelas Paul.


"Wah ayahmu orang baik ternyata." tidak heran, pikir Diona. Dulu juga Miguel hidup susah. Mungkin karena itu dia jadi punya perhatian pada mereka yang kekurangan.


"Tapi kenapa hanya pria?" Diona masih penasaran.


"Pria itu kan akan menjadi kepala keluarga. Dia harus bisa menafkahi keluarganya satu saat nanti. Sama seperti ayahku, dia tidak bisa menafkahi ibuku dan menyekolahkan aku jika dia dulu tidak bekerja keras." jawaban Paul masuk akal. Diona jadi ingin mengenal Miguel, ayah Paul. Mereka tiba di apartemen.

__ADS_1


"Ayo kita tidur. Besok kita harus berangkat ke Paris." kata Paul yang mulai mematikan lampu Diona menurut. Mereka berangkat ke Paris sesuai rencana. Di sana mereka menginap di sebuah hotel yang memiliki pemandangan menara Eiffel. Paul meninggalkan Diona di hotel, karena dia berjanji untuk bertemu temannya dan pergi ke restauran. Diona mengambil gambar dan pamer pada Wilma kalau dia kalau dia di Paris. Wilma langsung menghujani dengan berbagai pertanyaan. Diona pun asik mengobrol dengan Wilma. Paul datang, mengajak Diona jalan-jalan. Urusannya sudah selesai. Paul mengajak Diona mengunjungi pertokoan. Paul ingin membelikan mantel baru untuk Diona. Sedangkan Diona hanya mengikuti Paul saja. Tapi diam-diam Diona terpana pada sebuah jaket warna hitam. Pasti cocok untuk Paul. Diona pun membelinya.


"Didi kau mau kita makan malam di restauran impianku?" tanya Paul pada Diona.


"Tentu saja aku mau. Aku ingin lihat tempatnya " Diona tertarik.


"Ya sudah nanti malam kita ke sana, lalu kita ke menara karena tidak jauh letaknya dari restauran."kata Paul. Mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Diona hanya berbaring sambil menonton tv Kemudian dia mulai bersiap-siap untuk keluar lagi dengan Paul. Mereka naik taksi dan berhenti di restauran. Diona mengagumi restauran itu. Pantas Paul begitu ingin bekerja di sini. Bangunan memang indah. Makanannya juga enak, itu yang penting bagi Diona.


Didi, aku akan merenovasi restauran di Amalfi. Kau tidak keberatan aku tinggal?" tanya Paul ragu-ragu.


"Sepi sih jika kamu pergi. Tapi aku tau kau harus melakukannya. Tidak apa-apa Paul." Diona terpaksa setuju.


"Benar juga nanti aku bilang pada Elis." Diona tidak mau Paul khawatir.


"Ayo kita lihat menara." Pau membawa Diona keluar dari restauran. Benar kata Paul mereka hanya perlu berjalan kaki. Orang-orang senang pergi ke Paris tapi bagi Diona tidak begitu. Italy lebih berkesan baginya. Mungkin karena sekolah lukisnya yang membuat dia suka pada Italy. Mereka berjalan-jalan di sekeliling menara saja, Fiona tidak mau naik. Diona berfoto untuk di kirim pada Wilma.


"Sudah malam kita pulang ya. Kau tunggu di sini aku akan memanggil taksi." kata Paul beranjak meninggalkan Diona. Sambil menunggu Paul Diona melihat-lihat hingga dia menabrak seseorang.

__ADS_1


"Maaf aku tidak senga........" mata Diona melotot melihat orang yang di tabraknya.


"Di?" Arandra Caisar menatapnya terkejut. Mereka saling bertatapan, terpana.


"Didi aku sudah memanggilmu dari tadi, kenapa kau tidak mendengarku? Ayo cepat taksinya menunggu." Tiba-tiba Paul datang dan menarik Diona pergi dari situ. Aran terkejut dan tersadar melihat Diona di tarik seorang pria pergi. Aran mulai mengejar.


"Diona" Panggilnya, tapi Diona tidak menoleh malah masuk ke dalam taksi dan berlalu. Aran tertegun. Itu Diona dia tadi bertatapan, benar itu Diona. Jadi Diona di Paris. Tapi siapa pria itu? Apa katanya ...Didi? jadi pria itu memanggilnya Didi. Hati Aran terasa perih. Dia berjalan- jalan di menara Eiffel karena kegalauan hatinya atas rumah tangganya, setelah menghadiri pesta ulang tahun perusahaan koleganya. Bukannya senang tapi hatinya justru perih. Apa benar Diona punya kekasih? Di mana Diona tinggal? Hati Aran bertambah gundah. Sedangkan Diona di dalam taksi juga masih sangat terkejut. Sosok yang di hindarinya tiba-tiba ada di hadapannya. Tapi Diona tidak berani cerita pada Paul. Hanya Paul bingung kenapa Diona jadi diam. Tiba di hotel pun Diona langsung ke kamarnya dengan alasan dia ingin beristirahat. Besoknya Diona minta pulang karena dia takut bertemu lagi dengan Aran. Paul menuruti keinginannya. Sedangkan Aran kembali ke menara dan berkeliling mencari Diona. Dia bahkan bertanya pada hotel-hotel dekat menara, mungkin saja Diona menginap di sana. Tapi nihil. Akhirnya Aran pun pulang.


Mhina terbangun di pagi hari, kepalanya masih agak pusing. Dia sadar ada di kamarnya. Tapi siapa yang ada di sebelahnya, apa Aran sudah pulang. Tapi Aran ko tidur di kamarnya. Apa Aran rindu padanya. Mhina pun bangun dan menoleh ke sebelahnya. Dilihatnya Luthan yang tengah tidur tanpa baju.


"Luthan, Luthan bangun. Kenapa kamu tidur di sini?" Mhina terkejut. Dilihatnya dirinya ternyata juga tidak berpakaian.


"Luthan ayo bangun." Mhina panik. Luthan perlahan terbangun.


"Mhina, kamu kenapa panik begitu?" tanya Luthan heran.


"Kita kenapa berdua di sini?" tanya Mhina dengan takut.

__ADS_1


"Kita tidur berdua Mhina, kamu tidak ingat? ya pasti, kamu mabuk sih semalam." Luthan tersenyum menatap Mhina.


__ADS_2