
"Makan ya aku siapin." Bayu membantu Mitsi makan. Walau tidak berselera tapi Mitsi sadar asupan makanan untuk bayinya. Dia pun makan dengan perlahan. Setelah habis Bayu memberikan air minum.
"Kau istirahat ya." Bayu menggendong Mitsi ke kamar. Di rebahkannya tubuh gadis itu di tempat tidur.
"Tidurlah." kata Bayu, baru saja ingin beranjak tangan Mitsi menahannya.
"Bayu kau tidak akan pergi lagi bukan?" tanya Mitsi khawatir.
"Aku hanya akan membereskan bekas makanmu tadi." Bayu bertanya-tanya, apa Mitsi sudah bisa menerima dirinya? Mungkin ini kesempatan baginya.
"Mitsi, jika kau ingin aku ada di sampingmu terus kita harus menikah." Bayu membujuk dengan lembut. Mitsi tetap diam walau hatinya membenarkan Bayu.
"Kandunganmu akan semakin besar. Kita harus segera melakukannya. Kau tidak ingat perkataan dokter? Di kiranya aku pria tidak bertanggung jawab." Bayu terus membujuk. Mitsi perlahan mengangguk. Bayu terpana.
"Kau setuju menikah denganku?" tanya Bayu penuh harapan. Mitsi mengangguk. Bayu memeluk Mitsi bahagia.
"Kau istirahat, nanti kita akan bertemu orangtuaku. Jangan pikirkan apa pun. Semuanya akan baik-baik saja." Bayu membantu Mitsi untuk berbaring. Dia meninggalkan Mitsi di kamar dengan perasaan bahagia. Sekarang tinggal menghadapi orangtuanya. Bayu menanti kesempatan itu sambil menunggu keadaan Mitsi lebih baik. Bayu bekerja di apartemen sambil menunggu Mitsi. Bayu tidak mau melewatkan tumbuh kembang anaknya dalam kandungan Mitsi. Wildan dan Renita, orangtua Bayu bingung melihat Bayu yang jarang di rumah. Bayu juga tidak ada di kantor walau pekerjaannya tetap lancar. Wildan bertanya-tanya di mana gerangan putranya. Bertanya pada Mike, asisten Bayu itu tidak memberi tau di mana atasannya berada. Wildan merasa dia harus tau tentang anaknya. Di hubungi pun Bayu sulit. Wildan berpesan pada Mike, Bayu harus pulang untuk menjelaskan tentang keanehan ini. Wildan tau Bayu sudah tidak mengurusi Diona lagi. Dia juga sudah mendapat kabar dari Rustam jika Aran telah bertunangan dengan Diona. Itu berarti Aran sekarang yang menjaga Diona. Mike pun menyampaikan pesan Wildan pada Bayu. Mau tidak mau Bayu harus pulang. Tapi kali ini dia akan membawa Mitsi. Bayu melihat keadaan Mitsi lebih dahulu. Mitsi sudah lebih baik.
"Mitsi, siang ini kita akan pergi ke suatu tempat. Bersiaplah, setelah kau merasa lebih baik kita berangkat." kata Bayu pada Mitsi. Dia melihat Mitsi masih lemas karena mual dan muntah. Mitsi diam saja, dia tidak pernah protes sekarang karena tau Bayu perhatian dan melakukan yang baik untuknya. Bayu memilihkan baju untuk Mitsi, karena mereka akan bertemu orangtuanya kesannya harus baik. Perlahan Bayu menyuapkan Mitsi makan. Asalkan Mitsi tidak muntah Bayu sudah senang. Setelah itu Mitsi mandi dan mengenakan baju yang Bayu pilihkan. Bayu senang melihat Mitsi yang sudah rapih.
"Ayo kita berangkat." Bayu menuntun Mitsi. Dengan hangat Bayu menggenggam tangan Mitsi. Mereka berangkat menuju rumah Wildan. Tiba di sana orangtuanya sudah menantikan Bayu. Mereka heran melihat Bayu menggandeng Mitsi.
__ADS_1
"Kau tenang saja ya, percaya padaku." Bayu bebisik pada Mitsi. Walau dia bingung Bayu membawanya ke sebuah rumah besar tapi Mitsi diam saja. Dia hanya mempelajari suasana.
"Bayu, kamu kemana saja? Lalu ini siapa?" tanya Wildan tidak sabar.
"Sebentar ayah." Bayu menuntun Mitsi untuk duduk. Renita hanya memperhatikan kelakuan Bayu yang begitu perhatian pada gadis itu.
"Bayu tidak kemana-mana ayah. Selama ini Bayu menjaga Mitsi di apartemen." Bayu pun perlahan menceritakan siapa Mitsi pada orangtuanya. Mitsi diam dan berdebar, dia baru pertama melihat orangtua Bayu. Mendengar penuturan Bayu Wildan marah.
"Bayu menolong orang memang tidak salah, tapi bukan seperti ini caranya." Wildan berkata sambil menatap tajam putranya. Sementara Renita memperhatikan Mitsi yang pucat.
"Nak, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Renita lembut pada Mitsi.
"Mitsi sedang hamil bunda. Anak Bayu." kata Bayu berterus terang. Wildan semakin marah. Tidak menyangka Bayu bisa berbuat sejauh itu.
"Sudah, sudah. Di tahan dulu marahnya." Renita menengahi. Dia kasihan pada Mitsi.
"Kamu sudah makan nak?" tanya Renita pada Mitsi.
"Tadi Bayu sudah menyuapinya bunda. Mitsi mual dan pusing, dia juga muntah setiap pagi." Bayu yang menjawab. Terlihat dia melindungi Mitsi. Wildan dan Renita bisa melihat bagaimana Bayu menjaga Mitsi. Jadi itu rupanya yang membuat Bayu lupa akan norma-norma yang ada.
"Bayu minta maaf jika membuat kalian marah. Tapi ini bukan salah Mitsi. Bayu yang mencintai dan menginginkan Mitsi. Bayu harap ayah dan bunda bisa menerima Mitsi. Apa lagi Bayu harus bertanggung jawab pada Mitsi." Bayu meminta dengan sangat. Wildan menghela napas kesal. Dia masih ingin memarahi Bayu, tapi setuju dengan Renita. Kasihan Mitsi.
__ADS_1
"Kalau begitu biar Mitsi tinggal di sini saja, biar bunda yang temani." kata Renita, dia senang mengurus Mitsi. Walau bagaimana yang di kandung Mitsi adalah cucunya.
"Aku setuju. Bayu jadi bisa konsen pada pekerjaannya." kata Wildan. Bayu sedikit kecewa. Dia senang menjaga Mitsi karena Mitsi pada akhirnya mau menerima dirinya. Tapi Bayu tidak berani membantah orangtuanya karena mereka mau menerima Mitsi.
"Itu terserah Mitsi jika dia mau di sini Bayu minta bunda tolong menjaganya." Bayu ingin Mitsi hidup tanpa tekanan.
"Kau di sini saja ya Mitsi sama bunda." Renita membujuk Mitsi, dia kasihan pada gadis itu. Lagi pula dia tidak punya anak perempuan.
"Kalian harus segera menikah, baru bisa tinggal bersama." putus Wildan.
"Itu terserah ayah saja." Bayu tidak mau orangtuanya tau jika dia memaksa Mitsi untuk menerima dirinya. Orangtuanya bisa bertambah marah.
"Mitsi maukah kamu menikah dengan putra kami?" tanya Wildan lembut pada Mitsi. Ini memang tidak sepantasnya namun apa boleh buat. Keluarga gadis itu jauh di Jepang. Mitsi juga sudah mengandung. Namun tidak terbersit sedikit pun dalam hati orangtua Bayu untuk merendahkan gadis itu.
"Aku rasa kami memang harus menikah. Ada bayi yang harus kami jaga." kata Mitsi menjawab pertanyaan Wildan. Mendengar itu Bayu sangat senang, dia merangkul bahu Mitsi sambil tersenyum bahagia. Ingin mencium Mitsi tidak mungkin karena ada orangtuanya.
"Baiklah secepatnya kita atur. Biar sanak keluarga saja yang datang dulu. Nanti baru kita langsungkan pesta." kata Wildan.
"Tidak perlu pesta yang penting kami resmi menikah " Mitsi keberatan.
"Jangan sayang, kami ingin menghormatimu dengan membuat pesta pernikahan. Kalau begitu biar pestanya mengundang keluarga saja mas." Renita mengambil jalan tengah.
__ADS_1
"Baiklah, akan kita atur begitu." Wildan bisa melihat jika Mitsi seorang gadis yang baik.