
Paul penasaran pada sosok Aran. Dengan perasaan sedih yang berlipat Paul pun segera memasukan baju-baju Diona pada sebuah koper besar. Paul mengambil tas miliknya untuk memasukan buku-buku Diona. Apartemennya akan kembali sepi seperti dulu, sebelum Diona datang. Karena ponselnya tertinggal Diona tidak bisa menghubungi teman-temannya. Hari ini mereka pasti bingung dia tidak hadir di sekolah dan tidak dapat di hubungi. Diona menikmati makan siangnya dengan malas karena tidak tau harus melakukan apa. Bayu sedang bekerja karena sudah mendapat laptopnya. Dia juga sedang menunggu Paul. Leana sedang menata barang-barang yang di bawanya di dapur. Aran sudah berpesan untuk menjaga baik-baik Diona. Paul mencari alamat yang di berikan Bayu. Akhirnya dia menemukannya. Tapi Paul tidak langsung turun. Dia mengamati dulu rumah itu. Rumah yang sangat cocok untuk Diona. Leana langsung tau ada mobil berhenti dan memperhatikan rumah itu. Dia mengamati dari dalam. Sikapnya itu membuat Bayu ingin tau.
"Ada apa Leana?" tanya Bayu curiga.
"Ada sebuah mobil tuan.Berhenti dan mengamati rumah ini." jawab Leana, matanya tidak lepas dari mobil Paul. Bayu berdiri dan menghampiri Leana. Dia menatap ke arah yang sama.
"Oh itu mobil Paul." Bayu pun berjalan menuju pintu dan keluar.
"Paul." panggil Bayu. Paul pun terpaksa keluar dari mobil.
"Kau sudah lama?" tanya Bayu heran.
"Belum, aku baru tiba. Tadinya aku ragu apakah benar rumah ini." Paul beralasan. Paul pun menurunkan barang-barang Diona.
"Leana, tolong bantu masukan barang-barang Diona." kata Bayu pada Leana. Gadis itu pun segera melakukannya. Paul menatap Leana.
"Siapa dia?" bisik Paul pada Bayu.
"Dia yang menjaga Di." kata Bayu juga berbisik.
"Oh begitu " kata Paul pelan. Dia baru tau ada yang menjaga Diona. Ini yang di maksud Diona dalam perlindungan Aran rupanya. Bukan hanya rumah saja tapi Diona di jaga seorang gadis. Mereka masuk ke dalam rumah. Diona yang melihat Paul langsung tersenyum dan menghampirinya.
"Paul." serunya.
__ADS_1
"Didi." wajah Paul penuh perasaan bersalah.
"Kau tidak apa-apa? Seharusnya aku tidak meninggalkanmu." Paul mengamati tubuh Diona, khawatir ada yang luka.
"Aku tidak apa. Hanya terkejut dan takut." jawab Diona sambil tersenyum.
"Sudahlah ayo duduk. Biar Leana yang mengatur barang-barang Di di kamar." kata Bayu. Dia mengerti Paul pasti ingin berbincang dengan Diona.
"Ini handphonemu, kutemukan dalam keadaan mati." Paul menyerahkan handphone Diona.
"Pasti habis daya." Diona menerimanya dan memperhatikannya sesaat. Bayu mengambil dan mengisi daya ponsel itu pada perangkat miliknya.
"Kau sudah makan?" tanya Paul pada Diona.
"Aku sedih kau harus pindah, tapi aku mengerti tidak aman jika kau tetap di sana." kata Paul lagi.
"Maaf Paul tapi aku masih takut jika harus tetap di sana." kata Diona dengan menyesal. Dia harus meninggalkan apartemen Paul dengan cara begini.
"Aku tau, andai saja ada yang bisa aku lakukan untukmu." Paul tidak rela Diona pergi begitu saja dari keseharian hidupnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Di ada yang menjaga sekarang. Kau bisa konsentrasi pada bisnismu." Bayu malah memperparah perasaan kehilangan yang Paul rasakan. Mereka berbincang hingga Paul pulang. Diona sekarang menyesuaikan hidupnya bersama Leana karena Bayu juga akan meninggalkannya. Aran memperhatikan kegiatan Diona hari itu dari kamera kecil yang di pasang Leana diam-diam. Aran jadi ingin tau hubungan Paul dan Diona secara persis dengan menyuruh Leana mencari tau. Benar tebakan Bayu, Aran tengah mengejar Luthan. Namun pria itu bersembunyi dengan lihai. Luthan tidak menyangka perbuatannya akan di ketahui Aran. Setelah gagal dia bingung harus mengatakan apa pada Mhina. Jadi Luthan memutuskan untuk bersembunyi sementara waktu. Mhina yang tidak mendapat kabar marah-marah. Keadaan kehamilannya juga menambah buruk keadaannya. Mhina susah makan. Mual dan muntah mulai di rasakannya. Belum lagi dia merindukan Aran. Berada di rumah sakit yang menjadi pilihannya mulai membuatnya tidak suka. Untuk apa ada di sana jika Aran tidak mau datang. Tapi kali ini Mhina betul-betul tidak dapat meninggalkan kamar rawatnya. Dengan tidak datangnya Luthan membuat Mhina semakin ingin pergi dari sana. Mhina kadang di buat tidur agar dia dapat beristirahat. Mendengar keadaan Mhina yang memburuk terpaksa diam-diam Luthan mendatanginya. Dia datang malam hari ketika rumah sakit sepi dan Mhina sudah tidur. Luthan belum bisa menjawab Mhina jika dia bertanya tentang Diona. Aran tidak hanya di sibukkan dengan mencari Luthan tapi juga pekerjaan kantornya. Selain itu Dewanti juga menuntut penjelasan padanya. Aran menemui bundanya karena dia berhutang banyak pada Dewanti.
"Bunda apa kabar?" tanya Aran sambil memeluk Dewanti.
__ADS_1
"Kamu yang apa kabar? Perlu apa kamu pinjam Leana dari bunda?" tanya Dewanti sambil duduk, bersiap mendengarkan penjelasan putranya. Aran pun bercerita tentang musibah yang dialami Diona. Dewanti terkejut ketika tau dalang itu semua adalah Mhina. Dewanti tidak menyangka begitu jahatnya mantan menantunya.
"Tapi bunda tenang dulu. Aran belum punya buktinya untuk menyudutkan Mhina. Seandainya kita bicara pun Mhina pasti akan menyangkal." Aran menenangkan Dewanti.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan nak?" Dewanti ingin tau.
"Aran masih mencari Luthan, dia tengah bersembunyi. Tapi Aran dengar keadaan Mhina semakin memburuk, pasti Luthan akan segera muncul." Aran dengan yakin berkata.
"Ya bunda dengar juga Mhina kesusahan karena kandungannya. Kau tidak mau melihatnya?" tanya Dewanti ingin tau.
"Tidak, dia ingin menyakiti Diona. Aran tidak akan pernah mau melihatnya lagi." Aran berkata dengan marah. Dewanti bisa melihat Aran sudah menetapkan hatinya. Sekarang Diona sudah ada dalam jangkauannya.
"Bunda jadi tidak enak pada Danu dan Wilma. Apa yang harus kita lakukan?" Dewanti menilai apa yang Diona alami juga menyangkut keluarganya.
"Karena ini berkaitan dengan masalahku, biar Aran yang menemui mereka dan meminta maaf." jelas Aran.
"Jadi kau akan ke Surabaya?" Dewanti menduga.
"Benar, sebaiknya secepatnya. Agar mereka tenang dan Di tetap bisa sekolah." Aran mendengar percakapan Diona dan Bayu. Dia merasa bersalah Diona tersakiti karena masalahnya.
"Bagus, itu baru anak bunda. Semoga kamu dan Diona bisa melangkah bersama." harapan Dewanti.
"Mudah-mudahan bunda, tapi mungkin bukan sekarang ini." Aran setuju. Tapi masalahnya belum selesai, justru bertambah karena ulah Mhina.
__ADS_1
"Bunda mengerti. Jangan putus asa ya nak." Dewanti berharap putranya bisa melewati semua itu dengan sabar. Bayu menghubungi Aran. Akhirnya Aran bisa di hubungi setelah beberapa hari menghilang.