PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Pertolongan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini, mengapa kau menyeret kakimu?" tanya pria itu.


"Tuan Luthan." seru Leana terkejut. Tidak menyangka bertemu pria itu di sini.


"Kamu Leana kan, ada apa dengan Diona?" Luthan tau sejak dulu dia menyerang Diona gadis itu di kawal oleh Leana. Mendengar pertanyaan Luthan Leana ragu. Apa mungkin Luthan terlibat dengan hal ini. Tapi pertanyaan tadi menyiratkan pria itu tidak terlibat.


"Ayolah Leana, kenapa tadi kau melihat kearah bangunan itu? Lalu kenapa dengan kakimu?" Luthan tidak sabar. Dia curiga ada yang terjadi.


"Nona Diona di bawa kedalam oleh dua pria yang saya tidak kenal." Leana terpaksa mengaku dan berharap perbuatannya ini tidak salah.


"Jadi benar kau mengikuti Diona. Berapa orang di dalam sana?" Luthan tidak menyangka kecurigaannya benar.


"Yang masuk dua orang." jawab Leana cepat. Dia khawatir dua pria itu berbuat jahat pada Diona. Luthan mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu, lalu menyerahkan ponsel itu pada Leana.


"Tunggu temanku di sini, lalu cari bantuan jika aku tidak keluar." Luthan berpesan sambil matanya mencari-cari. Tampak sebatang kayu yang cukup kuat. Luthan mengambilnya dan berjalan ke dalam. Leana seperti mendapat harapan. Ingin dia ikut ke dalam tapi dia ingat pesan Luthan untuk menunggu temannya. Mata Leana jadi berpindah-pindah antara gedung dan ke arah jalan raya. Tidak lama tampak seorang pria berlari ke arahnya. Leana segera menyongsong pria itu.


"Anda teman tuan Luthan?" tanya Leana tanpa membuang waktu. Di lihatnya penampilan pria itu berbeda dengan dua pria yang membawa Diona.


"Benar, di mana dia?" tanya pria itu khawatir.


"Di dalam." Leana menunjuk ke arah gedung. Pria itu segera lari ke dalam gedung di ikuti oleh Leana yang menyeret kakinya. Di dalam Luthan sudah merobohkan dua pria tadi dengan kayu yang di bawanya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya temannya cemas.


"Hampir saja aku di pukul, tapi untungnya punya senjata." Luthan menjatuhkan kayunya lalu mendekati Diona yang di baringkan pada sebuah meja.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa?" tanya teman Luthan penasaran akan keadaan Diona.


"Dia pingsan tapi tidak apa-apa." jawab Luthan lega.


"Sepertinya di mobil ada tali, biar ku ambil. Pegang ini dan awasi mereka." teman Luthan masih khawatir, dia memungut kayu yang di Huang Luthan tadi dan memberikan pada Leana. Setelah itu dia berlari ke luar menuju mobilnya. Leana jadi was-was dan mengamati dua pria yang sudah di robohkan Luthan. Sedangkan Luthan perlahan menarik tubuh Diona agar duduk, dia akan menggendong Diona keluar dari tempat itu. Teman Luthan datang lagi membawa tali, segera dia mengikat dua pria itu. Leana jadi merasa lega. Di hampirinya Luthan dan Diona.


"Sebaiknya kau bawa mereka ke rumah sakit. Biar dia orang ini aku yang menunggui sampai polisi datang. Wanita itu perlu di rawat kakinya." teman Luthan menunjuk Leana. Luthan setuju, dia segera mengangkat Diona.


"Kau duduk kami setelah polisi membawa mereka." pinta Luthan pada temannya.


"Pakai saja mobilku, aku pasti menyusulmu." kata temannya yakin. Luthan pun membawa Diona ke mobil dan membaringkannya di kursi belakang.


"Siapa yang bisa kau hubungi, pakai saja handphoneku." Luthan memberi titah sambil masuk ke dalam mobil.


"Hubungi dia dan minta agar ke rumah sakit saja." Luthan pun memberikan kartu nama rumah sakit yang akan mereka datangi. Leana pun segera melakukan apa yang di katakan Luthan. Aran yang di hubungi langsung menjawab. Walau dia tidak tau itu nomer siapa. Leana pun menjelaskan sekilas dan meminta Aran untuk segera ke rumah sakit yang di tuju. Tanpa membuang waktu Aran pun segera menuju rumah sakit yang di tuju. Taksi pun membawa Aran ke rumah sakit. Aran terkejut ketika melihat Luthan di depan ruang darurat.


"Luthan." kata Aran heran.


"Kau sudah datang. Diona tidak apa-apa, dia hanya memar di bahunya karena bekas pukulan. Saat ini sedang di periksa lebih lanjut. Tapi Leana cedera pada kakinya. Dia harus di rawat." Luthan menjelaskan.


"Sebenarnya ada apa?" Aran menuntut penjelasan secara rinci. Luthan pun menceritakan ketika dia bertemu dengan Leana. Hanya itu yang dia tau, apa yang terjadi sebelum itu hanya Leana yang tau. Tidak lama datang teman Luthan menghampiri mereka.


"Kenalkan ini temanku Agam. Dia tinggal di sini. Sebenarnya kami sedang survei tempat yang akan di beli Agam ketika aku melihat Leana " kata Luthan mengenalkan temannya.


"Aku Aran, terima kasih sudah membantu kami." Aran berkata ramah.

__ADS_1


"Tadi polisi sudah datang dan membawa dua orang tadi. Yang satu bernama Rick satunya lagi bernama Sean. Rick mengaku kalau dia hanya mengikuti Sean saja untuk membawa Diona. Mereka dari Italy, tampaknya sedang bersembunyi." jelas Agam.


"Apa Diona mengenal mereka, atau salah satu dari mereka?" tanya Luthan.


"Aku tidak tau, rasanya Di tidak pernah menyebut kedua nama itu." Aran tampak bingung. Tapi kemudian Aran berinisiatif untuk menghubungi Paul. Siapa tau Paul tau kedua orang itu.


"Hai Aran, kalian sudah tiba di Indonesia?" tanya Paul antusias.


"Belum, kami tertahan di Singapure. Ada kejadian yang menjengkelkan. Paul, apa kau tau orang bernama Rick atau Sean. Mereka dari Italy?" tanya Aran pada Paul.


"Rick, Sean. Tidak. Memangnya siapa mereka?" Paul heran dan tidak mengenal kedua nama itu.


"Mereka berusaha menculik Diona di bandara Singapure dan melukai Leana." jelas Aran, dia jadi kecewa Paul tidak tau.


"Menculik Didi? Sekarang bagaimana keadaan Didi?" Paul jadi cemas. Tidak menyangka hal buruk terjadi pada Diona.


"Di hanya memar pada bahunya, tapi masih di tangani." jawab Aran , dia jadi tidak sabar menunggu kabar dari dokter.


"Jadi dua orang tadi yang berusaha menculik Didi dan mereka orang Italy?" Paul jadi kesal mendengarnya. Diona gadis yang baik, mengapa ada yang ingin menyakitinya?


"Ya, Rick dan Sean." Aran menegaskan kembali.


"Aku tidak tau Rick, kalau Sean......bagaimana ciri-cirinya?" Paul jadi teringat sesuatu. Aran bertanya pada Agam ciri-ciri Sean. Agam pun menjelaskan dengan detil. Aran sengaja memperdengarkan penjelasan Agam pada Paul.


"Dulu pernah ada yang menempati apartemen sebelah. Namanya Sean, dia suka memperhatikan Didi. Sean di tangkap karena memukuli istrinya. Dia pernah melarikan diri dan berusaha mengganggu Didi. Kalau mendengar ciri-cirinya mungkin dia orangnya. Tapi mengapa dia di Singapure?" Paul tidak yakin itu orang yang sama. Walau ciri-cirinya sama.

__ADS_1


__ADS_2