PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kebencian Claire


__ADS_3

" Tapi melihat Claire dengan semangat menyebut nama Diona tadi pagi dugaanku adalah dia." kata Lucca mengingatkan apa yang terjadi pagi ini di kelas.


"Ah tadi aku melihat senyum Claire yang sangat aneh." kata Elis, dia ingat melihat Claire menatap Diona dengan penuh kebencian. Tapi dia tidak tega mengatakannya pada Diona.


"Memangnya apa salahku padanya?" tanya Diona tidak mengerti.


"Kita tidak tau. Lalu apakah ini pasti perbuatannya kita juga tidak punya buktinya. Ayo kita bicarakan ini dengan pak Toby. Mungkin dia punya solusi. Ini tidak bisa di benarkan Di." kata Lucca menghentikan pembicaraan mereka. Mereka pun mengunjungi Toby di ruangan kerjanya. Lucca menceritakan apa yang di.lihatnya pagi itu dan kronologi dari hasil karya Diona. Toby mendengarkannya dengan seksama. Dia menatap hasil karya Diona yang sudah ternoda. Masih bisa terlihat keindahan pada karya itu.


"Jadi kalian belum tau siapa pelakunya? Baiklah kita akan melihat siapa pelakunya." Toby mengajak mereka ke ruangan monitor cctv. Di putarnya rekaman kemarin dan tadi pagi. Jelas terlihat Claire yang merusak hasil karya Diona. Juga tampak Lucca pagi itu membuat duplikatnya untuk Diona. Toby mengambil dua rekaman cctv dan mereka kembali ke ruangannya.


"Baiklah sekarang sudah jelas siapa pelakunya. Tapi aku rasa ini tidak bisa kita ungkapkan. Seharusnya kau tidak perlu membuat duplikatnya Lucca. Ini akan merusak reputasimu. Harusnya Diona menampilkan karyanya yang rusak, jadi bisa langsung kita ungkap. Dan gadis itu akan mendapat sangsi." kata Toby dengan menyesal.


"Aku hanya tidak mau Diona di permalukan. Aku tidak menyangka jadinya seperti ini. Lalu sekarang bagaimana?" tanya Lucca kesal.


"Untuk sementara kita simpan kasus ini, jika dia berulah lagi ini akan jadi bukti sampingan bahwa dia telah melakukan itu pada Diona." Toby tidak ingin karena satu murid yang berulah dia harus kehilangan murid yang kompeten


"Sudah, begitu saja?"tanya Elis tidak puas.


"Untuk Diona, ke depannya harus hati-hati dengan pekerjaan sekolahmu. Hindari gadis itu, walau aku akan mengamatinya mulai hari ini. Terima kasih kalian sudah melaporkannya padaku. Untuk Lucca, wah kemampuanmu boleh juga. Asal tidak di salah gunakan untuk hal yang buruk. Untuk Elis, mulai sekarang perhatikan temanmu, agar dia tetap semangat." kata Toby pada akhirnya.

__ADS_1


"Saya juga akan mengamati anda loh." Elis mengancam. Toby tertawa, dia mengerti mereka merasa di rugikan. Dia perlu bicara pada sepupunya, jika muridnya ada yang nakal. Mereka juga perlu tau motif Claire melakukan itu dan apakah akan berlanjut. Untungnya menurut Penina tugas yang dia berikan kemarin tidak masuk dalam nilai. Dia hanya ingin tau kemampuan para siswanya.


"Kurang ajar betul si kacang busuk itu bisa lolos." kata Elis dengan marah. Diona sendiri berjalan dengan lesu.


"Semua akan ada waktunya." kata Lucca menghibur sambil mengacak rambut Elis.


"Ya sudah. Kita jalan-jalan saja yuk untuk menghibur Di." kata Elis mengusulkan.


"Memang kita mau ke mana?" tanya Diona, dia harus memberitahu Paul sebelum Paul menjemputnya.


"Aku sih terserah. Kemana pun akan aku antar kalian berdua." Lucca setuju melihat Diona yang lesu.


"Pau aku akan pergi dulu, nanti pulang di antar Lucca." pesan Diona pada Paul. Dia khawatir Paul sedang sibuk jika dia menelponnya.


"Berdua saja?" tanya Pau curiga.


"Tidak, ada Elis juga." balas Diona.


"Ok, beritahu aku jika sudah sampai di rumah." kata Paul memberi ijin. Mereka pun berangkat mengunjungi pantai yang ternyata pernah Diona datangi. Tapi tentu saja kesannya berbeda kali ini. Karena Diona datang dengan sahabat barunya. Kunjungan mereka ke pantai membuat mereka lebih dekat dan akrab.

__ADS_1


Aran sudah beberapa hari di Surabaya. Dia berkunjung dulu pada perusahaan ayahnya. Ada banyak yang harus di bereskan ternyata. Itu membuatnya tertunda untuk mencari Diona. Tapi hari ini Aran sudah siap untuk bertemu Danu. Aran datang ke perusahaan Diaz Persada, di mana Danu menjabat sebagai pimpinan. Dia tidak punya janji, tapi namanya sendiri sudah membuat Danu penasaran. Danu bersedia bertemu.


"Selamat siang om Danu, saya Aran sahabat Diona." sapa Aran pada Danu. Untuk pertama kalinya mereka bertemu.


"Selamat siang, ya saya tau kamu temannya Diona. Silahkan duduk." Danu bersikap sopan. Mereka pun duduk.


"Bagaimana kabar om Danu sekeluarga, khususnya Diona? Yang saya tau Di akan bekerja di kantor ini setelah dia lulus. Terus terang saya kehilangan kontak dengan Di." Aran berterus terang dan tidak membuang waktu. Danu tersenyum. Melihat langsung sosok Aran dan melihat dia bicara, Danu langsung mengerti mengapa Diona jatuh cinta pada pria ini.


"Jadi itu tujuanmu datang. Diona belum bekerja di kantor ini, tepatnya Di belum kembali ke Surabaya." jawab Danu jujur. Tampak Aran terkejut. Jadi betul Diona tidak ada di Surabaya, pikir Aran.


"Lalu Di dimana, dan mengapa tidak dapat di hubungi?" Aran penasaran.


"Ada hal yang membuatnya kecewa. Jadi dia memutuskan untuk melupakan rasa kecewanya dengan mengunjungi beberapa tempat " Danu ingin sekali mengatakan Diona kecewa pada Aran. Bukan hanya kecewa tapi juga patah hati. Tapi ini semua juga bukan salah Aran. Pria itu tidak tau sama sekali perasaan Diona padanya. Biarlah dia bahagia dengan rumah tangganya.


"Di kecewa?kenapa dia kecewa? lalu mengapa saya tidak dapat menghubunginya. Apakah Di menghindari saya?" Aran curiga. Diona kecewa dia tidak tau. Dia sahabat Diona kan.


"Bukan saya yang harus menjelaskannya.Tapi Di sendiri. Kalau kamu tidak bisa menghubunginya, mungkin karena Di memang tidak mau di hubungi." kata Danu yang menyimpan tanya dalam hatinya. Aran sebegitu perhatiannya pada sahabatnya. Apa Aran sama seperti Bayu, sayang pada Diona? Bagaimana jika dia tau perasaan Diona?


"Di mana tepatnya Di berada, bolehkah saya menemuinya?" Aran tetap berusaha.

__ADS_1


"Biar Di sendiri dulu. Nanti juga dia pulang. Tempatnya kan di sini." dengan menyesal Danu tidak mau Aran bertemu Diona. Tidak sekarang. Apa lagi Aran sudah menikah. Tapi katanya jodoh tidak ke mana. Gagal bertemu Diona , Aran kembali ke Jakarta. Kesimpulannya satu. Tetap harus bertemu Bayu. Kesempatan itu akhirnya di dapat ketika acara keluarga di adakan. Arandra Caisar sepupu Bayu Langit. Rustam Wiraguna, ayah Aran adalah kakak dari Wildan Wiraguna. Ayah Bayu. Mereka kakak beradik. Rustam mewarisi perusahaan Wiraguna sebagai putra tertua. Sedangkan Wildan memutuskan membangun usahanya sendiri. Mereka berupaya tetap rukun sebagai satu keluarga. Walau kadang bersaing.


__ADS_2