PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Diamnya Diona


__ADS_3

Aran bertanya ketika mereka tengah sibuk dengan hidangan di sebuah cafe.


"Bunda sedang kangen sama kamu. Kalau sama ayah kan sering makan siang." Dewanti beralasan. Dia sebal dengan Rustam karena perjodohan putranya membuat Aran jadi sedih.


"Bunda bilang saja jika ingin makan bersama aku." Aran juga sudah lama tidak berbincang dengan bundanya. Aran lebih terbuka dan akrab dengan Dewanti di banding ayahnya.


"Kapan-kapan kalau pergi, bunda ikut ya." Dewanti ingin pergi bersama putranya. Hatinya ingin menghibur Aran.


"Bunda aneh sih sekarang. Memang boleh sama ayah?" Permintaan Dewanti membuat Aran merasa bingung.


"Bunda sedang bosan. Ayahmu kan sibuk kerja." alasan Dewanti pada putranya.


"Kalau bosan bunda kan bisa pergi dengan teman bunda. Aran sih tidak keberatan bunda ikut." Aran memang belum pernah dengar bundanya jalan-jalan keluar kota atau ke luar negeri dengan temannya.


"Banyak sih yang mengajak bunda jalan-jalan, tapi bunda tidak terbiasa pergi tanpa keluarga." Dewanti belum pernah karena tidak mendapat ijin dari Rustam. Ayah Aran tidak pernah melepas istrinya dari pengawasannya.


"Nanti Aran kasih tau bunda kalau mau pergi lagi." Aran mengalah. Dia sayang bundanya. Selesai makan siang Aran kembali ke kantor. Dewanti pulang ke rumah. Dia sudah tau permasalahan putranya. Sore hari Rustam pulang ke rumah dengan wajah marah. Dilihatnya Dewanti istrinya sedang duduk di ruang tengah.


"Bagus ya, kamu sudah berani selingkuh dari aku." kata Rustam galak. Dewanti terkejut menatap suaminya.


"Selingkuh?" tanya Dewanti bingung. Kapan dia melakukannya?


"Tadi temanku memberi kabar, melihat istriku makan siang di cafe dengan seorang pria." Rustam ingat tadi siang temannya memanasinya. Mengatakan "Istrimu selingkuh dengan pria tampan" lalu mengirim foto Dewanti dan Aran yang tengah makan siang berdua. Rustam tersenyum. Maka dia pura-pura marah pada istrinya. Dia cemburu, Dewanti makan hanya bersama Aran. Dirinya di lupakan.


"Oh tentu saja aku mau makan bersama pria itu, dia lebih tampan darimu mas." jawab Dewanti dengan gaya kamu jual aku beli. Dia kesal pada suaminya tentang Mhina. Tapi belum waktunya dia bicara.


"Jadi begitu ya. Kalau ada yang lebih tampan dari mas kau mau di ajak makan bersama." Rustam duduk dekat Dewanti.


"Nah tadi buktinya kan." Dewanti bergeser.


"Kamu sudah bosan sama mas ya." Rustam bergeser mendekati Dewanti lagi.

__ADS_1


"Ich duduknya jangan mepet-mepet." Dewanti mau bergeser tapi dia sudah ada di ujung.


"Memangnya kenapa?" Rustam menahan agar Dewanti tidak pindah.


"Perkataan tidak sesuai tindakan. Tadi marah tapi duduknya nempel begini." protes Dewanti.


"Mas cemburu kamu hanya ingat putramu. Suami di lupakan." Rustam merangkul istrinya dengan sayang. Dewanti diam saja, hatinya masih kesal.


"Sayang kita ke kamar yuk." bisik Rustam mesra di telinga Dewanti.


"Mau ngapain?" tanya Dewanti malas.


"Mandi dong, kamu siapin airnya aku kan mau mandi." Rustam mencubit pipi Dewanti lalu bangkit sambil tertawa. Jangan di kira Rustam mengajak ke kamar untuk adik-asik. Dewanti makin kesal dengan tingkah Rustam.


Diona jadi pendiam sejak pulang dari Paris. Paul tidak tau kenapa. Tapi Paul juga harus ke Amalfi. Setelah Diona berjanji dia akan baik-baik saja, Paul baru berangkat. Pagi ini Diona menggunakan taksi ke sekolah. Lucca melihatnya.


"Kau tidak di antar Paul?" tanya Lucca heran.


"Kalau begitu biar aku mengantarmu pulang nanti siang." kata Lucca tidak ingin di tolak. Diona setuju saja. Dia sebetulnya tidak suka di tinggal Paul, tapi saat ini hatinya sedang rusuh. Paul selalu bertanya mengapa dia diam saja, apa dia sakit. Diona malas menjawabnya. Seperti saat ini dia banyak diam, Lucca dan Elis menatapnya aneh.


"Di kau kurang sehat?" tanya Elis penasaran.


"Tidak aku sehat." jawab Diona malas.


"Kau sedih karena di tinggal Paul?" tanya Lucca curiga.


"Bukan begitu. Aku bertemu seseorang yang tidak seharusnya aku temui di Paris." kata Diona terus terang.


"Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?" Elis berkesimpulan.


"Tidak. Dia hanya memanggil namaku. Aku lalu berlalu meninggalkannya karena Paul sudah memanggil taksi." Diona teringat ketika Aran menatapnya dan menyebut namanya dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya? Sudah betulkan kau berlalu meninggalkannya." kali ini Lucca yang heran. Masalahnya? masalahnya adalah Aran tampak tampan dengan mantel navynya. Tubuhnya lebih gagah dan berisi. Tapi kan Diona tidak mungkin mengatakan itu.


"Kau betul. Aku hanya kaget saja ko." kata Diona. Dia tidak mau dua sahabatnya tau apa yang di pikirkannya. Mereka pun mengalihkan perhatian pada pelajaran hari itu.


"Makan di tempatku yuk. Nanti aku masak untuk kalian." ajak Diona. Dia malas sendiri di apartemen.


"Aku sih mau. Tapi Lucca bagaimana?" jawab Elis.


"Aku bisa mampir sebentar." kata Lucca santai. Wajah Diona berseri. Dia mulai semangat. Mereka menuju tempat Diona. Seperti biasa Sean sudah menunggu. Paul sudah berpesan pada Diona untuk meminta Tom untuk mengantarnya ke apartemen. Tapi karena Diona bersama Lucca dan Elis, Diona tidak minta di antar Tom.


"Hai Diona. Kau bersama temanmu? Pacarmu mana?" tanya Sean ingin tau. Gayanya yang kurang ajar membuat Lucca dan Elis tidak suka.


"Ya ini temanku. Paul sedang bekerja." jawab Diona singkat. Dia tidak berniat memperkenalkan Lucca dan Elis pada Sean. Mereka pun memasuki apartemen Paul. Lucca memastikan pintu terkunci.


"Di itu tetanggamu?" Elis menatap Diona dengan wajah khawatir.


"Setiap siang dia akan ada di situ, sepertinya menunggu kami. Paul sudah berpesan agar aku naik ke sini di antar staf keamanan di bawah." jelas Diona, dia sambil mempersiapkan bahan untuk memasak.


"Aku ko jadi khawatir ya. Kamu benar tidak apa sendiri?" Lucca tidak tenang meninggalkan Diona sendiri. Ponsel Diona berbunyi. Paul menghubunginya, bertanya tentang keadaannya. Diona bercerita dia pulang bersama Lucca dan Elis. Percakapan Diona membuat Lucca semakin tidak tenang.


"Elis kau bisa menginap menemani Di?" tanya Lucca pada Elis. Diona sudah berhenti bicara pada Paul.


"Ku rasa bisa. Tapi aku tidak bawa baju." kata Elis.


"Kau bisa pakai bajuku." Diona menawarkan.


"Baik aku setuju. Tunggu aku beri tau bibi dulu." Elis membuka tasnya mengambil ponselnya. Lucca jadi merasa lebih tenang. Diona menyelesaikan tugasnya membuat hidangan makan siang. Karena sudah lapar hidangan pun segera habis.


"Aku kenyang. Di kau pintar masak." komentar Elis, dia duduk di sofa. Lucca melihat pada jam tangannya.


"Aku harus ke kantor. Kalian kunci lagi pintunya. Aku rasanya curiga pada pria itu."

__ADS_1


__ADS_2