
"Sejak aku bertemu dengan kamu, aku merasa kamu itu sesuatu buat aku. Seseorang yang aku harus aku jaga, ku penuhi kebutuhannya tidak kurang suatu apa." kata Bayu lagi."
"Bayu, apa kamu suka pada diriku?" Mitsi menangkap kata-kata Bayu. Yang di tanya mengangguk sambil tersenyum manis. Mitsi baru sadar. Selama ini Bayu baik padanya karena suka padanya.
"Tapi Bayu, aku tidak punya perasaan khusus padamu." tolak Mitsi. Bayu jelas kecewa mendengar itu. Tapi dia mencoba bersabar.
"Tidak apa-apa Mitsi, tapi coba beri kesempatan hatimu untuk mengenal hatiku. Aku yakin kita bisa bersama." kata Bayu yakin, dia akan menutup akses Mitsi untuk mengenal pria lain. Bayu bisa baik dan pengertian pada orang lain, tapi dia sangat egois untuk perasaan hatinya ternyata. Hatinya sudah tertuju pada Mitsi seorang. Dia juga tidak ingin Mitsi begitu mudah menolaknya, tanpa mau mencoba dekat dengannya. Mitsi tetap menolak. Menurutnya lebih baik mereka berpisah sekarang saja dari pada Bayu menaruh perasaan lebih dalam padanya. Bayu jadi kesal tidak menyangka ternyata Mitsi keras kepala juga.
"Mitsi, aku tidak mau dengar lagi. Kau tetap tinggal di sini. Nanti kita bicara lagi " Bayu khawatir dia akan jadi marah dan mereka akan bertengkar. Lebih baik di tunda dulu pembicaraan mereka lebih jauh. Bayu pun meninggalkan apartemen. Bagi Mitsi sekarang sudah sulit untuk bisa keluar lagi dari apartemen. Karena ternyata Bayu lebih takut lagi Mitsi bertemu pria lain dan jatuh cinta. Mitsi tetap bisa menerima jasa menerjemahkan, tapi tidak bertatap muka. Bayu paham Mitsi butuh kegiatan untuk melewati harinya. Walau masih bisa bekerja tapi Mitsi merasa tertekan, karena kebebasannya hilang. Dia tidak mengerti sikap Bayu. Tapi Bayu belum datang lagi, sehingga Mitsi tidak bisa meluapkan kekesalannya.
Mhina bermasalah kembali. Bayinya bisa gugur jika dia gelisah dan stres. Sedangkan Mhina sendiri terus mengamuk karena tidak bisa keluar dari rumah sakit. Akhirnya Luthan pun menemuinya. Apa boleh buat. Mhina jadi semakin marah ketika tau Diona tidak terluka, malah saat ini ada dalam perlindungan Aran.Keadaannya yang semakin parah membuat Luthan menemui Aran. Saat ini di kantornya Aran tengah berhadapan dengan Luthan.
"Aku mohon tolong temui Mhina. Demi bayi yang di kandungnya. Bukankah bayi itu tidak bersalah. Aku mohon maaf atas apa yang sudah kulakukan. Semua itu demi Mhina dan bayinya, anakku." Luthan tiba-tiba bersimpuh di hadapan Aran. Tentu saja Aran terkejut.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Aran menghampiri Luthan. Dia menarik Luthan untuk berdiri.
"Kamu tidak merasakan kepedihan yang aku rasakan. Kehilangan seorang anak." kata Luthan pedih.
"Bayi itu tidak akan bisa bertahan. Dari sebelum menikah aku sudah tau Mhina tidak akan bisa mengandung. Tubuhnya lemah. Bukan hanya jantungnya yang bermasalah tapi tubuhnya juga tidak bisa terlalu lelah. Itu sebabnya dulu aku mengurungnya di dalam rumah." kata Aran marah. Keberadaan bayi itu bukan tergantung akan dirinya. Tapi tubuh Mhina sendiri.
"Tapi dengan kedatanganmu Mhina bisa lebih baik." bantah Luthan.
"Mungkin saja Mhina jadi lebih baik dan bayi itu selamat. Dia merindukanmu tuan Aran." Luthan merendah.
"Itu harapan palsu. Harusnya kau yang meyakinkannya, bahwa dirimu sosok yang dia butuhkan Kehadiranku hanya akan menambah harapan Mhina padaku." Aran tidak mau lagi terlibat dengan Mhina. Tidak sudi.
"Kau sudah mengambil dia dariku. Urus saja dia dan bayimu." kata Aran lagi. Apa yang di lakukan Luthan ternyata sia-sia. Aran tidak berubah pikiran. Luthan pun pergi. Aran menatapnya kasihan. Apa yang di rasakan Luthan sekarang memang pedih, Aran tidak perlu menambahkannya lagi.
__ADS_1
"Kau akan merasa lebih pedih dari ini. Sebentar lagi." bisik Aran. Luthan pergi ke rumah sakit. Di sana Mhina tengah mengamuk. Dia ingin pergi dari rumah sakit tapi tidak di ini kan, Luthan juga tidak ada. Kondisi Mhina memburuk, dia harus kehilangan bayinya. Luthan menangis di samping Mhina yang masih belum sadarkan diri. Anak hasil buah cintanya dengan wanita yang dia cintai tidak dapat bertahan. Luthan yakin tidak ada kesempatan lagi dirinya bisa punya anak bersama Mhina. Banyak penyesalan dalam hatinya. Andai dulu dia tidak pergi. Andai dia tetap di samping Mhina. Andai Mhina tidak bertemu Aran. Luthan tidak meninggalkan Mhina sedikit pun. Dia terus menjaga Mhina. Ketika sadar keadaan Mhina tidak lebih baik. Untuk bangun pun dia sudah tidak sanggup. Orangtua Mhina datang menengok putri mereka. Dengan pelan Mhina berkata dia ingin bertemu Aran untuk minta maaf. Luthan tidak mau pergi. Dia merasa itu sia-sia. Fatar pun tidak tega pada putrinya. Dia pun menemui Aran.
"Ada urusan apa lagi anda menemui saya?" tanya Aran dingin. Dia tau ini pasti tentang Mhina.
"Aran biar bagaimana Mhina pernah menjadi istrimu. Apa tidak ada pintu maaf baginya?" Fatar berusaha sabar menghadapi Aran, demi putrinya.
"Saya sudah memaafkan Mhina. Katakan itu padanya." jawab Aran tetap dingin.
"Tapi dia ingin bertemu langsung denganmu." Fatar membujuk.
"Saya harap anda mengerti apa yang saya rasakan. Saya telah menerima Mhina dulu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya harus meninggalkan wanita yang saya cintai dan rela untuk tidak punya anak. Tapi kerelaan hati dan jiwa saya di abaikan begitu saja. Dengan seenaknya Mhina selingkuh dan mengandung. Lalu dia berusaha menyakiti wanita yang saya cinta. Maaf, saya sudah tidak punya kerelaan hati lagi untuk melakukan sesuatu untuknya. Sekecil apa pun itu." kata Aran marah, dia tidak mau di tekan. Fatar terkejut mendengar perkataan Aran. Dia harus bertanya pada Luthan, apa maksud Aran. Paham Aran menolak bertemu Mhina Fatar pun pamit. Dia kembali ke rumah sakit. Fatar pun bertanya pada Luthan, maksud dari kata-kata Aran. Mhina berusaha menyakiti wanita yang di cintai Aran. Luthan pun menceritakan apa yang telah di lakukannya atas permintaan Mhina. Fatar baru tau sekarang. Ternyata Aran mencintai seorang wanita dan dia meninggalkan wanita itu demi Mhina. Tapi Mhina mengecewakannya dan malah berusaha menyakiti wanita yang di cintai Aran.
"Betapa malunya aku, sudah menemuinya tanpa tau perbuatan putriku. Mhina, kamu sudah membuat orangtuamu malu." kata Fatar dengan perasaan menyesal. Kedua tangannya menutup wajahnya karena perasaan sesaknya. Fatar mengajak istrinya pulang. Meninggalkan Mhina karena perasaan marah dan kecewanya. Hanya Luthan yang tetap mendampingi Mhina. Menemaninya hingga Mhina menutup mata untuk selamanya.
__ADS_1